Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kembalinya Masa Lalu.
Mobil akhirnya melambat dan berbelok memasuki sebuah area parkir yang sangat luas. Saat Safa melihat ke luar jendela, matanya langsung berbinar. Lampu-lampu hias berwarna-warni menerangi malam, dan dari kejauhan terdengar suara musik ceria serta deru wahana permainan.
Arlan membawanya ke sebuah pasar malam modern atau theme park.
"Mas ... kita ke wahana permainan?" tanya Safa, suaranya terdengar sedikit bergetar karena tidak percaya.
Arlan memarkirkan mobilnya, lalu menoleh dan tersenyum lembut. "Iya. Ayo turun."
Begitu menapakkan kaki di luar, Safa terpaku menatap bianglala besar yang berputar lambat di depan mereka. Dada Safa mendadak bergemuruh oleh rasa haru yang teramat sangat. Sejak ayah dan abangnya meninggal dunia, Safa tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Kenangan masa kecilnya langsung berputar, membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Melihat istrinya menangis, Arlan sempat panik. "Eh, kamu kenapa? Kok malah menangis? Kamu tidak suka ya ke sini?"
Safa cepat-cepat menggeleng, lalu menghapus air matanya sambil tersenyum lebar. "Bukan, Mas. Aku senang sekali. Sudah lama sekali aku gak ke tempat seperti ini sejak Ayah dan Abang tiada. Terima kasih banyak, ya."
Arlan bernapas lega. Ia menggenggam jemari Safa dan menuntunnya masuk ke dalam area permainan.
Namun, kejutan malam itu ternyata belum selesai. Saat mereka berjalan menuju area tengah yang agak lengang, lampu di sekitar mereka mendadak meredup. Safa menghentikan langkahnya, kebingungan.
Tiba-tiba, dari arah belakang sebuah stan permainan, muncullah beberapa orang yang sangat Safa kenal.
Egar berjalan paling depan sambil membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka yang menyala terang. Di sampingnya ada Farah yang tersenyum lebar, Lily yang berjalan dengan tenang, serta Luna, asisten Safa, yang ikut bertepuk tangan.
"Selamat ulang tahun, Safa!" seru mereka bersamaan.
Safa menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun, Istriku," bisik Arlan tepat di telinganya, membuat senyum Safa makin merekah.
"Wah, selamat ulang tahun ya, Safa! Maaf tadi aku pura-pura ketus di mobil," ujar Farah sambil mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
Luna juga ikut menyalami Safa. "Selamat ulang tahun, Non Safa. Semoga panjang umur dan bahagia selalu bersama Pak Arlan."
Setelah Safa meniup lilin dan memotong kue, mereka semua duduk di salah satu area makan terbuka yang ada di sana. Mereka menikmati kue dan beberapa camilan pasar malam bersama-sama.
Suasana yang tadinya canggung antara Farah dan Egar kini mencair, berganti dengan obrolan santai dan tawa renyah, terutama saat melihat Lily yang mulai mau tersenyum tipis.
Setelah perut kenyang dan tenaga kembali penuh, Arlan berdiri dari duduknya. "Ayo, sekarang waktunya kita coba semua wahana di sini sampai puas."
Safa mengangguk penuh semangat. Malam itu, rasa sedih masa lalu Safa seolah terbayar tuntas oleh kehadiran suami dan orang-orang terdekat yang menyayanginya.
Setelah puas mencoba beberapa wahana yang memacu adrenalin bersama yang lain, Arlan akhirnya menarik lembut tangan Safa menjauh dari keramaian. Ia membawa istrinya menuju wahana yang sejak awal menarik perhatian Safa, bianglala raksasa yang berputar lambat di tengah-tengah pasar malam.
Egar, Farah, Lily, dan Luna memilih untuk menunggu di bawah sambil menikmati es krim. Alhasil, hanya ada Arlan dan Safa yang masuk ke dalam salah satu bilik kaca yang perlahan mulai bergerak naik.
Suasana riuh di bawah berangsur-angsur meredup seiring tingginya posisi bilik mereka.
Dari ketinggian, hamparan lampu kota yang berkelap-kelip terlihat begitu indah, berpadu dengan pendar lampu warna-warni dari area pasar malam.
Safa menempelkan wajahnya ke kaca, menatap pemandangan di luar dengan binar mata yang tak meredup.
Arlan yang duduk di hadapannya hanya diam, melipat kedua tangan di dada sambil terus memandangi wajah istrinya yang tampak begitu bahagia.
Bilik bianglala itu perlahan mencapai titik tertinggi, lalu berhenti sejenak untuk memberi waktu bagi penumpangnya menikmati pemandangan dari puncak.
Safa memalingkan wajahnya dari kaca, lalu menatap Arlan yang juga sedang memandangnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu damai.
"Mas ..." panggil Safa lirih.
"Iya?"
"Terima kasih, ya," ucap Safa. Kalimat itu sederhana, namun diucapkan dengan ketulusan yang amat dalam dari lubuk hatinya.
"Terima kasih untuk malam ini. Terima kasih karena sudah membawaku ke sini, sudah menyiapkan kejutan dengan Farah, Egar, dan Luna. Aku benar-benar tidak menyangka."
Arlan tersenyum tipis, memajukan tubuhnya sedikit. "Mas cuma ingin melihat kamu bahagia. Sudah tugas Mas, kan?"
Mendengar jawaban itu, dada Safa mendadak bergemuruh. Ingatan tentang bagaimana hidupnya terasa sepi dan hampa setelah kepergian ayah dan abangnya kembali berputar.
Selama ini, ia selalu berusaha kuat sendirian. Namun malam ini, di tempat ini, ia sadar bahwa Tuhan telah mengirimkan seseorang untuk menjaganya.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh begitu saja membasahi pipi. Safa menunduk, mencoba menyembunyikan tangisnya, namun bahunya yang bergetar tidak bisa berbohong.
Melihat Safa menangis, senyum di wajah Arlan langsung hilang. Tanpa ragu, pria itu berpindah tempat duduk ke samping Safa. Ia menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya, memeluknya dengan begitu erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.
"Eh, kenapa menangis lagi? Ada yang salah dengan ucapan Mas?" tanya Arlan lembut, mengusap punggung Safa dengan telaten.
Safa menggeleng kuat-kuat di dada Arlan. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, membalas pelukan itu tak kalah erat. "Tidak ada yang salah, Mas. Aku cuma ... aku cuma terharu. Aku merasa sangat beruntung memiliki Mas Arlan."
Arlan menghela napas lega, lalu mengecup puncak kepala Safa dengan penuh kasih sayang.
Dalam kehangatan dekapannya, pikiran Safa mulai berkelana. Detak jantung Arlan yang terdengar beraturan di telinganya seolah menjadi melodi yang menenangkan. Perlahan, muncul sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah perasaan yang membuatnya merasa sedikit serakah.
Safa memejamkan mata, mempererat pelukannya pada jaket yang dikenakan Arlan.
'Aku ingin seperti ini selamanya. Aku ingin memiliki Mas Arlan seutuhnya, tanpa harus berbagi dengan masa lalu atau siapa pun lagi,' batin Safa berbisik egois.
Rasa cinta yang tumbuh di hatinya kini mulai menuntut lebih, menjadikannya egois untuk pertama kali dalam hidup.
Bilik bianglala perlahan bergerak turun kembali mendekati tanah. Kebersamaan mereka yang terasa begitu intim di atas sana harus segera berakhir.
Begitu pintu bilik dibuka oleh petugas, Arlan melepaskan pelukannya perlahan, lalu menggandeng tangan Safa untuk turun. Di bawah, Egar dan yang lainnya sudah menunggu.
Namun, sebelum mereka benar-benar melangkah menghampiri yang lain, langkah Arlan mendadak terhenti. Ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat.
Arlan merogoh ponselnya, lalu menatap layar yang menyala. Safa yang berdiri di sampingnya tanpa sengaja melirik ke arah layar tersebut. Di sana tertera sebuah nama yang seketika membuat senyum di wajah Safa memudar, dan genggaman tangan Arlan pada jemarinya perlahan mengendur.
Arlan menatap Safa dengan tatapan yang sulit diartikan, wajahnya mendadak berubah tegang.
"Safa, Mas ..."