Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Sangkar Emas dan Amunisi Baru
Gawai khusus di atas meja marmer itu akhirnya berhenti berkedip, menyisakan kesunyian yang kembali merayap di dalam ruangan privat puncak menara. Pria itu—sosok diktator tanpa wajah yang menguasai kegelapan malam—tidak segera beranjak dari posisinya. Keheningan di dalam ruangan kedap suara itu terasa begitu pekat, seolah waktu sengaja berhenti hanya untuk memberi ruang bagi dominasinya. Matanya yang sedingin es perlahan beralih dari dokumen intelijen digital, menatap sudut paling gelap di permukaan meja kerjanya yang luas.
Dengan gerakan tangan yang lambat, konstan, dan penuh takzim, ia meraih sebuah objek fisik yang selama ini sengaja ia letakkan tertelungkup di balik tumpukan berkas penting. Sebuah figura foto berbingkai perak mewah ditegakkan perlahan.
Di balik kaca bening figura itu, siluet wajah Savya terpampang dengan sangat jelas. Foto itu bukanlah gambar yang diambil secara profesional, melainkan sebuah tangkapan kamera tersembunyi yang sangat jernih. Foto itu mengabadikan momen ketika Savya sedang tersenyum lepas di balik meja bar kedainya, di bawah siraman cahaya matahari senja yang hangat—sebuah kilatan kehangatan yang tampak teramat kontras dengan atmosfer mencekam di dalam ruangan serba hitam tersebut.
Jemari panjang pria itu bergerak maju, menyentuh permukaan kaca tepat di atas siluet senyuman Savya. Ia mengusapnya dengan sangat lembut, sebuah gerakan yang begitu intim namun sekaligus menyiratkan kepemilikan yang mutlak dan tak terbantahkan. Tatapan matanya yang semula tajam menghunus bagai belati kini meredup, berganti menjadi sebuah tatapan yang dalam, intens, dan sarat akan obsesi rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di dunia ini.
"Tersenyumlah selagi kamu bisa, Savya," bisik pria itu rendah. Suaranya menyerupai desau angin malam yang tenang namun memiliki kekuatan untuk mengikat. "Bergeraklah sesukamu di luar sana, penuhi ruang kecilmu dengan tawa itu seolah kamu adalah makhluk paling bebas di dunia."
Ia men-jeda kalimatnya, menarik jemarinya perlahan sembari menatap lurus ke dalam sepasang netra di dalam foto yang seolah sedang membalas tatapannya. Sebuah rahasia besar masa lalu yang terkunci rapat seolah berkelebat di balik sepasang matanya yang kelam. Sudah terlalu lama dia berdiri di dalam kegelapan, mengawasi wanita itu tumbuh dari jarak yang aman, membiarkannya membangun mimpi kecilnya yang rapuh.
"Sebab cepat atau lambat, waktu yang kuinginkan itu akan datang. Saat jaring ku sudah melilit mu sepenuhnya tanpa kau sadari, kau tidak akan punya pilihan atau jalan untuk melarikan diri lagi. Kau akan melangkah masuk ke tempat ini dengan kakimu sendiri," batinnya dengan keyakinan yang absolut dan dingin. "Takdirmu, kebebasanmu, dan seluruh sisa hidupmu... akan berada mutlak di bawah kendali dan kuasa ku. Menjadi milikku sepenuhnya, di dalam sangkar yang sudah kusiapkan."
Dengan gerakan yang sama tenangnya, pria itu kembali menelungkupkan figura foto tersebut di atas meja marmer, menyembunyikan kembali satu-satunya kelemahan yang ia miliki dari dunia luar. Permainan mental yang dimulai oleh pihak lain justru menguntungkannya, mempercepat rencana besarnya untuk menarik Savya masuk ke dalam duniaya yang berbahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di belahan kota yang lain, atmosfer yang jauh berbeda tengah berkobar di dalam sebuah ruangan apartemen mewah yang tampak berantakan. Pecahan gelas kaca berserakan di dekat kaki sofa, menunjukkan sisa amarah yang sempat meledak beberapa saat lalu sebelum ketenangan palsu kembali menguasai ruangan itu.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka dengan tergesa, dan salah satu pria bertubuh kekar yang siang tadi mendatangi kedai Thalassa Coffee melangkah masuk dengan raut wajah tegang. Pria bernama Riko itu langsung membungkuk hormat di hadapan seorang wanita yang sedang duduk menyilangkan kaki di atas sofa beludru merah maroon.
"Melapor, Nona," ucap Riko dengan suara yang sengaja ditahan agar tidak memicu kemarahan baru dari wanita di depannya. "Kami baru saja memastikan seluruh jejak pelarian siang tadi sudah bersih total. Plat nomor belakang SUV sudah dihancurkan dan dibuang ke aliran sungai, dan semua alat komunikasi tim operasional lapangan telah diputus sementara waktu untuk menghindari pelacakan digital."
Katya memutar-mutar gelas sloki berisi cairan merah di tangannya dengan gerakan malas, lalu menyunggingkan senyum meremehkan yang tampak sinis. "Kalian ini benar-benar penakut sekali. Untuk apa sampai se-paranoid itu? Kedai sampah di pinggir jalan itu hanya dikelola oleh seorang perempuan lemah yang tidak punya koneksi atau kekuatan apa-apa untuk membalas kita."
"Tapi Nona Katya, ada satu hal yang mengganjal," sela Riko dengan nada ragu-ragu, mencoba menyampaikan kekhawatirannya. "Pria kantoran yang datang di jam istirahat siang tadi... pembawaannya terlalu tenang saat melihat ancaman kita. Dan setelah kami pergi, orang-orang kami di lapangan melaporkan tidak ada kepanikan massal di kedai itu. Semuanya langsung terkendali dengan sangat cepat. Saya takut mereka memiliki pelindung di belakang mereka."
Katya langsung meletakkan gelas slokinya ke atas meja dengan sentakan kasar yang menimbulkan bunyi denting nyaring. Ia menatap Riko dengan mata melotot tajam.
"Dia cuma karyawan kantoran biasa yang kebetulan lewat dan sok ingin menjadi pahlawan di depan jalang itu!" potong Katya dengan nada tajam yang meninggi, mengibaskan tangannya dengan gusar di udara. "Jangan buat aku kehilangan selera dan menjadi penakut seperti kalian hanya karena kebetulan konyol seperti itu. Teror siang tadi itu hanyalah sebuah hidangan pembuka yang murah. Aku memang sengaja membiarkan Savya gemetar ketakutan dan tidak bisa tidur sepanjang hari ini."
Katya menyandarkan punggungnya, lalu mencondongkan tubuhnya kembali ke depan dengan seringai yang semakin melebar. Sepasang matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam, memancarkan amunisi baru yang jauh lebih kejam dan tak terlihat dari sekadar gertakan fisik preman sewaan.
"Kalau kita hanya terus-terusan menyerang fisik atau merusak bangunan kedainya, jalang itu masih bisa bersembunyi di balik punggung karyawan-karyawannya yang setia," desis Katya, suaranya merendah namun penuh dengan racun intrik. "Aku sudah menyiapkan sebuah skenario yang jauh lebih besar dan rapi untuknya. Kali ini, kita tidak akan menyentuh seujung kuku pun dari fisiknya, Riko."
Riko mengerutkan keningnya, tampak penasaran sekaligus ngeri. "Lalu, apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Nona?"
"Kita akan menghancurkan mental dan reputasinya sampai ke titik nadir," jawab Katya dengan nada puas yang dingin. "Aku ingin namanya membusuk di mata masyarakat. Aku akan menyebarkan rumor busuk mengenai legalitas usahanya, memanipulasi catatan keuangannya, dan membuat kedai kebanggaannya itu dicap sebagai tempat penipuan. Aku ingin melihat hidupnya runtuh perlahan, melihatnya dikucilkan, hingga akhirnya dia tidak punya pilihan selain merangkak di bawah kakiku untuk memohon ampunan."
Riko hanya bisa menelan ludah dengan berat mendengar rencana psikologis yang begitu rapi dan kejam dari atasannya. Ia mengangguk patuh tanpa berani membantah satu patah kata pun, menyadari bahwa Katya sudah benar-benar dikuasai oleh obsesi untuk menghancurkan Savya.
Tawa sinis Katya akhirnya menggema pelan, memenuhi setiap sudut ruangan apartemen yang sunyi itu. Wanita itu merasa posisinya berada mutlak di atas angin, memegang kendali penuh atas semua bidak permainan hitam untuk menghancurkan hidup Savya tanpa sisa.
Katya melangkah menuju jendela apartemennya dengan segelas minuman baru, tersenyum puas menatap jalanan kota, tanpa pernah menyadari bahwa di puncak tertinggi menara kota, sepasang mata penguasa malam sebenarnya telah mengunci lehernya dalam sebuah jaring kematian tak kasat mata yang tinggal menunggu waktu tepat untuk ditarik rapat-rapat.