Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang kembali bertemu.
Sinar matahari mulai terasa hangat menyorot pada gedung fakultas yang menjulang tinggi.
Suasana didalam sudah ramai saat dosen wanita masuk keruang jurusan teknologi informatika.
Bayu menatap tanpa berkedip ketika melihat wajah dosen itu, ingatan wanita mabuk semalam muncul seketika membuat ia sedikit terdiam bingung.
"Ada apa?" Tanya indah melirik kearah Bayu, sambil menyentuh lengan Bayu, ia menyadari bahwa kini gerakan Bayu terasa berbeda dari sebelumnya.
Bayu sedikit tersentak ketika lengannya disentuh, "ah gak apa-apa", jawabnya ragu.
Indah masih melirik aneh, kemudian kembali menatap kedepan, kearah dosen wanita yang sedang meletakkan berkasnya diatas meja.
"Dosen itu cantik ya" ucap indah pelan, sangat pelan hingga hampir berbisik.
"Semua wanita juga cantik", jawab Bayu datar.
Di depan Anita mulai berjalan dan berhenti di depan papan. "Nama saya Anita, saya tidak suka jika lagi menerangkan ada yang tidak memperhatikan atau ngobrol sendiri, jika hanya ingin bermain-main disini, maka sebelum saya memulai materi saya persilahkan keluar", jelas Anita tegas pandangannya menyapu kesemua maha siswa.
"Hmmm... Ternyata Dosen kita galak juga ya", gumam Angga yang duduk paling belakang ditemani Anak buahnya.
"Hati-hati bos... Pelankan suaramu", tanggap anak buahnya dengan suara pelan.
"Aku tahu", jawab Angga singkat.
Para mahasiswa terdiam, hanya suara jam dinding terdengar begitu teras, sedang setiap nafas seolah tertahan oleh udara yang terasa berat.
Anita mengangkat catatan nama para mahasiswa memanggil satu persatu. Namun ketika Bayu mengangkat tangannya, tatapannya sejenak terpaku pada Bayu, pupil matanya terlihat melebar. "Dia ternyata seorang mahasiswa", ucapnya dalam hati, dan tangan lentiknya mengepal keras.
Bayu melihat keanehan itu, namun ia pura-pura menunduk.
Anita melanjutkan membaca absen lagi, setelahnya ia duduk di kursi balik meja.
Pagi itu berjalan tanpa ada hambatan dan tak ada satu pun yang Anita keluarkan dari kelasnya.
Jam pelajaran selesai, para mahasiswa satu persatu keluar kelas, sedang Anita masih merapikan berkas-berkasnya.
"Hai... Bayu, bisa kita makan siang bersama", ajak indah berdiri dari tempat duduknya.
Bayu masih terdiam, hanya menatap kearahnya.
"Gimana, aku udah lapar niih?," Sambung indah lagi.
"Kamu duluan aja dulu, entar aku nyusul", jawab Bayu sambil tersenyum.
"Baiklah, aku tunggu di kantin ya" jawab indah meninggalkan Bayu setelah melihat Bayu mengangguk.
Bayu membuka kembali leptopnya, data argoridma saham mulai muncul di layar.
Sesekali Bayu mengeklik, dan sesekali cemberut, lalu sesekali juga tersenyum.
Dari jauh Anita memandangi tingkah Bayu, ia tak keluar dari gedung seperti biasanya, ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Bayu.
Langkahnya berhenti pas di depan samping Bayu, "kamu sedang apa?", tanya Anita melirik layar leptop dan kembali menatap Bayu.
"Ternyata kamu seorang dosen ya", kata Bayu datar melihat Anita sebentar dan kembali menatap layar.
"Ya seperti itu lah, namun keuangannya tetap kalah dengan mahasiswa yang hobi bermain saham", jawab Anita tajam.
"Apakah menurutmu uang itu penting?" Tanya Bayu datar pandangannya masih tertuju pada layar.
"Kamu mengajak ngobrol seorang wanita namun tetap dibiarkan berdiri", kata Anita.
"Kalau ingin duduk, duduk saja... Bukannya disini kamu Tuannya" jawab Bayu tanpa tersenyum.
Anita pun duduk disamping Bayu, "terimakasih ya untuk kejadian semalam", kata Anita memandang wajah Bayu dari samping.
Bayu masih tak menoleh kearahnya, "jangan diulangi lagi" katanya.
"Kenapa?"
"Kamu wanita, apa lagi seorang dosen, gak bagus jika ada muridmu yang melihat kejadian semalam", jelas Bayu.
"Jadi kamu mulai mencoba mengaturku" jawab Anita.
"Itu terserah kamu, to kita bukan bocah lagi", kata Bayu pelan.
Anita terdiam.
Pandangannya masih mengunci kearah Bayu, "kamu gak lapar?", tanya Anita.
"Masih menyelesaikan ini dulu."
Anita melihat kearah layar, terlihat Argoridma naik kepuncak. "Ini.... Bagaimana kamu bisa melakukan?" Tanya Anita Yaang melihat uang Bayu berlipat banyak... Hingga puluhan miliar.
"Ini udah hobiku", jawab Bayu.
Anita terdiam..
"Jadi kamu gak ingin menjelaskan?", tanya Anita.
"Disini aku hanya mahasiswa sedang kamu seorang Dosen," jawab Bayu datar.
"Ternyata kamu pelit juga ya.."
"Percuma kamu gak akan mengerti" kata Bayu.
"Kamu meragukan kecerdasan seorang dosen?"
"Ini bukan masalah kecerdasan, butuh berkali-kali mencoba, seperti halnya yang telah kamu jelaskan soal materi membuat Ai tadi", jawab Bayu sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Dari pertama sampai saat ini kamu benar-benar orang yang menyebalkan ya", kata Anita sedikit menggit bibir bawahnya.
"Kamu tahu aku menyebalkan, kenapa kamu tetap disini" jawab Bayu kali ini menoleh pada Anita.
Kedua mata mereka bertemu tanpa berkedip.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
"Egheem.... Ya sudahlah, jika kamu udah lapar aku hanya ingin mengajak kamu makan bersama, hitung-hitung aku ingin mengucapkan terimakasih soal kejadian semalam". Jawab Anita sambil memalingkan pandangannya dan merapikan rambut depannya.
"Jadi seperti ini caramu mengucap terimakasih?" Kata Bayu kembali menatap kearah layar komputernya.
Seperempat jam telah berlalu tanpa bicara, mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Bayu sibuk dengan leptopnya, sedang Anita sibuk dengan ponselnya.
Suara ketikan tangan terdengar jelas ditelinga.
.........
Bayu berdiri dari tempat duduknya menutup leptopnya kemudian berjalan kedepan lalu berhenti.
Anita hanya terdiam melihat Bayu yang mulai meninggalkan dirinya tanpa mengucap satu kata pun.
"Apakah kamu serius mau mentraktirku?" Tanya Bayu menoleh kearah Anita.
Anita masih terdiam hanya bisa menatap wajah Bayu, wajahnya lesu dan tatapannya sayup.
Angin berhembus pelan diantara mereka, memberi celah ketegangan dan perasaan yang membuat hati tak berdaya mengatur situasi yang terasa semakin rumit.
...........
"Ayo... Kita mau makan dimana?", lanjut Bayu.
"Ok... Yang pasti jangan di kantin, kita makan diluar saja." Jawab Anita tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya menghampiri Bayu.
Keduanya berjalan bersama menuju parkiran mobil, para mahasiswa melirik sesekali, namun tak ada yang memperdulikan, hanya sebatas melihat lalu melirik. Tak ada hal yang aneh tentang itu.
"Cuud... Cuud..." Mobil Brio Anita menyala ketika remod kontak dipencet.
"Mau ditaruh mana mukaku kalau jalan dengan wanita memakai mobil wanita", kata Bayu datar.
"Jadi....?" Tanya Anita menghentikan langkahnya.
"Pakai mobilku saja", jawab Bayu melangkah melewati mobil Anita.
Anita segerah mengikuti langkah Bayu..
"Cuut...Cuut..!!" Mobil sport merah menyala, Lamborghini.
"Kamu gak sedang pamer padaku kan", jawab Anita ketika Bayu hendak memasuki mobilnya.
"Apa gunanya pamer, toh sekarang kamu sudah tahu isi kantongku" jawab Bayu datar.
"Ok... Baiklah", jawab Anita, sedikit menggigit gigi gerahamnya.
Mobil itu pun meluncur meninggalkan parkiran mobil.
Namun dari jauh indah melihat kejadian itu, ia hanya berdiri menatap wajah Bayu dan Dosen Anita yang sedang menaiki mobil bersama hanya berdua.
.....
Bersambung.