Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Date
Keesokan harinya, sesuai rencana Leo kembali ke rumah Tuan Vigor untuk mengajak putrinya itu berkencan, dan kini tepat di pukul 3 sore hari mobil milik Leo akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Pemilik mobil itu pun turun dengan memakai pakaian kemeja hitam rapi dengan lengan di tekuk seperempat dan mengenakan jam tangan mewah miliknya di pergelangan tangan kirinya. Disaat yang bersamaan, pintu rumah itu terbuka begitu lebar dan seorang gadis dengan menggunakan sundress hitam dan memiliki ikat pinggang berwarna maroon dengan membawa tas kecilnya.
Langkah Yoona terhenti sembari menghela nafas panjang ketika melihat style pria yang ada di depannya itu "apa kita pernah janjian sebelumnya?" Tanya Yoona yang tidak terima dengan persamaan warna pakaian yang tidak sengaja mereka pakai.
"Tidak Juga." Jawab Leo singkat dan berhasil membuat gadis itu mendengus kesal dan kembal masuk kedalam rumahnya.
"Ehh kau mau kemana, kau mau menyuruhku untuk menunggu mu berganti pakaian? Sudah ayo pergi, jangan membuang waktuku disini." Lanjutnya yang berhasil menghentikan langkah Yoona.
"Kalau kau tidak mau menunggu ku, biar aku yang menunggumu, jadi cepat ganti pakaian mu dengan warna yang lain." Ucapnya sementara Leo hanya bisa menggeleng tipis mendengar permintaan Yoona yang menurutnya benar benar tidaklah penting.
Leo melangkahkan kakinya dan mulai berjalan menaiki anak tangga menghampiri Yoona yang masih diam berdiri di depan pintu, "memangnya kenapa kalau sama, sudah ayo pergi." Ujar Leo sembari meraih pergelangan tangan Yoona dan menggandengnya turun dan masuk kedalam mobil miliknya.
"Yyakk, apa kau gila, kau tidak mendengar ucapanku tadi, aku bilang aku tidak mau memakai pakaian satu warna denganmu, apa yang akan dikatakan orang orang nanti, sudah tunggu aku yang akan ganti." Bantahnya sembari membuka pintu mobil itu namun entah kenapa pintu itu tidak bisa terbuka olehnya.
"Apa? Kenapa tidak bisa dibuka? Terkunci." Keluhnya yang terus berusaha untuk membuka paksa pintu mobil itu sementara Leo dengan wajah datarnya hanya melihat wanita yang sedang berusaha dan kesal dengan dirinya sendiri.
Tanpa banyak bicara Leo langsung meraih lengan Yoona dan memakaikan sabuk pengaman miliknya hingga ia tidak bisa lagi berkutik dari tempatnya.
"Kenapa kau begitu mempermasalahkan hal sekecil ini hmm, emangnya kenapa kalau orang mengira kita pasangan, kita pergi memang untuk berkencan." Ucapnya tanpa menatap ke arah Yoona sama sekali dan langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
"Kau mau pergi kemana?" Tanya Leo setelah menempuh beberapa meter dari rumah tuan Vigor.
"Terserah." Jawab Yoona singkat tanpa menatapnya sama sekali.
"Jangan memberiku jawaban Elien, kau ingin kemana shopping, ke mall atau kemana, berikan beberapa Clue, tapi ingat aku tidak akan membayar barang belanjaan mu sebab pada awalnya kau sudah banyak uang." Ujar Leo.
Yoona menghela nafas panjang "ketempat tenang, indah, dan sepi." Jawab Yoona dan membuat Leo mengangguk mengerti dengan ucapannya itu.
Mobil Leo terus melaju menerjang siulet senja yang sedari tadi terus menyorot kearahnya, di tengah ramainya kota, dan penuhnya jalanan aspal mobil mewah itu terus berjalan hingga kesuatu tempat terpencil, lebih tepatnya daerah tengah cukup terpencil dan jauh dari ramainya kota.
"Apa? Tunggu, kenapa berhenti disini? kau ingin mengunjungi seseorang?" Tanyanya sembari menatap pria yang sedari tadi duduk di sampingnya, namun Leo tidak menjawab dan mulai turun dari dalam mobilnya begitu juga dengan Yoona yang juga ikut turun.
"Yyakk, apa yang dia lakukan disini." Geram Yoona yang ikut turun dari dalam mobil dan menyusul langkah Leo yang hampir jauh darinya.
Langkah Yoona mulai sejajar dengan langkah Leo yang memang perlahan seakan akan pria itu sedang berjalan menikmati suasana dan pemandangan di sekitarnya.
Hamparan rumput hijau yang begitu luas dengan pohon besar dan tua sehingga membuat tempat itu terlihat begitu rindang, mereka berjalan diatas jalan batu paving dimana di samping kanan kirinya terdapat banyak sekali deretan batu yang terukir nama setiap penghuni yang tertanam dibawahnya dengan berhiaskan taburan bunga diatasnya.
"Hanya orang gila yang datang kemari tanpa alasan seperti ini." Gumam Yoona sembari melirik punggung pria yang sedari tadi berjalan di atasnya.
"Kau bilang kau ingin pergi ke tempat yang tenang, indah dan sepi. Bahkah ini tempatnya, tempat yang sepi tenang dan banyak orang yang ada di sini tapi mereka tidak akan bisa mengubris kita." Jawabnya.
"Tapi tidak dikuburan juga, mana ada orang kencan dikuburan." Protesnya kesal apa lagi outfit mereka sangat mendukung lingkungan.
"Anggap saja simulasi, katakan padaku nanti kau mau di tempatkan dimana, biar aku bookingkan untukmu."
"Apa?" Yoona terkejut mendengar pertanyaan yang tiba tiba terdengar di telinganya.
"Setidaknya aku menjadi suami yang baik dan berguna untukmu bukan." Sahutnya.
"Dasar gila, semua itu tidak akan pernah terjadi padaku, justru jasadmulah yang akan terbakar olehku." Bantahnya.
"Cih,,,,aku sudah berniat baik untuk menguburmu, tapi kau malah ingin membakarku, istri macam apa kau ini." Ucapnya tanpa menatapnya sama sekali dan terus melanjutkan destinasi keliling kuburan itu.
Setelah lelah berkeliling mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku kayu yang ada disana. Yoona duduk menghadap kearah barat dimana dia bisa melihat matahari yang perlahan mulai tenggelam. Namun di tengah lamunannya itu tiba tiba saja ia melihat seseorang yang sedang berjalan menembus cahaya senja sembari membawa dua es krim ditangannya. Dengan kaki panjangnya pria itu perlahan mendekati nya yang tengah duduk disana.
"Ini untukmu." Ucapnya sembarari menyodorkan es krim vanila pada Yoona.
Yoona meraih pemberian Leo "untukku?" Tanyanya balik yang membuatnya ragu untuk memakan nya.
"Kau tenang saja, aku tidak menaruh racun didalamnya." Sahutnya yag seakan akan mengerti dengan maksud Yoona sembari duduk dan memakan es krim coklat miliknya.
"Bagaimana bisa aku percaya dengan pria seperti mu." Celoteh nya.
"Kau mau bukti?" Tanyanya yang langsung mengambil sesendok es krim milik Yoona dan memakannya.
Leo membuka lebar mulutnya dan menunjukan bahwa es krim itu telah masuk kedalam perutnya "lihat, aku tidak mati kan." Lanjutnya yang membuat gadis itu akhirnya mau memakan es krim miliknya.
"Bagaimana bisa kau tahu aku suka Vanilla?" Tanya Yoona sebab tidak ada yang tahu mengenai makanan kesukaan nya kecuali orang tua dan Luan mantan pacarnya.
"Apa kau lupa, aku sudah berteman denganmu selama lima tahun saat kecil, jadi bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kau tidak suka rasa lain selain rasa vanila." Jawabnya sebab memang benar Yoona tidak meyukai rasa rasa lain selain rasa Vanilla.
Matahari perlahan mulai terbenam hingga membuat langit yang tadinya berwarna biru perlahan berubah menjadi oranye kemerahan, yah meskipun tempatnya cukup crepy namun pemandangan itu tetapnya terlihat begitu menawan.
"Tidak buruk juga." Ucap Yoona yang sedari tadi menatap ke arah langit orenye itu.
"Aku tidak menyangka tempat seperti ini bisa setenang ini." Lanjutnya.
"Apalagi kalau kau sudah bertempat tinggal disini, pasti suasananya lebih tenang iya kan." Sahutnya yang berhasil membuat Yoona melirik tajam kearahnya.
"Kau sedang melucu?"
"Tidak, aku serius." Jawabnya singkat dan sontak membuat Yoona mendengus dingin.
"Setelah dari sini aku ingin makan, dan ganti aku yang pilih tempatnya." Sahut Yoona.
Leo mengangguk "tentu saja, kau mau makan malam apa?" Tanyanya.
"Pasta." Jawabnya singkat sementara Leo hanya mengangguk setuju dengan permintaan calon istrinya itu.
Setelah puas menikmati pemandangan indah sunrise di kuburan, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu sebab hari sudah mulai malam. Leo melajukan mobilnya meninggalkan tempat horor itu menuju ke suatu tempat yang merupakan tempat yang di inginkan Yoona.
Tempat itu terletat cukup jauh dari tempat Mereka berasal sehingga membutuhkan waktu satu jam lebih agar mereka sampai disana. Dan sesampainya disana pasangan itupun mulai turun dan masuk kesebuah restoran pasta dimana restoran itu di desain dengan begitu clasik dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu serta lampu lampu kecil kuning yang membhat suasana tempat itu begitu istimewa apa lagi tempat itu berhadapan langsung dengan danau.
"Aku baru tahu ada tempat seperti ini disini." Ucap Leo sembari duduk di meja makan dan melihat ke arah sekeliling resto itu yang terlihat cukup sepi dan hanya ada beberapa pengunjung disana.
Sementara Yoona hanya menyengir sebab ya memang hanya orang tertentu yang tahu tempat itu, apalagi harga pasta disana lima kali lebih mahal dari harga pasta pada umumnya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya seorang waiters datang dan menyajikan dua porsi pasta beserta minuman yang sudah Yoona pesan sebelumnya.
"Selamat menikmati hidangan makan malam anda tuan dan Noona." Ucap pelayan itu seusai menyajikan semua makanan diatas meja makan disana.
Yoona mulai memakan sesuap pastanya untuk menghilangkan rasa laparnya, begitu juga dengn Leo yag masih sibuk mengaduk dan membolak-balikkan makanan yang ada di depannya agar ia bisa lebih menikmati makanannya. Namun ketika ia hendak memasukan satu suapan mie itu kedalam mulutnya, entah kenapa ia merasa ada yang aneh dan berbeda dengan makanan itu.
"Kenapa?" Tanya Yoona ketika melihat Leo meletakan kembali pasta yang hampir masuk kedalam mulutnya.
"Kau sedang merencanakan sesuatu?" Tanya Leo curiga.
"Cihh, disaat seperti ini kau masih bisa bisanya curiga denganku? Memang apa yang bisa ku lakukan hmm." Decitnya tanpa menatap pria itu sama sekali dan sibuk dengan makanannya.
Sementara pandangan Leo mulai melirik ke setiap sudut ruangan itu yang memang disana tidak ada satupun hal yang mencurigakan.
"Kalau begitu untuk memastikannya, coba makan sesuap saja pasta milikku."
"Apa?"
"Kau tadi mencurigai es krim yang ku belikan untukmu makanya itu aku mau membuktikannya, dan sekarang buktikan bahwa makanan ini juga aman." Ucapnya yang membuat Yoona hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa di depannya.
"Untuk apa aku mencobanya, makanan ini murni dari hasil restoran ini, lagipula apa kau melihatku pergi dari hadapanmu untuk meletakan hal yang tidak tidak di dalam makanan mu, tidak bukan." Jawab Yoona karena memang gadis itu sama sekali belum beranjak pergi dan menghilang dari pandangan Leo sekalipun.
"Aku hanya ingin kau mencobanya satu suap saja, tidak ada salahnya kau memakannya sedikit iyakan." Bantah Leo sembari mengambil kembali pasta yang sedari tadi ada di atas piringnya.
"Aku tadi sudah menuruti permintaan mu, jadi sekarang giliranmu menuruti permintaan yang sama dariku." Lanjutnya dan menyodorkan garpu yang penuh dengan lilitan mie pada Yoona yang tengah duduk di depannga.
Sementara Yoona hanya menatap tajam kearah Leo yang sedang berusaha untuk dia mau mencoba makanannya.
"Kenapa kau hanya diam menatap ku seperti itu, ayo makanlah mumpung masih hangat dan yang terpenting belum ku jilat sama sekali." Ucap Leo meyakinkan sebab memang makanan itu belum sama sekali ia sentuh.
Leo terus mendesak Yoona agar mau mencoba makanannya meskipun ia tahu apa yang akan terjadi setelah gadis itu memakan satu suap pasta milikmya. Dengan perasaan terpaksa Yoona dengan rela menerima suapan yang Leo berikan itu dan memakan pasta milik Leo.
Yoona dengan perlahan mengunyah sedikit demi sedikit makanan yang saat ini ada di dalam mulutnya setelah itu mendorongnya masuk dan lolos ke kerongkongan dan perutnya. Sementara Leo hanya menatapnya dan menunggu bagaimana reaksi nya setelah memakan makanan itu.
Namun selang tiga detik kemudian, entah kenapa gadis itu merasa dadanya semakin lama semakin sesak dan membuatnya hanya duduk diam tanpa berkutik dan tidak menunjukan reaksi apapun, hingga beberapa detik kemudian Yoona pun akhirnya jatuh tidak sadarkan diri di atas meja makan itu.
'sudah ku duga.' batin Leo sementara pegawai restoran yang awalnya fine tiba tiba saja mengarahkan sebuah pistol ke arah pria yang masih duduk disana.
Melihat hal itu dengan begitu cepatnya Leo langsung mengambil pistol miliknya yang sedari tadi ia simpan di saku miliknya dan mengarahkannya tepat di depan wajah Yoona.
"Jika kalian mengeluarkan satu peluru pada ku, maka peluruku juga akan menembus kepala ini." Ucap Leo.
Leo menatap sekilas ke arah Yoona yang masih tidak sadarkan diri "Noona kalian sedang sekarat sekarang, jadi katakan apa racun itu punya obat penawarnya?" Tanya Leo sementara semua pegawai disana hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Racun itu dibuat tanpa adanya obat penawarnya, dan itupun adalah milik Noona Yoona seorang." Jawab salah satu pegawai di sana.Mendengar hal itu membuat Leo langsung beranjak dari tempat duduknya dan meraih tubuh Yoona dan membawanya pergi dari tempat itu sembari terus memegang pistol miliknya itu