Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Masalah bernama Matthew
" Kadang hidup memang suka menguji kita lewat hal kecil.. lewat orang yang menyebalkan, lewat keadaan yang bikin emosi.
Tapi mungkin.. itu cara semesta ngajarin kita, kalau kita lebih kuat dari kita kira.
...
Jam pelajaran selesai.
Valerie masih duduk dengan kepala pusing.
Sampai tiba-tiba sebuah kertas mendarat di meja nya.
Valerie menoleh.
Matthew melempar kertas itu dari belakang.
Valerie membuka kertas itu.
Tulisan tangan Matthew rapih, tajam, dan menyebalkan.
" Kerja kelompok jam 4 sore di perpustakaan. jangan sampai telat. "
Valerie menatap tulisan itu, lalu menoleh kebelakang.
" Lo ngajak, tapi gaya lo kayak nyuruh, " ucap Valerie.
Matthew menyadarkan tubuhnya santai.
" Karena gue emang nyuruh. "
Valerie membalak.
" HAH!? "
Matthew tersenyum tipis. " Kalau lo emang nggak mau, ya udah. nanti gue bilangin ke Bu Reline kalau lo nggak niat ngerjain proyek. "
Valerie langsung berdiri.
" Lo ngancem gue? "
Matthew meangkat bahu." terserah lo mau nganggap apa. "
Valerie menggetarkan gigi.
Cowok ini..
Bukan cuma ngeselin.
Dia Manipulatif.
Valerie mendekat ke bangku Matthew.
" Kita kerja barang bukan berarti lo bos gue,"
Matthew menatap Valerie tanpa berkedip.
" Terus lo mau jadi bos gue? " tanya Matthew.
Valerie tersentak.
" Apa sih lo?! " Valerie membentak kecil.
Berapa siswa menoleh.
Matthew tersenyum, jelas menikmati reaksi Valerie.
Valerie menahan napas.
Sumpah.
Dia benaran menikmati bikin Valerie marah.
Valerie menatap Matthew dingin.
" Oke, " ucap Valerie. " jam 4 satu hal. "
Matthew meangkat alis. " Apa? "
Valerie mendekat, lalu berkata pelan tapi tajam.
" Kalau lo ganggu gue lagi... gue bakal bikin hidup lo nggak tenang juga. "
Matthew menatap Valerie.
Untuk pertama kalinya...
Matthew melihat tertarik.
Bukan tertarik secara otomatis.
Tapi tertarik seperti seorang yang baru menemukan lawan sepadan.
Matthew tersenyum kecil.
" Gue tunggu, " ucapnya pelan.
Valerie menatapnya tajam.
Lalu ia berbalik pergi.
Namun saat Valerie melangkah keluar kelas...
Matthew bersandar di kursinya, menatap punggung Valerie.
Lukka menepuk bahunya pelan.
" Lo kenapa sih benaran ganggu dia terus? "
Matthew tidak menjawab.
Matanya masih mengarah ke pintu kelas yang sudah tertutup.
Lalu ia berkata pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
" Karena dia tenang. "
Lukka mengernyit. " Hah? "
Matthew menghela napas kecil.
" Dan gue benci orang yang selalu tenang. "
Lukka menatap Matthew lama, lalu menggeleng.
" Lo Aneh. "
Matthew menatap kosong.
" Iya, " jawabnya. " gue tau. "
..
Jam 4 sore.
Perpustakaan Nusa bangsa sepi, mewah, dan modern. Rak-rak tinggi berjejer rapi, lambu gantung elegant membetulkan cahaya hangat.
Valerie datang tepat waktu.
Ia berdiri didepan meja belajar paling ujung.
Menunggu Matthew.
Namun lima menit berlalu...
Matthew belum datang.
Valerie menatap jam dipergalangan tangannya.
" Dia nyuruh gue jangan telat.. " gumam Valerie, kesal. " tapi dia sendiri telat. "
Valerie duduk, membuka tablet cadangan yang ia pinjam dari perpustakaan.
la mulai menulis rancangan proyek.
Sepuluh minit kemudian.
Langkah kaki terdengar.
Matthew masuk dengan tangan disaku, wajah santai seolah dia bukan orang yang baru telat.
Valerie menatapnya tajam.
" Lo, telat, " ucap Valerie.
Matthew menarik kursi, duduk tepat di depannya.
" Gue, tau, " jawabnya ringan.
Valerie menatapnya tak percaya.
" Terus lo santai aja? " tanya Valerie.
Matthew menyadarkan tubuh.
" Karena lo masih nunggu gue. "
Valerie membelalak.
" Lo pikir gue nunggu lo? gue nungguin proyeknya! " bentak Valerie pelan.
Matthew menatap Valerie, lalu tersenyum tipis.
" Ya Sama aja. "
Valerie menghela napas, mencoba menahan diri agar tidak meledak.
Ia membuka layar tabletnya, menampilkan draft.
" Oke. kita mulai. kita bikin proyek energi terbarukan kan? Gue udah nyusun konsep awal. "
Matthew melirik layar itu.
Lalu ia berkata datar.
" Jelek. "
Valerie membeku.
" Apa? " tanya Valerie.
Matthew menujuk layar itu. " konsepnya jelek. terlalu standar. "
Valerie menatapnya tajam.
" Lo bahkan belum baca semuanya, " ucap Valerie.
Matthew meangkat alis. " Gue nggak perlu baca Detail buat tau standar. "
Valerie merasakan emosinya naik lagi.
" Tarus ide lo apa? " tanya Valerie.
Matthew menyadarkan tubuh.
" gue belum kepikiran. "
Valerie menatap Matthew dengan ekpresi tidak percaya.
" Jadi elo bilang ide gue jelek, tapi lo sendiri belum punya ide? " tanya Valerie.
Matthew menatap Valerie datar.
" Iya. "
Valerie menutup matanya.
Menghitung dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Valerie membuka mata lagi.
Ia tersenyum.
Tapi itu senyum paling berbahaya.
" Oke, Matthew, " ucap Valerie pelan. " gue cuma nanya satu hal. "
Matthew meangkat alis. " Apa? "
Valerie menatapnya tajam.
" Lo tuh sebenarnya benci gue...atau lo suka bikin gue marah karena hidup lo kosong? "
Matthew terdiam.
Hening.
Untuk pertama kalinya, Matthew nggak langsung menjawab.
Matanya menatap Valerie lebih lama dari biasanya.
Lalu...
Matthew tersenyum tipis.
" Gue suka reaksi lo, " jawabnya pelan.
Valerie membeku.
Matthew melanjutkan dengan nada datar, tetapi jelas.
" Lo satu-satunya orang nggak takut sama gue. "
Valerie menelan ludah.
Ada sesuatu yang aneh dalam kalimat itu.
Seperti.. bukan ejekan.
Tapi pengakuan.
Valerie menatap Matthew dalam-dalam.
Lalu ia menghela napas.
" Loh tuhh ganggu banget. "
Matthew menatapnya.
" Gue, tau. " jawabnya singkat.
Valerie merapikan tabletnya, lalu menujuk layar.
" Udah. kalau lo nggak punya ide, lo jangan ganggu ide gue. kita kerjaan dulu ini. "
Matthew menatap layar.
Lalu ia menghela napas kecil.
" Oke. "
Matthew meangkat bahu. " Iya. "
Valerie menatapnya seolah tidak percaya.
Matthew menatap Valerie balik lalu berkat pelan.
" Jangan senang dulu. besok gue ganggu lagi. "
Valerie langsung meangkat buku tebal di meja.
Matthew menatap buku itu.
Valerie meangkat alis. " mau gue lempar? "
Matthew tersenyum kecil.
" Nah, "ucapnya pelan. " itu Valerie yang gue kenal. "
Valerie membeku.
Valerie menatap Matthew tajam.
" Lo baru kenal gue tiga hari. "
Matthew meangkat bahu,lalu menatapnya.
" Tiga hari udah cukup bikin gue ingat muka lo. "
Valerie menahan napas.
Dadanya terasa panas.
Bukan marah kali ini.
Tapi sesuatu yang lebih menggangu.
Sesuatu yang membuatnya ingin pergi.
Valerie buru-buru menduduk ke tablet.
" Fokus. " gumam Valerie.
Matthew menyadarkan tubuh, menatap Valerie
tanpa berkata apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya...
Valerie merasa tatapan Matthew bulan ganggu.
Tapi...
Ancaman yang perlahan berubah jadi kebiasaan.
_TBC_
...----------------...
Happy Reading All! semoga kalian suka yah.