Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Di ruangan yang sama, tempat Natalie sebelumnya—Nathan dan Fabian menunggu sahabat mereka sadar. Semenjak keluar dari ruang UGD, sahabatnya itu tak sadarkan diri. Efek dari bius yang diberikan oleh dokter Rani.
Setelah menunggu beberapa saat, Natalie membuka matanya.
"Nata, gimana keadaan Lo? Apa yang Lo rasain?"
"Ada yang sakit? Apa haus? Atau apa?"
Beberapa pertanyaan Fabian dan Nathan lontarkan, membuat. Natalie tak mampu menahan senyumannya.
"Gue udah nggak apa-apa, kok."
Fabian dan Nathan menghela napas lega mendengarnya.
"Kalian … udah tau?" tanya Natalie ragu-ragu, tak berani menatap kedua sahabatnya.
"Kenapa Lo sembunyiin ini dari kami? Apa kami nggk cukup buat Lo percaya?" tanya Fabian dengan kecewa.
"Bukan gitu. Gue percaya sama kalian, tapi gue takut."
"Nata, kita sahabatan udah lama. Kita kenal juga udah lama. Kita bukan anak kemarin sore yang sok nggak tau apa-apa. Cukup dengan lihat gelagat Lo yang aneh akhir-akhir ini membuat gue dan Nathan cukup peka. Kita berdua tau Lo lagi ada sesuatu yang di sembunyikan, tai kita nggak bisa apa-apa saat Lo bilang semuanya baik-baik aja. Gue, Lo, Nathan, udah ngelewatin banyak hal yang bahkan nggak masuk di akal. Tapi kita tetap bertahan. Terus kenapa masalah segede ini Lo sembunyiin?"
" Sorry. Gue nggak bermaksud," sesal Natalie.
Fabian mengambil napas panjang, mencoba menahan emosinya yang kembali memberontak. "Lain kali, kalau ada apa-apa cerita sama gue ataupun Nathan. Kita akn selalu dengerin semua keluh kesah Lo."
Natalie mengangguk mengerti. "Mau peluk?" Natalie merentangkan kedua tangannya, meminta pelukan kepada dua sahabatnya itu.
Mereka bertiga pun berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain. Untuk sekarang, biarkan mereka merasa bahagia saat ini. Meskipun mereka tahu, kebahagiaan ini hanya sementara. Tapi, seenggaknya masih ada ruang untuk mereka bahagia dan mengekspresikan diri. Entah badai apa lagi yang akan menerpa ketiganya, mereka akan tetap bertahan dengan senyuman.
"Gue kapan boleh pulang ngomong-ngomong?" tanya Natalie.
"Lo harus istirahat dulu selama dua minggu kata dokter tadi," sahut Nathan.
"Oh iya, nih dari dokter yang tadi meriksa Lo. Katanya titipan dari om dan Tante." Fabian menyerahkan Tote bag yang ia tenteng sedari tadi.
Natalie mengernyitkan dahinya heran. "Kenapa kedua orang tuanya menitipkan Tote bag ini pada dokter Rani? Bukankah mereka berdua ada di ruangan sebelah?" tanya Natalie dalam hati.
Natalie membuka Tote bag itu. Di dalamnya terdapat sepucuk surat, dua kartu ATM, dan dua black card. Natalie membuka surat itu, dan membacanya.
Natalie, mungkin saat kami baca surat ini kami sudah nggak ada. Mama, Papa, dan Nisa pergi ke luar negeri hari ini. Maaf nggak ngomong langsung sama kamu, karena kamu masih belum sadar tadi pagi. Jadi Mama titipkan sama dokter Rani.
Mama cuma mau bilang, kemungkinan kita di sana lama—karena ada urusan yang nggak bisa di tinggal. Kami bawa Nisa karena keadaannya masih belum pulih. Jadi sekalian dia berobat di sana.
Oh iya, Mama juga sudah selipin black card sama kartu atm di dalm Tote bag. Kami bisa gunakan uang itu untuk kebutuhan kamu selagi kita masih belum pulang.
Kalau sewaktu-waktu uang itu habis, kamu bisa lngsung hubungi Mama atau Papa. Nanti kita akn transfer berapapun itu. Mungkin itu saja yang Mama sampaikan. Jaga diri baik-baik ya, di sana.
^^^^^^Tertanda^^^^^^
^^^Mama^^^
Setelah membaca surat itu, raut wajah Natalie berubah. Ia sedikit kecewa dengan apa yang mamanya sampaikan. Kalau memang ada urusan kenapa nggak bilang secara langsung? Kenapa harus lewat surat yang di titipin ke dokter Rani?
Kan bisa bicara langsung padanya tanpa perlu lewat perantara orang lain. Apa sesudah itu hanya untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan?
Lagi pula, bukankah Nisa keadaanya masih belum memungkinkan untuk pergi jauh? Kenapa harus di bawa juga. Ia bisa kalau hanya bantu mengurus adiknya itu.
"Ada apa Nata? Kenapa wajah Lo berubah gitu selesai baca surat?" tanya Fabian penasaran yang di angguki oleh Nathan.
"Bukan apa-apa, kok."
"Nata …." ucap Fabian dengan nada rendah, membuat Natalie buru-buru sadar dengan ucapannya.
Tanpa banyak bicara, Natalie menyerahkan surat itu pada kedua sahabatnya. Agar mereka sendiri yang membaca surat itu, tanpa perlu repot-repot ia jelaskan panjang lebar. Karena jujur saja, ia merasa sedikit sedih saat membaca surat itu. Kecewa juga dengan sikap kedua orangtuanya. Ya … meskipun ia tahu bahwa ini juga demi kebaikannya. Tapi, apa nggak bisa kalau bicara secara langsung saja?
Fabian dan Nathan menahan napas saat membaca surat yang diberikan Natalie. Tangan mereka terkepal erat saat membacanya. Mereka tak menyangka, bahwa kedua orang tua Natalie tega melakukan itu terhadap anaknya sendiri. Setelah menyuruh anaknya untuk mendonorkan ginjal untuk kembarannya, dan kini mereka tinggalkan begitu saja? Miris sekali.
"Nata, Lo bisa kok nginep di rumah gue kalau mau," tawar Nathan, mencoba menghibur Natalie.
"Atau kalau Lo mau, Lo bisa kok tinggal di apartemen gue. Di sana kosong, nggak ada siapa-siapa," timpal Fabian.
"Thanks. Gue tau niat baik kalian. Tapi gue nggak apa-apa kok tinggal sendirian di rumah. Lagian, masih ada bibi yang beres-beres di rumah," tolak Natalie, ia tak ingin merepotkan kedua sahabatnya lebih jauh. Cukup selalu ada di sampingnya, itu sudah membuatnya tenang.
"Kalian udah makan?" tanya Natalie, yang dibalas gelengan oleh keduanya. "Kalian makan dulu sana, ke kantin."
"Nggak. Nanti kalau kita berdua pergi, Lo sama siapa di sini," tolak Fabian.
"Bener. Lagi pula gue masih belum laper," sahut Nathan, bertolak belakang dengan perutnya yang berbunyi.
"Hehe, laper ternyata," lanjutnya dengan kekehan canggung.
Fabian memutarkan bola matanya malas, memukul pelan perut sahabatnya itu. Bisa-bisanya perutnya bunyi saat-saat seperti ini, pikir Fabian.
"Udah, gue nggak apa-apa kok di sini sendiri," yakin Natalie.
Keduanya pun hanya bisa pasrah, tidak lebih tepatnya Fabian yang pasrah. Beda halnya dengan Nathan yang kesenangan karena bisa makan di kantin. Padahal tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah sudah sarapan, ya … meskipun akhirnya nggak jadi sekolah sih.
"Lumayan makan gratis," batin Nathan sambil cekikikan.
Fabian melirik ke arah Natalie, matanya seolah mengatakan 'Kenapa tuh, temen Lo?'. Natalie hanya mengedikkan bahunya.
Setelah kepergian Nathan dan Fabian, Natalie tak lanjut istirahat. Ia mengambil handphonenya, mencari kontak pacarnya.
"Arya, kamu sekolah kan?"
" Iya, ada apa sayang?"
"Nggak ada apa-apa, sih. Cuma nanya aja."
"Kamu?"
"Hmm, aku kayaknya hari ini nggak masuk dulu deh."
"Kenapa? Kami sakit? Atau apa?"
"Aku lagi ke rumah Oma, jadi beberapa hari ke depan aku bakalan libur dulu."
"Ooh gitu. Have fun ya, sayang."
"Iya. Yaudah kalau gitu, bentar lagi pasti bel kan."
"Iya. Bye sayang."
"Bye."
Panggilan berakhir. Natalie menatap lama handphonenya, menghela napas berat. "Maaf udah bohongin kamu lagi," batin Natalie.
.
.
.