NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Kehadiran Kecil yang Bernilai Maha

Waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan sejak pertengkaran hebat dan kejadian pingsannya Arga di rumah orang tua Kirana. Hubungan mereka kini semakin kuat dan dewasa. Kepercayaan yang sempat retak kini telah terpahat kembali menjadi lebih kokoh dari sebelumnya.

Arga benar-benar berubah menjadi suami yang sempurna. Ia tidak lagi menyembunyikan apa pun. Segala hal tentang masa lalu, tentang Alya, kini bisa mereka bicarakan dengan santai tanpa ada rasa cemburu atau sakit hati. Kirana bahkan sempat meminta Arga mengajaknya berziarah ke makam Alya untuk mendoakan, sebuah tindakan yang membuat Arga semakin kagum dan mencintai istrinya itu tanpa batas.

Hidup mereka terasa sangat lengkap dan bahagia. Hingga suatu hari, sebuah tanda kehadiran baru mulai terasa.

Pagi itu, seperti biasa Kirana bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Namun saat baru saja melangkah turun dari tangga, kepalanya terasa sangat pusing dan dunia seakan berputar.

Huek... Huek...

Kirana menahan mulutnya, berlari kecil ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.

Arga yang baru bangun langsung kaget melihat istrinya muntah-muntah.

"Sayang! Kamu kenapa?!" serunya panik, langsung memegangi bahu Kirana dan mengusap punggungnya. "Kamu sakit? Perut kamu sakit? Atau kamu makan sesuatu yang salah semalam?"

Kirana menggeleng lemah, wajahnya pucat. "Nggak tahu, Ar. Tiba-tiba pusing banget terus mual. Rasanya pengen muntah terus."

"Wah bahaya ini. Ayo kita ke dokter sekarang juga!" suruh Arga langsung, tidak mau ambil risiko. Ingatan saat Arga sakit dulu masih sangat segar di kepalanya, sekarang giliran Kirana yang sakit, ia tidak bisa tenang.

"Tapi kan kamu masih harus kerja..."

"Kerja apaannya! Istriku lebih penting! Ayo cepet ganti baju!"

Tidak sampai satu jam, mereka sudah berada di klinik tempat mereka biasa periksa. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan menunggu hasil lab dengan perasaan cemas, akhirnya dokter memanggil mereka masuk.

"Bagaimana hasilnya, Dok? Istri saya kenapa? Sakit apa dia?" tanya Arga langsung tanpa basa-basi, tangannya menggenggam erat tangan Kirana.

Dokter wanita itu tersenyum lebar, lalu menatap mereka bergantian dengan tatapan bahagia.

"Selamat ya, Pak Arga, Bu Kirana. Ibu tidak sakit apa-apa kok."

Kirana dan Arga saling pandang bingung. "Terus kenapa dia muntah-muntah dan lemas, Dok?"

"Karena Bu Kirana sedang mengandung," jawab dokter itu santai namun penuh makna. "Usia kandungannya masih sangat muda, sekitar 4 minggu. Jadi gejala mual dan muntah itu wajar, itu disebut morning sickness."

BRUK!!!

Seakan ada petir yang menyambar di kepala keduanya. Mereka terpaku diam. Mulut Arga ternganga, matanya membelalak tak percaya. Kirana pun sama, tangannya refleks memegang perutnya sendiri yang masih rata itu.

Hamil? Aku hamil?

"Be... benar apa tidak, Dok?" tanya Arga terbata-bata, suaranya bergetar hebat. "Saya... saya akan jadi Ayah?"

"Iya dong, Pak. Selamat ya. Ini adalah anugerah yang sangat indah. Sekarang Bapak harus lebih jaga istri dan calon cucu saya ini ya," jawab dokter itu tertawa bahagia melihat reaksi mereka yang begitu syok namun bahagia.

Saat keluar dari ruang praktek, Arga masih terlihat seperti orang linglung. Ia berjalan mematung di koridor rumah sakit.

"Arga..." panggil Kirana pelan, air matanya sudah menetes. "Kita... kita punya anak, Ar. Kita bakal jadi orang tua."

Tiba-tiba Arga berhenti. Ia menoleh cepat ke arah istrinya. Dan tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat, Arga langsung memeluk Kirana erat-erat, lalu menangis tersedu-sedu.

"Ya Allah... makasih... makasih banyak..." isaknya pecah. "Kita punya anak, Ran. Kita punya keturunan. Aku bakal jadi Ayah..."

Arga menunduk, lalu berlutut di hadapan Kirana di tengah koridor itu. Dengan penuh kasih sayang dan hormat, ia menempelkan telinganya dan mencium perut rata istrinya itu berkali-kali.

"Halo... Nak... Ayah di sini..." bisiknya penuh haru, suaranya pecah. "Maaf ya Ayah baru tahu. Kamu sehat di dalam kan? Tunggu ya, Ayah sama Ibu bakal sayang banget sama kamu."

Pemandangan itu membuat banyak orang yang lewat ikut tersenyum dan terharu. Pria kaya dan sombong itu kini hancur lebur karena kebahagiaan menjadi seorang ayah.

Sepulang dari dokter, Arga benar-benar berubah menjadi 'suami over protektif'. Kirana tidak boleh melakukan apa pun.

"Jangan angkat-angkat barang! Nanti jatoh!"

"Jangan berdiri terlalu lama! Duduk sana!"

"Bi Sumi! Tolong ambilin bantal buat Nyonya! Dan jangan lupa buahnya harus yang segar!"

Arga bahkan menunda semua pekerjaannya demi menemani Kirana di rumah. Ia merasa dunia ini miliknya lagi. Ia memiliki istri yang cantik dan sedang mengandung anaknya, apa lagi yang bisa ia minta?

Malam harinya, mereka berbaring berdekatan. Tangan besar Arga tidak pernah lepas dari perut Kirana, mengelusnya lembut seolah sedang berkomunikasi dengan janin di dalam sana.

"Ran..."

"Ya?"

"Kamu tahu nggak? Aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia sekarang," ucap Arga pelan, matanya menatap penuh cinta. "Dulu aku kehilangan Alya dan aku pikir hidupku tamat. Tapi Tuhan baik banget... Dia ganti kehilanganku dengan kamu yang jauh lebih baik, dan sekarang kasih aku hadiah ini juga."

Kirana tersenyum bahagia, menyandarkan kepalanya di bahu suami.

"Insyaallah anak ini bakal jadi anak yang sholeh dan bikin kita bangga, Ar."

"Pasti. Dan dia bakal jadi anak paling dimanja di dunia. Karena dia buah hati kita," jawab Arga bangga. "Mulai besok, aku mau ajak kamu belanja perlengkapan bayi. Walaupun masih lama, tapi aku gak sabar!"

Kirana tertawa kecil. "Ihh, kamu ini. Masih kecil banget lho kandungannya."

"Gak apa-apa. Persiapan dari sekarang biar sempurna."

Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap-luap ini, bayangan hitam kembali mengintai. Natasha yang selama ini menghilang seolah ditelan bumi, ternyata tidak diam saja. Ia tahu semua rencananya menggagalkan pernikahan mereka lewat masalah Alya gagal total. Bahkan sekarang mereka justru semakin bahagia dan akan segera memiliki anak.

Rasa iri, benci, dan sakit hati bercampur menjadi racun di dalam hati Natasha.

Di sebuah kamar hotel yang gelap, Natasha duduk menatap layar HP yang menampilkan foto Arga dan Kirana yang sedang tertawa bahagia keluar dari rumah sakit. Wajah mereka berseri-seri.

"Hhh... bahagia sekali kalian ya..." desis Natasha pelan, matanya memancarkan aura kejahatan yang menyeramkan. Tangannya memutar-mutar gelas wine dengan kasar.

"Kirana punya anak... Arga bakal jadi Ayah..." Natasha tertawa kecil, tawanya terdengar sangat sinis dan menakutkan. "Sayang sekali... sayang sekali rencanaku belum selesai."

Natasha mengambil sebuah amplop tebal dan sebuah kotak kecil berisi obat-obatan dari tasnya. Wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan kejam.

"Kalian pikir mudah ya dapat kebahagiaan seenaknya? Sedangkan aku menderita sendirian? Nggak akan! Aku nggak akan biarkan itu!"

Natasha berdiri, berjalan ke arah cermin dan menatap bayangannya sendiri.

"Mulai besok... permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Dan kali ini... aku tidak akan main-main. Aku mau hancurkan semuanya! Termasuk jabang bayi yang belum lahir itu!"

Natasha tertawa lepas dengan nada yang sangat mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu. Rencananya kali ini jauh lebih jahat dan berbahaya daripada sebelumnya. Ia tidak hanya ingin memisahkan mereka, tapi ingin menghancurkan hidup mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!