NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Naik Kelas / Paksaan Terbalik / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rositi

Fina terpaksa menikah dengan Bian, tetangga yang juga merupakan sahabatnya karena Lia calon istri Bian, tiba-tiba membatalkan pernikahan, tepat satu hari sebelum pernikahan digelar.

Fina pikir, meski ia hanya sebagai mempelai pengganti, ia bisa menjadi istri sekaligus wanita yang dicintai Bian, terlebih orang tua mereka juga sangat mendukung hubungan mereka. Namun siapa sangka, belum genap satu minggu usia pernikahan mereka, Bian yang menjadi bersikap dingin bahkan sama sekali tidak mau menyentuh Fina semenjak pernikahan mereka, justru menceraikan Fina.

Diceraikan oleh Bian membuat Fina menjadi janda tidak terhormat. Terlepas dari itu, semua beban moril yang Fina dapat juga membuat nama baik keluarga Fina hancur, bahkan Raswin ayah Fina menjadi sakit parah. Di tengah keterpurukannya, Fina justru bertemu dengan Rafael, pria kaya raya yang pernah Fina tolak cintanya.

Rafael yang sedang dihadapkan dengan perjodohan meminta Fina untuk bekerja menjadi istrinya. Rafael benar-benar melakukan segalanya demi meyakinkan Fina. Akankah hubungan mereka benar-benar hanya sebatas "saling membutuhkan" sedangkan benih-benih cinta juga mulai hadir mewarnai kebersamaan? (Tamat di NovelToon)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Bertemu Keluarga Fina

“Perkenalkan, Pak ... Bu ... nama saya Rafael Veanso. Saya bekerja di bidang perhotelan. Dan maksud kedatangan saya ke sini, ... saya ingin mengenal keluarga Fina lebih jauh, karena saya ingin menikahi Fina. Kami sudah sepakat untuk menikah.”

Episode 35 : Bertemu Keluarga Fina

“Ibu ... ini tolong tutupi wajahku. Aku enggak pede kalau mai oli wan Dek Fina, lihat aku dalam keadaan tensi ketampananku yang berkurang,” rengek Ipul.

Ipul begitu manja dan memang sangat dimanja oleh orang tuanya.

“Ini juga, Pak ... tolong simpan kacamataku. Ini kacamata baru, masih proses kredit. Besok, ... setiap hari Selasa sama Jumat, Bapak setorin pembayarannya, ya. Kan sekarang aku bakalan sibuk urus banyak kebo!” rengek Ipul kemudian kepada sang ayah sambil memberikan kacamata hitamnya.

“Sudah ... sudah, sini ... Ibu saja yang simpan di tas Ibu, biar enggak rusak.”

“Waladalah ... sudah bergaya tingkat kabupaten, ujung-ujungnya masih kredit? Katanya orang kaya!” ledek Rina yang masih saja belum puas, sebelum Ipul dan orang tua pria itu, angkat kaki dari hadapannya.

Pintu ruang rawat Raswin kembali Rina buka seiring Ipul yang dituntun dari kedua sisi oleh orang tuanya. Di sisi kanan oleh sang ayah, dan di sisi kiri oleh sang ibu.

“Berasa jadi penganten sunat lagi, kalau kayak gini,” keluh Ipul sambil tertunduk lesu.

“Ya sudah, sekalian sunat lagi. Tuntasin saja mumpung masih di rumah sakit!” ujar Rina yang tak hentinya menggoda.

“Dek Rina ... sudah, deh ... cemburunya jangan berlebihan. Aku tahu, kamu cemburu banget, karena mbakmu jadi mai oli wan ...,” keluh Ipul.

Rina hanya tertawa dan sengaja bersembunyi di balik pintu agar tidak melihat kepergian Ipul berikut orang tua pria itu. Sebab, jika ia terus melihat ketiganya, Rina tidak yakin akan baik-baik saja, termasuk bisa mengendalikan tawanya.

Akan tetapi, perihal Fina dan pria yang menggandeng kakaknya itu sukses menggagalkan usaha Rina. Rina tak hanya penasaran, melainkan sangat penasaran. Itu juga yang membuatnya mengintip dari balik pintu tak ubahnya bocah.

Awalnya, Ipul sangat tidak bersemangat. Ia terus menunduk dan melangkah loyo. Namun, ketika ia mendapati sepasang kaki dengan sepatu flat warna hitam, ... ia jadi ingat kalau tadi, ia melihat Fina. Dan ketika ia memastikannya, ... demi Tuhan, Fina terlihat sangat cantik!

“Dek ... Fina, mai oli wan? Kamu jadi cantik banget ...?”

Rina yang melongok dari balik pintu juga membenarkan anggapan Ipul. “Iya, ... Mbak Fina jadi cantik banget. Tapi kalau cantik cuma sebatas simpanan, ya percuma,” batinnya. “Mbak Fina ... kok Mbak tega, sih? Kenapa Mbak jadi segampang ini?” keluh Rina masih di dalam hati.

Rafael dan Fina tak ubahnya pasangan sungguhan yang tidak terpisahkan. Rafael menuntun Fina geser, memberi Ipul berikut kedua orang tua pria itu jalan untuk segera pergi. Sedangkan yang terjadi pada Rina, gadis itu bergegas menghampiri orang tuanya. Lain halnya dengan kedua pria yang mengikuti Rafael dan Fina. Kedua pria itu sibuk mengendus dan terlihat jelas menahan bauh tidak nyaman.

Ipul tak hentinya menatap Fina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan penuh cinta sekaligus takjub. Pun dengan Sumi dan Sukat.

“Ini si Fina, ... jadi cantik banget? Terus ini pria, siapanya? Orang kaya itu? Yang jadiin Fina simpanan?” lirih Sumi berbisik-bisik pada Sukat, di belakang Ipul.

“Bue ... di belakangnya ada mbokdigat,” balas Sukat masih berbisik.

“Hah, mbokdigat siapa?” saut Sumi penasaran. Ia pun sampai melongok ke belakang Fina dan Rafael yang disertai dua orang pria dan salah satunya memiliki tubuh tinggi tegap. “Bukan mbokdigat, Pae .. tapi omegat! Itu yang suka melindungi kayak gitu, pokoknya kan?” ucapnya kemudian.

“Nah, iya. Pokoknya yang kayak di pilem-pilem. Ternyata ini ... keren. Tapi, si Fina lebih milih pria ini ketimbang Den Bagus Ipul kita?”

“Sumpah, Pae! Ganteng banget, ya, Pae!”

Dengan napas yang menjadi melemah, Rafael berujar, “Fina ... aku lemes. Kalau sampai tiga puluh detik lagi aku masih di sini, aku pasti pingsan! Bau banget sumpah!”

Fina yang bahkan sampai berkeringat pun berujar dengan suara lirih juga, “kita masuk, Raf. Kepalaku juga sudah pusing.”

Tanpa kembali berkomentar, Rafael langsung bergegas menuntun Fina masuk melewati ketiga orang di hadapannya yang justru tak kunjung pergi bahkan sekadar geser. Sedangkan kedua pria yang mengikuti, bergegas menyusul sambil menatap heran Ipul berikut orang tua pria itu yang mereka yakini menjadi sumber bau tak sedap.

Meski masih mengikuti tuntunan Rafael, tetapi Fina mendadak berhenti dan berusaha menutup pintunya.

“Jangan. Biarkan saja dibuka, biar baunya hilang digantikan udara baru, Fin,” tahan Rafael. Namun tiba-tiba saja, ia memiliki rencana yang ia tujukan kepada sopirnya. “Pak Didin ... tolong bilang ke perawat, bantuin buang aroma baunya, atau kalau tidak minta disiapkan kamar baru saja. Yang lebih bagus dari ini.”

“Siap, Tuan!” seru Didin sang sopir yang juga segera menepikan bawaannya sesuai titah Rafael. Ia menaruhnya di dekat nakas sebelah Rina. Pun dengan ajudan Fina, pria itu juga segera meletakkan kantong bawaannya di sana.

“Selamat sore, Pak ... Bu,” sapa Rafael kemudian dengan begitu sopan.

Rafael mengulas senyum. Menatap Murni, Raswin, berikut Rina dengan penuh wibawa. Sedangkan yang terjadi pada Fina, wanita itu memilih menunduk demi meredam ketegangannya.

“Rafael yang maju, tapi aku yang setegang ini? Bahkan lebih tegang dari acara makan malam kemarin. Semoga, ... Rafael bisa menyelesaikan salah paham antara aku dan keluargaku!” batin Fina harap-harap cemas.

Rafael tahu, orang tua bahkan adik Fina, tidak mengharapkan kehadirannya dengan Fina. Bahkan ketiganya justru menatap risi kedekatannya dengan Fina.

Ketika Didin berlalu dari kebersamaan, ajudan Fina justru menghadapi cobaan berat lantaran ia harus terjaga di depan pintu, agar Ipul dan kedua orang tua pria itu yang justru menguping, tidak sampai masuk.

“Perkenalkan, Pak ... Bu ... nama saya Rafael Veanso. Saya bekerja di bidang perhotelan. Dan maksud kedatangan saya ke sini, ... saya ingin mengenal keluarga Fina lebih jauh, karena saya ingin menikahi Fina.” Setelah mengatakan itu, Rafael segera menepikan dus yang sampai lupa ia taruh. Pun dengan gandengannya terhadap Fina. Ia juga mengakhirinya.

Rafael menyalami tangan Murni dan Raswin, lengkap dengan mencium punggung tangan keduanya. Kemudian ia membuka dompetnya dan mengeluarkan Ktp berikut fotokopi surat KK-nya. Ia memberikannya kepada Murni dan memang sudah menyiapkannya demi membuktikan statusnya.

“Rumah kakek saya ada di dekat kantor kecamatan. Tapi, saya dan keluarga saya, menetap di Jakarta,” jelas Rafael kemudian. “Namun jika saya sudah mendapatkan restu, orang tua dan kakek saya akan segera menemui bapak dan ibu.”

Di belakang sana Ipul dan orang tuanya masih susah payah menguping dan akan dihalang-halangi oleh ajudan Fina hingga terjadi pertikaian yang cukup alot. Karena meski ajudan Fina memiliki tubuh tegap, tetapi aroma Ipul dan orang tua pria aneh itu, sukses membuatnya tak berdaya.

Murni, Raswin, berikut Rina masih diam dan terlihat kebingungan. Meski sebenarnya, Rina sudah sangat gatal ingin mencecar Rafael dengan banyak pertanyaan.

“Kamu, ... sudah beristri?” tanya Rina yang sudah tidak bisa menunggu lagi. Karena jika dugaannya benar, ia tak segan menghajar dan bahkan mengusir Rafael.

Sontak, pertanyaan Rina sukses membuat suasana menjadi tegang. Pun dengan Ipul dan orang tuanya yang terlihat sangat penasaran.

“Apakah aku terlihat setua itu?” balas Rafael dengan santainya bahkan sampai dibubuhi senyum. Hanya saja, karena Raswin, Murni, berikut Rina masih menatapnya tajam, ia pun menjelaskan. “Jika saja dari sepuluh tahun lalu, Fina sudah mau saya ajak nikah, pasti saya sudah menikah. Namun karena Fina ingin fokus sekolah dan mengurus keluarga lebih dulu, saya harus menghormati keputusannya.”

Rafael tidak tahu, kenapa ia bisa berbicara semanis tadi. Seolah-olah, hubungannya dengan Fina memang sudah nyata dari dulu. Padahal, meski memang benar, dari dulu mereka hanya pura-pura. Namun jika dulu Fina sampai mau, apa yang Rafael katakan pasti memang yang menjadi kenyataan. Ia dan Fina sudah menikah dan bahkan mungkin, mereka sudah sampai punya anak.

Terlepas dari rasa heran yang menimpa Rafael, tatapan iba Raswin, Murni, berikut Rina, langsung tertuju pada Fina yang masih menunduk di tempat Rafael meninggalkannya.

“Dan kedatangan saya kemari, juga untuk menyelesaikan kesalah pahaman yang sudah terlalu menyudutkan Fina. Karena meski lima hari yang lalu, saya sempat bertemu Fina ketika menjemput kakek saya, tetapi Fina tidak sampai menceritakan masalah yang sebenarnya,” lanjut Rafael yang menjadi menunduk sedih. Dan sekali lagi, kali ini Rafael juga merasa sangat sedih layaknya apa yang baru saja ia utarakan.

Rafael benar-benar menceritakan semuanya. Tanpa terkecuali perihal ia yang sampai memberi Bian berikut Ipul pelajaran. Pun perihal kebersamaannya dan Fina di rumah sakit yang ia yakini menjadi sumber gosip perihal Fina yang dikatakan sebagai simpanan orang kaya.

“Fina itu bukan simpanan, melainkan masa depan, Pak ... Bu. Fina akan menjadi istri saya. Dia akan menjadi mama dari anak-anak saya!” lanjut Rafael lagi dan sukses membuat kebersamaan diselimuti air mata.

Rina yang sampai terisak-isak, bergegas melangkah cepat dan langsung memeluk Fina. “Mbak ... maaf ... maaf, Mbak!”

Bersambung ....

Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.

Salam sayang,

Rositi.

1
Sandisalbiah
emang ya.. polos ama o'on itu beda tipis ya... sarjana tp kok gak faham kode keras beserta petunjuk akurat yg di berikan Rafael.. Fina.. Fina... hah..
Sandisalbiah
kok jd cape sendiri lihat kesulitan dan nasib buruk yg menimpa si Fina ini... bertubi² tanpa bedah lho... benar kalau Allah itu menguji manusia tdk melebihi kemampuannya tp utuk Fina itu bukan sekedar ujian tp lebih tepatnya seperti kutukan... dr awal lho..
Sandisalbiah
oalah bu Fitri.. itu tuh dolar bukan mainan buuu.. dasar ndeso.. 🤦‍♀️🤦‍♀️
Catur Rini
gak masuk akal,jadi males bacanya, gak ada keluarga yg percaya gitu aja ma omongan oranglain dibanding anaknya sendiri, pa lagi anak kandung,posisi lagi kesusahan lagi.....
Catur Rini
sedikit tidak masuk akal
Omah Tien
pusing lihat nya fina ko sarja na ko bodoh ya meding kawin aja sm ipul g ribet ke jkt segala kalu bikinorang pusing
Omah Tien
jd cewe jg begagu kaku kan mau minta tolong apa lg jg sia2.kan kebaik orang
Dewa Nara
nanti nyesal loh bian oon...
Dewa Nara
emang kamar mandinya diluar ya
Dewa Nara
gak kebayang rasanya jadi fina, dipaksa nikah dan jadi pengantin pengganti...
Nurwana
kok Fina oon banget ya... padahal sarjana lho... kok kesannya kayak orang nda pernah duduk dibangku sekolahan...
Greiche Dian
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Greiche Dian
gapapa deh thor ga ada ipul timbang pembaca pada darting wkwkw
Greiche Dian
bwahahahahahahaha
Greiche Dian
ini jadi kayak semacam hewan yg ngeluarin bau ga enak gitu deh 🤣🤣
Greiche Dian
pengen tabok ipul pake penggorengan..
Susanti Susanti
Luar biasa
Nining Moo
ko fina kayak orng oon sih🤔
Nining Moo
terlalui labil sibian
Amrih Wiludjeng
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!