Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barter di Balik Selimut
Di luar jendela, hujan badai menghantam kaca dengan intensitas membabi buta, membentuk gelombang air yang mengalir tanpa henti seperti tirai rapat yang memisahkan para penghuni di dalam Presidential Suite dari dunia luar. Di dalam ruangan yang diselimuti nuansa misterius, suasana yang tadinya serupa perang dingin perlahan berubah menjadi sesuatu yang tak kalah menghimpit, sebuah ketegangan yang dibakar oleh daya tarik naluriah; hubungan penuh risiko antara dua sosok yang baru saja mengikat perjanjian dengan sisi tergelap dari jiwa mereka.
Kenzo berdiri tegak di depan Aara dengan tatapan mata tajam yang menusuk hingga ke relung jiwanya. Tangan lelaki itu masih mencengkeram bahu perempuan itu, seperti berusaha memaksanya tetap dalam kendali. Tanpa melepaskan pandangannya, ia berbicara dengan nada suara berat yang memantul di dinding ruangan mewah tersebut. “Apakah kau benar-benar menyadari konsekuensi dari tawaranmu tadi, Agen?” Kata-kata itu meluncur dari bibirnya bagaikan ancaman terselubung, setiap huruf memuat beban serius. “Kerja sama denganku berarti mengkhianati tanah airmu. Dan satu hal yang harus kau tahu: aku tak pernah memberi ruang untuk pengkhianatan ganda.”
Aara menghembuskan napasnya dengan pelan namun dalam, seperti ingin menenangkan badai emosi yang bergolak di dadanya. Gerakannya terasa dramatis, cukup untuk membuat tubuhnya sedikit maju hingga bersentuhan dengan dada bidang pria di hadapannya. Suaranya dingin tetapi penuh dengan ketegasan yang tak terduga saat ia menjawab, “Negara tidak memberikan apapun untukku selain hidup serba kekurangan dan bayangan kematian yang selalu menghantui setiap waktu. Aku tidak butuh patriotisme kosong aku hanya ingin kepala orang yang mencoba menghancurkan segalanya dariku, serta kehidupan lebih baik yang layak diterima oleh seorang wanita seperti aku. Bukankah cukup masuk akal alasan itu, bahkan bagi seseorang yang dianggap ‘centil’ seperti aku?”
Kenzo tertawa pelan, namun nada suaranya mengandung sesuatu yang lebih gelap dan penuh bahaya, seolah menyimpan kebiasaan predator mendominasi mangsanya. Tawa itu tidak dibuat-buat, malah menambah aura maskulin dan aura mengancam dari dirinya. Ia memandang Aara dengan tatapan yang hampir seolah merasa iba tetapi sekaligus menghina ketika komentarnya meluncur dengan begitu tajam, “Kau masih berusaha mempertahankan aktingmu, meskipun helaian topengmu sudah mulai remuk dan terjatuh.”
Tanpa peringatan lebih jauh, tubuh Kenzo bergerak cepat. Ia meraih pinggang ramping Aara dengan satu gerakan tegas lalu mengangkatnya seperti benda ringan yang tak membebani. Langkahnya mantap membawa perempuan itu menuju tempat tidur besar berukuran king-size yang mendominasi pusat ruangan apartemen mewah tersebut. Alih-alih melawan atau menunjukkan tanda ketidaknyamanan, Aara justru menyerah sepenuhnya pada momen itu. Kakinya melingkupkan erat pinggang Kenzo, membiarkan tubuhnya semakin dekat dengan lelaki itu tanpa halangan. Kain gaun merahnya yang robek kini tersingkap sepenuhnya, memamerkan kulit paha mulusnya yang bersentuhan langsung dengan tekstur kain jas mahal milik pria bertubuh atletis itu.
Kenzo menjatuhkan Aara di atas kasur yang empuk dan segera menindihnya. Berat tubuh pria itu membuat Aara sedikit terengah, namun ia justru menarik kerah kemeja Kenzo, memaksa wajah pria itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Katanya kau anti-wanita, Kenzo," bisik Aara, jemarinya merayap masuk ke rambut Kenzo, menariknya dengan lembut namun menuntut. "Tapi detak jantungmu mengatakan hal yang berbeda saat ini."
"Aku tidak anti-wanita," geram Kenzo, tangannya mulai merayap dari pinggul Aara menuju ke atas, merasakan tekstur kulit wanita itu yang sehalus sutra. "Aku hanya anti-kelemahan. Dan malam ini, aku ingin melihat sejauh mana kau bisa membuktikan bahwa kau bukan sebuah kelemahan bagi rencanaku."
Kenzo mencium Aara dengan kasar, sebuah ciuman yang sarat dengan dominasi dan perebutan kuasa. Tidak ada kelembutan di sana. Itu adalah penyatuan dua jiwa yang sama-sama rusak. Aara membalasnya dengan intensitas yang sama, menggigit bibir bawah Kenzo hingga ia bisa mengecap rasa besi dari darah pria itu.
Tangan kokoh Kenzo mulai membuka ritsleting gaun merah Aara yang sudah tidak utuh lagi. Dengan lembut, gaun itu meluruh menyingkapkan lekuk tubuh sang agen yang selama ini tersembunyi di balik penyamaran dan pakaian formal. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, kulit Aara memancarkan kemilau seperti porselen, menonjolkan pesonanya yang mematikan.
"Kau begitu indah untuk seseorang yang hidupnya penuh kebohongan," gumam Kenzo dengan suara kasar, matanya berkilat dengan hasrat yang telah terlalu lama ia pendam, tersimpan rapat-rapat di dasar jiwanya.
Aara menanggapinya dengan senyum penuh keyakinan, senyuman seorang pemenang dalam permainan melawan ketidakpastian. Namun, di balik ketenangannya, ia menyadari bahwa batas antara misi dan bahaya sudah terlalu tipis. Tangannya mulai bergerak membantu Kenzo melepas kemeja hitamnya, memperlihatkan tubuh kekar yang tertatahkan bekas-bekas luka; jejak nyata dari kehidupan penuh peperangan yang ia jalani. Dengan lembut ia menjajari salah satu bekas luka di dada Kenzo menggunakan ujung jarinya, seolah mencoba membaca sebuah tulisan rahasia yang tersembunyi di sana.
"Luka ini... pasti menyimpan kisah kelam," bisiknya nyaris seperti angin malam.
"Dan itu bukan kisah untuk didengar oleh orang yang ingin hidup tenang," jawab Kenzo liar tetapi tetap terkendali, suaranya berat dan dingin.
Malam itu, di lantai tertinggi gedung pencakar langit yang dirajai badai tersendiri, aliansi terlarang telah dipatri. Bukan melalui tanda tangan kontrak resmi di kertas diplomasi, melainkan lewat kobaran nafsu membara yang melintasi batas logika dan perasaan. Kenzo memperlakukan Aara dengan perpaduan unik antara keperkasaan seorang penguasa dunia gelap dan kelembutan pria yang terperangkap dalam kehampaan emosional.
Setiap sentuhan, setiap desahan mereka terasa hampir bagai perang bertaruh jiwa. Bagi Aara, ini hanyalah strategi lain, bagian penting dari operasi menyusup ke jantung organisasi kriminal paling ditakuti di dunia. Namun diam-diam, di celah hatinya yang selama ini ia kunci rapat, ada sesuatu yang keliru tapi nyata: perasaan tak terduga terhadap pria yang seharusnya menjadi musuh bebuyutannya.
Saat langit mulai memucat dan badai menghentikan tariannya, mereka berbaring dalam kesunyian yang pekat namun sarat dengan ketegangan emosional yang enggan lenyap. Lengan berotot Kenzo melingkari tubuh kecil Aara dari belakang sebuah gerakan posesif, hampir seperti penanda kepemilikan dari seorang pria yang tak pernah berbagi segalanya dengan siapa pun sebelumnya.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi Cherry," bisik Kenzo tepat di telinga Aara, suaranya rendah namun mengandung ancaman tajam seperti pisau tipis. "Kini kau milikku. Dan jika kau mencoba mengkhianatiku, aku sendiri yang akan menguburmu di bawah dermaga selatan."
Aara memejamkan rapat-rapat matanya, mencoba memadamkan semua gejolak hati yang tak semestinya hadir di tengah tugas berbahaya ini. Kehangatan tubuh Kenzo membungkusnya, seolah mencoba melindunginya dari dinginnya udara luar yang menusuk. Namun Aara tahu jelas bahwa kenyamanan ini semu; ini hanyalah awal dari permainan mematikan.
"Aku tahu, Kenzo," jawabnya dengan nada destruktif yang tak dapat sepenuhnya ia sembunyikan. "Aku tahu."
Aliansi terbentuk, namun hatinya mulai dipertanyakan. Kedalaman rencana Aara kini dipertaruhkan oleh perasaannya sendiri. Dan saat permainan bergerak semakin dalam, ia menyadari fakta pahit: melumpuhkan sang monster mungkin adalah jalan keluar yang lebih sederhana daripada menyelamatkan dirinya sendiri dari perangkap emosi gelap yang semakin menjeratnya erat tiap detiknya.