NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA HANGAT SABTU MALAM

  Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah gorden kamar Salsa Kirana, membentuk garis-garis emas yang menari di atas karpet bulu miliknya. Biasanya, hal pertama yang dilakukan Salsa saat membuka mata adalah meraih jam weker, memastikan dia tidak terlambat untuk jadwal belajar mandirinya yang sangat ketat. Namun, Minggu pagi ini terasa sangat berbeda. Salsa masih bergelung di balik selimut tebalnya, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak kunjung pudar sejak ia merebahkan tubuhnya semalam. Pikirannya masih tertinggal di Sabtu malam, di bioskop yang dingin, di atas motor sport yang melaju membelah gerimis, dan terutama, pada pelukan singkat yang ia berikan kepada Arkan di depan pagar rumahnya.

  Salsa menyentuh pipinya sendiri yang mendadak terasa panas. Ia tidak percaya bahwa ia, si gadis ambisius yang selalu mengutamakan logika dan nilai akademik, bisa melakukan hal seberani itu. Memeluk Arkan? Cowok yang selama hampir dua tahun ini menjadi musuh bebuyutannya? Cowok yang selalu membuatnya naik darah hanya dengan satu senyuman tengil? Salsa menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah, lalu tertawa kecil sendirian. Ternyata, garis antara benci dan cinta itu memang setipis tisu, dan ia sudah melangkah melewatinya dengan penuh kesadaran.

  Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kursi belajar. Di sana, sweater rajut berwarna biru langit miliknya masih tergantung. Salsa mendekat dan tanpa sadar menghirup aromanya. Masih ada sisa-sisa wangi parfum Arkan yang tertinggal di sana, perpaduan antara aroma maskulin yang segar dengan sedikit sentuhan kayu-kayuan. Aroma itu seolah memutar kembali memori tentang bagaimana Arkan merangkul bahunya di dalam bioskop, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Salsa menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang menurutnya terlalu melankolis itu.

  "Sadar, Salsa! Lo itu calon juara umum, jangan sampe otak lo isinya cuma Arkan, Arkan, dan Arkan," gumamnya pada diri sendiri, meskipun hatinya jelas-jelas membantah.

  Salsa meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ada puluhan notifikasi yang masuk. Sebagian besar berasal dari grup chat kelas XI IPA 1 yang sepertinya sedang heboh. Dengan ragu, Salsa membukanya. Benar saja, namanya dan nama Arkan sedang menjadi topik utama. Ternyata, ada salah satu teman sekelas mereka yang melihat mereka sedang makan mi ayam semalam dan diam-diam mengambil foto. Meskipun fotonya sedikit blur karena diambil dari jauh, sangat jelas terlihat Arkan sedang menatap Salsa dengan tatapan yang sangat dalam, sementara Salsa sedang sibuk menyeka sendoknya.

  "Gila, ini si rival abadi beneran fix jadian?" tulis salah satu teman kelasnya.

  "Arkan kalau liat Salsa gitu banget ya tatapannya, kayak mau makan orang tapi versi sayang," timpal yang lain.

  "Kapal rivalitas kita akhirnya berlayar di samudra cinta, guys!" tulis seorang siswi yang memang hobi membaca novel romantis.

  Salsa mendengus, namun sudut bibirnya terangkat. Ia memutuskan untuk tidak membalas apa pun di grup tersebut. Biarkan saja mereka berspekulasi. Namun, perhatiannya teralih pada satu pesan pribadi dari orang yang paling bertanggung jawab atas kegaduhan di hatinya pagi ini.

  Arkananta: "Gimana tidurnya, Tuan Putri? Nggak mimpi dikejar hantu hutan terlarang kan? Kalau mimpi buruk, bilang ya, biar gue dateng ke mimpi lo buat jadi pahlawan kesiangan."

  Salsa mengetik balasan dengan jempol yang sedikit gemetar, berusaha menjaga gaya bicaranya agar tetap terlihat cuek, meskipun gagal total.

  Salsa: "Berisik. Gue tidur nyenyak banget. Justru gue mimpi lo dapet nilai nol pas kuis fisika besok Senin karena kebanyakan gombal."

  Hanya butuh beberapa detik bagi Arkan untuk membalas. Sepertinya cowok itu memang sudah bangun atau bahkan sedang memegang ponselnya sambil menunggu balasan dari Salsa.

  Arkananta: "Duh, serem banget mimpinya. Lebih serem daripada film semalam. Tapi nggak apa-apa dapet nol, yang penting di hati lo gue tetep nomor satu, kan?"

  Salsa melempar ponselnya ke atas kasur. Ia tidak tahan. Arkan benar-benar tidak memberikan ruang bagi jantungnya untuk beristirahat. Cowok itu selalu punya cara untuk memutarbalikkan kata-katanya menjadi sesuatu yang manis sekaligus menyebalkan. Salsa memutuskan untuk mandi dan turun ke bawah, berharap interaksi dengan ibunya bisa sedikit mengalihkan pikirannya.

  Di dapur, Bu Ratna sedang sibuk menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng mentega kesukaan Salsa memenuhi ruangan. Saat melihat putrinya turun dengan wajah yang tampak lebih cerah dari biasanya, Bu Ratna tersenyum penuh arti.

  "Pagi, Sayang. Gimana nontonnya semalam? Seru?" tanya Bu Ratna sambil meletakkan piring di atas meja makan.

  "Eh, iya Ma. Seru kok. Tapi filmnya horor banget, Salsa jadi agak kaget-kaget gitu," jawab Salsa sambil mengambil posisi duduk.

  Bu Ratna tertawa kecil. "Tapi ada Arkan yang jagain kan? Mama liat kemarin Arkan sopan banget. Dia juga keliatan tulus sama kamu. Jarang-jarang loh ada cowok yang mau nungguin kamu belajar sampe malem terus besoknya ngajak jalan."

  Salsa terdiam sebentar, mengaduk nasi gorengnya pelan. "Iya sih, Ma. Arkan emang... beda dari yang Salsa kira selama ini. Dulu Salsa pikir dia cuma cowok tengil yang hobi cari masalah, tapi ternyata dia pinter banget dan perhatian juga."

  "Itulah gunanya jangan terlalu benci sama orang, Sa. Nanti jadinya malah sayang banget, kayak sekarang kan?" goda Bu Ratna yang membuat Salsa hampir tersedak.

  "Mama apaan sih! Siapa juga yang sayang banget," elak Salsa, meskipun wajahnya tidak bisa berbohong.

  Setelah sarapan, Salsa memutuskan untuk menghabiskan waktu di teras depan sambil membaca buku Biologi. Ia mencoba untuk kembali ke mode ambis-nya. Besok adalah hari Senin, dan itu berarti persaingan di sekolah akan kembali dimulai. Meskipun mereka sudah pacaran, Salsa tetap tidak ingin kalah dari Arkan dalam hal nilai. Baginya, hubungan asmara dan prestasi akademik adalah dua hal yang harus berjalan beriringan tanpa saling mengganggu. Namun, baru saja ia sampai pada bab tentang sistem peredaran darah, konsentrasinya buyar saat sebuah motor sport berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

  Arkan datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Cowok itu melepas helmnya, menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan dengan jari-jarinya-sebuah gerakan sederhana yang selalu sukses membuat Salsa terpaku sejenak. Arkan turun dari motor sambil membawa sebuah kantong plastik putih.

  "Hai, Si Paling Ambis. Hari Minggu pagi bukannya santai malah pacaran sama buku," tegur Arkan sambil membuka pagar dan berjalan masuk dengan santai, seolah itu adalah rumahnya sendiri.

  Salsa menutup bukunya dan berusaha memasang wajah datar. "Ngapain ke sini? Nggak ada janji kan hari ini?"

  Arkan duduk di kursi kayu di samping Salsa. "Memangnya kalau mau ketemu pacar sendiri harus bikin janji kayak mau ketemu kepala sekolah? Gue tadi lewat deket sini, terus inget kalau ada cewek galak yang mungkin lagi butuh asupan manis biar otaknya nggak meledak gara-gara belajar terus."

  Arkan meletakkan kantong plastik itu di atas meja. Di dalamnya terdapat dua cup es cokelat dan sekotak donat dengan berbagai topping.

  "Tahu aja gue lagi laper," gumam Salsa sambil meraih salah satu donat cokelat kacang.

  "Gue kan dukun pribadi lo, Sa. Gue tahu semua yang lo rasain, termasuk rasa kangen lo ke gue yang ditutup-tutupin itu," ucap Arkan dengan nada percaya diri yang luar biasa.

  Salsa memutar bola matanya. "Percaya diri lo itu harusnya disumbangin ke orang yang minder, Kan. Biar berguna."

  Arkan tertawa lepas. Ia memperhatikan Salsa yang makan donat dengan lahap. Ada noda cokelat sedikit di sudut bibir gadis itu. Tanpa peringatan, Arkan mengulurkan tangannya dan mengusap noda cokelat itu dengan ibu jarinya. Gerakan itu sangat lembut, membuat Salsa mendadak kaku dan berhenti mengunyah. Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Di mata Arkan, tidak ada lagi kilat provokasi yang biasanya ia tunjukkan saat mereka berdebat di koridor sekolah. Yang ada hanyalah ketulusan yang sangat dalam.

  "Makan tuh pelan-pelan, Sa. Nggak akan ada yang minta," bisik Arkan pelan.

  Salsa segera memalingkan wajahnya, jantungnya kembali berdegup tidak karuan. "Makanya jangan liatin terus."

  "Gimana nggak liatin? Lo itu objek penelitian paling menarik yang pernah gue temuin. Lebih menarik daripada semua rumus fisika yang pernah gue pelajarin," goda Arkan lagi, namun kali ini suaranya terdengar lebih serius.

  Mereka menghabiskan waktu di teras selama hampir dua jam. Awalnya mereka hanya bercanda, namun lama-kelamaan percakapan mereka berubah menjadi lebih dalam. Mereka berbicara tentang ketakutan-ketakutan mereka, tentang tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik di sekolah, dan tentang bagaimana mereka sebenarnya saling mengagumi satu sama lain dari jauh sebelum akhirnya berani jujur.

  "Lo tahu nggak, Sa? Alasan gue selalu gangguin lo di sekolah itu sebenernya simpel," ujar Arkan sambil menatap jalanan di depan rumah Salsa yang sepi.

  "Kenapa? Karena lo emang hobi cari musuh?" tebak Salsa.

  Arkan menggeleng. "Bukan. Karena itu satu-satunya cara supaya lo liat ke arah gue. Lo itu selalu fokus sama buku, sama nilai, sama ambisi lo. Kalau gue nggak bikin masalah atau nggak dapet nilai lebih tinggi dari lo, lo nggak akan pernah nganggep gue ada. Gue harus jadi saingan lo supaya gue bisa dapet perhatian lo."

  Salsa tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik semua sikap tengil Arkan, ada motif yang se-melankolis itu. "Lo beneran serandom itu ya, Kan? Kenapa nggak coba cara normal aja, kayak ajak kenalan baik-baik gitu?"

  "Cara normal itu membosankan buat orang kayak lo. Lo butuh tantangan, dan gue dengan senang hati jadi tantangan terbesar dalam hidup lo," jawab Arkan sambil tersenyum miring.

  Salsa tertawa kecil. "Yah, lo berhasil. Lo bukan cuma jadi tantangan, tapi lo sekarang jadi gangguan terbesar buat konsentrasi belajar gue."

  "Bagus dong. Berarti rencana gue sukses total," sahut Arkan bangga.

  Tiba-tiba, Salsa teringat sesuatu. "Eh, Kan. Besok di sekolah gimana? Foto kita semalam udah tersebar di grup kelas. Anak-anak pasti bakal heboh banget pas liat kita masuk bareng."

  Arkan tampak tidak peduli. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. "Ya biarin aja. Emangnya kenapa kalau mereka tahu? Gue malah seneng, biar cowok-cowok lain di sekolah tahu kalau si juara kelas ini udah ada yang punya. Jadi mereka nggak bakal berani macem-macem atau titip salam lewat Dira lagi."

  Salsa mencubit lengan Arkan pelan. "Posesif banget sih lo! Gue tuh cuma khawatir kita jadi nggak fokus belajar karena digodain terus."

  "Tenang aja, Sa. Kalau ada yang berani gangguin lo atau bikin lo risih, bilang ke gue. Gue bakal kasih mereka kuis fisika dadakan yang susahnya minta ampun sampe mereka lupa cara bernapas," canda Arkan yang membuat Salsa kembali tertawa.

  Melihat Salsa tertawa seperti itu, Arkan merasa usahanya selama ini benar-benar terbayar. Baginya, melihat Salsa yang biasanya kaku dan serius bisa tertawa lepas adalah sebuah pencapaian yang lebih besar daripada mendapatkan nilai seratus di rapor. Arkan tahu, perjalanan mereka mungkin tidak akan selalu mulus. Akan ada banyak perdebatan lagi di masa depan, mungkin soal peringkat satu lagi, atau soal hal-hal sepele lainnya. Namun, ia tidak peduli. Selama ia bisa melewati itu semua bersama Salsa, semuanya akan baik-baik saja.

  "Sa," panggil Arkan lembut.

  "Hmm?"

  "Gue janji, meskipun kita sekarang pacaran, gue nggak akan biarin lo turun peringkat. Gue bakal terus jadi saingan lo, biar lo tetep semangat belajarnya. Tapi bedanya, sekarang kalau lo kalah, lo nggak perlu sedih sendirian. Ada gue yang bakal traktir lo es cokelat buat penghibur," ucap Arkan sambil menggenggam tangan Salsa yang berada di atas meja.

  Salsa menatap tangan mereka yang saling bertautan. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Arkan ke seluruh tubuhnya. "Gue nggak akan kalah dari lo, Kan. Liat aja nanti, peringkat satu semester ini bakal tetep punya gue."

  "Kita liat aja nanti, Tuan Putri Fisika," tantang Arkan dengan kerlingan mata khasnya.

  Sore itu ditutup dengan tawa dan janji-janji kecil di antara mereka. Saat Arkan akhirnya berpamitan untuk pulang karena langit mulai mendung, Salsa mengantarnya sampai ke depan pagar. Kali ini, tidak ada pelukan singkat seperti semalam, namun ada sebuah tatapan penuh arti yang mereka pertukarkan sebelum Arkan memakai helmnya.

  "Sampai ketemu besok di sekolah, musuh bebuyutanku paling sayang," ucap Arkan sebelum menghidupkan mesin motornya.

  Salsa hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan sampai motor Arkan menghilang di tikungan jalan. Ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat ringan. Besok hari Senin, hari yang biasanya ia benci karena penuh dengan tekanan ujian dan persaingan. Namun kali ini, ia merasa tidak sabar menantinya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi dunia saat melihat dua rival abadi SMA Garuda berjalan berdampingan, bukan lagi untuk beradu argumen, melainkan untuk saling menguatkan.

  Salsa kembali ke kamarnya, melihat buku Biologinya yang masih terbuka. Ia menarik napas panjang dan mulai membaca lagi dengan semangat baru. Ia sadar bahwa cinta tidak seharusnya membuatnya lemah atau kehilangan fokus. Justru, dengan adanya Arkan di sisinya, ia merasa memiliki alasan tambahan untuk menjadi lebih baik. Ternyata, memiliki musuh bebuyutan yang juga merupakan orang paling tersayang adalah sebuah kombinasi yang sangat luar biasa. Dan Salsa siap menghadapi segala tantangan yang ada di depan, selama Arkan ada di frekuensi yang sama dengannya.

  Malam itu, di bawah temaram lampu meja, Salsa menuliskan sebuah catatan kecil di halaman belakang buku catatannya: "Peringkat satu itu penting, tapi punya seseorang yang bisa diajak berbagi peringkat dua itu jauh lebih berharga." Ia tersenyum menatap tulisan itu, lalu mematikan lampu, siap menjemput hari esok yang penuh dengan kejutan baru di SMA Garuda. Persaingan mereka belum berakhir, namun sekarang, setiap getaran hati dan setiap perdebatan adalah bumbu yang membuat hidup Salsa terasa jauh lebih sempurna. Masa remaja yang tadinya hanya berisi angka dan rumus, kini telah berubah menjadi sebuah simfoni cinta yang tak terlupakan. Dan Arkananta Putra adalah konduktor terbaik yang pernah ia temui dalam hidupnya. Salsa pun tertidur dengan hati yang penuh, siap menyambut hari Senin yang paling dinantikannya sepanjang sejarah sekolahnya. Sisa hangat Sabtu malam itu benar-benar membekas, memberikan energi yang cukup untuk menghadapi ribuan soal fisika sekalipun, asalkan ada Arkan di sampingnya. Akhirnya, sang ambisius dan sang santai menemukan titik tengah yang paling indah: sebuah perasaan bernama cinta yang tulus. Dan bagi mereka, itu adalah kemenangan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!