Kehidupan mewah dan sempurna yang selalu membuat semua orang iri pada gadis cantik bernama lengkap Ainsley Setya Belen namun itu semua bagaikan cangkang emas tak berisi saat kesempurnaan yang di lihat hanya menyimpan air mata di balik nya.
"Sean, cukup...
Sakit..." tangis nya memohon pada pria yang sedang menghukum nya.
"Sudah ku katakan, bukan? Aku tak suka di langgar! Kau tak mematuhi ku dan harus di hukum!" jawab Sean dengan amarah pada gadis nya.
Pria dengan nama lengkap Sean Justin Xavier yang merupakan pewaris dari perusahaan ternama namun menyimpan sisi gelap yang tak semua tau.
Memberi seluruh cinta dan hati nya pada pria yang juga mencintai nya namun memiliki sifat posesif yang di luar batas membuat nya bagaikan berjalan diatas es yang tipis.
Saat gadis itu berhati-hati dalam langkah nya tanpa sengaja ia menarik benang lain yang membuat hidup nya menjadi lebih menyakitkan.
Menarik perhatian pria Mafia berdarah dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aylis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Punishment!
Tap!
Sean yang langsung mencegah pintu lift sebelum menutup sempurna.
"Singkirkan tangan mu!" decak nya dan langsung masuk ke dalam lift tersebut lalu mengambil gadis nya.
"Sean? Katanya kau pulang lebih dulu?" tanya Ainsley lirih saat menatap ke arah kekasih nya yang terlihat marah.
Richard membiarkan pria itu menarik gadis yang hampir jatuh dalam pelukan nya malam ini, ia tak banyak bicara dan hanya senyuman mencurigakan yang ada di bibir nya.
"Dia tadi mabuk, dan kau pasti tau kan? Apa yang akan terjadi jika membiarkan gadis manuk sendirian di sini?" tanya Richard dengan senyuman nya sedangkan Sean menekan tombol agar keluar di lantai selanjutnya.
"Tentu saja, dan kau salah satu nya kan?" jawab Sean yang memilih tak membalas atau pun memukul Richard karna ia memilih menggendong gadis nya dan membawa nya keluar lebih dulu.
Richard hanya membalas dengan smirk yang menyimpan sesuatu di balik nya, setelah pintu lift terbuka Sean pun langsung keluar dengan membawa gadis nya.
"Sebaiknya kau jaga dia dengan baik, dia terlalu mengesankan untuk semua orang." ucap Richard tersenyum sinpul sebelum pintu lift tertutup.
"Dia milik ku! Tak ada yang boleh satu pun menyentuh nya!" decak Sean dengan emosi yang memuncak dan membawa gadis nya pulang ke mansion nya.
......................
Mansion Sean.
Silau mentari pagi yang masuk bagaikan selimut fajar di kamar mewah tersebut membuat gadis itu terbangun.
Ia mengusap wajah nya dan melihat tempat dimana ia berada, ia tau jika saat ini ia berada di kamar sang kekasih namun pria itu tak ada di samping nya.
"Mandi lalu turun dan sarapan dengan ku," ucap Sean dingin saat ia melihat Ainsley yang mulai terbangun.
Ainsley pun mengusap mata nya sekali lagi, ia melihat gaun nya kemarin malam sudah di ganti dengan pakaian tidur milik nya di mansion mewah tersebut.
"Sean yang ganti baju nya? Apa aku buat kesalahan? Dia terlihat marah?" ucap Ainsley sembari bangun dari tidur nya dan beranjak ke kamar mandi.
Ia merasa wajah dan nada suara pria itu yang dingin pada nya ketika ia baru bangun tadi, namun ia dengan cepat menepis nya dan melakukan apa yang di minta pria itu.
...
"Bagaimana kuliah mu?" tanya Sean di tengah sarapan nya, nada dan wajah ia bicara tak sama seperti biasanya.
"Baik..." jawab Ainsley lirih, ia mulai merasa ada yang berbeda dari kekasih nya hawa penekanan yang begitu kuat ia rasakan.
"Kau ingat dosen mu yang membuat ku marah waktu itu?" tanya Sean dan mulai memancing tentang dosen gadis nya yang selalu bertepatan dengan waktu yang tak tepat.
"Paman?" tanya Ainsley spontan.
Hanya dengan beberapa minggu Richard sudah mampu menarik perhatian dan simpati gadis itu pada nya, ia tau jika Ainsley yang sangat polos dan hanya mempercayai apa yang ia lihat.
Keluguan dan hati yang masih begitu bersih untuk mengenal dunia yang penuh akan muslihat.
"Paman? Kau memanggil nya seperti itu?" tanya Sean dengan mengernyitkan dahi nya.
Ia tau Ainsley yang mudah di menggambarkan cara pandang nya dari seseorang di wajah nya, dan hal itu lah yang membuat nya sadar jika saat ini gadis nya mulai dekat dengan pria lain.
"Jauhi dia, dia tidak baik!" ucap Sean sekali lagi dan ingin menutup pembicaraan nya secepat mungkin karna tak ingin menghukum gadis itu.
"Kenapa? Paman orang baik!" sanggah Ainsley spontan dengan tatapan polos dan tulus nya.
Sean menghentikan suapan yang hampir masuk ke dalam mulut nya, ia pun meletakkan sendok nya dan menatap ke arah gadis yang dulu nya tak pernah membantah namun kini mulai melakukan nya demi pria lain.
"Semalam kau mabuk kan? Kenapa bisa?" tanya Sean dengan nada penuh penekanan.
"A-aku minum alkohol Sean..." ucap Ainsley lirih dan terbata.
"Kau tau? Paman mu itu semalam hampir membawa mu ke kamar di lantai atas?" tanya Sean memberi tau jika Richard hampir membawa ke ruangan kamar.
"Kau membela nya lagi? Seperti nya kau sangat dekat dengan nya? Sejak kapan?" tanya Sean yang semakin tak bisa menahan amarah nya karna gadis itu sudah terlalu jauh membela pria lain.
"Da-dari waktu kami terkunci di gudang terus waktu makan siang, Pa-paman juga-"
"Tunggu! Kau tak pernah bilang pada ku sebelum nya?!" potong Sean dengan cepat pada gadis nya, "Kami? Kalian sangat dekat sampai ada kata Kami?" tanya nya nya dengan amarah yang semakin meninggi.
Sifat posesif dan cemburu nya yang kian hari semakin menebal tentu nya tak akan suka dengan stagment seperti itu.
"Aku tidak bilang karna tidak mau mengganggu Sean..." ucap Ainsley lirih.
"Aku pernah mengatakan kalau semua pembicaraan yang kau mulai adalah hal sepele? Atau kau merasa aku tak mendengarkan cerita mu?" tanya Sean lagi dengan semakin geram.
"Bu-bukan! Bukan begitu! Katanya kalau wanita terlalu banyak bicara pria tak akan suka..." ucap Ainsley lirih karna itulah yang ia dengar dari kumpulan teman sekelas nya yang berbicara alasan mereka putus.
"Lalu kau menyimpan rahasia?" tanya Sean lagi dengan tatapan tajam.
"Bukan rahasia Sean...
Sean belum mengenal Paman, makanya berfikir seperti itu..." ucap Ainsley spontan dengan gugup.
Sean memejam beberapa saat, ia tak lagi bisa menahan emosi dan rasa cemburu nya, selama ini gadis nya tak pernah membantah apalagi membela pria lain secara terang-terangan pada nya.
Namun kini?
Ia sudah bisa membayangkan sedekat apa hubungan gadis nya dengan dosen yang dapat ia lihat dengan jelas maksud mendekati kekasih kesayangan nya.
Plak!
Pria itu bangun lalu berdiri mendekat ke arah gadis yang duduk makan di dekat nya.
Ainsley terkejut sesaat, di bandingkan rasa sakit karna tamparan yang begitu kuat ia lebih merasa takut karna saat ini sudah membangkitkan mode iblis kekasih nya.
"Coba ulangi yang kau katakan tadi?" tanya Sean dengan nada penuh penekanan.
Ainsley diam tak berani menjawab lagi, ia hanya menunduk dan mulai mengeluarkan bulir bening dari mata nya.
"Auch!" ringis nya langsung saat ia merasakan tarikan kuat di rambut panjang nya.
Plak! Plak!
Pria itu melayangkan beberapa tamparan di wajah gadis nya sembari terus menarik rambut panjang Ainsley.
"Ukh!" suara nya tercekat, pipi nya terasa perih dengan dan panas di saat bersamaan, belum hilang rasa sakit itu ia mulai merasakan tangan pria nya yang mulai mencekik nya saat tengah menarik rambut panjang nya dengan kuat.
"Kau tau kan? Aku tak suka di bantah! Seperti nya aku terlalu lunak pada mu sekarang," ucap Sean dengan nada penuh penekanan pada gadis yang mulai terlihat sesak tersebut karna cekikan nya.
Sean pun melepaskan kedua tangan nya secara bersamaan dan menyuruh gadis yang sudah menangis segugukan itu untuk minum.
"Seperti nya kau sekarang perlu di hukum agar tak jadi anak nakal lagi? Hm?" bisik pria itu saat ia melihat gadis yang sudah minum.
"A-aku anak baik Sean..." ucap Ainsley lirih dengan suara gemetar, sudut bibir nya yang sudah terluka dan pecah tak membuat nya menghiraukan rasa sakit nya karna ia tau ia akan mendapat rasa sakit yang lebih besar lagi.
"Kalau begitu bangun dan ikuti yang ku katakan," ucap Sean menarik tangan gadis itu menuju kamar nya.
Kamar yang memiliki ruangan lain di dalam nya, ruang rahasia yang berada di balik rak buku baca. Tempat yang ia bangun khusus untuk "Mendisplinkan" gadis nya.
*pelakor triknya kebaca dan terang2an dan menampakkan sifat aslinya yang murahan, dia akan memanfaatkan kecantikan dan tubuhnya, merayu suami orang,
*pebinor ini yang susah trik sangat licik dan halus mereka akan mendekati secara perlahan dan coba mendapatkan simpati istri dan perlahan membuat salah paham dan membuat rumah tangga orang hancur secara perlahan, dan setelah dapat celah dia akan datang sebagai pahlawan, dan secara perlahan dia akan merebut simpati istri orang, cara pebinor sangat licik sehingga susah di antisipasi karena kebanyakan wanita jablay malah akan kebaperan dengan sosok ini
contohnya sean adalah biang dari kematian richard dia perlahan mendekati istri richard dan membuat richard salah paham dan terbawa emosi sehingga richard melakukan kesalahan karena salah paham dan cemburu dan karena istrinya terus membela sean, dan akhirnya terjadilah tragedi yang membuat richard berkorban untuk istri dan anak bisa tetap bisa bersatu dan setelah sean kembali melancarkan aksinya dia perlahan mendekati dan akhirnya misinya berhasil merebut istri orang
sekian