NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Jangkauan

Hari ini terasa berat dan penuh tekanan bagi Aurora. Ia yang biasanya kerja sendiri tanpa diawasi, sekarang dirinya bekerja dengan penuh pengawasan.

Sore akhirnya datang tanpa terasa.

Namun suasana di dalam ruangan itu tidak ikut berubah.

Aurora masih duduk di sofa yang sama, dengan beberapa map yang sudah setengah dikerjakan di hadapannya. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya juga tidak jauh berbeda.

Tapi yang paling membuatnya tidak nyaman bukanlah pekerjaan itu. Melainkan perasaan diawasi.

Aurora menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia menunduk, menatap berkas terakhir yang ia pegang.

“Setengah lagi…” gumamnya pelan.

Tangannya bergerak, meskipun sedikit lambat. Rasa perih di pergelangan tangannya masih sesekali muncul, mengingatkannya pada kejadian semalam.

Namun kali ini, ia tidak bersuara. Ia tidak ingin Zayn mendekat lagi.

Entah kenapa, itu justru membuatnya lebih gugup.

Beberapa menit kemudian, Aurora meletakkan pulpen di atas meja kecil itu.

Pekerjaannya akhirnya selesai.

Ia menatap tumpukan berkas di depannya. Semuanya sudah dikerjakan setengah, persis seperti yang diperintahkan.

Aurora menghela napas pelan.

Ia melirik sekilas ke arah meja kerja Zayn.

Pria itu masih duduk di sana, fokus pada layar laptopnya. Wajahnya datar seperti biasa, seolah tidak ada hal lain yang menarik perhatiannya.

Namun Aurora tahu. Ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Aurora berdiri perlahan, merapikan map-map itu dengan hati-hati.

“Pak… saya sudah selesai” ucapnya pelan.

Zayn tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menutup laptopnya.

“Taruh di situ.”

Aurora mengangguk, lalu meletakkan berkas-berkas itu sesuai yang diminta.

Hening kembali mengisi ruangan.

Aurora berdiri canggung. Ia tidak tahu apakah ia boleh pergi atau harus menunggu perintah lagi.

Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.

“Saya boleh kembali ke meja saya, Pak?” tanya Aurora hati-hati.

Zayn mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung jatuh ke arah Aurora, “Pulang.”

Aurora terdiam.

“Pak?”

“Kerja kamu selesai” ucap Zayn.

Aurora ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk, “Iya, Pak…”

Ia berbalik, melangkah menuju pintu dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Hari ini terasa panjang dan penuh keanehan.

Aurora membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.

Namun belum sempat keluar dari ruangan itu, Zayn terlebih dulu memanggilnya, “Flora.”

Aurora berhenti.

Ia menutup matanya sebentar sebelum berbalik, “Iya, Pak?”

Zayn sudah berdiri sekarang, “Ambil tas kamu.”

Aurora mengernyit sedikit, tapi tetap menurut.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di lobby.

Aurora menggenggam tasnya erat. Ia menatap ke arah pintu keluar, lalu melirik sekilas ke arah Zayn, “Saya bisa pulang sendiri, Pak.”

Zayn berhenti melangkah. Ia menoleh sedikit. Tatapannya datar, tapi terasa berat, “Saya tau.”

Aurora menahan napas. Ia mengira itu berarti ia diperbolehkan pergi.

“Masuk.”

Zayn membuka pintu mobilnya tanpa menunggu jawaban.

Aurora terdiam sesaat. Dan seperti sebelumnya, ia tidak membantah. Ia masuk.

Pintu tertutup pelan. Mobil itu kembali melaju.

Seperti malam sebelumnya, suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan.

Aurora duduk kaku di kursi penumpang. Tangannya bertumpu di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam. Ia menatap ke luar jendela.

Lampu-lampu jalan mulai menyala, menggantikan cahaya sore yang perlahan menghilang.

Aurora menggigit bibirnya pelan.

“Kenapa sih… Kenapa Zayn bersikap seperti ini?” batinnya.

“Kalau hanya karena kejadian semalam, harusnya cukup sampai obati lukanya aja, tapi ini...” batin Aurora.

Aurora menelan ludah, lalu tanpa sadar melirik ke arah pria di sampingnya.

Zayn tetap fokus mengemudi.

“Masih sakit?”

Aurora langsung menoleh. Ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

“I-ya, sedikit” jawabnya pelan.

Zayn tidak menoleh, “Hm.”

Namun anehnya, jawaban itu sudah cukup membuat jantung Aurora kembali berdetak tidak karuan.

Hening kembali menyelimuti mobil Zayn. Namun kali ini terasa berbeda, tidak seberat sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, mobil itu melambat.

Aurora mengenali jalan itu. Jalan dekat rumahnya.

Mobil berhenti tepat di depan pagar.

Aurora langsung membuka sabuk pengamannya, “Makasih, Pak…”

Namun sebelum ia membuka pintu Zayn kembali memanggilnya, “Flora.”

Aurora menegang lagi, “Iya, Pak?”

Zayn menoleh sedikit, “Besok.”

Aurora menunggu.

“Jangan telat.”

Aurora berkedip, “Hanya itu? Seriusan? Kalau cuma itu, aku juga tau kali” batinnya.

Ia mengangguk pelan, “Iya, Pak…”

Aurora turun dari mobil.

Udara malam langsung menyambutnya. Ia berdiri di sana beberapa detik, menatap mobil hitam itu.

Namun mobil itu tidak langsung pergi, seolah memastikan sesuatu.

Aurora mengerutkan kening sedikit, “Pak…?”

Zayn tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu. Baru setelah Aurora benar-benar masuk ke dalam rumahnya, mobil itu perlahan menjauh.

Aurora berdiri di balik pintu yang tertutup.

Ia menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lelah. Tapi pikirannya justru semakin penuh.

Aurora berjalan pelan ke arah sofa, lalu duduk. Tangannya menyentuh perban di pergelangannya.

“Flora…” gumamnya pelan.

Ia menatap kosong ke depan.

Hari ini terasa aneh. Semuanya terasa berbeda.

“Entah cuma perasaanku doang atau gimana, tapi aku ngerasa kalau cara dia natap, ngomong itu beda dari biasanya” batin Aurora.

Aurora menggeleng pelan, “Enggak… ini nggak masuk akal” gumamnya.

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, “Dia cuma kasihan. Cuma ngerasa bersalah.”

Aurora menutup matanya, “Iya… pasti itu. Paling besok udah balik jadi kulkas tujuh pintu lagi.”

Tapi entah kenapa, semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, ia justru semakin tidak yakin.

Aurora membuka matanya lagi.

Langit-langit rumahnya terasa asing malam ini.

Di tempat lain.

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah bangunan yang gelap.

Mesin dimatikan. Namun Zayn tidak langsung turun.

Tangannya masih berada di setir. Tatapannya lurus ke depan, tetap datar seperti biasa.

Beberapa detik berlalu. Pintu mobil terbuka.

Zayn keluar. Langkahnya tenang, tapi pasti.

Seseorang sudah menunggunya.

“Dia sudah pulang?” tanya pria itu.

Zayn tidak langsung menjawab.

“Jaga dia.”

Satu kalimat singkat, namun cukup untuk membuat suasana berubah.

Pria itu mengangguk, “Baik.”

Zayn berbalik. Tatapannya kembali dingin seperti biasa.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang tidak terlihat. Tapi jelas terasa.

Dan tanpa Aurora sadari sejak malam itu, ia bukan hanya diawasi. Ia sudah masuk terlalu dalam.

Dan kali ini, tidak akan ada yang membiarkannya keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!