NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kain Kuno

Ruang kerja Tetua Luo berada di lantai lima Paviliun Harta Surgawi—sebuah ruangan bundar yang dikelilingi jendela kaca besar menghadap ke seluruh Kota Seribu Angin. Dari sini, pemandangan kota terbentang seperti peta hidup: jalan-jalan, kanal-kanal, dan atap-atap berwarna-warni yang berkilau di bawah sinar matahari siang.

Perabotannya sederhana tapi elegan. Meja kayu hitam dengan serat alami yang berkilau—Xiao Chen mengenalinya sebagai Kayu Besi Hitam, material langka yang hanya tumbuh di kedalaman Benua Utara. Di atas meja, sebuah batu pijar memancarkan cahaya hangat yang menerangi gulungan-gulungan dan peta-peta yang terbentang.

Tetua Luo duduk di kursinya, tongkat Artefak Fana tingkat Puncak disandarkan di samping. Dia menunjuk ke sofa di seberangnya. "Silakan duduk. Hanya kau. Yang lain bisa menunggu di ruang tamu."

Wei Ling ragu-ragu, tapi Xiao Chen menepuk bahunya dengan lembut. "Aku baik-baik saja. Pergilah."

"Jangan lama-lama," bisik Wei Ling, lalu mengikuti Xu Mei keluar bersama yang lain.

Pintu tertutup. Hanya Xiao Chen dan Tetua Luo yang tersisa.

"Duduklah," ulang Tetua Luo. "Aku tidak suka bicara dengan orang yang berdiri."

Xiao Chen duduk, gerakannya mengalir alami. Dia menyilangkan kakinya dan menatap Tetua Luo dengan ekspresi tenang. "Kau ingin bicara tentang apa, Tetua?"

Tetua Luo tidak langsung menjawab. Dia menatap Xiao Chen lama, matanya yang tua dan lelah menyapu dari ujung rambut putih hingga ujung jubah putih. "Pertama, aku harus tahu: kau benar-benar tidak memiliki kultivasi?"

"Benar."

"Tapi kau bisa terbang. Kau bisa menciptakan artefak. Kau bisa menghindari serangan tanpa bergerak."

"Ya."

"Dan kau tidak ingat dari mana asalmu."

"Benar."

Tetua Luo menyandarkan punggungnya. "Aku sudah hidup lebih dari delapan ribu tahun, Xiao Chen. Aku pernah melihat banyak hal aneh. Kultivator yang bangkit dari kematian. Binatang buas yang bisa bicara. Warisan dari Alam Immortal yang jatuh ke Alam Fana. Tapi seseorang yang muncul dari retakan ruang tanpa kultivasi dan bisa menciptakan Artefak Fana tingkat Puncak dengan jentikan jari?" Dia menggeleng. "Itu baru."

"Apakah itu membuatmu takut?"

"Takut?" Tetua Luo terkekeh. "Tidak. Itu membuatku penasaran. Dan di usiaku, rasa penasaran adalah barang mahal."

Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu. Kotak itu polos, tanpa hiasan, tapi formasi kecil di atasnya menunjukkan bahwa isinya dilindungi. Dia membukanya, dan di dalamnya terbaring sepotong kain.

Kain emas.

Xiao Chen menegang. Tangannya otomatis bergerak ke balik jubahnya, di mana kain emas miliknya tersimpan. "Kau punya satu?"

"Aku menemukannya lima ratus tahun yang lalu," kata Tetua Luo. "Di reruntuhan kuno di perbatasan Benua Selatan. Reruntuhan itu berasal dari zaman sebelum Sekte Formasi Kuno didirikan—lebih dari seratus ribu tahun yang lalu." Dia menyentuh kain itu dengan ujung jarinya, dan pola-pola formasinya berdenyut pelan. "Aku menghabiskan dua ratus tahun mencoba membacanya. Tidak bisa. Bahkan Leluhur Formasi yang kusewa dari Alam Immortal—biayanya hampir membuatku bangkrut—tidak bisa membacanya."

Dia mendorong kotak itu ke arah Xiao Chen. "Saat mendengar tentang pemuda berambut putih yang muncul dari retakan ruang dengan kain emas, aku tahu ini bukan kebetulan. Kain ini... dia memanggilmu."

Xiao Chen menerima kotak itu. Begitu jarinya menyentuh kain emas yang baru, kedua kain itu—miliknya dan milik Tetua Luo—beresonansi. Cahaya keemasan memenuhi ruangan, pola-pola formasi di kedua kain berputar dan menyala, menciptakan bayangan-bayangan di dinding yang membentuk sesuatu.

Sebuah peta.

"Lihat," bisik Tetua Luo.

Bayangan di dinding menunjukkan rangkaian pegunungan, sungai, dan sebuah titik yang berdenyut dengan cahaya paling terang. Xiao Chen mengenali beberapa bentukannya dari gulungan geografi yang dibacanya. "Itu di Benua Selatan. Dekat perbatasan dengan Benua Tengah."

"Reruntuhan Lembah Seribu Bintang," kata Tetua Luo. "Tempat aku menemukan kain ini. Dan jika teoriku benar..." Dia menunjuk titik berdenyut itu. "...ada lebih banyak potongan di sana. Mungkin cukup untuk membentuk kain utuh. Mungkin cukup untuk menjawab pertanyaanmu."

Xiao Chen menatap peta itu. Denyutan di dadanya—yang selalu ada sejak dia muncul—terasa lebih kuat sekarang. "Kenapa kau memberitahuku ini?"

"Karena aku sudah terlalu tua untuk mengejar misteri." Tetua Luo menyandarkan punggungnya. "Dan karena... kau berbeda. Aku bisa merasakannya. Kau bukan hanya kultivator kuat yang menyembunyikan kultivasinya. Kau adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Alam Fana mungkin tidak bisa menampungnya."

"Apa aku terlihat seperti ancaman?"

"Tidak." Tetua Luo tersenyum. "Kau terlihat seperti seseorang yang sedang mencari jalan pulang."

Satu jam kemudian, Xiao Chen keluar dari ruang kerja Tetua Luo dengan kotak kayu di tangannya.

Di ruang tamu, Wei Ling langsung berdiri begitu melihatnya. "Apa yang terjadi? Apa yang dia inginkan?"

"Dia memberiku informasi." Xiao Chen duduk, membuka kotak itu dan menunjukkan kain emas kedua. "Ini adalah potongan dari kain yang sama dengan milikku. Dan dia tahu di mana potongan lainnya berada."

Wei Zhen menatap kain itu dengan mata terbelalak. "Ini... ini luar biasa. Apa yang dia minta sebagai gantinya?"

"Tidak ada. Dia bilang dia hanya ingin melihat misteri ini terpecahkan sebelum dia meninggal."

"Itu terlalu murah hati," gumam Feng Mo. "Orang tidak memberikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan."

"Aku tahu. Tapi untuk sekarang, aku akan menerimanya." Xiao Chen menyimpan kedua kain itu. "Kita akan pergi ke Benua Selatan."

"Benua Selatan?" Zhang Yuan hampir menjerit. "Itu... itu jauh sekali! Perjalanan bisa memakan waktu berbulan-bulan!"

"Tiga bulan dengan kecepatan normal," kata Wei Zhen. "Tapi jika kita naik kapal udara dari Kota Seribu Angin, mungkin satu setengah bulan."

"Kalau begitu, kita naik kapal udara." Xiao Chen menatap mereka semua. "Tapi aku tidak akan memaksa siapa pun untuk ikut. Perjalanan ini mungkin berbahaya. Reruntuhan kuno biasanya penuh jebakan."

"Aku ikut," kata Wei Ling tanpa ragu.

"Aku juga," tambah Wei Zhen. "Setelah apa yang kau lakukan untuk sekte kami, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."

Feng Mo dan Zhang Yuan saling menatap, lalu mengangguk bersamaan. "Kami juga."

"Lalu aku."

Suara itu datang dari pintu. Xu Mei berdiri di sana, jubah merah marunnya berkibar. "Tetua Luo memintaku untuk mendampingi kalian. Dia bilang kalian akan butuh seseorang yang tahu jaringan Paviliun Harta Surgawi di Benua Selatan."

"Apa kau yakin?" tanya Xiao Chen. "Perjalanan ini mungkin berbahaya."

Xu Mei tersenyum—senyum tipis yang lebih hangat dari senyum bisnisnya. "Aku sudah menangani pembeli yang lebih berbahaya dari reruntuhan kuno. Lagipula..." Dia menatap Xiao Chen, dan ada sedikit warna merah di pipinya. "...kau adalah misteri paling menarik yang pernah kutemui. Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk memecahkannya."

Wei Ling memperhatikan interaksi itu dengan alis sedikit berkerut. Satu lagi, pikirnya. Kenapa aku tidak terkejut?

Malam harinya, Xiao Chen berdiri di balkon penginapan yang disediakan Paviliun Harta Surgawi.

Kota Seribu Angin di malam hari adalah pemandangan yang menakjubkan. Ribuan lentera melayang di udara, menciptakan lautan cahaya yang berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang turun ke bumi. Formasi-formasi penerangan di setiap sudut kota menciptakan warna-warna yang berbeda—biru di distrik perdagangan, emas di kuil-kuil, merah di taman-taman hiburan.

Dia mengeluarkan kedua potongan kain emas dan menyatukannya. Keduanya menyambung dengan sempurna, membentuk bagian yang lebih besar dari peta. Pola-pola formasi di atasnya terus berputar, seolah hidup.

"Aku akan menemukan sisanya," bisiknya pada kain itu. "Dan aku akan menemukan siapa aku."

"Masih belum tidur?"

Xiao Chen menoleh. Xu Mei berdiri di ambang pintu balkon, jubah merahnya berganti dengan gaun tidur sederhana berwarna putih. Tanpa riasan dan dengan rambut tergerai, dia terlihat lebih muda, lebih lembut. Wajahnya yang biasanya tajam sekarang terlihat... rentan.

"Aku tidak benar-benar butuh tidur," jawab Xiao Chen.

"Beruntung." Xu Mei berjalan ke balkon, berdiri di sampingnya. Angin malam mengibaskan rambutnya yang hitam. "Aku, di sisi lain, tidak bisa tidur. Jadi aku pikir aku akan mencari udara segar."

"Atau kau penasaran."

Xu Mei tersenyum tipis. "Atau aku penasaran." Dia menatap kain emas di tangan Xiao Chen. "Boleh aku lihat?"

Xiao Chen menyerahkannya. Xu Mei memeriksa kain itu dengan mata Ahli—dia bukan hanya utusan, dia juga Grandmaster Artefak dalam pelatihan. Jari-jarinya yang ramping menyusuri pola-pola formasi.

"Ini luar biasa," bisiknya. "Aku belum pernah melihat formasi seperti ini. Ini bukan formasi penyerangan, bukan formasi pertahanan, bukan formasi penyegelan. Ini..." Dia mengerutkan kening. "...formasi pemanggil. Tapi bukan untuk memanggil makhluk atau benda. Ini untuk memanggil... tempat."

"Tempat?"

"Atau mungkin ingatan. Atau gerbang." Xu Mei menatapnya. "Kau tahu, semakin aku melihat ini, semakin aku yakin bahwa kau bukan dari Alam Fana."

"Itu sudah kuduga."

"Dan kau tidak takut? Tidak khawatir tentang apa yang akan kautemukan?"

Xiao Chen menatap langit malam. "Aku penasaran. Itu lebih kuat dari rasa takut."

Xu Mei tersenyum. "Kau benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah kutemui." Dia mengembalikan kain itu, jari-jarinya menyentuh telapak tangan Xiao Chen sedikit lebih lama dari yang diperlukan. "Kau tahu, biasanya aku tidak menawarkan jasaku untuk perjalanan berbahaya. Tapi untukmu... aku rela."

"Kenapa?"

"Karena..." Xu Mei menatapnya, dan di bawah cahaya lentera kota, matanya berkilau. "...kau membuatku merasa bahwa hal-hal luar biasa masih mungkin terjadi. Setelah delapan puluh tahun bekerja di Paviliun, itu adalah perasaan yang langka."

Xiao Chen menatapnya, dan tanpa peringatan, dia mencondongkan tubuhnya dan mengecup lembut sudut bibir Xu Mei.

Xu Mei membeku. Matanya terbelalak, wajahnya berubah merah dalam sekejap. "Kau—apa yang—"

"Itu ciuman terima kasih," kata Xiao Chen, senyum nakalnya muncul. "Karena sudah membantuku."

"Itu—kau tidak bisa seenaknya—aku ini—" Xu Mei, yang biasanya begitu fasih dengan kata-kata, sekarang tergagap seperti gadis remaja. "Aku ini utusan Paviliun Harta Surgawi! Aku punya reputasi!"

"Aku tahu. Itu sebabnya menarik melihatmu kehilangan kata-kata."

"Kau... kau brengsek!"

"Begitu kata mereka." Xiao Chen berjalan kembali ke dalam, meninggalkan Xu Mei yang berdiri terpaku di balkon, satu tangannya menyentuh sudut bibirnya sendiri.

Setelah beberapa saat, Xu Mei menghela napas panjang. "Sialan," bisiknya. "Kenapa dia harus setampan itu?"

Pagi berikutnya, rombongan berkumpul di pelabuhan udara Kota Seribu Angin.

Kapal udara itu sangat besar—panjangnya lebih dari seratus meter, lambungnya terbuat dari kayu roh yang diperkuat formasi, dan layarnya bukan kain biasa melainkan lembaran energi yang menangkap angin di ketinggian. Namanya "Bintang Pengembara", sebuah kapal dagang milik Paviliun Harta Surgawi yang secara rutin melayani rute ke Benua Selatan.

"Selamat datang di Bintang Pengembara!" seru kapten kapal, seorang pria gemuk berjubah biru dengan kumis tebal. "Perjalanan ke Ibukota Benua Selatan akan memakan waktu sekitar enam minggu, dengan dua kali persinggahan. Nikmati perjalanan!"

Saat mereka naik ke kapal, Xiao Chen melihat seseorang yang dikenalnya di dek.

Lin Yao.

Dia berdiri di dekat pagar, jubah hijaunya berkibar diterpa angin ketinggian. Di sampingnya, Su Mei melambai riang. Dan di belakang mereka... Qin Wuya.

"Kalian?" Wei Ling terkejut. "Kenapa kalian di sini?"

"Turnamen sudah berakhir," jawab Lin Yao datar. "Sekte Kayu Suci dapat undangan dari Paviliun Harta Surgawi untuk mengirim perwakilan ke lelang tahunan di Benua Selatan. Ketua Qin memutuskan untuk menerimanya." Dia menatap Xiao Chen. "Aku tidak tahu kalian juga akan naik kapal ini."

"Ini kebetulan yang menarik," kata Xiao Chen, matanya beralih ke Qin Wuya. "Atau mungkin bukan kebetulan?"

Qin Wuya tersenyum tipis. "Dunia ini kecil, Xiao Chen. Terutama untuk orang-orang yang mencari hal yang sama."

"Dan apa yang kau cari?"

"Peluang." Qin Wuya menatapnya dengan mata yang sulit dibaca. "Sama sepertimu."

Mereka saling menatap, dua orang yang tidak sepenuhnya percaya satu sama lain tapi terjebak di kapal yang sama selama enam minggu ke depan.

"Aku akan membunuhnya kalau dia mencoba sesuatu," bisik Wei Ling.

"Jangan," jawab Xiao Chen. "Dia mungkin punya informasi yang kita butuhkan. Dan..." Dia tersenyum. "...perjalanan panjang akan membosankan tanpa sedikit ketegangan."

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!