NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 4: Obrolan Para Ibu

Kembali ke beberapa saat sebelum Alice tumbang karena mana yang digunakan untuk menciptakan sihir angin dari hembusan angin pelan di telapak tangannya, diluar kamar Alice Luna segera pergi untuk menemui Lisa yang kamarnya tidak jauh dari kamar Alice dan dirinya.

Diketuk dengan pelan dari luar pintu, Luna berharap ia tidak mengganggu kesibukan Lisa saat ini di kamarnya. Beberapa detik kemudian, Lisa membuka pintu yang terkejut dengan kedatangan Luna lalu tersenyum padanya.

"Masuklah."

Dipersilahkan Luna untuk masuk oleh wanita berambut long layer berwarna ungu gelap, sepasang mata berwarna keemasan, memiliki paras cantik dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 172 cm, bertubuh sedang namun pinggang ramping, berdada besar berukuran F Cup, pinggul yang menggoda yang sangat menonjol, Lisa, ia ke sisi pintu untuk membiarkan Luna masuk.

Luna yang mengangguk, memasuki kamar Lisa dengan sikap sopan.

"....."

Tatapan mata Luna berwarna crimson mengarah ke gadis kecil yang menurutnya usia gadis itu tidak jauh berbeda dengan putrinya, Alice.

"Ada apa kamu kemari, Luna?"

"Ah, benar."

Tersadar oleh pertanyaan Lisa, Luna yang duduk di sofa menatap ke Lisa yang ikut duduk berseberangan dengannya.

"Nayla, tolong buatkan teh untuk temanku."

"Baik, Nona."

Suara terdengar dari luar ruangan yang membuat Luna terkejut karena sebelumnya tidak ada siapapun, membuatnya ragu akan hal ini.

Mengetahui ada keraguan diwajahnya, Lisa hanya bisa terkekeh dengan sikap santai, menggerakkan tangan kanannya seolah-olah menenangkannya.

"Tidak perlu khawatir, dia adalah maid pribadiku, Nayla."

"Baik."

Begitu menghela nafas panjang dengan wajah lega setelah mendengar penjelasan dari Lisa, Luna kembali menatap ke Lisa dengan wajah serius.

"Ini tentang putriku."

"Putrimu?"

"Ya."

Meskipun Lisa tidak tahu apa yang ingin Luna bahas mengenai putrinya, Alice yang menurut Lisa usianya tidak jauh dari putrinya, ia penasaran atas hal ini jadi ia tetap menatap Luna dengan anggukan kecil yang siap untuk mendengarkannya.

"Begini... putriku sungguh aneh sikapnya."

"Aneh? Apa maksudmu?"

"Yah, kamu tahu sendiri, bukan?"

Bukannya menjawab dengan penjelasan, Luna yang melemparkan pertanyaan pada Lisa membuat Lisa merenung sejenak untuk mengingatnya.

"Mungkinkah yang kamu maksud adalah dia gadis kecil bermasalah?"

"Ya, sesuatu seperti itu."

Keluhan terdengar dari Luna yang menunduk ke bawah membuat Lisa terkejut atas ekspresi dan nada dari temannya di depannya.

"Yah, bukankah wajar jika ada anak yang aktif di usianya?"

"Ya, awalnya aku berpikir sama sepertimu."

Pintu terbuka memperlihatkan maid pribadi Lisa, Nayla, wanita yang memiliki rambut asymmetrical lob berwarna oranye, sepasang mata berwarna ungu, memiliki paras cantik dan postur tubuh proporsional mulai dari; dada berukuran B Cup, pinggang ramping, dan pinggul yang biasa dibalik maid outfit berwarna hitam dengan celemek putih berlengan dan rok panjang yang mengantarkan cangkir berisikan teh ke meja, meletakkan dua cangkir didepan Luna dan Lisa.

"Kalau begitu, saya permisi."

Menundukkan kepalanya, Nayla yang mendapat anggukan dari Lisa keluar dari kamar Lisa dan menunggu diluar ruangannya selagi berdiri, menunggu perintah berikutnya dari Lisa.

"Hanya saja ada sesuatu yang tidak aku pahami."

Mendengar Luna melanjutkan pembicaraannya, Lisa yang menyeruput teh di cangkirnya meletakkan cangkir di meja. Ia menatap ke Luna sambil menyilang kakiku selagi bersandar di sofa di seberang Luna.

"Jadi, apa yang kamu tidak pahami?"

"Tentang putriku yang tiba-tiba membaca buku pengetahuan umum di usianya yang sama seperti putrimu."

"....."

Tercengang mendengar perkataan Luna, menurut Lisa mana mungkin ada orang yang bisa memahami pembahasan berat yang ada di buku pengetahuan umum. Itu jelas-jelas mustahil.

Biasanya, gadis kecil berusia 6 tahun setahu Lisa hanya memiliki pemikiran bermain, contohnya putrinya sendiri; Eri, gadis kecil berambut classic bob berwarna putih, sepasang mata berwarna emerald yang sedang bermain boneka dan rumah-rumahan dari beberapa furniture mainan, tidak ada pola pikir ia akan belajar saat ini.

"Tapi, bagaimana mungkin putrimu...."

"Itulah yang tidak aku pahami."

Sulit untuk dipercaya ada orang seusia Alice yang tiba-tiba memahami topik berat yang hanya dimiliki oleh orang dewasa, bukannya untuk bermain ataupun bersenang-senang.

"....."

Diam-diam, Eri yang bermain mendengarkan pembicaraan antara ibunya dengan tante berambut pirang panjang dan mata crimson yang duduk di seberangnya, ingin tahu tentang apa yang mereka bicarakan.

"Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak, ini benar-benar membuatku bingung."

"Yah, kamu benar."

Lisa juga sependapat dengan Luna. Dirinya berpikir kalau ia ada di posisi Luna, mungkin Lisa juga akan kebingungan dengan sikap putrinya, Alice yang tidak terlihat seperti gadis kecil seumurannya.

"Terlebih, aku sudah membujuknya untuk tidak membaca buku itu tapi ia tetap bersikeras."

Terkekeh mendengar Luna mengeluh tentang ini, ekspresi Lisa yang sebelumnya bingung menjadi rileks meskipun sorot matanya masih penasaran.

"Mirip seperti suamimu ya?"

"Ya."

Keduanya hening, tidak ada pembicaraan sama sekali melainkan diam selagi mereka menikmati seruputan teh di cangkir masingmasing.

"Ini benar-benar membuatku penasaran. Bagaimana bisa putrinya yang seusia putriku bisa mempelajari buku yang seharusnya tidak dipelajarinya di usianya?"

Ada rasa keingintahuan yang tinggi dibenak Lisa, ia menahan keingintahuannya untuk tidak terburu-buru mengambil langkah untuk mengetahui putri Luna agar Luna terlihat nyaman atas kedekatannya nanti.

"Itu dia."

Tiba-tiba ide muncul dibenak Lisa. Ia merasa kalau ide ini bisa digunakan sebagai pertemuan dengan putri Luna agar bisa mengetahui sikapnya seperti apa untuk tahu pasti apakah ia benar-benar gadis kecil ataukah memiliki pemikiran yang dewasa.

"Bagaimana kalau nanti putrimu dan putriku saling mengenal satu sama lain?"

Mendengar saran dari Lisa, dalam diam Luna terkejut karena tidak terpikirkan itu sama sekali.

"Ya, kurasa tidak masalah. Tapi, kapan kita bisa mempertemukan putrimu dan putriku?"

Hanya bisa terkekeh atas pertanyaan dari Luna, Lisa tidak menyangka kalau Luna benar-benar penasaran untuk mengetahui kapan ia bisa mempertemukan putrinya dengan putri Luna.

"Bagaimana kalau sekarang?"

"Eh? Bukannya terlalu mendadak?"

"Tidak, kurasa itu tidak mendadak."

Perkataan Lisa terhenti sejenak, mata emas miliknya melirik ke putrinya yang diam-diam dekat dengan sofa dimana ia duduk, berada di sisi selagi berpura-pura memainkan boneka dan furniture mainan.

"Kamu juga penasaran kan, Sayang?"

"....."

Terkejut karena ibunya mengetahui ia menguping, Eri dengan pelan menoleh ke ibunya yang tersenyum penuh makna memahami kalau ibunya mungkin marah dibalik senyumannya karena ia menguping pembicaraan orang dewasa.

"Tidak, aku tidak penasaran."

"Ara... kupikir kamu penasaran jadi aku akan biarkan kamu melihat putri dari temanku."

"Itu...."

Tawaran ibunya cukup menggoda Eri untuk mengetahui siapa putri dari tante berambut pirang panjang dan mata crimson yang berbicara dengan ibunya saat ini, ingin tahu kenapa orang itu mengeluh membicarakan tentang putrinya.

"Bagaimana? Kamu tidak keberatan kan, Luna?"

"Yah, jika putrimu mau menemuinya sekarang kurasa tidak masalah. Lagipula menurutku bagus karena mereka bisa saling mengenal sekaligus bisa bermain bersama."

Mendengar tante yang berbicara dengan ibunya setuju, mata emerald Eri berbinar-binar penuh harapan, berdiri dan mendekati Luna dengan wajah penasaran.

"Beneran tidak apa-apa, Tante?"

"Tante?"

"Ah, maaf."

Mendengar percakapan antara Luna yang terkejut dengan perkataan dari Eri, Lisa hanya bisa terkekeh karena mendengar Luna keberatan untuk dipanggil seperti itu oleh putrinya.

"Ya, itu benar, Sayang. Kamu bisa pergi ke kamarnya."

"Yeay~"

Tanpa berlama-lama Eri segera keluar dari ruangan menuju ke ruangan yang tidak jauh dari kamar ibunya tadi.

"Dia benar-benar bersemangat."

"Ya, kamu benar."

Bagi Lisa, kata-kata Luna itu merupakan pujian untuk putrinya, Eri, karena Lisa tidak menyangkal kalau putrinya diam-diam penasaran atas apa yang dibicarakan oleh ibunya dengan ibu Alice di depannya, Luna.

"Ah, benar. Bagaimana denganmu, Lisa? Apakah kamu tidak kesulitan mengurus putrimu?"

"Tidak, semuanya baik-baik saja."

Sudah menduga kalau jawaban dari Lisa sesuai pemikirannya, Luna hanya bisa menghela nafas panjang tidak memahami kenapa hanya ia yang kewalahan mengurus dan merawat putrinya, Alice yang memiliki sikap bertentangan dari dirinya, kecuali sifat suaminya, Ren yang ada padanya.

"Tidak perlu depresi seperti itu, tiap anak berbeda-beda, bukan?"

"Ya, kamu benar. Tapi tetap saja...."

Tidak ingin mengatakan apapun lagi, Luna hanya menyimpan perkataan berikutnya dalam benaknya.

"Putriku aneh melebihi putrimu."

Memahami kalau pembicaraan ini berat, sebisa mungkin Lisa menghindari temannya, Luna untuk terus-menerus mengeluh dan depresi karena mengurus putrinya.

"Lupakan tentang itu, bagaimana menurutmu tentang keputusan Yang Mulia?"

"Keputusan?"

Tiba-tiba Luna teringat atas apa yang dikatakan oleh ayahnya, Arga, setelah Alice lahir dari kandungan putrinya, Luna.

Saat itu Arga, pria berambut taper fade berwarna hitam dengan jenggot dan kumis berwarna sama yang menyatu layaknya surai singa, menatap ke Luna yang baru saja kelelahan setelah melahirkan.

"Putriku, dengarkan aku. Hari ini, kamu telah melahirkan putrimu ke dunia ini. Aku harap ia bisa menggantikan posisiku sebagai penerus berikutnya meskipun jabatannya sebagai ratu."

"Tapi Ayah... bukannya itu terlalu mendadak?"

Arga menggelengkan kepalanya, ia merasa kalau itu tidak mendadak karena ia akan menunggu dengan sabar pertumbuhan cucunya.

"Aku akan menantikan seperti apa ia saat berusia 18 tahun. Bila ia sudah matang, aku akan pensiun sebagai raja dengan membiarkan cucuku maju menggantikan aku."

Kata-kata itu tetap teringat jelas dibenak Luna membuatnya merasa kalau beban putrinya akan terasa berat karena menggantikan kakeknya, Arga sebagai penerus tahta berikutnya meskipun hanya sebagai ratu.

"Tidak perlu sesedih itu."

Dipegang kedua tangan Luna dengan lembut oleh Lisa, sesaat keterkejutan terlihat diwajah Luna lalu ia menatap ke Lisa dengan wajah bingung.

"Kurasa Yang Mulia melihat sesuatu yang tidak kamu maupun aku lihat darinya."

"Ya, kurasa kamu benar."

Meskipun sempat lega sedikit karena perkataan Lisa, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal dari hati Luna tentang ayahnya yang memilih putrinya, Alice sebagai kandidat untuk menjadi penerus tahta nanti, tahu jalan yang dilalui oleh Alice akan terasa berat melebihi siapapun yang lain yang ada di istana ini.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!