Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Labrak
Bramasta memandangi halaman rumah Reina yang rumayan luas. Udaranya yang masih begitu segar karena banyak pepohonan yang rindang. Banyak bunga berwarna warni di halaman.
Namun pandangan Bramasta pun terhenti kala melihat bunga mawar berwarna merah dan putih di pojokan teras dekat dia duduk.
Bramasta lalu berdiri dan menghampiri bunga itu dan memegangnya. " Bunga yang cantik,pasti dia suka merawat bunga" Gumamnya.
" Betul nak,Reina sangat menyukai semua bunga...namun yang paling dia sukai ya bunga mawar putih dan merah itu,setiap pulang sekolah dan malam sebelum tidur dia selalu berbicara sendiri di dekat bunga itu nak" Ucap nenek Sri dengan sendu.
Bramasta kembali menghampiri nenek Sri yang duduk di bangku sebelahnya. Dia ingin mendengarkan cerita dari nenek Sri.
" Kenapa dia sangat suka warna putih dan merah nek ? Padahal kan banyak warna bunga mawar " Tanya Bramasta yang mulai mengorek informasi tentang Reina.
" Sebenarnya dia menyukai mawar warna merah itu karena dia ingin selalu ingat dengan ke dua orang tuanya yang sudah meninggal nak. Dan warna putih dia ingin kelak nanti bisa mendapatkan seseorang yang sangat suci nak bisa menjaga dan menjadi imamnya" Ucap nenek Sri dengan mata berkaca-kaca.
" Dia begitu rapuh setelah ayah dan ibunya tiada,dia sering menangis sendiri dan menyalahkan sang pencipta yang tidak berbelas kasih kepadanya" Nenek Sri dengan mengusap air matanya yang terjatuh.
" Aah nenek jadi curhat ya nak...maaf ya nak...ini di minum dulu tehnya" Ucap nenek Sri menyodorkan secangkir teh di depan Bramasta.
" Oh iya makasih nek " Bramasta pun langsung meminum tehnya.
" Apa Reina mempunyai banyak teman nek ?" Tanya Bramasta hati-hati.
" Reina hanya mempunyai 1 teman perempuan nak ya tadi itu Shasa, tidak ada yang mau berteman dengannya nak karena dia miskin" Ucap nenek Sri sambil menghembuskan nafasnya terasa begitu berat.
" Apa Reina setelah pulang sekolah bekerja nek ?" Tanya Bramasta lagi yang ingin tau kebenaran informasi.
" Nggak nak dia bilang takut malah tidak fokus belajar karena harus membagi waktu, dia hanya membantu temannya berjualan online nak" Jelas nenek Sri.
Bramasta bingung sebenarnya mana informasi yang benar. Pasti tidak ada yang beres dengan kehidupan Reina yang sebenarnya.
" Reina pulangnya jam berapa ya nek kira-kira ?" Tanya Bramasta.
" Nggak menentu nak kadang sore kadang juga bisa malam karena mengerjakan tugas di rumah Shasa nak" Ucap nenek Sri memberi tau.
" Oh begitu, kalau begitu saya permisi ya nek makasih minumannya lain kali saya ke sini lagi " Ucap Bramasta berdiri dan bersalaman dengan nenek Sri.
" Ohhh iya nak, hati-hati di jalan ya" Ucap nenek Sri yang ikut berdiri.
" Iya nek... assalamualaikum " Ucap Bramasta yang lalu menuju mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Reina.
***
Di lain tempat Reina yang menjemput Shasa tadi pun mereka sudah sampai di sekolah. Shasa juga anak orang biasa namun dia masih berkecukupan karena ayahnya memiliki toko usaha catering. Shasa memang selalu minta di jemput Reina karena dia tidak ada yang mengantarkan ke sekolah.
Jadi dia lebih memilih berangkat dengan Reina sekalian. Setelah memarkirkan sepeda Reina dan Shasa pun menuju ke kelas sebelum bel berbunyi. Karena Reina belum menyelesaikan tugasnya tadi malam.
Saat ingin masuk ke kelas dia di hadang dengan kakak kelasnya Lucinta dan teman-temannya.
" Ada apa ya kak ? Saya mau masuk kelas" Ucap Reina yang biasa saja.
" Pakek pura-pura begok lagi...kalau lu mau hidup loe tenang loe nggak usah berurusan dengan gue. Gue peringatkan sama Lo jangan kegatelan sama pacar gue Ryan" Ucap Lucinta penuh penekanan.
" Tapi aku beneran nggak ada hubungan apa-apa kak dengan kak Ryan" Ucap Reina mengelak. Shasa yang masih berada di situ hanya menggandeng temannya Reina tidak berani ikut campur.
" Heh... kalau nggak ada apa-apa ngapain pakek ngajak ketemuan di tempat biasa ha ?" Tanya Lucinta membentak Reina. Entah dari mana Lucinta bisa tau pesan Ryan kemarin.
" Nggak tau kak,kak Ryan yang ngajak bertemu" Reina takut rahasianya akan terbongkar saat ini juga di sekolah karena terpojokkan.
" Awas saja sampai nanti kamu datang nemuin dia,gue nggak main-main sama omongan gue...yuk pergi" Ajak Lucinta pergi dari hadapan Reina dengan menabrak Reina sampai Reina ingin terjatuh.
" Kamu baik-baik aja kan Re ?" Tanya Shasa karena melihat wajah Reina yang begitu pucat seperti orang ketakutan.
" Hah iya aku baik-baik aja kok,ayo lanjut ke kelas lagi" Ajak Reina yang lebih dulu berjalan.
Shasa hanya mengikuti Reina dari belakang. Sesampainya di dalam kelas Reina mengeluarkan bukunya dan mengerjakan tugas yang belum selesai kemarin.
" Tumben kamu belum selesai mengerjakan tugasmu?" Tanya Shasa sambil melihat Reina.
" Iya kemarin kecapekan terus ketiduran" Jawab Reina yang tidak mengalihkan pandangan dari bukunya.
" Iya aku denger kemarin nenek pingsan ya ?" Tanya Shasa lagi.
" Hm...dia kecapekan. Bandel banget aku suruh buat berhenti jualan nggak mau" Jawab Reina sambil menghela nafas.
" Ya mau gimana lagi dia mau membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari Re" Ucap Shasa berkomentar.
" Aku tau sha tapi dia udah waktunya istirahat tidak beraktivitas yang berat-berat" Ucap Reina menoleh ke Shasa.
" Yang sabar ya, namanya juga orang tua memang seperti itu Re" Ucap Shasa menguatkan.
Reina hanya tersenyum dan mengangguk lalu kembali mengerjakan tugasnya. 20 menit gurunya pun datang dan mulai mengajar.
***
Bramasta pun sampai di kantor pukul 8 dan di sambut sekretarisnya yang juga baru datang.
" Pagi tuan" Sapa Hendy menunduk.
" Pagi" Jawab Bramasta cuek.
Bramasta berjalan menuju lift dan di ikuti Hendy yang berada di belakang. Sepanjang perjalanan pegawai Bramasta semua menyapa Bramasta sedangkan yang di sapa hanya cuek. Mood Bramasta sekarang sedang tidak baik.
Dia begitu rumit memikirkan kehidupan Reina yang penuh dengan teka-teki. Nggak tau kenapa kali ini dia begitu ingin tau kehidupan perempuan padahal banyak perempuan yang mau dengannya.
Bramasta pun sampai di ruangannya dan mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya.
" Apa saja agenda hari ini Hen?" Tanya Bramasta.
" Nanti sebelum makan siang perusahaan Wijaya ke sini lagi tuan untuk melanjutkan kerjasama yang kemarin belum terselesaikan,dan jm 3 nanti ada meeting dengan perusahaan coorporation" Ucap Hendy menjelaskan.
" Hmm...sebenarnya kita tidak bisa mendapatkan keuntungan dari perusahaan Wijaya Hen,makanya aku tidak berminat mengikuti meeting kemarin" Papar Bramasta.
" Tapi mereka sudah menanamkan modal 5% tuan" Ucap Hendy.
" Kamu urus saja Hen saya nggak suka dengan karyawannya yang kelihatan kegatelan" Ucap Bramasta yang memang dari dulu tidak menyukai wanita yang memakai baju terlalu terbuka,semua karyawan yang bekerja di perusahaannya tidak ada yang berani memakai baju kurang bahan.
" Baik tuan,apakah ada lagi yang anda perlu tanyakan tuan ?" Tanya Hendy sebelum dia beranjak keluar dari ruangan Bramasta.
" Tidak ada kamu boleh kembali ke ruanganmu" Ucap Bramasta yang memilih sendiri saat ini karena kepalanya yang sangat berat.
--->>>