NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Seratus Mata Air

Minggu-minggu berikutnya di Bintang Pengembara berlalu dalam ritme yang nyaman.

Setiap pagi, Xiao Chen muncul di dek observasi tepat saat matahari terbit. Setiap pagi pula, semakin banyak penumpang perempuan yang tiba-tiba gemar bangun pagi dan berjalan-jalan di dek. Beberapa membawa buku, pura-pura membaca. Beberapa membawa teh, pura-pura menikmati pemandangan. Tapi semuanya berakhir di tempat yang sama—dekat pagar tempat Xiao Chen berdiri.

"Kau sadar mereka semua datang untuk melihatmu, kan?" tanya Wei Ling suatu pagi. Dia berdiri di samping Xiao Chen, lengannya bersandar di pagar.

"Tentu saja."

"Dan kau tidak merasa terganggu?"

"Kenapa aku harus terganggu?" Xiao Chen menoleh padanya, senyumnya muncul. "Mereka tidak mengganggu siapa pun. Lagipula, aku sudah terbiasa."

"Terbiasa diperhatikan?"

"Terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa mencoba." Xiao Chen menyelipkan helaian rambut Wei Ling yang terlepas ke balik telinganya. Sentuhan ringan itu membuat Wei Ling merinding. "Tapi hanya satu yang benar-benar kuperhatikan."

Wajah Wei Ling memerah. "Kau... kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal seperti itu."

"Aku baru saja mengatakannya."

"Itu—itu—" Wei Ling menyerah dan membenamkan wajahnya di lengan yang terlipat di pagar. "Kau membuatku tidak bisa berpikir."

"Itu intinya."

Di belakang mereka, seorang perempuan muda berjubah ungu muda—putri seorang pedagang dari Kota Seribu Angin—menjatuhkan kipasnya untuk ketiga kalinya pagi itu. Temannya, yang berdiri di sampingnya, berbisik, "Kau sengaja menjatuhkannya."

"Tidak!"

"Kau sudah menjatuhkannya tiga kali."

"Aku... anginnya kencang."

Xu Mei, yang duduk di bangku dekat pintu masuk dek, menyaksikan semua ini dengan ekspresi datar. Tapi sudut bibirnya sedikit melengkung. "Setiap hari," gumamnya. "Setiap hari sama."

Malam keempat sebelum tiba di Kota Seratus Mata Air, Xiao Chen duduk di dipannya membaca gulungan tentang sejarah Benua Selatan. Pintu kabinnya terbuka tanpa diketuk.

Lin Yao masuk.

Dia menutup pintu di belakangnya. Jubah hijaunya sudah berganti dengan gaun tidur sederhana—putih, tanpa hiasan, kontras dengan matanya yang hijau zamrud. Rambutnya tergerai bebas. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi gugup seperti Wei Ling dulu—tapi tangannya mengepal di sisi tubuhnya, dan itu cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak setenang yang dia tunjukkan.

"Aku sudah siap," katanya. Langsung. Tanpa basa-basi.

Xiao Chen menutup gulungannya. "Kau yakin?"

"Aku tidak akan datang ke sini kalau aku tidak yakin."

"Benar juga." Xiao Chen bangkit, berjalan ke arahnya. Gerakannya lambat, memberinya waktu untuk mundur. Tapi Lin Yao tidak mundur. Dia berdiri di tempatnya, matanya terpaku pada Xiao Chen.

"Kau tahu," kata Xiao Chen, berhenti tepat di depannya, "kau adalah orang paling keras kepala yang pernah kutemui."

"Itu masalah?"

"Bukan. Itu salah satu hal yang kusukai darimu."

Dia menciumnya. Bukan ciuman lembut seperti di taman dulu. Ini lebih intens, lebih penuh. Lin Yao membalas dengan intensitas yang sama, tangannya naik ke leher Xiao Chen, menariknya lebih dekat. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Hanya keinginan yang sudah terlalu lama ditahan.

Xiao Chen mengangkatnya dan membawanya ke dipan. Lin Yao mendesah saat punggungnya menyentuh kasur, tapi dia tidak melepaskan ciumannya. Tangannya sudah menarik-narik jubah Xiao Chen.

"Kau terlalu banyak pakai pakaian," gerutunya.

"Kau juga." Xiao Chen menyingkirkan tali gaun tidurnya dengan cekatan. Kain putih itu meluncur turun, memperlihatkan tubuh Lin Yao yang ramping dan atletis—hasil dari latihan pedang selama bertahun-tahun. Payudaranya tidak terlalu besar tapi kencang, pinggangnya ramping, dan di perutnya ada bekas luka tipis—sisa pertarungan lama.

"Dari mana ini?" tanya Xiao Chen, menyentuh bekas luka itu.

"Bertarung dengan ular raksasa waktu umur empat belas tahun. Hampir mati."

"Kau menang?"

"Tentu saja."

Xiao Chen tersenyum. "Itu yang kusuka darimu."

Dia menunduk, mencium bekas luka itu. Lalu naik, ke atas perutnya, ke tulang rusuknya, ke payudaranya. Mulutnya menemukan putingnya, dan Lin Yao—yang tadinya berusaha keras untuk tetap diam—akhirnya mengeluarkan desahan panjang. Tangannya mencengkeram rambut putih Xiao Chen, membimbingnya.

"Jangan berhenti," bisiknya.

Xiao Chen tidak berhenti. Lidahnya berputar, menghisap lembut, bergantian antara satu sisi dan sisi lainnya. Tangannya yang bebas bergerak turun, melewati pinggang, menyusuri pahanya yang tegang.

Ketika jarinya mencapai bagian paling intimnya, Lin Yao tersentak. Dia sudah basah—sangat basah.

"Kau sudah siap dari awal," kata Xiao Chen.

"Aku sudah siap sejak enam bulan lalu. Kau terlalu lama."

Xiao Chen tertawa kecil. "Kalau begitu, mari kita percepat."

Dia melepaskan jubahnya, dan Lin Yao menatap tubuhnya tanpa malu-malu. Matanya menyapu dari bahu lebar, dada bidang, perut berotot, hingga ke bagian paling maskulinnya yang sudah tegak.

"Kau benar-benar sempurna," katanya, nada suaranya campuran antara kagum dan frustrasi. "Ini tidak adil."

"Aku tahu."

Dia memposisikan dirinya di antara kaki Lin Yao. Berbeda dengan Wei Ling yang pemalu, Lin Yao menariknya lebih dekat dengan kedua kakinya, memaksanya untuk masuk lebih cepat. Ketika Xiao Chen mendorong masuk, dia hanya mengerang pendek—tidak ada protes, tidak ada permintaan untuk pelan-pelan.

"Lebih keras," katanya.

"Lin Yao—"

"Aku bilang lebih keras."

Xiao Chen menurut. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam, suara tubuh mereka bertemu memenuhi kabin. Lin Yao tidak menahan suaranya—setiap desahan, setiap erangan, setiap kali dia menyebut nama Xiao Chen, semuanya keluar tanpa rasa malu. Kukunya mencakar punggung Xiao Chen, meninggalkan jejak merah.

"Aku—aku dekat—" Napasnya memburu.

"Lepaskan."

Lin Yao melepaskan dengan erangan panjang yang berubah menjadi teriakan kecil. Tubuhnya melengkung, otot-ototnya menegang, dan dia mengguncang di bawah Xiao Chen dengan intensitas yang membuat dipan berderit. Beberapa detik kemudian, Xiao Chen mengikutinya, melepaskan kehangatannya ke dalam dirinya.

Mereka terkulai, napas tersengal. Keringat membasahi tubuh mereka. Lin Yao berbaring di samping Xiao Chen, matanya setengah tertutup, rambutnya berantakan di atas bantal.

"Itu..." Dia mencari kata-kata. "...sepadan dengan penantian."

"Aku senang kau menyukainya."

"Jangan sombong."

"Aku tidak sombong. Aku hanya percaya diri."

Lin Yao memukul dadanya pelan. Tapi kemudian dia menggeser tubuhnya, menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Chen. "Jangan pergi," bisiknya.

"Aku tidak akan ke mana-mana."

"Maksudku... dari sisiku. Dari hidupku." Lin Yao menatap langit-langit kabin. "Aku sudah sendiri selama bertahun-tahun. Tidak ada keluarga. Tidak ada teman dekat kecuali Su Mei. Lalu kau muncul, dan tiba-tiba aku merasa... aku tidak ingin sendiri lagi."

Xiao Chen menoleh, mencium keningnya. "Aku tidak akan pergi dari hidupmu, Lin Yao. Itu janji."

Lin Yao menutup matanya. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum—bukan senyum sinis atau senyum tantangan, tapi senyum yang tulus.

Kota Seratus Mata Air muncul di cakrawala pada pagi keempat.

Dinamakan demikian karena kota ini dibangun di atas seratus mata air alami yang mengalirkan air jernih dari dalam bumi. Dari udara, kota itu terlihat seperti taman raksasa—kanal-kanal berkilau, jembatan-jembatan batu melengkung, dan pepohonan hijau yang tumbuh di antara bangunan-bangunan. Berbeda dengan Kota Seribu Angin yang megah dan formal, Seratus Mata Air terasa lebih... hidup. Lebih organik.

Bintang Pengembara merapat di pelabuhan udara yang dibangun di atas danau besar. Begitu kapal berhenti, para penumpang mulai turun—pedagang dengan barang dagangan, kultivator dengan pedang di pinggang, dan rombongan Sekte Awan Kelabu yang turun dengan hati-hati.

"Kita akan tinggal di sini selama dua hari," kata Wei Zhen. "Cari informasi tentang Lembah Seribu Bintang, isi perbekalan, lalu lanjutkan perjalanan."

Xu Mei sudah menunggu di dermaga, jubah merah marunnya kontras dengan birunya air danau. "Aku sudah menghubungi cabang Paviliun di sini. Mereka akan menyediakan penginapan dan data tentang reruntuhan."

"Efisien seperti biasa," kata Xiao Chen.

"Tentu saja." Xu Mei mengangkat dagunya. "Aku tidak membiarkan apa pun mengganggu pekerjaanku."

Termasuk kenyataan bahwa dia masih memikirkan ciuman di balkon itu. Tapi itu urusan pribadi. Sangat, sangat pribadi.

Penginapan mereka adalah sebuah vila terapung di atas salah satu mata air terbesar. Bangunan kayu dengan atap genting hijau, dikelilingi teratai spiritual raksasa yang bersinar di malam hari. Masing-masing dari mereka mendapat kamar sendiri—kali ini dengan dinding yang lebih tebal.

Wei Ling memilih kamar di sudut, dengan jendela menghadap ke air terjun kecil. Begitu dia masuk, dia langsung meregangkan tubuhnya di dipan.

"Empat minggu di kapal," keluhnya. "Akhirnya bisa tidur di tempat yang tidak bergoyang."

"Kau tidak suka kapal?" tanya Xiao Chen dari pintu.

"Aku tidak suka terbatas di satu tempat. Dan aku tidak suka..." Dia berhenti. "...dinding yang tipis."

Xiao Chen tersenyum. "Kamar di sini lebih tebal. Kau tidak akan mendengar apa pun."

"Kenapa kau bilang begitu?"

"Tidak ada alasan." Xiao Chen berjalan masuk, duduk di tepi dipannya. "Kau mau istirahat?"

Wei Ling duduk, menatapnya. "Kau... akan tinggal?"

"Hanya jika kau mau."

Wei Ling menatapnya, mengingat malam-malam di kapal, dan perlahan-lahan mengangguk. "Aku mau."

Kota Seratus Mata Air memiliki pasar terapung yang terkenal—ratusan perahu kayu yang saling terhubung, menjual segalanya dari makanan jalanan hingga artefak langka.

Sore harinya, Xiao Chen berjalan-jalan di pasar ditemani Wei Ling, Lin Yao, dan Xu Mei. Feng Mo, Zhang Yuan, dan Wei Zhen pergi ke arah berbeda untuk mencari informasi tentang rute ke Lembah Seribu Bintang.

Begitu Xiao Chen melangkah ke pasar, efeknya langsung terasa.

Seorang pedagang perempuan yang menjual buah spiritual menjatuhkan tiga apel sekaligus. Penjual jimat di perahu sebelah kehilangan kata-kata saat Xiao Chen memeriksa dagangannya. Dua gadis kembar—mungkin enam belas tahun—berhenti di tengah jembatan dan lupa berjalan, menciptakan kemacetan kecil di belakang mereka.

"Lihat rambutnya," bisik salah satu.

"Aku mau rambut seperti itu."

"Kau tidak bisa punya rambut seperti itu. Itu... itu hadiah dari surga."

Xiao Chen mendengarnya. Dia menoleh dan tersenyum pada mereka. Kedua gadis kembar itu langsung berpegangan satu sama lain, wajah mereka merah padam.

Wei Ling menghela napas. "Setiap kota sama."

"Itu karena aku konsisten," jawab Xiao Chen.

Di sebuah kios yang menjual perhiasan spiritual, seorang wanita penjual berusia sekitar tiga puluh tahun—cantik, rambut cokelat kemerahan, tubuh montok—langsung bangkit saat melihat Xiao Chen mendekat. "Tuan muda! Silakan lihat-lihat! Untukmu, aku beri diskon khusus!"

"Aku belum bilang mau beli apa."

"Tidak apa-apa! Diskon tetap berlaku! Sepanjang hidup!"

Lin Yao memutar matanya. Xu Mei menutupi mulutnya untuk menyembunyikan senyum. Wei Ling hanya mendesah lagi.

Xiao Chen memilih sebuah gelang sederhana—batu bulan dalam lingkaran perak. "Ini bagus."

"Itu—itu hadiah! Gratis!" kata si penjual, wajahnya merah padam. "Ambil saja!"

"Aku tidak bisa menerimanya gratis." Xiao Chen meletakkan beberapa Batu Spiritual Menengah di meja. "Tapi terima kasih atas tawarannya."

Saat mereka berjalan pergi, si penjual masih berdiri terpaku, gelang di tangannya dan batu spiritual di mejanya, memandangi punggung Xiao Chen yang semakin menjauh. "Dia... dia tersenyum padaku," bisiknya pada diri sendiri. "Aku akan mengingat ini selamanya."

Malamnya, di vila terapung, Wei Ling dan Lin Yao duduk di beranda bersama Xiao Chen, menatap teratai spiritual yang bersinar.

"Aku dapat informasi dari kontak Paviliun," kata Xu Mei, muncul dari dalam. "Lembah Seribu Bintang berjarak sekitar seminggu perjalanan dari sini, ke arah tenggara. Tapi tempat itu berbahaya. Banyak jebakan kuno yang masih aktif."

"Jebakan apa?" tanya Xiao Chen.

"Formasi ilusi, terutama. Orang-orang yang masuk ke sana sering tersesat dan tidak pernah kembali. Tapi ada juga laporan tentang penampakan penjaga batu—makhluk buatan dari zaman kuno yang masih berfungsi."

"Kedengarannya menyenangkan," kata Lin Yao.

"Kau tidak takut?"

"Aku tidak takut pada batu."

Xu Mei tersenyum tipis. "Aku akan menyiapkan peta detailnya besok. Malam ini, istirahat saja dulu."

Dia berbalik untuk pergi, tapi berhenti di pintu. "Xiao Chen... terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk membuat perjalanan ini... tidak membosankan." Dia menghilang ke dalam sebelum Xiao Chen bisa menjawab.

Wei Ling menatap Xiao Chen. "Kau melakukan sesuatu padanya."

"Aku tidak melakukan apa pun."

"Tepat. Kau tidak melakukan apa pun, dan itu yang membuat mereka jatuh cinta."

Xiao Chen merenungkan itu sejenak. "Kau mungkin benar."

"Jangan setuju!"

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!