Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalimat Yang Menyakitkan
Satu minggu setelah lahiran, Viona sudah merasa tubuhnya lebih baik. Lahiran normal membuatnya pulih cukup cepat. Raisa dan Rendi sudah datang saat dia masih di rumah sakit, lalu menjemputnya pulang juga. Sekarang Viona sudah mulai belajar merawat bayinya dengan baik, mengikuti kelas ibu hamil ternyata membuat dia tidak terlalu bingung saat merawat bayinya sekarang.
"Aku akan kembali bekerja lagi, sebaiknya aku cari pengasuh saja"
Raisa mengangguk, Viona pasti masih membutuhkan pekerjaan. Karena dia juga harus membiayai bayinya dan juga kebutuhannya.
"Begini saja, kan masih ada cuti 3 bulan sampai kamu benar-benar kembali pulih. Dan selama kamu belum menemukan pengasuh yang cocok, biar anak kamu sama aku saja dulu. Biar aku jaga di rumah, nanti kamu jemput pas pulang kerja. Sekarang fokus saja pada pemulihan"
Viona mengangguk, setidaknya ada Raisa yang sering datang hanya untuk menemaninya mengobrol agar Viona tidak kesepian sendiri merawat bayinya. Apalagi bayi baru lahir lebih sering tidur daripada bangun. Membuat Viona terkadang hanya diam menatap bayinya yang tidur.
"Sa, kamu tunggu dulu disini ya. Anakku juga lagi tidur, aku mau ke bawa sebentar ada pesan paket dan harus di ambil ke bawah"
"Kamu bisa? Biar aku saja yang ambil"
"Gak papa, aku bisa kok"
Viona keluar dari Apartemennya, pergi ke bawa untuk mengambil barang pesanan untuk kebutuhan bayinya juga. Saat sudah di bawah, Viona ingat jika perlengkapan di kamar mandi dan dapur juga sudah habis. Jadi dia pergi ke mini market di seberang gedung Apartemennya. Membeli beberapa keperluan dengan cepat karena takut bayinya keburu bangun dan minta asi.
Saat dia akan menyeberang jalan, sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangannya. Viona menoleh dan cukup terkejut melihat Bayu yang berada di depannya sekarang. Setelah beberapa bulan, dia datang lagi menemuinya.
"Lepas! Ada apa kamu datang kesini? Sudah aku bilang untuk tidak menggangguku lagi!"
Wajah Bayu begitu dingin, matanya menatap tajam pada Viona. Kali ini Viona merasa jika Bayu tidak seperti biasanya yang hanya ingin mengganggunya saja. Dari tatapannya sudah menunjukan jika dia sedang marah.
"Jadi ini rencanamu Hah? Membuat berita tidak penting itu hanya untuk menghancurkan reputasiku. Kau hanya ingin menjatuhkanku, iya?!"
Viona terdiam, mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, dan aku melakukan apa sampai menjatuhkan reputasimu?"
"Haha, bagus sekali kau berakting. Jelas kau ingin menghancurkan aku dengan cara menjebakku malam itu. Kau masih berpura-pura tidak tahu? Kau pikir aku bodoh, aku sudah tidak percaya lagi dengan wajah polosmu itu!"
"Tunggu dulu, apa yang sedang kamu bahas? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan itu, aku tidak pernah berniat menjatuhkan reputasimu"
"Lalu ini apa?" Bayu menunjukan layar ponselnya yang menunjukan berita tentang dirinya. "Kau menyebarkan berita ini? Dan aku datang menemuimu karena aku berpikir kau benar hamil anakku, tapi lihat ... kau tidak hamil sama sekal. Dasar pembohong!"
Bayu menatap sinis pada perut Viona yang terlihat rata. Padahal sebelum datang menemuinya, Bayu sudah mempersiapkan diri jika benar melihat Viona dalam keadaan hamil, maka dia memang harus bertanggung jawab, setidaknya pada anak dalam kandungan Viona. Tapi saat sekarang bertemu, Bayu tidak melihat Viona sedang hamil dan itu membuatnya semakin marah.
"Aku sama sekali tidak tahu tentang berita itu, dan bukan aku yang menyebarkan berita itu" Viona sudah ingin mengakhiri percakapan ini, dia melangkah untuk menyeberang jalan, tapi tangannya di tarik kasar oleh Bayu. "Lepas, kamu mau apa lagi?"
"Aku ingatkan sekali lagi, berani kau mengusik hidupku, maka kau akan menyesal. Tidak akan ku biarkan kau hidup dengan tenang! Sebaiknya pergi dan jangan pernah muncul lagi di depanku! Dasar wanita murahan"
Air mata Viona tidak tertahankan, ucapan Bayu benar-benar melukai hatinya. Seolah dia memang seorang wanita yang tidak berharaga. Hanya wanita rendah yang tidak ada artinya. Viona menatap Bayu dengan lekat, matanya memerah dan berkaca-kaca. Bibirnya bergetar saat ingin mengeluarkan kata.
"Aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi, dan aku tidak akan pernah muncul di hadapanmu lagi!"
Viona menghempaskan tangan Bayu yang memegang pergelangan tangannya. Pergi menyeberang jalan dengan air mata yang mengalir tanpa bisa di tahan.
*
Rasa sakit bukan dari bekas lahiran yang belum pulih, tapi hati yang hancur atas tuduhan tidak berdasar dari pria yang diyakini sebagai Ayah dari anaknya. Ucapan yang begitu menusuk, kata wanita mura*an menjadi hal yang paling menyakitkan. Apa pantas dia menerima ucapan seperti itu? Apa dia adalah wanita yang begitu buruk sampai Bayu mengatakan kalimat itu.
Aku menerima nasibku yang tidak seberuntung perempuan lain. Tapi aku terkadang menatap langit dengan sejuta pertanyaan. Kenapa aku? Dan sekarang kau datang hanya untuk menyalahkan.
Air mata terus mengalir, bahkan sudah dia usap kasar beberapa kali. Langkah kakinya terasa berat, namun dia berusaha untuk tetap kuat. Ketika sudah sampai di depan pintu Apartemennya, Viona tidak langsung masuk, berdiri bersandar di dinding dengan menghembuskan napas berat. Air mata masih sulit di hentikan, isakan pelan mulai terdengar.
"Kenapa dia jahat sekali? Ucapannya benar-benar membuatku hancur"
Baru satu minggu Viona berjuang untuk melahirkan anaknya, dan sekarang Bayu datang hanya untuk mengatakan hal yang begitu menyakitkan baginya. Viona merasa jika perjuangannya untuk bisa melahirkan anaknya, benar-benar tidak ada artinya.
"Memang seharusnya aku tidak banyak berharap, jangan berpikir orang lain akan menghargai sedikit saja perjuanganmu. Jelas jika sekarang hanya diriku sendiri yang bisa menghargai semua yang sudah terjadi"
Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Viona masuk ke dalam Apartemennya. Melihat Raisa yang sudah menggendong anaknya yang mulai bangun dan menangis. Viona menyimpan barang belanjaannya di atas meja, berjalan segera ke arah Raisa dan mengambil alih anaknya.
"Kamu kenapa lama? Aku berpikir untuk menyusul kamu tadi, Velia terus menangis. Sepertinya ingin asi"
Viona duduk di sofa, segera memberikan asi untuk anaknya. Dia menghembuskan napas pelan sebelum menjawab Raisa. "Ada sedikit urusan di bawah, aku membeli beberapa barang di mini market depan. Maaf ya"
Raisa duduk di samping Viona, menatap wanita itu dengan lekat. "Kamu seperti habis menangis Vio? Apa ada masalah?"
Viona menggeleng pelan, dia tersenyum tipis pada Raisa. "Tidak ada apa-apa. Terima kasih ya Sa, sudah membantu menjaga anakku"
Raisa hanya mengangguk, mendengar jawaban Viona, dia mengerti jika mungkin Viona tidak ingin bercerita apapun. Dan Raisa tidak akan memaksa seseorang untuk bercerita tentang masalahnya.
"Aku pulang dulu ya Vio, mungkin besok atau lusa nanti datang lagi kesini. Besok aku mau menghadiri kelulusan adik aku Raline"
Viona terdiam, mengangguk pelan. "Iya Sa, tidak papa. Aku bisa mengurus anakku sendiri"
Bersambung
di tunggu up nya thor 🙏
nnt panggil pengasuh bu Aminah, panggil viona, ibu.