NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Overthinking bininya Altair

Jam 08.15 pagi, Supermarket Mitra Segar di Jalan Setia Budi mulai ramai. Musik pop terputar pelan dari speaker, aroma roti dari bakery bercampur bau lantai yang baru dipel.

Aquilla berdiri tegang di balik kasir nomor 3. Seragam merah marunnya kebesaran, topinya menekan kunciran rambut, dan name tag-nya terpasang miring. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya.

Ini benar-benar luar dunianya. Dulu dia cewek manja, bangun siang, jalan-jalan ke mall, dan hobi ngomel. Sekarang dia harus tersenyum ramah melayani pembeli yang gak sabaran. Rasanya aneh banget.

Pelanggan pertamanya seorang ibu-ibu dengan belanjaan menumpuk.

"Totalnya 143.500 ya, Bu," kata Aquilla dengan tangan gemetaran.

Ibu itu menyerahkan uang 200.000.

"Jadi kembaliannya..." Aquilla menatap layar, otaknya mendadak blank. "56.500? Eh, 57.500?"

Dia salah hitung dan memberikan uang kembalian 57.500 dengan cemas.

"Kurang seribu, Neng," tegur ibu itu ketus.

Muka Aquilla langsung merah padam. "I-iya Bu, maaf!" Katanya panik sambil ngambil uang kembalian lagi.

Mbak Dina, kasir senior, langsung menegur pelan tapi tegas. "Illa, santai aja. Lihat layar dulu, jangan dikira-kira. Kalau rugi, nanti ganti sendiri lho."

Aquilla cuma bisa mengangguk pasrah. "Iya Mbak, maaf..."

Gak lama kemudian, kejadian kedua muncul. Ada bapak-bapak mau beli sabun cair isi ulang 24.000, tapi Aquilla malah asal input harga yang reguler 28.000.

Mbak Dina menepuk bahu Aquilla. "Illa, tanya dulu ke pembeli, jangan asal tebak. Mending kamu pindah ke bagian atur barang aja deh, daripada antrian makin panjang."

Dengan bibir tertekuk, Aquilla menurut. Dia dipindahkan ke bagian belakang buat menyusun mi instan, minyak, dan biskuit di rak. Katanya sih tugas ini "lebih gampang".

Awalnya dia lumayan enjoy karena suka menyusun barang secara simetris. Sayangnya, dia malah menaruh botol kecap manis di rak saus sambal cuma gara-gara bentuk botolnya mirip.

Mbak Dina menghela napas lagi. "Illa... itu kecap, bukan sambal. Dibaca dulu labelnya."

"Oh..." cicit Aquilla pelan. Dia helat napas panjang, frustrasi sama diri sendiri.

Sementara itu, di luar supermarket, Altair dan temannya, Ryan, bersandar di motor Ducati merah.

Ryan tertawa kecil. "Gila, bini lo berani juga ya, Bang? Dari cewek manja langsung disuruh kerja begini. Gue kira bakal nangis di jam pertama."

Altair cuma menyilangkan tangan, matanya gak lepas memperhatikan Aquilla lewat kaca luar. Dia melihat Aquilla yang panik, ditegur, cemberut, sampai mengomel sendiri saat salah menaruh barang.

Melihat muka cemberut Aquilla yang menggerutu "Bodoh banget sih gue", Altair malah terkekeh pelan. Menurutnya itu lucu banget.

"Kasian sih, tapi semangat juga dia. Ada kemajuan," kata Ryan.

"Dia memang harus belajar," sahut Altair datar. "Gak bisa selamanya jadi cewek manja."

Tapi di balik nada datarnya, ada rasa bangga karena Aquilla mau mencoba dan gak gampang menyerah.

Jam 10.45, setelah dua jam mandi keringat, Aquilla izin istirahat 15 menit. Dia keluar lewat pintu belakang untuk cari angin, gak tahu kalau Altair masih ada di luar.

Begitu melihat suaminya bersandar di motor, Aquilla langsung menghampiri dengan wajah kusut.

"Al!" omel Aquilla langsung meledak. "Gue gak kuat! Ini kerjaan susah banget! Gue salah terus, Mbak Dina marah-marah, pembeli pada jutek, terus gue disuruh ngangkat kardus! Kardus, Al! Seumur hidup gue gak pernah angkat kardus!"

Altair cuma terkekeh pelan mendengar celotehan panjang itu. Dia melangkah mendekat.

Tanpa kata, jempol Altair terulur mengusap lembut keringat di pelipis Aquilla.

Gerakan sederhana itu sukses bikin Aquilla kaget dan bungkam seketika.

"Udah," bisik Altair pelan. "Tarik napas dulu, minum. Lo pasti bisa."

Aquilla menatap Altair dengan mata berkaca-kaca, tersentuh dengan perlakuan kecil itu.

Namun, sebelum Aquilla sempat berterima kasih, ponsel di saku Altair bergetar.

Saat Altair mengeluarkan ponselnya, Aquilla menyipitkan mata dan tak sengaja melihat nama pengirim pesan di layar.

Nama kontak: Ruby.

Mood Aquilla langsung anjlok. Wajahnya kembali dingin dan ketus.

"Ruby?" tanya Aquilla singkat.

Altair gak menjawab. Dia sibuk membaca isi pesan yang bikin rahangnya mengeras. Seketika, raut santai Altair hilang, berganti jadi ekspresi serius dan terburu-buru.

"Gue harus pergi," kata Altair tiba-tiba.

"Ke mana? Ketemu Ruby?" pancing Aquilla sambil bersedekap.

"Urusan kerjaan," jawab Altair singkat sambil menyalakan mesin Ducati. "Jaga diri lo. Nanti gue jemput."

Vrooom!

Motor Ducati merah itu langsung tancap gas, meninggalkan Aquilla sendirian di pekarangan belakang.

Saat mau kembali masuk, Aquilla mendadak bersin. Dia menoleh ke sekitar, merasa ada yang memperhatikan dari jauh sejak dia masih tinggal di kediaman Andrea's.

Siapa sih yang ngawasin? Apa maunya? pikirnya bingung.

Dia mengomel pelan, "Ish, siapa sih yang kangenin gue..."

Aquilla berdiri mematung. Bekas usapan tangan Altair di pelipisnya mendadak terasa dingin. Nama 'Ruby' kembali mencubit hatinya, nama yang selalu bikin dia merasa gak cukup dan selalu kalah.

Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Aquilla kembali masuk ke supermarket.

"Kok mukanya ditekuk gitu, Illa?" tanya Mbak Dina heran.

"Gak apa-apa, Mbak," jawab Aquilla pelan.

Dia kembali menata barang di rak, tapi pikirannya yang terdistraksi bikin dia gak sengaja menjatuhkan botol minyak hingga pecah.

PRANG!

Minyak tumpah membasahi lantai.

"Aduh!" Aquilla langsung jongkok panik.

Mbak Dina menghampiri sambil menghela napas. "Illa... kamu kenapa sih? Fokus dong."

"Maaf, Mbak..." cicit Aquilla dengan mata yang mulai memanas.

Dia gak cuma marah pada situasi, tapi juga marah pada dirinya sendiri karena gampang kepikiran cuma gara-gara satu nama itu.

Sambil mengepel tumpahan minyak, Aquilla berbisik pada dirinya sendiri, "Ternyata Al masih cinta sama Ruby. Lagi-lagi gue yang kalah... Kapan ya gue bisa disayang kayak dia?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!