Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bryssa Galau
Bryssa kembali memeluk Amora setelah menceritakan permasalahannya, meski begitu Bryssa tidak menjelaskan secara detail siapa laki-laki yang diceritakan, apa lagi memberitahu jika hubungan mereka sekedar sugar baby dan sugar daddy, hubungan bisnis yang sialnya sudah memakai perasaan, sejauh ini, Bryssa memang merasakan suka dan menginginkan sugar daddy nya itu lebih dari sekedar hubungan mereka saat ini.
"Kalau gitu kamu harus tinggali dia dek, lupain cowok kaya gitu, biasanya cowok kalau udah berani bohong apa lagi sampai jalan atau ketemu sama cewek lain udah fix banget selingkuh, ini malah sampai sarapan bareng."
Bryssa semakin menangis mendengar ucapan Amora, bukan tentang perselingkuhan yang mungkin saja dilakukan oleh Davion, tuduhan selingkuh terlalu berlebihan mengingat hubungan keduanya bukan sebagai pasangan kekasih. Bryssa menangis jika memang harus meninggalkan Davion.
Laki-laki itu dunianya, banyak benefit dari Davion yang membuat Bryssa baik-baik saja meski dibedakan oleh Linda.
Benefit yang ia terima tidak main-main, Davion memberikan mobil, uang mingguan dan bahkan apartemen yang tidak pernah Bryssa kunjungi, jelas saja Bryssa lebih nyaman berada di apartemen Davion, seatap dengan Davion lebih baik dari pada tinggal sendiri di apartemennya di kala sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Amora diperbolehkan membawa mobil dengan alasan Amora sudah dewasa dan untuk bekerja, sementara Bryssa masih sekolah, tidak salah memang, tetapi itu membuat Bryssa merasa sedikit dibedakan, bukan tanpa sebab Bryssa merasa demikian, selain fakta yang baru saja ia ketahui. Amora memang dari SMA sudah diperbolehkan membawa mobil sendiri.
"Kamu ragu?" tanya Amora karena tidak mendapat jawaban Bryssa.
Bryssa justru menatap ke lain arah, membayangkan ketika keduanya menghabiskan waktu bersama, rasanya akan sangat susah jika Bryssa meninggalkan Davion.
"Sasa," panggil Amora seketika membuat Bryssa menoleh, menatap Amora dan masih diam.
"Gue nggak bisa ka," ujar Bryssa pada akhirnya.
Amora menghela napas dalam, lalu mengangguk mengerti, memang susah jika masih mempunyai rasa sayang, apa lagi Amora sendiri baru tahu jika Bryssa memiliki hubungan dengan lawan jenis, Bryssa tidak pernah memberitahu sebelumnya, hanya mengatakan akan bertemu seseorang yang Amora kira sekedar teman. Tetapi melihat bagaimana patah hatinya Bryssa saat ini membuat Amora tahu, jika selama ini Bryssa memiliki hubungan dengan seorang laki-laki, dan bodohnya Amora tidak pernah bertanya untuk menjadi teman curhat Bryssa.
"Oke, kamu mau gimana? Kita jalan biar nggak sedih lagi hum?" tawar Amora mendapat gelengan kepala dari Bryssa.
"Ka," lirih Bryssa kali ini terdengar sangat serius.
"Kenapa? Kamu mau temui dia langsung?" tanya Amora mendapat gelengan kepala dari Bryssa.
"Gue mau lepasin dia."
Sangat berat ketika mengatakan itu, tetapi sepertinya itu pilihan yang tepat, selain Davion yang sudah bertemu dengan wanita yang mungkin jauh lebih sepadan dengan Davion, orang tua Davion juga tidak menyetujui hubungan keduanya, bahkan mama Davion sendiri sangat menentang hubungan mereka sampai menawarkan uang untuk Bryssa menjauhi anaknya.
Lagi-lagi mengingat itu membuat hati Bryssa teriris, ada perasaan tidak rela jika harus melepas Davion.
Sialan, Bryssa benar-benar galau untuk memilih tindakan apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Kamu yakin dek? Aku bukannya nggak percaya sama kamu, tapi kamu ngga mau coba tanya langsung ke dia?"
Bryssa memanyungkan bibirnya, menatap kesal Amora. "Tadi lo bilangnya gue harus lupain dia? Jangan bikin gue bingung dong ka, nggak mudah gue ambil keputusan ini juga."
Amora terkekeh pelan, lalu kembali memeluk Bryssa dengan sayang.
"Sorry ya kalau kakak plin-plan, kamu tau sendiri kan kaka tidak pernah dekat sama laki-laki?"
Bryssa mengangguk dengan tawa kecil.
"Lo kenapa nggak cari cowok sih ka? Lo cantik, karir lo juga bagus, pasti banyak yang ngantri."
Mendengar ucapan Bryssa seketika membuat Amora tersenyum tipis. Ia mengusap lembut pipi Bryssa yang masih basah karena air matanya.
"Kaka sebenarnya malas berurusan sama cowok Sa, tapi bukan berati kaka pasrah aja gitu ya? Kalau misal emang ada yang deketin dan sesuai kriteria kaka, kaka mau kok," jelasnya dengan seulas senyum.
Sebenarnya ada perasaan ingin memberitahu Bryssa tentang kedekatan dirinya dengan anak bosnya, tetapi melihat keadaan Bryssa saat ini rasanya tidak etis sekali.
"Gue doain kakak dapat laki-laki yang baik, serius sama kaka."
"Makasih cantik." Amora kembali memeluk Bryssa. "Kamu juga udahan galaunya ya? Tunjukin sama tuh cowok kalau kamu layak bahagia meski tanpa dia, tunjukin kalau kamu baik-baik aja tanpa cowok brengsek seperti dia."
Bryssa mengangguk saja, ia sendiri ragu dengan pilihannya, setidaknya sebelum memutuskan nanti, Bryssa ingin menemui Davion terlebih dahulu untuk membuktikan semuanya.
"Oh ya? Congrats ya Sa, udah lulus kan? Kaka mau ajak kamu ke tempat sepesial," ujar Amora mendapat anggukan kepala dari Bryssa dengan senyum.
"Kaka tau gue udah lulus?" tanyanya terharu.
"Tahu lah, kakak sama mama nyariin kamu Sa, tahunya malah lagi galau ya sampai bikin nggak pulang?" Amora terkekeh sementara Bryssa tersenyum tipis.
Bukan, bukan karena hubungannya dengan Davion yang membuat Bryssa enggan pulang kemarin, tetapi karena fakta yang baru saja Bryssa ketahui.
Lo kenapa baik banget sih ka? Gue jadi nggak tega buat ninggali lo
"Hei, malah ngalamun, siap-siap gih, kita makan siang di luar, kaka tunggu ya? Pokoknya hari ini untuk adik kakak yang cantik ini, udah lulus nggak boleh sedih lagi, harus happy."
Setelah mengatakan itu Amora pamit keluar dari kamar Bryssa, sementara Bryssa masih terdiam di tempatnya. Amora bahkan tidak tahu percekcokan yang terjadi tadi diantara dirinya dan Linda.
Sementara di lain tempat, Davion menatap tajam mamanya, entah akhir-akhir ini Davion merasa mamanya terlalu ikut campur dengan urusannya, bahkan ponsel miliknya pun masih di tangan mamanya, beruntung Davion menyimpan album fotonya bersama dengan Bryssa menggunakan kata sandi, jika tidak mungkin mamanya juga bertanya dan akan menjadi masalah.
"Pokoknya nanti malam kamu harus ajak Ara untuk makan malam," ujar Yoshi masih anteng duduk di ruangan Davion.
Davion menghentikan kegiatannya, menatap mamanya yang duduk santai di sofa ruangannya.
"Nggak bisa, aku ada urusan."
"Urusan apa Dav? Kamu ini kan tidak punya pasangan, ayo lah sekali-kali dekat dengan seorang gadis, umus kamu juga sudah sangat matang untuk menjalin hubungan."
"Mama coba jodohin aku dengan dia?"
Yoshi tidak mengangguk, tetapi dari mimik wajahnya sudah menjawab pertanyaan Davion.
"Ya Tuhan, come on ma, aku bisa mencari pasangan untuk diriku sendiri, mama tidak perlu khawatir."
Terdengar tawa dari Yoshi, wanita tua tetapi masih cantik itu bangkit dari duduknya, menatap Davion dengan tenang.
"Tidak usah mengelak Dav, kamu bahkan masih sendiri sampai sekarang, apa itu tidak buat mama khawatir? Kamu sudah sepantasnya mempunyai pendamping, lagi pula Ara gadis yang baik, dia sangat berbakat dan juga mapan dari segi usia, mama ingin yang terbaik untukmu, jadi jalani saja dulu."
"Hp kamu yang ini, akan mama kembalikan setelah makan malam kamu dan Ara selesai nanti," ujar Yoshi pergi dari ruangan Davion.
"Shit." Davion memukul mejanya, lalu mencoba menghubungi Bryssa melalui telepon kantornya.
Sialnya, ia tidak hapal sama sekali nomor gadis itu, nomor gadis yang saat ini membuatnya dilema, sudah sejauh itu hubungan mereka kenapa hal kecil seperti menghapal nomor saja tidak bisa.
"Sial," umpat Davion lagi dengan menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangannya.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️