NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13. Takdir

Hujan turun dengan lebat, seolah langit sedang menumpahkan seluruh kemarahannya ke atas bumi. Di dalam mobil hitam yang membawanya pergi, Alya duduk meringkuk di kursi belakang. Tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk dari pakaiannya yang lembap, tetapi karena rasa takut yang kini mencengkeram jiwanya. Ia menatap ke luar jendela, melihat bayangan pohon-pohon yang melesat cepat seperti hantu di tengah kegelapan malam.

"Kita mau ke mana?" tanya Alya dengan suara gemetar pada sopir di depan.

Pria itu diam. Ia mengenakan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak menjawab, hanya terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi di atas aspal yang licin.

"Tolong... jawab aku. Sisil bilang kau akan membawaku ke rumah sakit," desak Alya lagi.

Pencahayaan dari lampu jalan yang sesekali masuk ke dalam mobil memperlihatkan raut wajah sopir itu melalui spion tengah. Matanya dingin dan tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Alya mulai merasakan ada yang tidak beres. Firasatnya berteriak bahwa ia tidak sedang menuju keselamatan, melainkan menuju lubang buaya yang lain.

Tiba-tiba, mobil itu berbelok tajam ke arah jalanan pinggiran kota yang sepi, jauh dari keramaian rumah sakit pusat tempat ibunya dirawat.

"Ini bukan jalan ke rumah sakit! Berhenti! Aku mau turun!" Alya mencoba meraih gagang pintu, namun pintu itu terkunci secara otomatis.

"Diamlah, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah," suara sopir itu berat dan datar.

"Perintah siapa? Sisil? Atau Arka?" Alya berteriak panik. Ia mulai memukul-mukul kaca jendela dengan kepalan tangannya yang lemah. "Tolong! Siapa saja, tolong!"

Mobil itu terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah gudang tua yang terbengkalai di dekat dermaga. Suara ombak yang menghantam beton terdengar samar di balik gemuruh hujan. Sopir itu keluar, membuka pintu belakang, dan menarik paksa lengan Alya.

"Keluar!"

Alya tersungkur di atas tanah yang becek. Ia merangkak mundur, mencoba menjauh, namun punggungnya menabrak dinding seng yang berkarat. Di depannya, sopir itu mengeluarkan sebuah ponsel dan melakukan panggilan video.

"Target sudah di lokasi," ucapnya singkat.

Layar ponsel itu kemudian menunjukkan wajah Sisil. Wanita itu tampak sedang duduk santai di kamarnya yang mewah sambil menyesap segelas wine.

"Bagus," ucap Sisil dari balik layar. "Alya, kau pikir aku benar-benar akan membantumu? Kau terlalu naif. Aku tidak butuh kau hidup di luar sana dan mungkin suatu saat kembali pada Arka. Aku butuh kau menghilang seolah-olah kau melarikan diri dengan uang itu ke luar negeri."

"Kau... kau pembohong! Di mana Ibuku?!" tangis Alya pecah.

"Ibumu? Mungkin dia sedang menunggu ajal sekarang. Karena Arka baru saja secara resmi membekukan semua dana medisnya setelah tahu kau 'kabur'. Jadi, kau lihat kan? Kaulah yang membunuh ibumu sendiri, Alya. Bukan aku, bukan Arka. Tapi keserakahan dan kebodohanmu."

Kata-kata Sisil seperti petir yang menyambar jantung Alya. Ia meraung, memukul-mukul tanah dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia telah terjebak. Ia telah melakukan kesalahan fatal dengan mempercayai ular berbisa seperti Sisil.

"Sekarang, berikan ponselnya pada dia," perintah Sisil pada sang sopir.

Sopir itu menyerahkan ponsel ke tangan Alya yang bergetar. "Bicaralah pada suamimu untuk terakhir kalinya. Katakan padanya kau membencinya dan kau tidak akan pernah kembali. Jika kau tidak melakukannya, pria di depanmu ini akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari esok pagi."

Sementara itu, di mansion, Arka sedang mengamuk. Ia telah memecat dua penjaga keamanan dan sekarang sedang berdiri di tengah ruang kerja, menatap layar monitor yang menunjukkan rekaman CCTV gerbang belakang. Ia melihat sebuah mobil hitam yang tidak dikenal membawa Alya pergi.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

Arka segera mengangkatnya. "Siapa ini?!"

"Arka..." suara di seberang sana terdengar parau dan penuh isak tangis.

"Alya? Kau di mana?! Kembali sekarang juga!" teriak Arka, urat-urat di lehernya menegang.

"Aku... aku tidak akan kembali, Arka," suara Alya terdengar sangat aneh, seolah-olah ia sedang dipaksa bicara. "Aku membencimu. Aku benci setiap detik pernikahan ini. Aku sudah membawa uangmu, dan aku akan pergi sejauh mungkin agar tidak perlu melihat wajahmu lagi."

"Kau bohong! Kau tidak mungkin bicara seperti itu! Katakan di mana kau sekarang!"

"Jangan cari aku lagi. Urus saja Sisil-mu itu. Dia jauh lebih pantas untukmu daripada aku... putri seorang pencuri yang kau benci ini."

Sambungan terputus. Arka melemparkan ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Napasnya pendek-pendek. Luka pengkhianatan itu kini telah bernanah. Ia merasa seperti orang bodoh yang sempat ingin memberikan maaf.

"Cari mobil itu!" perintah Arka pada asisten pribadinya yang baru saja masuk. "Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Aku ingin dia di depanku hidup-hidup. Dia harus membayar setiap sen yang dia curi, dan setiap luka yang dia buat di hatiku!"

Kembali ke gudang dermaga.

Alya melemparkan ponsel itu ke lantai setelah sopir itu merampasnya kembali. Ia menatap sopir itu dengan mata yang sudah mati rasa. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang bunuh saja aku. Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup."

Sopir itu menatap Alya sebentar. Ada sedikit keraguan di matanya saat melihat kondisi Alya yang begitu menyedihkan—wajah lebam, tubuh menggigil, dan keputusasaan yang begitu nyata. Namun, instruksi Sisil sangat jelas.

Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Minum ini. Ini akan membuatmu tidur selamanya tanpa rasa sakit. Anggap saja ini belas kasihan terakhir dariku."

Alya menerima botol itu dengan tangan dingin. Ia menatap cairan di dalamnya. Di telinganya, ia seolah mendengar suara ibunya yang memanggil namanya dengan lembut. Ia membayangkan wajah ayahnya yang penuh sesal. Dan ia membayangkan wajah Arka—wajah pria yang ia cintai dalam diam meski pria itu adalah sumber penderitaannya.

"Maafkan aku, Ibu... aku gagal," bisik Alya.

Tepat saat ia hendak membuka tutup botol itu, suara deru mobil yang sangat kencang terdengar mendekat. Cahaya lampu sorot yang sangat terang membelah kegelapan gudang, menyilaukan mata Alya dan si sopir.

Suara rem yang berdecit nyaring membelah keheningan malam. Sebuah mobil sport hitam berhenti hanya beberapa meter dari mereka. Seseorang keluar dari mobil itu dengan langkah yang penuh amarah dan wibawa yang mematikan.

Itu bukan Arka.

Itu adalah Reno, sahabat masa kecil Alya yang sudah bertahun-tahun mencari keberadaannya sejak keluarga Alya jatuh miskin. Reno, pria yang kini telah menjadi pengusaha sukses di luar negeri, akhirnya menemukan jejak Alya melalui koneksi intelijen pribadinya.

"Lepaskan dia!" teriak Reno sambil menodongkan senjata ke arah sopir Sisil.

Sopir itu terkejut. Ia tidak menyangka akan ada pihak ketiga yang ikut campur. Tanpa pikir panjang, ia mendorong Alya ke arah Reno dan melompat ke dalam mobilnya, melesat pergi meninggalkan gudang itu.

Alya jatuh pingsan di pelukan Reno. Tubuhnya yang panas karena demam dan hatinya yang hancur akhirnya menyerah pada kegelapan.

"Alya! Alya, bangun!" Reno mendekap tubuh mungil sahabatnya itu dengan erat. Ia melihat memar di wajah Alya dan rasa geram membakar dadanya. "Apa yang mereka lakukan padamu, Alya? Siapa yang berani menyentuhmu seperti ini?"

Reno segera membawa Alya masuk ke mobilnya. Ia tidak akan membawa Alya kembali ke Arka. Baginya, Arka Dirgantara adalah pria yang telah merusak malaikatnya.

Di saat yang sama, Arka sedang melacak sinyal ponsel yang tadi digunakan Alya. Titik koordinat menunjukkan area dermaga. Arka memacu mobilnya secepat kilat, menerjang hujan dan badai.

Namun, saat Arka sampai di gudang itu sepuluh menit kemudian, tempat itu sudah kosong. Hanya ada bekas ban mobil di atas lumpur dan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang tergeletak di lantai.

Arka mengambil botol itu. Ia melihat ke sekeliling dengan mata yang liar. "ALYA! DI MANA KAU?!"

Hanya suara hujan yang menjawab. Arka jatuh berlutut di tengah gudang yang dingin itu. Ia menemukan sebuah benda lain di tanah—plester kain yang tadi pagi menempel di dahi Alya.

Arka menggenggam plester itu erat-erat. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Jika Alya benar-benar kabur membawa uang, kenapa dia berakhir di gudang tua ini? Kenapa ada botol racun di sini?

Kecurigaan mulai merayap di benak Arka. Ia mulai menyadari bahwa mungkin ada orang lain yang sedang bermain di balik layar. Namun, satu hal yang pasti: Alya telah hilang. Dan kali ini, ia merasa benar-benar telah kehilangan dunianya.

"Aku akan menemukanmu, Alya," bisik Arka di tengah isak tangisnya yang tertahan hujan. "Dan jika benar kau dikhianati, aku akan meratakan siapa pun pelakunya dengan tanganku sendiri."

Malam itu menjadi awal dari pencarian panjang yang akan mengubah dendam menjadi penyesalan paling berdarah dalam hidup Arka Dirgantara. Sementara Alya, ia kini berada di tangan pria lain yang berjanji akan menjaganya, meski itu berarti harus berperang melawan Arka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!