NovelToon NovelToon
Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.

Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.

Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.

Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.

Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla

Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Langit Pagi di Pondok Pesantren Darul Mahendra.

Ketika lonceng bel di bunyikan, tanda kajian fiqih segera di mulai.

Para Santri dan santriwati bergegas menuju aula utama, sebuah bangunan yang megah dengan tiang dan keramik marmer yang selalu terjaga kebersihannya.

Di bagian depan aula terbentang karpet hijau panjang, dengan rak yang berdiri berjajar kitab-kitab sekaligus tulisan kaligrafi.

Sementara kipas blower berputar pelan di langit-langit yang tinggi.

Para Santri sudah duduk bersila di sisi kiri ruangan, dengan mengenakan sarung dan baju koko, sekaligus peci.

Di sisi kanan para Santriwati duduk rapi dengan mukena yang menjuntai menutupi dada, diantara keduanya terbentang kain putih yang menjuntai.

Hal yang cukup menjaga adab dan pandangan.

Suasana berbisik-bisik sampai Gus Ali datang.

Beberapa menit kemudian, Gus Ali Mahendra melangkah masuk.

Mendadak suasana hening, hanya terdengar suara lembaran kertas buku atau kitab yang di pegang para santri.

Gus Ali mengenakan baju koko putih bersih dan sarung abu-abu muda.

Di samping bahu terselampir sorban, wajahnya tenang langkahnya teratur, para santriwati menatap kagum dengan ketampanan Gus Ali.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya lembut.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab para santri serempak.

Gus Ali duduk di sofa yang sudah di siapkan di depan para santri, di hadapannya terletak kitab kuning tebal.

Kitab fiqih yang sudah di pelajari sejak kecil.

“Alhamdulillah pagi ini kita lanjutkan pembahasan bab muamalah,” kata Gus Ali menggunakan microphone di tangannya.

Suaranya menggema ke seluruh ruangan dengan speaker pengeras.

Satu lembar halaman di buka dengan hati-hati, lalu mulai menjelaskan mengenai amalan Fiqih hari ini.

“Dalam fiqih, muamalah adalah segala bentuk interaksi antar manusia. Jual beli, sewa-menyewa, hutang piutang, bahkan kerja sama usaha. Islam mengatur semuanya agar tidak ada kedzaliman.”

Beberapa santri menunduk dan mencatat.

Ada juga yang menyimak dengan khusyuk.

“Prinsip dasar muamalah adalah kejujuran dan kerelaan kedua belah pihak. Tidak boleh ada penipuan, tidak boleh ada eksploitasi.”

Kata eksploitasi menjadi masalah dalam hidup Nayla, karena dendam Nayla---masa lalunya membuatnya terjebak dalam transaksi jual beli manusia.

Entah mengapa bayangan wajah seorang perempuan dengan lengan dan betis yang terkena peluru melintas begitu saja.

Gus Ali berhenti sepersekian detik, membayangkan wajah gadis yang dirinya belum tahu namanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi dan syuhada.”

Ali menutup kitabnya sebentar lalu memberikan pertanyaan.

“Kenapa Islam sangat tegas dalam urusan muamalah?” tanyanya.

Salah satu santri mengangkat tangan dan ingin menjawab pertanyaan Gus Ali.

“Karena banyak kezaliman terjadi dalam urusan harta, Gus.”

Seorang santri mengangkat tangan, dia adalah Hendra salah satu santri favorite yang dekat dengan Gus Ali.

“Betul. Sebagian besar kerusakan sosial berawal dari ketidakadilan dalam transaksi,” jawab Gus Ali sambil tersenyum tipis.

Kata-katanya terdengar tenang, namun di dalam dadanya ada kegelisahan halus yang belum juga usai.

Wajah Nayla muncul kembali, luka dan darah di lengannya kemarin.

Tatapan Nayla juga berbeda, seperti tersesat dan butuh kompas arah hidup dan tujuan.

Gus Ali Mahendra.

Sejenak menghela napas perlahan, lalu kembali dalam topik kajian Fiqihnya.

“Sekarang saya ingin tanya,” lanjutnya dengan memegang mic.

"Bagaimana hukum jual beli yang objeknya haram?” tanya Ali membuat ruang mendadak hening.

Ruangan mendadak hening, santriwati yang mengenakan mukena warna biru muda mengangkat tangan.

"Segala bentuk transaksi barang najis, memabukkan, atau tidak boleh dimanfaatkan," ucap Santriwati tersebut.

Gus Ali kembali bertanya.

"Apa saja Contohnya?" tanyanya kembali.

Salah satu santri cowok kembali mengangkat tangan, mengenakan baju koko coklat.

"Narkoba, Judi, Prostitusi, Gus."

Santri itu menjawab dengan ragu, tapi Gus Ali hanya tersenyum.

"Benar," ucap Gus Ali mengangguk.

"Kalau barangnya haram, maka akadnya pun tidak sah. Karena sesuatu yang dilarang syariat tidak boleh dijadikan sumber keuntungan.”

Pernyataan dari santrinya membuat hati Gus Ali sesak, karena memikirkan gadis Mafia---yang sebenarnya tak tahu namanya siapa.

Tanpa ia sadari, pikirannya bertanya.

"Bagaimana jika seseorang terjebak dalam dunia yang salah? Apakah pintu taubat tetap terbuka?" pikirnya dalam hati.

Tangan Gus Ali menutup kitab fiqihnya sejenak, lalu menatapnya ke depan.

"Para muslim dan muslimah, hukum itu bukan hanya untuk menghukum. Tapi untuk menjaga. Islam melarang sesuatu karena ada mudarat di dalamnya."

Katanya dengan memegang microphone.

Matanya memandang ke arah santri, "dan seburuk apa pun seseorang, pintu taubat selalu terbuka.”

Beberapa santri saling pandang, tak mengerti kenapa Gus Ali tiba-tiba menambahkan kalimat itu.

Seorang santriwati di balik pembatas bertanya, suaranya lembut.

“Gus, kalau seseorang sudah lama berada di jalan yang salah, apakah taubatnya tetap diterima?” tanya Santriwati bernama Ayse.

Mendadak ruangan terasa makin sunyi, Gus Ali terdiam.

Bayangan perempuan dengan luka tembak dan pistol kembali menghantam pikirannya.

"Ya."

"Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, Allah Maha Pengampun. Tidak ada dosa yang lebih besar dari rahmat-Nya."

Gus Ali menjawab dengan pelan, karena tema fiqih hari ini sangat condong ke hal yang terjadi baru-baru ini.

Geng Mafia yang berebut wilayah dengan aparat, karena---kepolisian meminta suap agar bisnis mafia lancar.

Namun, Mafia menolak. Karena kepolisian juga harus tunduk di genggamannya.

Sebagai kompensasi, Mafia akan menambah uang untuk polisi yang mau tunduk pada geng Keihn.

Kepolisian dengan tegas menolaknya, lalu baku tembak dan peperangan kembali terjadi.

Di tambah bisnis para Mafia, yang jual beli Narkoba, prostitusi dan Kasino.

Kajian berlanjut dengan pembahasan syarat sah akad, rukun jual beli, dan contoh-contoh kasus. Gus Ali menjelaskan dengan runtut, sesekali memberi analogi sederhana agar mudah dipahami.

“Cukup sampai di sini. Besok kita lanjutkan bab berikutnya.”

“Subhanakallahumma wabihamdika…” Para santri serempak membaca doa penutup majelis.

Suasana kembali tenang.

Santri satu per satu mencium tangan Gus Ali sebelum keluar. Di sisi kanan, para santriwati keluar tertib melalui pintu berbeda.

*

1
Dayang Rindu
Hay kak, karya baru? 🔥
Dayang Rindu: sama aja, 😁
total 2 replies
Muhammad Isha
iklan buat mu
Putri Sabina: makasih udah mampir Kak
total 1 replies
Muhammad Isha
jangan lupa mampir
knovitriana
cerita yang menarik
knovitriana: iklan buat mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!