Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 — Luka yang Kembali Terbuka
Mobil masih terparkir di pinggir jalan.
Namun suasana di dalamnya terasa jauh lebih sesak daripada sebelumnya.
Alya menatap Reno dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia tidak menyangka pengakuan itu akan terasa se-menyakitkan ini.
Surat lomba desain.
Ia masih mengingat semuanya dengan jelas.
Hari itu adalah pertama kalinya Alya memberanikan diri menunjukkan kemampuannya di depan banyak orang. Ia menghabiskan bermalam-malam membuat desain tersebut sambil berharap bisa memenangkan lomba tingkat sekolah.
Namun pagi sebelum pengumpulan…
Karyanya menghilang.
Semua orang menyalahkannya karena dianggap ceroboh.
Guru pembimbing kecewa.
Teman-teman menertawakannya.
Dan Reno hanya berdiri sambil tersenyum mengejek di sudut kelas.
Alya masih ingat bagaimana ia menangis diam-diam di toilet sekolah setelah itu.
Dan sekarang…
Pria yang sedang ia cintai mengaku bahwa semua itu memang ulahnya.
“Alya…”
Suara Reno terdengar pelan penuh penyesalan.
Namun Alya langsung membuka pintu mobil dan keluar begitu saja.
“Alya!”
Reno buru-buru menyusulnya.
Langkah Alya berjalan cepat di trotoar meski air matanya mulai jatuh lagi.
“Jangan ikut aku.”
“Alya, please dengerin dulu.”
“Untuk apa?!” Alya menoleh dengan emosi yang akhirnya meledak. “Supaya aku tahu masih banyak hal lain yang kamu sembunyiin?”
Reno langsung terdiam.
Dan diamnya itu justru membuat hati Alya semakin sakit.
“Berapa banyak, Reno?” suara Alya bergetar. “Berapa banyak hal jahat yang pernah kamu lakuin ke aku?”
“Aku…”
“Jawab!”
Tatapan Reno penuh rasa bersalah.
“Aku nggak ingat semuanya.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Karena bagi Reno, mungkin itu hanya kenakalan masa sekolah.
Namun bagi Alya…
Semua itu adalah luka yang membekas bertahun-tahun.
Alya tertawa kecil pahit sambil menghapus air matanya kasar.
“Kamu tahu nggak?” bisiknya lirih. “Aku pernah berpikir mungkin aku memang nggak punya bakat gara-gara kejadian itu.”
Mata Reno langsung berubah.
“Alya…”
“Aku sampai takut gambar lagi selama berbulan-bulan.” Suaranya semakin kecil. “Padahal desain itu satu-satunya hal yang aku suka.”
Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar membenci dirinya sendiri.
“Aku minta maaf,” gumamnya lirih. “Aku tahu itu nggak cukup, tapi—”
“Memang nggak cukup.”
Suasana mendadak hening.
Mobil-mobil terus berlalu di jalan raya, tetapi dunia mereka seolah berhenti di tempat.
Alya menatap Reno dengan mata merah.
“Aku capek, Reno.”
“…”
“Aku baru mulai percaya sama kamu.” Air matanya kembali jatuh. “Tapi sekarang aku jadi takut lagi.”
Tatapan Reno langsung melemah.
“Aku nggak mau kehilangan kamu,” katanya pelan.
“Tapi kamu sendiri yang bikin aku menjauh.”
Kalimat itu membuat dada Reno terasa sesak.
Karena Alya benar.
Semua luka itu berasal dari dirinya.
Malam itu, Alya pulang sendirian.
Ia menolak diantar Reno dan memilih naik taksi online.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus kacau.
Kenangan lama yang sempat mulai memudar kini kembali bermunculan satu per satu.
Ejekan.
Tawa.
Tangisan.
Dan Reno selalu ada di tengah semua kenangan buruk itu.
Alya memejamkan mata kuat-kuat.
Kenapa harus sesakit ini?
Padahal ia sudah berusaha membuka hati lagi.
Sementara itu, Reno masih berdiri di pinggir jalan cukup lama setelah mobil Alya pergi.
Ponselnya bergetar berkali-kali.
Namun ia mengabaikan semuanya.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Alya…
Reno benar-benar takut.
Takut kehilangan perempuan itu lagi.
Keesokan harinya, Alya tidak masuk kerja.
Siska yang melihat Reno datang langsung menghampirinya dengan wajah bingung.
“Pak Reno… Kak Alya izin sakit.”
Tatapan Reno langsung berubah cemas.
“Sakit?”
“Iya. Dari tadi pagi juga susah dihubungi.”
Tanpa berpikir panjang, Reno langsung mengambil kunci mobilnya.
Ia tahu Alya tidak benar-benar sakit.
Wanita itu sedang menghindarinya.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
Sementara di apartemennya, Alya duduk memeluk lutut di sofa sambil menatap kosong ke luar jendela.
Ponselnya terus berdering sejak tadi malam.
Semua dari Reno.
Namun tidak satu pun ia jawab.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Alya tersentak.
Ia sudah tahu siapa yang datang.
Dan benar saja.
Begitu membuka pintu sedikit, Reno berdiri di sana dengan wajah lelah dan mata penuh kekhawatiran.
“Alya…”
“Aku lagi nggak mau ketemu siapa-siapa.”
“Aku cuma mau lihat keadaan kamu.”
“Aku baik-baik aja.”
“Kamu bohong.”
Alya langsung memalingkan wajah.
Reno mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan,
“Aku tahu kamu kecewa.”
“Bukan kecewa.” Alya tersenyum kecil pahit. “Aku cuma sadar ternyata luka itu belum hilang.”
Tatapan Reno langsung dipenuhi rasa bersalah lagi.
“Aku bakal ngelakuin apa aja supaya kamu bisa percaya lagi sama aku.”
Alya menatapnya lama.
Dan itu justru membuat hatinya semakin sakit.
Karena ia bisa melihat ketulusan di mata Reno sekarang.
Namun bayangan Reno di masa lalu masih terus menghantuinya.
“Aku butuh waktu.”
Kalimat itu membuat Reno terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Oke.”
“Aku serius, Reno.”
“Aku tahu.”
Tatapan Reno melembut penuh kesedihan.
“Aku bakal nunggu.”
Dan sekali lagi, pria itu memilih bertahan meski dirinya sendiri adalah alasan terbesar luka Alya.Reno tidak langsung pergi setelah itu.
Pria itu tetap berdiri di depan pintu apartemen Alya beberapa detik lebih lama, seolah berharap wanita itu akan berubah pikiran dan memintanya masuk.
Namun Alya hanya berdiri diam dengan tatapan ragu.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Reno lirih sekali lagi.
Alya menggigit bibir pelan.
“Kenapa dulu kamu sebenci itu sama aku?”
Pertanyaan tersebut membuat Reno terdiam cukup lama.
Tatapannya perlahan menunduk.
“Karena aku iri.”
Alya mengernyit bingung.
“Iri?”
Reno tertawa kecil hambar. “Kedengarannya bodoh, kan?”
“Jelaskan.”
Pria itu mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya berkata,
“Waktu semua orang takut sama aku… kamu satu-satunya yang nggak pernah berusaha cari perhatian aku.”
Alya langsung membeku.
“Kamu selalu fokus sama dunia kamu sendiri.” Reno tersenyum kecil penuh penyesalan. “Dan entah kenapa itu bikin aku kesal.”
Alya tidak tahu harus menjawab apa.
“Semakin kamu menghindar, aku malah semakin pengen ganggu kamu.” Tatapan Reno perlahan melembut. “Sampai akhirnya semuanya kelewatan.”
Suasana mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya Alya mulai memahami sesuatu—
Reno muda dulu hanyalah remaja rusak yang melampiaskan emosinya dengan cara salah.
Namun pemahaman itu tidak otomatis menghapus rasa sakit di hatinya.
“Aku nggak minta kamu langsung maafin aku,” lanjut Reno pelan. “Aku cuma pengen kamu tahu… aku nyesel setiap hari.”
Mata Alya kembali terasa panas.
Karena ia bisa melihat sendiri betapa tulus penyesalan Reno sekarang.
Dan itu justru membuat hatinya semakin sulit membenci pria tersebut.
“Alya.”
“Hm?”
“Aku serius waktu bilang cinta sama kamu.”
Deg.
Napas Alya langsung tercekat lagi.
Tatapan Reno terlalu dalam.
Terlalu nyata.
Dan sebelum Alya sempat menjawab apa pun, Reno perlahan mundur satu langkah lalu tersenyum kecil penuh kesedihan.
“Aku pergi dulu.” Suaranya lembut. “Istirahat yang cukup, ya.”
Setelah itu, Reno benar-benar pergi meninggalkan Alya sendirian di depan pintu apartemennya dengan hati yang semakin kacau.