Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang rahasia
Mobil Aris membelah kemacetan Jakarta Barat yang pengap dan bising. Rania duduk mematung di kursi penumpang, jemarinya terus meraba permukaan kunci besi tua di dalam saku jaketnya. Kunci itu terasa dingin, namun ujung-ujungnya yang bergerigi seolah membakar telapak tangannya. Aris sesekali melirik sahabatnya itu, ingin menghibur, namun ia tahu kata-kata tidak akan berguna saat ini. Sebagai polisi, ia tahu bahwa keheningan Rania adalah jenis keheningan sebelum badai besar melanda.
Mereka tiba di sebuah kawasan ruko tua di daerah palmerah. Bangunannya tampak kusam, dengan cat yang mengelupas dan deretan kabel listrik yang menjuntai semrawut. Ruko nomor 14 itu berada di pojok, terjepit di antara toko kelontong dan bengkel motor yang gaduh. Papan namanya sudah tidak ada, hanya menyisakan bekas kotak yang berkarat di atas pintu harmonika yang terkunci rapat.
"Ini tempatnya?" Aris bertanya sambil mematikan mesin mobil.
Rania mengangguk lemah. "Dulu, saat kami baru menikah, Damar membangun bisnisnya dari sini. Dia bilang ruko ini sudah disewakan kepada sebuah perusahaan logistik kecil, tapi aku tidak pernah melihat aktivitas di sini setiap kali kebetulan lewat."
Aris turun dan memeriksa gembok besar yang mengunci pintu harmonika. Ia mengeluarkan alat kecil dari sakunya, namun Rania segera menyodorkan kunci cadangan yang ia bawa. Klik. Bunyi besi yang beradu terdengar tajam di telinga Rania. Pintu itu terbuka dengan derit panjang yang memilukan, seolah-olah bangunan itu sendiri protes karena rahasianya akan terbongkar.
Bagian dalam ruko itu gelap dan pengap. Bau debu yang tebal dan aroma lembap langsung menyeruak. Aris menyalakan senter taktisnya, menyapu ruangan luas yang kosong melompong. Tidak ada meja, tidak ada kursi, apalagi aktivitas perusahaan logistik seperti yang dikatakan Damar. Hanya ada lantai semen yang tertutup debu halus.
"Kosong," gumam Aris. "Tapi lihat jejak di lantai ini, Ran."
Cahaya senter Aris menunjukkan jalur-jalur bersih di atas debu—jejak kaki yang sering lewat menuju ke arah belakang, tepatnya ke arah sebuah ruangan kecil yang seharusnya berfungsi sebagai gudang di bawah tangga.
Rania berjalan mengikuti jejak itu. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang gemetar. Di bawah tangga, terdapat sebuah pintu kayu jati yang tampak lebih kokoh dan lebih terawat dibandingkan pintu-pintu lain di ruko itu. Ada sebuah gembok digital yang terpasang di sana—teknologi modern yang sangat kontras dengan bangunan tua ini.
"Gembok digital?" Aris mengernyit. "Ini tidak biasa untuk sebuah gudang kosong."
Rania mencoba mengingat-ingat. Tanggal lahirnya? Gagal. Tanggal pernikahan mereka? Gagal. Ia mencoba angka yang paling tidak masuk akal bagi orang lain namun bermakna bagi Damar: tinggi badan Rania dan berat badannya saat pertama kali mereka bertemu. Gagal juga.
Lalu, sebuah ingatan melintas. Damar pernah berkata bahwa angka favoritnya adalah angka yang melambangkan "kebebasan". Rania mencoba memasukkan koordinat tempat mereka pertama kali berkencan di puncak bukit. Tit... tit... bip! Pintu itu terbuka.
Cahaya senter Aris masuk lebih dulu, diikuti oleh napas Rania yang tertahan. Apa yang mereka temukan di dalam bukanlah kantor kontraktor. Bukan pula gudang material.
Ruangan itu disulap menjadi sebuah kamar ganti yang sangat mewah dan sangat privat. Dindingnya dilapisi cermin besar dari lantai hingga langit-langit. Di satu sisi, terdapat lemari pakaian terbuka yang berisi deretan gaun-gaun indah—mulai dari gaun malam berbahan sutra hingga pakaian kantor wanita yang sangat modis. Semuanya tampak mahal, dengan merek-merek ternama yang bahkan Rania sendiri jarang membelinya.
Rania melangkah masuk dengan perasaan mual yang mulai naik ke tenggorokan. Ia menyentuh salah satu gaun sutra berwarna merah marun. Ukurannya... mungil. Jauh lebih kecil dari ukuran tubuh Rania.
"Gaun siapa ini, Ris?" suara Rania bergetar hebat. "Apa Damar... apa dia punya wanita lain di sini selama ini?"
Aris tidak menjawab. Ia sedang memeriksa meja rias yang terletak di sudut ruangan. Meja itu penuh dengan deretan kosmetik premium, alat rias profesional, dan botol-botol parfum yang aromanya sangat feminin. Namun, perhatian Aris tertuju pada sebuah kotak beludru di pojok meja.
Di dalam kotak itu, terdapat deretan wig atau rambut palsu dengan berbagai model—rambut panjang hitam bergelombang, rambut pirang pendek, hingga model bob yang elegan. Di sampingnya, terdapat berbagai macam aksesoris wanita: anting-anting mutiara, kalung emas putih, dan tas-tas tangan bermerek.
"Ini bukan tempat perselingkuhan biasa, Ran," Aris berbisik, matanya menyisir setiap sudut ruangan dengan ketajaman seorang penyidik. "Lihat ini."
Aris menunjuk ke sebuah sudut di mana terdapat cermin rias dengan lampu-lampu LED yang sangat terang. Di sana, ada sebuah foto yang ditempel di sudut cermin. Foto seorang wanita yang tampak cantik dari belakang, sedang menatap jendela. Namun, saat Rania mendekat, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Wanita dalam foto itu mengenakan salah satu gaun yang ada di lemari ini.
"Itu... Apakah itu wanita selingkuhan Damar ?" bisik Rania, tangannya menutup mulut.
Aris segera mengeluarkan sarung tangan lateks dan mulai mengambil beberapa helai rambut yang tertinggal di sisir meja rias. Ia juga mengambil sebuah kain kecil yang tampak seperti bekas pembersih riasan.
"Aku butuh bukti ilmiah, Ran. Jangan menyimpulkan apa pun dulu," kata Aris, meski wajahnya sendiri tampak sangat tegang. "Aku punya teman di lab forensik yang bisa melakukan tes cepat pada sidik jari dan DNA yang tertinggal di barang-barang ini."
Rania terjatuh lemas di sebuah kursi rias yang empuk. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di sekelilingnya adalah identitas wanita yang sangat lengkap, namun terasa sangat kosong. Ia merasa seolah-olah sedang berada di dalam sarang seekor laba-laba yang telah menjeratnya dalam kebohongan selama bertahun-tahun.
"Ris... apa mungkin?" Rania tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Pikiran bahwa suaminya, pria maskulin yang ia cintai, menghabiskan waktu di ruangan ini untuk menjadi orang lain... itu adalah kenyataan yang lebih menakutkan daripada kematian.
"Aku akan membawa beberapa sampel ini," Aris memasukkan sisir, sikat rias, dan beberapa aksesoris ke dalam kantong bukti transparan. "Aku akan memintanya memeriksa apakah ada jejak tangan orang lain selain Damar. Kalau hanya ada sidik jari Damar di semua barang wanita ini... maka kita berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekadar perselingkuhan."
Rania bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Ia mulai membuka laci-laci di meja rias itu. Di laci paling bawah, ia menemukan sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tidak ada tulisan panjang. Hanya ada tanggal-tanggal, dan di sampingnya terdapat catatan waktu.
12 Maret - 3 jam.
15 Maret - 5 jam.
20 Maret - Sepanjang malam.
"Ini bukan jadwal proyek," Rania terisak. "Ini jadwal dia berada di sini. Bersama wanita ini."
Aris mengambil buku itu dari tangan Rania. Ia melihat catatan terakhir yang tertulis di sana, tanggalnya adalah dua hari sebelum Damar menghilang.
Terakhir. Saatnya menjadi dia selamanya.
Kalimat itu tertulis dengan tinta hitam yang tebal dan ditekan kuat, hingga membekas ke halaman berikutnya. Rania merasa dunianya benar-benar runtuh. "Saatnya menjadi dia selamanya?" ulangnya dengan suara hancur. "Jadi dia pergi bukan untuk meninggalkan aku demi wanita lain... tapi dia pergi untuk menjadi wanita lain?"
Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sempit dan menyesakkan bagi Rania. Cermin-cermin di sekelilingnya seolah-olah memantulkan ribuan kebohongan yang selama ini ia telan bulat-bulat. Ia teringat kembali pada setiap momen kemesraan mereka—kecupan di pagi hari, pelukan saat ia lelah bekerja, janji-janji masa depan. Apakah semua itu nyata? Ataukah itu hanya akting dari seorang pria yang sedang berjuang melawan identitas aslinya?
"Kita harus pergi dari sini, Ran," Aris memegang lengan Rania, mencoba menuntunnya keluar. "Tempat ini sudah memberikan jawaban, tapi kita butuh bukti lab untuk memastikannya. Aku tidak mau kau hancur di sini."
Rania mengikuti Aris keluar dari ruko itu dengan langkah gontai. Saat pintu harmonika kembali dikunci, Rania menatap bangunan kusam itu untuk terakhir kalinya. Ia merasa bahwa sebagian dari dirinya tertinggal di dalam ruangan rahasia itu—sebagian dirinya yang masih percaya pada kesempurnaan Damar.
Di dalam mobil, suasana kembali sunyi, namun kali ini kesunyian itu terasa sangat berat. Aris segera memacu mobilnya menuju kantor pusat Divisi Kriminal. Ia perlu jawaban cepat.
"Aris," panggil Rania lirih saat mereka di tengah jalan.
"Ya, Ran?"
"Tolong... jangan beri tahu siapa pun dulu. Hasilnya... berikan hanya padaku."
Aris mengangguk mantap. "Aku janji. Ini rahasia kita sampai kita tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Sesampainya di kantor Aris, Rania diminta menunggu di ruang tunggu tamu yang lebih privat. Aris masuk ke dalam gedung dengan kantong-kantong bukti di tangannya. Rania duduk di sana, menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan urusan kriminal mereka masing-masing. Ada pencuri yang diborgol, ada saksi yang menangis, dan di sana ada dia—seorang istri dokter yang sedang menunggu hasil tes DNA untuk membuktikan apakah suaminya adalah seorang wanita.
Beberapa jam berlalu. Setiap menit terasa seperti satu tahun. Rania bahkan lupa untuk makan atau minum. Perutnya terasa mual, bukan hanya karena lapar, tapi karena kecemasan yang luar biasa. Hingga akhirnya, Aris keluar dari pintu kaca besar itu dengan wajah yang sulit dibaca. Ia memegang beberapa lembar kertas laporan.
Aris duduk di depan Rania, menarik napas dalam-dalam.
"Ran... aku sudah meminta temanku melakukan pemeriksaan cepat pada sidik jari di sisir, botol parfum, dan gembok digital tadi."
Rania menahan napas. "Lalu?"
"Hanya ada satu sidik jari di sana, Ran. Tidak ada sidik jari wanita lain. Tidak ada jejak tangan orang asing." Aris menjeda kalimatnya, menatap mata Rania dengan tatapan yang penuh empati. "Semua jejak di ruangan itu, di semua barang wanita itu... adalah milik Damar. Suamimu."
Dunia Rania seakan meledak. Ia tidak menangis. Ia hanya terdiam, menatap kosong ke arah kertas di tangan Aris. Fakta itu menghantamnya lebih keras dari apa pun. Keheningan itu berlangsung lama, hingga tiba-tiba Rania merasakan sensasi aneh di perutnya. Rasa mual yang sedari tadi ia rasakan berubah menjadi gejolak yang hebat.
Ia berlari menuju kamar mandi di ujung koridor, memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hanya berisi air dan asam lambung. Di dalam bilik kamar mandi yang sempit, Rania terduduk di lantai, memegangi perutnya.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Sebagai seorang dokter, ia seharusnya sudah menyadarinya sejak beberapa hari lalu. Siklusnya yang terlambat, mual yang tidak biasa, dan sensitivitas penciumannya.
Rania keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Ia menghampiri Aris yang menunggu dengan cemas di depan pintu.
"Ris... aku butuh ke apotek," bisik Rania.
"Apotek? Kau sakit? Kita ke klinik polisi sekarang kalau kau merasa tidak enak badan," Aris panik.
"Tidak... aku hanya perlu membeli sesuatu," Rania menggeleng.
Tiga puluh menit kemudian, di dalam toilet apotek dekat kantor polisi, Rania menatap sebuah benda kecil di tangannya. Dua garis merah yang tegas.
Rania tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan hampir gila. Di hari ia menemukan bahwa suaminya telah menghilang untuk menjalani kehidupan sebagai orang lain, di hari ia menemukan identitas rahasia suaminya di sebuah ruko tua... di hari itu juga, ia mendapatkan berita yang seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar dalam pernikahan mereka.
"Aku hamil, Damar," bisik Rania pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak sangat menyedihkan. "Dan kau... kau pergi meninggalkan jejak darahmu."
Harapan yang tadinya menguap, kini berganti dengan beban tanggung jawab yang luar biasa berat. Ada nyawa di dalam perutnya, nyawa dari seorang pria yang mungkin tidak pernah benar-benar ia kenal. Rania meremas tes pack itu erat-erat, air matanya akhirnya tumpah, membasahi wajahnya yang kuyu. Ia sendirian, dengan rahasia yang mengerikan di tangannya, dan seorang bayi yang akan lahir tanpa mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya.