Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Hanya Satukali
“Sabrine, yang melakukan ini semua nak?”
Aku mengangguk pelan, ragu. Sedikit canggung duduk berhadapan dengan papa mertua dihadapanku ini.
“Papa gak habis pikir dengan wanita itu, apa yang dia kejar dari pria yang sudah beristri.” Papa mikail memijat pelpisnya.
Aku hanya terdiam sambil mengompres pipi ku yang masih terasa berdenyut nyeri sampai telinga.
“Sebentar lagi Arsyad sampai, pergilah kedokter nak!. Takut terjadi infeksi jika lukanya tidak segera diobati.”
“Makasih pah…” setidaknya aku akan kuat dirumah ini karena memiliki papa mertua yang baik, yang bisa menerimaku.
“Papa ke depan dulu.”
Aku mengangguk.
Tidak lama suara ketukan sepatu terdengar dilantai.
Mas Aryad pulang dengan tangan yang sudah di immobilisasi.
“Kenapa bisa seperti ini?” Ucapnya sambil menghempaskan punggung diatas sofa.
“Mas, bisa lihat di cctv.” Ucapku datar, sambil memegang kain diatas pipi.
Kemudian pria itu sibuk menonton adegan panas tadi, antara aku dan Sabrine. Sedari tadi hanya ditanya olehnya, tanpa dia melihat kondisiku.
Hening.. hanya ada suara teriakan Sabrine dari layar ponselnya mas Ar.
“Ke dokter?” Ucapnya sekilas.
Aku menggeleng. “Nanti saja.”
Mas Ar hanya mengangguk, tidak memaksaku. Padahal aku berharap dia memaksaku seolah peduli dan khawatir dengan kondisiku.
Kenapa jadi sedih gini ya. Padahal tadi malam kita beradegan seolah sepasang suami istri yang saling cinta. Kenapa hari ini jadi begini, sikap mas Arsyad kembali dingin, apa nafasunya sudah tertuntaskan. Apa dia menahaku dirumah ini hanya sebagai pemuas nafsunya saja.
Lama aku melamun, sampai tidak tersa tangan kirinya mengambil handuk yang sudah mengering dari tanganku.
Kemudian dia mengambil alih. Untuk mengobatiku.
Aku memandangi wajahnya yang kini sangt dekat dengan wajahku, aroma tubuhnya yang menengkan sangat tercium dihadapanku. Kini yang kurasakan adalah kenyamanan.
“Kenapa wanita itu bisa masuk sini si?, apa mbak Asih lupa mengunci pintu?”
“Mungkin. Aw… sakit. Pelan-pelan mas.”
“Maap.” Ucapnya datar. Garis wajah nya datar, sungguh aku tidak dapat membaca ekspresinya. Dia ikhlas atau tidak mengobati lukaku.
***
Sudah pukul 10.30 malam aku belum juga bisa memejamkan mata, rasa sakit didaerah telinga sampai mengganggu waktu tidurku. Sudah mencoba berbagai posisi namun tetap sakitnya masih terasa.
“Mas.. telingaku sakit.” Aku berucap sambil menatap mas Ar yang sedang berkutat dengan laptop dipangkuannya. Tidak ada respon darinya, matanya masih fokus pada layar laptop. Omonganku dia anggap sebagai angin lalu. Sabar Ayleen.
Karena tidak ada respon aku membalikan tubuh dan memunggunginya, ada sakit yang berdenyut didalam dada, pria yang menjadi suami ku ini ternyata tidak mempunyai sikap yang tegas pada Sabrine. Padahal wanita itu sudah berkali kali mencoba mencelakaiku.
Tes.
Air mata tanpa diundang malah turun, sesak sekali rasanya. Kalau begitu mending aku pulang saja ada ayah dan ibu yang masih sanggup buat ngurusin aku.
Telingaku makin berdenyut nyeri, suhu tubuhku panas. Apa ini infeksi dari lukanya?.
Terasa ada gelombang kasur yang bergerak. Sepertinya pria itu akan tertidur tanpa mempedulikan aku, mungkin pria itu akan peduli padaku jika perkututnya mulai meronta dan meminta dimanjakan.
Tapi, pijatan halus dikepalaku membuat tubuhku semakin menegang. Mas Ar kah itu?
Aku menoleh dan mendongakkan wajah, mas Ar bersandar pada kepala ranjang dengan tangan kiri yang memijat kepalaku. Tanpa banyak kata, padahal diwajahnya terlihat pria itu tengah menahan kantuk.
“Mau ke dokter?”
Aku menggeleng, kenapa jadi sedih seperti ini. Sedih bercampur bahagia. Tidak menyangka pria yang menikahiku karena luka ini ternyata mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi pada istrinya, padahal dia belum bisa mencintaiku.
“Besok kedokter!” Timpalnya lagi, aku mengangguk masih dengan air mata yang berderai.
Ibu apakah ini rasanya mencintai, hatiku luluh bu. Ternyata pria yang kukatakan jahat itu memiliki hati dan tanggung jawab yang baik. Dia menjagaku dan memperlakukan aku dengan baik, layaknya seorang istri yang dia sayangi.
Siapa yang tidak akan luluh jika diperlakukan seperti itu bu.
“Mas tidur aja!, besok kan kerja.” Ucapku pelan.
“Kamu dulu yang tidur!” Ucapnya tanpa menghentikan pijatan dikepalaku.
“Mas… kenapa kamu gak bisa bersikap tegas dengan Sabrine. Padahal Sabrine sudah berkali-kali sudah mencoba untuk mencelakaiku.”
Ada helaan nafas ringan, dan gerakan pelan. Pria ini sudah merebahkan tubuhnya disebelahku, bahkan posisinya sangat dekat denganku.
“Sabrine dan mama memilki satu kesatuan. Sama-sama memiliki watak yang keras. Jika aku bertindak keras dengan Sabrine, aku takut itu akan semakin membahayakanmu.”
Deg.
Ada desiran halus didalam dada, tidak mencintaiku tapi setidaknya aku mendapatkan perhatiannya.
“Mas kenapa sangat peduli denganku?, kita menikah bukan karena saling cinta. Kamu masih menyimpan nama wanita dihatimu, tapi sikapmu membuatku sedikit terenyuh, dan perlahan namamu mulai menelusup dihatiku mas.”
Aku berbalik kini kami saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
“Karena aku berkomitmen menikah hanya satu kali saja, dan kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang.”
“Sekalipun itu bukan wanita yang kamu cintai mas?”
Mas Ar mengangguk.
“Jika nanti aku mulai mencintaimu dan kamu belum bisa mentaiku….” Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku. Rasa sesak didalam dada kembali menghampiri.
Mas Ar memeluku dan menggelamkan wajahku didadanya.
“Maafkan aku Ayleen, jika dalam pernikahan ini kamu lebih banyak terluka. Tapi bertahanlah aku akan mengusahakan itu. Bertahanlah kamu adalah wanita yang kuat.”
Aku pun memeluk tubuhnya erat, pria ini sungguh menghadirkan kenyamanan.
“Untuk saat ini aku memang belum benar-benar mencintaimu mas, tapi dengan segala perhatian kecilmu wanita manapun akan luluh mas jika mendapatkan perhatian seperti ini.”
“Saya menegerti Ayleen.”
*
*
Awas ya mas Ar janjinya sudah aku pegang ya, menikah hanya satu kali. Awas aja kalau si Zahira kembali dan kamu benar-benar lupa dengan janjimu, akan kusentil perkututmu.