Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Mati
Malam hari yang sepi, tidak ada yang melihat pak Warto sudah kembali ke rumah, Kaki nya sudah memijak di halaman rumahnya, dengan lunglai ia melangkah menuju pintu kayu berwarna coklat, pintu yang sudah di kunci rapat dari dalam di ketuk nya pelan, sambil memanggil istri dan anak semata wayangnya, "Bu, Lesi, ini bapak " suaranya pelan tapi dapat di dengar karena malam yang sepi.
tidak begitu lama, Pintu terbuka lebar dan terlihat Bu Arumi di depan pintu dan ada Lesi di belakangnya, Wajah mereka yang semula tersenyum senang karena kepala keluarga sudah kembali pulang, berubah menjadi lesu dan hampa setelah Pak Warto bercerita apa yang terjadi disana.
"Terus kita makan apa pak kalo kita gak dagang disana, Tau sendiri kan, kerja di kampung cuma buat bisa makan sehari saja, itu pun kalo ada terus, kalo gak ada, kita makan apa pak?" Keluh Bu Arumi, Pak Warto hanya mengurut keningnya pelan , " iya pak, Olshop Lesi juga sepi akhir akhir ini pak " Adu Lesi.
Pak Warto membuang napas berat, Sambil mencoba menahan rasa sakit hatinya, Pak Warto berusaha kuat di hadapan istri serta anaknya, " besok bapak mau ke Abah , siapa tau abah mau nasehatin Badrun yah ?" ucapnya, Abah itu panggilan Pak Warto untuk ayahnya, Bu Arumi mengangguk mengiya kan ucapan Suaminya, semoga saja dengan bujukan dari Ayahnya Badrun bisa mengerti.
***
"Ya coba saja kamu cari kerja yang lain disini, Biarkan Badrun menggapai keinginnya, toh kamu juga udah keturutan kan pengen Renov rumah?" Tutur Pak Erwin Ayah dari Om Badrun dan Pak Warto, " Iya To, Biarkan saja dulu adikmu bekerja disana beberapa bulan , Toh dia pengen punya rumah, kamu tahu sendiri dia gak pandai kerja di kampung, gak kayak kamu , bisa apa aja " Jelas Bu Nirma Ibu nya Pak Warto neneknya Lesi.
pak Warto hanya menunduk saja mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari bibir orang tuanya, Dia tidak bisa berkata apa apa, Mau melawan pun dia sudah kalah, Karena orang tuanya lebih mendukung Badrun daripada Dirinya.
" mangkanya To, Kalo punya uang tuh simpen sama kamu juga, kamu juga harus punya uang, jangan di kasih semua ke Istrimu, mana hasil dagang kamu selama itu ?, cuma bisa renov rumah kecil kecilan saja kan ?, Liat tuh Si Inah mah, selama tinggal bareng ibu saja dia sudah bisa ngeramik rumah inih, rumah ini jadi bagus, Karena Inah bisa pegang uang, bisa ngelolanya, gak kaya Istri kamu To , Boros" Ujar Bu Nirma, Bukan nya membantu cari solusi, ia mah menjelek jelekan Bu Arumi , membandingkan nya dengan Inah istri Badrun, Pak Warto sudah tidak bisa mengelak lagi, Daripada rasa sakit yang harus di dapat lagi, lebih baik dia pergi dari rumah orangtuanya itu.
Tatapan kosong langkah yang seperti melayang, tidak ada yang mendukungnya saat ini, semua berpihak kepada Badrun, Bahkan Adik perempuan dan Adik ipar nya pun mendukung Badrun.
" Badrun, aku tidak akan membalas mu, tapi aku yakin karma yang akan kamu dapat lebih dari pada yang aku rasakan, Kamu Serakah " Ucap Batin pak Warto, Dia tidak berbuat kasar dia hanya berdoa agar tuhan adil kepadanya, walau pun tidak sekarang.