Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Hari menjelang malam, namun tak seperti biasanya Alexi pulang telat, setelah selesai dengan makan malam nya yang hanya seorang diri, Meira pergi ke sebuah ruang tv, ia memutar sebuah film sambil menunggu Alexi pulang. "ashh.. ngapain juga aku menunggunya." gumam Meira dengan tatapan pada sebuah film namun pikirannya entah melayang kemana.
Waktu terus berputar, jam menunjukkan pukul 22.15 namun Alexi belum juga pulang. Rasa cemas pun terus bergelut dalam diri Meira, ia telah mencoba menghubungi nya bebeapa kali namun tidak ada jawaban. Meira sempat berpikir apa semuanya gara-gara ucapan dia tadi siang atau karena hal lainnya.
Setelah mondar mandir keluar masuk rumah, akhirnya Meira mutuskan untuk kembali duduk di sebuah sofa ruang tv. Karena malam telah larut Meira pun tidak bisa menahan rasa kantuk nya lagi hingga membuat ia tertidur di sebuah sofa.
Satu jam berlalu, Alexi pun pulang dengan keadaan yang sedikit sempoyongan, kedatangannya disambut oleh dua orang penjaga rumah nya, Alexi pun mengacungkan kelima jarinya menandakan kalau ia baik-baik saja dan tidak perlu bantuan mereka.
Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya, sebuah pintu di dorong nya dan terbuka lebar, namun ia hanya melihat sebuah tepat tidur yang masih tertata rapi. setelah membuka jas nya, Alexi mencari istrinya ke semua sudut kamar. "Kemana perginya dia?" gumam Alexi yang tidak menemukan Meira dalam kamarnya.
Ia pun bergegas keluar dari kamarnya dan menemui Lily untuk menanyakan keberadaan Meira.
"Apa kau tau dimana dia?"
"Mungkin masih di ruang tv tuan, sedari tadi saya lihat nona bolak balik keluar rumah dan terlihat begitu gelisah." jelas Lily.
"Baiklah."
Alexi memutar balikkan badannya dan melangkah menuju ruang tv. Ucapan Lily ternyata benar, Alexi melihat Meira yang telah tertidur di sebuah sofa dengan posisi terduduk. Perlahan Alexi menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajah nya hingga membuat ia terbangun. Saat Meira membuka matanya ia melihat sosok pria yang menyebalkan di hadapannya yang menatapnya begitu lekat.
"Darimana saja kamu?" ucap Meira setengah membentak.
"Kenapa kamu tidur disini?" tanya balik Alexi.
"Aku hanya ketiduran." ucap Meira dengan sebuah alasan dan membuang muka.
Alexi mengeluarkan senyum tipis nya ketika Meira berbohong. "Apa kau mencemaskan ku?" tanya Alexi terus mendesak istrinya.
"Enggak, untuk apa aku mencemaskan mu?"
"Mau kemanapun kamu pergi, dengan siapapun kamu pergi, mau pulang apa enggak, aku gak peduli." ujar Meira dengan nada yang sedikit kesal.
Meira pun beranjak dari duduknya dan hendak melangkah menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika Alexi menarik ke dalam pelukannya. "bilang kalau kamu mencemaskan ku." ucap Alexi dengan suara yang sendu.
Deg. . . detak jantung Meira berdedup tidak karuan ketika mendengar Alexi mengatakan hal itu.
"Lexi... ku mohon lepaskan." ucap Meira mencoba melepaskan tangan Alexi yang melingkar di pinggangnya.
"Aku menginginkan mu malam ini baby." ucap Alexi dengan suara yang berat.
Lagi-lagi ucapan Alexi yang terdengar jelas di telinga Meira semakin membuatnya tidak karuan. Bagaimana tidak? Meira yang belum siap dengan semuanya dan kini Alexi telah memintanya. Dari cara tatapan dan bicara nya Meira tau kalau berada dalam pengaruh alkohol yang membuatnya setengah sadar.
"Istirahatlah, kamu terlihat begitu lelah." ucap Meira yang berhasil keluar dari lingkarannya dan pergi menuju kamar.
"Ra... Meira....!!" teriak Alexi yang masih diam di tempatnya.
Sementara dengan Meira yang telah berada di dalam kamar, ia berjalan menuju sebuah cermin dan menatap dirinya sendiri. "Apa aku sudah keterlaluan? tapi aku butuh waktu untuk memulai semuanya." gumam Meira yang bicara pada dirinya sendiri.
Tak lama setelah itu, Meira pun berbenah di sebuah ranjang dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
**
Malam telah berlalu, di saat Meira membuka matanya, ia tidak melihat sesosok pria di sampingnya. Ia pun bergegas bangun dan mencarinya ke kamar mandi dan sebuah balkon, namun Alexi tidak ada dimana pun. "Apa semalam dia tidak tidur disini?" gumam gadis itu.
Meira pun memutuskan untuk mandi terlebih dulu dan bersiap sebelum akhirnya ia mencari keberadaan Alexi kembali. Setelah semuanya rapi, Meira bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan yang masih kosong tak ada satu orang pun duduk di sana.
"Lily. . ." panggil Meira.
"Ya nona?"
"Alexi belum sarapan?"
"Dari pagi saya belum melihat tuan keluar."
"Kamu tau dimana dia tidur semalam?"
"Sepertinya tuan berada di ruang kerjanya."
"Ahh.. baiklah, makasih."
Lily pun membungkuk dan pamit untuk kembali mengerjakan tugasnya. Sementara Meira pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan yang telah di siapkan. Satu suap Meira memakan sarapannya. tiba-tiba terhenti ketika ia mengingat suaminya. "Aishhh.." gadis itu kembali meletakkan alat makan nya dan bergegas pergi ke ruang kerja suaminya.
Tok... tok ...tok...
Dua kali Meira mengetuk pintu ruangan itu namun tidak ada jawaban juga dari dalam, akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam ruangan tersebut, dan terlihatlah ruangan yang telah berantakan dengan beberapa berkas yang berserakan serta gelas dan botol minuman di atas sebuah meja.
"Astaga Lexi..." ucap Meira melangkahkan kakinya menghampiri Alexi yang masih tertidur di sebuah sofa.
Gadis itu pun membereskan beberapa kertas yang berserakan dan menyimpannya di sebuah meja. Dengan tak sengaja Meira melihat layar laptop Alexi yang menyala dan sebuah email yang telah terbuka. Ia membaca email tersebut yang berisi tentang kelemahan Florence yang bisa ia hancurkan dalam sekali bertindak. Tak hanya itu Meira juga membuka pesan lainnya serta beberapa berkas yang ada di hadapannya.
Email terakhir yang ia baca adalah bersangkutan dengan ancaman keselamatan Yoona yang kini telah berada dalam genggaman Sakha. Sontak hal itu tentu saja membuat Meira kaget hingga dengan tidak sengaja Meira menyenggol sebuah vas dan membuatnya terjatuh.
"Kenapa masalah sebesar ini dia tidak bilang pada ku?" gumam Meira.
Mendengar suara benda terjatuh tentu saja membuat Alexi terbangun dari tidurnya. Ia melihat sesosok wanita yang begitu ia cintai berdiri di hadapan sebuah laptop miliknya. "Sejak kapan kamu di situ?" tanya Alexi.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya?"
"Mengatakan apa?"
"Keselamatan mama, kenapa kamu tidak bilang pada ku?!"
"Ahh.. masalah itu, kamu tenanglah."
"Gimana aku bisa tenang sementara mama dalam bahaya?!"
"Aku gak bisa membiarkannya, aku harus segera menemui Sakha."
Meira pun pergi meninggalkan ruangan Alexi dan menuju pintu utama.
"Meira.... jangan bertindak gegabah!!" teriak Alexi dari dalam ruangan itu.
Meira tak menggubris teriakkan suaminya itu, ia terus berjalan menuju keluar rumah.
"tutup gerbang, jangan biarkan Meira keluar! dan bawa dia kembali masuk!" ucap Alexi yang terhubung dengan bawahannya.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan