Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di garis api
Suara baling-baling helikopter memecah kesunyian Kepulauan Seribu tepat pukul tiga pagi. Di dalam villa, Nikolai Brine tenang menyesap kopinya, seolah suara mesin perang di atas kepalanya hanyalah musik latar. Ia melirik Clara Marine yang duduk kaku di sofa kulit, tangannya gemetar namun matanya menyala penuh amarah.
"Kakakmu datang lebih cepat dari perkiraanku," ujar Nikolai datar. "Dia memang tidak sabaran."
"Dia akan menghancurkan tempat ini, Nikolai. Lepaskan aku sekarang sebelum semuanya terlambat," ancam Clara.
Nikolai hanya terkekeh, lalu menarik tangan Clara dengan kasar agar berdiri. Ia menyeret wanita itu menuju dermaga pribadi di belakang villa. Di sana, tiga speedboat hitam sudah bersiaga dengan penembak jitu di atasnya.
Di kejauhan, sebuah kapal pesiar mewah namun dengan spesifikasi militer mendekat. Lampu sorot raksasa dari kapal itu menghantam wajah Nikolai dan Clara, membutakan pandangan mereka sejenak. Melalui pengeras suara, sebuah suara dingin bergema di atas deburan ombak.
"Nikolai Brine! Turunkan senjatamu dan lepaskan adikku!"
Itu suara Silas Marine.
Kapal pesiar itu merapat hanya beberapa meter dari dermaga. Jembatan penghubung diturunkan. Silas melangkah turun dengan setelan jas hitam yang rapi, seolah dia sedang menuju rapat pemegang saham, bukan medan perang. Di belakangnya, sepuluh pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis mengikuti.
Clara menahan napas. Sudah dua tahun ia tidak melihat kembarannya secara langsung sejak ia memutuskan kabur ke Indonesia untuk hidup sederhana. Silas terlihat lebih kurus, lebih tajam, dan jauh lebih menyeramkan dari yang ia ingat.
"Silas!" teriak Clara.
Silas menghentikan langkahnya lima meter di depan Nikolai. Matanya beralih dari Nikolai ke Clara. Ada kilatan emosi yang sangat singkat—rasa lega—sebelum kembali membeku menjadi es.
"Kau terlihat berantakan, Clara," ucap Silas datar. "Hidup sederhana ternyata tidak cocok untukmu."
"Bisa kita lewati sesi reuni keluarga ini?" potong Nikolai sambil menodongkan pistol ke pelipis Clara. "Silas, kau tahu aturannya. Aku ingin kode akses jalur logistik Laut Utara. Sekarang. Atau adikmu akan pulang dalam peti mati."
Silas tetap tenang. Ia memasukkan tangan ke saku celananya. "Kau pikir aku sebodoh itu, Nikolai? Aku tahu kau bekerja sama dengan musuh ayahku di Rusia. Kau butuh kode itu untuk menyelamatkan bisnismu yang hampir bangkrut di Dubai."
"Tutup mulutmu!" bentak Nikolai.
"Mari bicara jujur," Silas melangkah satu tindak lebih maju, mengabaikan moncong senjata yang mengarah ke mereka. "Clara bukan sekadar sandera bagiku. Dia adalah aset terpenting keluarga Marine. Jika kau membunuhnya, kau kehilangan segalanya. Tapi jika kau melepaskannya, aku akan memberimu sesuatu yang lebih berharga dari sekadar jalur logistik."
Nikolai menyipitkan mata. "Apa?"
"Kepala pengkhianat di organisasimu sendiri. Sebastian Reef."
Clara tersentak. Ia melirik Sebastian yang berdiri di samping Nikolai. Wajah Sebastian mendadak pucat pasi.
"Apa maksudmu?" tanya Nikolai, suaranya merendah penuh ancaman.
"Sebastian sudah menjual rute pelarianmu malam ini ke polisi air Indonesia dan kartel pesaingmu. Mereka akan tiba di sini dalam sepuluh menit. Jika kau tidak menyerahkan Clara padaku sekarang, kau akan terjebak di pulau ini tanpa jalan keluar," jelas Silas sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pergerakan radar polisi.
Suasana menjadi sangat tegang. Para penjaga Nikolai mulai saling pandang, ragu pada kesetiaan rekan di sebelah mereka.
"Dia bohong, Tuan! Jangan percaya padanya!" teriak Sebastian sambil menghunuskan senjatanya ke arah Silas.
DOOR!
Satu tembakan dilepaskan. Bukan oleh Silas, bukan oleh Sebastian.
Nikolai telah menembak kaki Sebastian sebelum pria itu sempat menarik pelatuk. Sebastian tumbang sambil mengerang kesakitan. Nikolai kemudian mendorong Clara ke arah Silas dengan kasar.
Silas dengan sigap menangkap adiknya, menariknya ke belakang punggungnya yang kokoh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Clara merasa aman, meskipun ia tahu ia baru saja keluar dari mulut harimau masuk ke dalam kandang singa.
"Ambil dia," desis Nikolai pada Silas. "Tapi urusan kita belum selesai, Marine. Aku akan mengejarmu sampai ke Belanda."
"Silakan coba," balas Silas dingin. Ia menatap Clara sejenak, lalu menariknya menuju kapal. "Ayo pergi. Ayah sudah menunggumu di Jakarta."
Saat kapal mulai menjauh, Clara menoleh ke belakang. Ia melihat Nikolai berdiri di ujung dermaga, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara amarah dan obsesi yang belum tuntas.
"Silas," bisik Clara saat mereka sudah di dalam kabin kapal yang aman. "Terima kasih."
Silas menatap adiknya dengan tatapan menghakimi. "Jangan berterima kasih dulu. Kau pulang ke Belanda besok pagi. Sandiwara ini selesai, Clara. Kau akan menikah dengan Julian Tide sesuai rencana awal Ayah."
Clara tertegun. Plot twist yang diberikan Silas jauh lebih menyakitkan daripada penculikan Nikolai.
"Apa? Kau menjadikanku alat negosiasi?"
"Dunia kita memang seperti ini, Clara," jawab Silas tanpa perasaan. "Nikolai hanya pencuri kecil. Ayah adalah penguasa yang sebenarnya. Dan kau... kau hanyalah pion yang hampir hilang dari papan catur."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...