Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5.
"Ada apa dengannya? kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu? tadi pagi dia sama sekali tidak perduli dengan perempuan itu! kenapa sore ini dia jadi seperti orang lain?!!" tanya Melina memandang pintu kamar Mark.
Ia merasa aneh dengan sikap Mark, yang tiba-tiba berubah seperti orang lain.
Melina mengerutkan keningnya sambil berkacak pinggang, dengan raut wajah yang terlihat masih merah padam.
"Jangan-jangan ada yang memprovokasinya, atau perempuan itu memang yang mengadu pada Mark!!" kata Alice merasa ikut heran juga, dengan sikap Mark yang berubah.
"Aku akan tanya nanti pada teman-temannya, apa sebenarnya yang terjadi! kenapa dia jadi berubah!!" kata Marley.
"Ayo! Papamu sudah lapar! Mario sebentar lagi akan pulang, bantu Mama memasak!!" kata Melina kepada Alice.
Sebelum beranjak dari depan pintu Mark, Melina mendengus sinis memandang pintu kamar Mark yang tertutup, lalu ia berbalik menuju rumah utama.
"Huh! paling juga besok sikapnya kembali seperti biasanya! mungkin dia kalah berjudi, jadi pura-pura baik sama perempuan itu!!" kata Alice.
Alice dan Marley menyusul Ibu mereka, yang sudah masuk ke dalam rumah utama keluarga Theodor.
Sementara Mark di dalam kamar mendekati Ivana, yang seketika melangkah mundur ke belakang dengan perasaan takut.
"Maaf, sudah membuat kamu terkejut, jangan takut padaku, aku tidak marah padamu!"
Mark meraih tangan Ivana yang terlihat gemetar, dan tubuh mungil itu dengan langkah berat ditarik Mark mendekat padanya.
"Apakah kamu sudah makan? aku akan masak untuk kita, aku juga sudah lapar!" kata Mark dengan nada lembut sembari tersenyum hangat.
"Ti.. tidak usah, a.. aku tidak lapar, ka.. kalau kamu lapar, pergilah makan dengan keluarga mu" jawab Ivana pelan, dan berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Mark.
"Aku sudah memiliki keluarga sendiri, aku akan makan bersama dengan kamu mulai hari ini, sampai seterusnya ke masa depan!" kata Mark semakin mengeratkan genggaman tangannya memegang tangan Ivana.
"Bu.. bukankah biasanya kamu makan bersama dengan mereka?" Ivana kembali menarik tangannya dari genggaman tangan Mark.
Sekali sentak, Mark menarik tangan Ivana, dan tubuh mungil istrinya pun masuk ke dalam dekapannya.
Ia memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
Hatinya terasa sakit memikirkan, bagaimana di kehidupannya yang lalu, ia tidak perduli dengan keadaan Ivana, apakah lapar atau tidak!
Ia sudah menikah, tapi ia seperti tidak memiliki istri, saking lebih mendengarkan apa yang dikatakan keluarga kandungnya.
"Mulai hari ini, aku tidak akan makan satu meja lagi dengan mereka, jika kamu tidak ikut makan bersamaku!"
Ivana melepaskan pelukan Mark, lalu memandang wajah Mark dengan seksama, "Apa yang telah terjadi diluar sana, apakah kamu mengalami sesuatu?" tanyanya semakin heran dengan perubahan sikap Mark.
"Aku sudah katakan tadi padamu, aku bermimpi kehilangan kamu, rasanya sangat nyata sekali, sampai aku menangis begitu sedih!" jawab Mark mengelus pipi Ivana lembut.
"Benarkah?"
"Iya!" jawab Mark menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku sudah acuh tak acuh padamu, mulai besok aku akan mencari pekerjaan, kita harus memisahkan diri dari keluarga Theodor, kalau kita masih tetap bergabung dengan mereka, kita tidak akan dapat hidup bahagia, sayang!"
Mark sebagai putra pertama di keluarga Theodor, lebih banyak membantu Ayahnya berdagang di pasar.
Ekonomi keluarga Theodor dari hasil berdagang sayur, dan menjual tahu di pasar.
Mark biasanya pagi-pagi sekali, jam empat pagi sudah mulai berangkat ke pasar membantu Ayahnya berdagang.
Mata Ivana bergerak-gerak menatap mata Mark, mendengar apa yang dikatakan Mark.
Apakah benar ini Mark suamiku? atau orang lain? bisik hati Ivana masih seperti bermimpi melihat sikap Mark yang tidak seperti biasanya.
"Tapi.. Papa nanti akan marah jika kamu bekerja, dan akan meminta gaji kamu, kita tidak akan mungkin bisa pindah dari sini!" kata Ivana mengingatkan Mark, akan keuangan Theodor semuanya di pegang oleh Ibu Mark.
"Kita harus rahasiakan, jangan sampai mereka tahu kalau aku bekerja siang hari, setelah selesai berdagang di pasar" kata Mark dengan suara pelan.
Bibir Ivana perlahan menyunggingkan senyuman senang, dan dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku akan rahasiakan" jawab Ivana pelan.
Cup!
Mark mengecup kening Ivana spontan mendengar jawaban istrinya itu. Ia merasa sangat senang sekali.
"Aku yang akan memasak, kamu di kamar saja melanjutkan melipat pakaian, ya?"
"He-em!" jawab Ivana menganggukkan kepalanya.
Mark mengusap kepala Ivana, sebelum ia pergi untuk membuat makan malam mereka.
Hatinya berbunga-bunga penuh rasa bahagia, hingga tanpa sadar ia bersiul saat keluar dari dalam kamarnya.
Bersambung........