NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.Malam Sunyi, Hati yang Bergejolak

Setelah tubuh mungilnya berputar, pandangan Xiao Wu jatuh pada Tang San yang masih tertegun dan belum pulih dari keterkejutannya. Seketika itu juga, sebuah ide cemerlang melintas di benak gadis itu.

Matanya yang berwarna merah muda berbinar cerah, persis seperti seekor serigala kecil yang baru saja menemukan mangsa baru yang menggiurkan. Ia segera melompat mendekat, suaranya terdengar manja namun penuh antusiasme.

"San Kecil! Kalau begitu, karena Xiao Xuan mau pergi mencari cincin roh sendirian, kenapa aku tidak ikut saja pulang bersamamu? Lagian aku tak ada kegiatan apa-apa di sini, bosan sekali rasanya duduk diam di asrama sendirian tanpa teman mengobrol!"

"Hah?! Kau mau ikut aku pulang? Tapi... bukankah itu kurang pantas?"

Di balik ekspresi terkejut yang dipaksakan dan kata-kata penolakan itu, mata Tang San memancarkan kilatan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

Ada rasa hangat dan senang yang menjalar di hatinya, namun ia tetap berusaha berpura-pura ragu dan menolak sopan. Namun, bagaimana mungkin ia bisa bertahan lama menghadapi tingkah manja dan bujukan halus Xiao Wu?

Tak butuh waktu lama, Tang San pun akhirnya mengangguk setuju, meski nadanya terdengar seperti orang yang "terpaksa" menurut.

Segala alasan yang tadi ia ucapkan soal sopan santun, batasan, atau ketidakpantasan, kini seolah sudah dibuang jauh-jauh ke belakang kepalanya.

Melihat pemandangan itu, teman-teman sekamar di Asrama Tujuh yang masih ada di sana saling pandang sambil menahan tawa. Mereka tak menyangka, Tang San yang biasanya terlihat tenang, jujur, dan polos, ternyata memiliki sisi yang... begini rupa.

Kalau Xiao Wu bermain dengan orang lain, Tang San terlihat biasa saja atau bahkan menganggapnya tidak pantas. Tapi kalau gadis itu ikut bersamanya? Semua aturan main berubah seketika.

Setelah suasana riang itu mereda, satu per satu penghuni Asrama Tujuh mulai membereskan barang bawaan mereka. Hari libur telah tiba, dan hampir semua siswa jalur kerja-sambil-belajar bersiap pulang ke kampung halaman masing-masing.

Tang San dan Xiao Wu juga tak ketinggalan; tas kain sederhana sudah tersampir di bahu mereka, berjalan beriringan keluar dari pintu asrama sambil bercanda.

Tak lama kemudian, keramaian yang biasa ada di gedung itu perlahan menghilang. Suara tawa dan langkah kaki mereda, digantikan oleh keheningan yang mendalam.

Di ruangan yang dulunya penuh orang dan hiruk-pikuk itu, kini hanya tersisa satu sosok diam yang duduk tenang di tepi tempat tidurnya: Xiao Xuan.

Ia memandangi ruangan kosong yang sepi itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh makna. Ada sedikit sarkasme, ada pula rasa lega yang mendalam.

"Hebat juga aktingmu, Tang San..." batinnya bergumam pelan.

Setelah meninggalkan asrama, Tang San dan Xiao Wu tidak langsung berjalan menuju gerbang keluar akademi. Tang San meminta Xiao Wu untuk menunggu sebentar di koridor luar, sementara dirinya berjalan menuju kediaman Yu Xiaogang.

Ia merasa perlu menceritakan apa yang baru saja terjadi, terutama hal yang paling mengganjal di hatinya: kemajuan kekuatan Xiao Xuan yang terlalu cepat dan tak masuk akal.

Xiao Wu cemberut sedikit karena ditinggal menunggu, namun ia tetap menurut. Ia duduk di tepi pagar pembatas, mengamati barisan semut yang berjalan beriringan di lantai semen sambil bersenandung pelan.

Di sisi lain, Tang San sudah berdiri di depan pintu kayu sederhana milik gurunya. Ia mengetuk pelan tiga kali.

"Masuklah..." suara berat dan tenang Yu Xiaogang terdengar dari balik pintu.

Tang San mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Yu Xiaogang yang sedang duduk di belakang meja penuh buku, segera menoleh. Melihat murid kesayangannya itu, wajahnya yang kaku seketika melunak.

"Ah, San Kecil? Kenapa kau kemari? Bukankah kau tadi bilang akan segera pulang ke desa? Sudah menjadi muridku selama setahun ini, kau seharusnya tahu tak perlu izin yang bertele-tele untuk hal seperti itu."

"Guru, ada satu hal yang sangat membuatku bingung dan tak tenang..." Tang San membungkuk hormat, lalu mengutarakan isi hatinya dengan serius.

"Ou? Apa yang membuatmu begitu gelisah hingga harus datang kemari?"

Tang San pun mulai bercerita panjang lebar. Ia menceritakan bagaimana Xiao Xuan yang hanya memiliki kekuatan roh bawaan tingkat satu, mampu menembus batas hingga mencapai tingkat sepuluh hanya dalam waktu satu tahun saja.

Ia juga menceritakan kekuatan yang ditunjukkan Xiao Xuan saat mengalahkan Xiao Chenyu, serta segala hal aneh yang ia perhatikan selama ini.

Saat mendengar angka "tingkat sepuluh", alis Yu Xiaogang sempat terangkat tinggi, matanya membelalak tak percaya. Namun, saat kata-kata "

Roh Bermutasi" disebutkan oleh Tang San, ekspresi keterkejutan itu perlahan hilang, digantikan oleh senyum tipis yang penuh pengertian. Ia mengangguk pelan, lalu menepuk bahu muridnya itu dengan santai.

"Haha, San Kecil... Kau ini, sudah belajar bersamaku hampir setahun lamanya, bagaimana mungkin hal dasar seperti ini membuatmu kaget dan bingung? Apa kau sudah lupa apa yang pernah aku ajarkan padamu tentang karakteristik roh yang mengalami mutasi? Ingat teori itu?"

Tang San tertegun sejenak, lalu matanya melebar seolah mendapat pencerahan besar.

"Guru... maksud Guru... alasan Xiao Xuan bisa naik dari tingkat satu ke sepuluh begitu cepat dalam setahun, itu semata-mata karena rohnya bermutasi? Sifat mutasi itulah yang membuat laju kenaikan kekuatannya di tahap awal menjadi luar biasa cepat?"

"Tepat sekali," jawab Yu Xiaogang sambil duduk kembali di kursinya, nada suaranya penuh kepakaran. "Ciri utama dari roh yang bermutasi terutama yang memiliki bakat awal rendah adalah pertumbuhan yang meledak-ledak di awal-awal masa pengembangan.

Xiao Xuan mungkin sudah mempelajari dasar ini saat pelajaran teori di kelas, makanya ia berani memaksakan diri sekeras itu."

Yu Xiaogang menunjuk ke arah kursi di hadapannya, memberi isyarat agar Tang San duduk dan mendengarkan penjelasannya lebih lanjut.

"Anak itu cukup cerdas, meski mungkin tak paham sepenuhnya konsekuensinya. Dia tahu, semakin cepat ia mencapai tingkat dua puluh sembilan, semakin besar peluang kecil yang ia miliki untuk menembus batas besar tingkat tiga puluh di masa depan.

Selama seseorang masih muda, saat potensi alaminya belum sepenuhnya habis, segala hal masih mungkin terjadi... meski peluangnya sangat tipis."

Yu Xiaogang tertawa kecil, namun ada nada meremehkan yang samar dalam ucapannya.

"Tapi jangan khawatir, San Kecil. Kalau tidak ada keajaiban besar atau pertolongan luar biasa, Xiao Xuan itu tidak akan pernah bisa menembus batas tingkat tiga puluh di masa depan. Mengapa? Karena dia menghabiskan seluruh potensi awalnya terlalu cepat.

Memacu pertumbuhan di awal secara paksa seperti itu sama saja menguras cadangan bakat yang seharusnya dipakai untuk jangka panjang. Nanti, saat anak-anak lain mulai melaju stabil, dia justru akan macet total.

Baginya, kecemerlangan itu hanyalah kilatan cahaya sesaat yang indah, tapi cepat padam. Pada akhirnya, dia hanya akan menjadi Master Roh biasa yang berhenti di tengah jalan."

Di mata Yu Xiaogang, Xiao Xuan hanyalah anak yang beruntung karena mendapatkan roh bermutasi, namun tak ada apa-apanya dibandingkan muridnya sendiri. Bakat bawaan tingkat satu itu sudah menjadi vonis mutlak bagi batas tertinggi yang bisa dicapai anak itu kelak.

Tang San mendengarkan setiap kata itu dengan saksama, dan perlahan rasa berat di dadanya hilang sepenuhnya. Ia mengangguk dengan wajah lega.

"Baiklah, Guru. Aku mengerti sekarang. Terima kasih telah menjelaskan semuanya. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, Guru. Sampai jumpa saat liburan selesai."

"Baiklah, hati-hati di jalan," jawab Yu Xiaogang sambil tersenyum. Namun seketika itu juga senyumnya berubah menjadi jahil. "Dan satu lagi... sebagai hukuman karena kau begitu cepat melupakan teori dasar mutasi roh itu, saat kembali nanti kau harus menyalin seluruh rangkaian teori bab itu sebanyak lima puluh kali. Kumpulkan padaku saat masuk kembali."

"Ya, Guru..." Tang San menjawab patuh sambil membungkuk hormat, lalu berbalik keluar dengan langkah yang jauh lebih ringan dan riang.

Melihat punggung muridnya yang tampak lega itu, Yu Xiaogang hanya bisa menggeleng pelan. Ia menutup kembali pintu kayu itu, lalu kembali duduk di antara tumpukan buku tebalnya, tenggelam kembali ke dalam lautan pengetahuan tentang roh dan teori-teori rumit yang hanya ia pahami sepenuhnya.

Berkat penjelasan itu, beban di hati Tang San hilang sepenuhnya. Sepanjang jalan menuju gerbang akademi, ia bahkan terlihat lebih ceria dari biasanya, sempat bercanda ringan dengan Xiao Wu yang menunggu di luar.

Sementara itu, di dalam Asrama Tujuh yang kini sepi dan sunyi senyap, Xiao Xuan akhirnya bergerak.

Setelah memastikan tak ada satu pun orang yang tersisa, tak ada mata yang mengintai, dan tak ada telinga yang mendengar, ia mengeluarkan barang-barang berharga yang tersimpan rapi di bawah kasurnya.

Di atas meja kayu tua itu kini terhampar kertas-kertas khusus berwarna kekuningan, serta sebuah kuas tulang yang sudah ia rawat dengan baik.

Ia bersiap untuk menggambar Jimat Lima Elemen.

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Akademi Notting, Xiao Xuan sudah mempersiapkan diri untuk momen ini. Selama satu tahun penuh, setiap keping uang saku yang dikirim dari desa dan setiap koin upah dari pekerjaan beratnya, ia sisihkan demi membeli persediaan kertas jimat dan dua buah kuas berkualitas cukup baik.

Semua pengorbanan itu dilakukan demi satu tujuan: saat kekuatannya mencapai tingkat sepuluh, dan saat asrama ini kosong melompong, ia bisa bekerja tanpa gangguan.

Ia paham benar, seni menggambar jimat sebelum mencapai tahap legendaris menggambar di udara membutuhkan konsentrasi mutlak dan lingkungan yang hening sepenuhnya. Sedikit saja terganggu, energi akan meleset, dan seluruh bahan berharga itu akan sia-sia terbakar menjadi abu.

Alasan utama ia bersikeras untuk melakukan semuanya sendiri, tanpa minta tolong atau bergabung dengan siapa pun dalam perjalanan mencari cincin roh, sangatlah jelas.

Ia tidak memiliki ayah seperti Tang Hao yang diam-diam mengawasi dan melindungi dari bayang-bayang. Ia juga tidak bisa sembarangan memamerkan kemampuan rahasia seperti seni bela diri Sekte Tang milik Tang San.

Jika Xiao Xuan tiba-tiba mempertunjukkan teknik aliran Taoisme yang ia miliki, ia tak yakin apakah orang-orang di sekitarnya akan kagum... atau justru menaruh niat serakah untuk merebutnya.

Dunia ini kejam, dan harta berharga seringkali menjadi penyebab kematian.

Oleh karena itu, dengan keahlian khusus mengukir jimat yang ia miliki, ia menyusun rencananya sendiri: menggambar senjata magis sebanyak mungkin, lalu menggabungkannya dengan teknik bela diri dan metode bertarung yang telah ia asah mati-matian selama dua bulan terakhir hingga bisa digunakan dengan lancar.

Ia bertekad mencoba mendapatkan cincin roh pertamanya sendirian.

Menurut perhitungannya yang matang, setiap jimat Lima Elemen yang ia buat saat ini di tingkat sepuluh memiliki daya serangan yang setara dengan satu kali penggunaan kemampuan roh dari seorang Master Roh pemilik satu cincin.

Artinya... jika satu serangan saja belum cukup membunuh binatang roh buas, bagaimana jika ada sepuluh serangan sekaligus?

Jika kualitas belum memadai, maka imbangi dengan kuantitas!

Ia teringat pada kemampuan Tang San: satu ikatan Rumput Perak Biru mungkin hanya cukup mengikat dan mengganggu. Tapi bagaimana jika ada sepuluh ikatan yang melilit sekaligus? Itu sudah cukup untuk mencekik musuh hingga mati.

Bahkan roh aneh Yu Xiaogang, Luo San Pao, yang dianggap lemah, jika meledak sepuluh kali berturut-turut, mungkin bisa mengusir bahkan membunuh binatang roh tingkat tinggi seperti Ular Datura.

Jika konsep itu diterapkan pada jimat elemen ofensif seperti api atau petir...

Bayangannya sendiri membuat jantungnya berdebar kencang. Melepaskan sepuluh bola api serentak, ditambah efek kecepatan, pertahanan, dan penusukan dari jimat lainnya...

kekuatan gabungan itu mungkin sudah cukup untuk melukai bahkan mengalahkan Master Roh tingkat menengah, atau setidaknya membuatnya selamat dari kejaran Master Roh tingkat rendah.

Meski belum pernah benar-benar mencoba menguji kekuatan gabungan itu, Xiao Xuan tahu potensinya luar biasa. Namun, demi keamanan mutlak, ia tak mau berpuas diri.

Ia memutuskan untuk tetap duduk diam di sini, menggambar terus hingga ia memiliki persediaan aman: minimal dua puluh hingga tiga puluh lembar jimat lengkap.

Baru setelah itu, ia akan berangkat ke Hutan Perburuan Jiwa, berjalan masuk sendirian, dan menghadapi takdirnya sendiri.

Jarum jam terus berputar, dan di dalam keheningan Asrama Tujuh, hanya terdengar suara goresan kuas yang halus namun tegas, serta napas teratur seorang anak yang sedang menenun nasibnya sendiri di atas lembaran kertas.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!