Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Vian dan Putri tengah berada didalam pesawat. Putri memandang ke luar, ia terhanyut dalam lamunannya. Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, ia akan terbang ke negara lain. Teringat dulu, saat kecil ia sangat senang saat melihat pesawat terbang di langit dan dengan konyolnya mengharapkan hujan uang. Putri tersenyum memngingat itu.
Berbeda dengan Putri, lamunan Vian justru tentang gadis itu. Berada di samping wanita itu membuatnya sangat
nyaman. Menikah dengan Putri ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan, bahkan ia harus mengakui kalau dirinya beruntung memiliki istri seperti putri.
Selain cantik, cekatan saat kerja, ia juga pintar memasak. Vian juga mulai terbiasa sarapan di rumah bertiga
bersama nenek. Seperti saat ini, Vian merindukan saat-saat itu. Sejurus kemudian, lelaki itu menatap Putri yang tengah memandang keluar. Dengan jarak sedekat itu, Vian dapat mencium wangi rambut Putri dan membuatnya teringat kembali kenangan saat malam itu.
Untuk pertama kalinya, sebagai lelaki dewasa, Vian merasakan tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan seorang wanita. Ia berusaha untuk menahan hasratnya, meskipun saat itu ia mabuk, tetapi ia masih mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan terhadap Putri. Bagaimanapun, posisi
mereka saat ini masih bisa di katakan sebagai bos dan karyawan. Meskipun kenyataan yang ada tidak seperti itu, ibarat hubungan mereka gunung es, kini semuanya telah menghangat dan mencair.
Saat Vian masih menatap Putri, mendadak gadis itu memalingkan pandangannya dan mata mereka bertemu. Keduanya saling menatap tanpa saling bicara. Keduanya di kuasai oleh debaran-debaran aneh, jantung mereka berdetak lebih cepat. Vian dan Putri tanpa sadar mendekatkan wajah mereka berdua hingga bibir mereka hampir
bersentuhan.
“Maaf, Pak. Mohon di periksa kembali sabuk pengamannya..” seorang pramugari mengagetkan mereka hingga mereka berdua saling menjauh satu sama lain.
“Terima kasih..” jawab keduanya hampir bersamaan sambil mengecek sabuk pengaman masing-masing. Pramugari itu segera pergi meninggalkan mereka berdua sambil membawa senyum manis di bibirnya.
“Maaf yang tadi.” pria itu sedikit salah tingkah dan merasa bersalah. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang mulai
tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat Putri.
“Nggak apa-apa, aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku...”
“Itu salahku, Put. “ pengakuan Vian membuat Putri juga merasa tidak enak. Di pikirannya timbul berbagai
pertanyaan tentang perasaan Vian terhadapnya.
Apakah perasaan Vian terhadapnya sama dengan apa yang ia rasakan saat ini? Tapi meskipun mereka saling
mencintai, hubungan mereka hanya akan tetap seperti saat ini. Putri tidak bisa menjadi egois dan mengusai Vian, gadis itu juga tidak mau menjadi salah satu koleksi Vian.
“Untuk lebih adilnya, ini salah kita berdua. Sudah, jangan berdebat lagi.” Putri segera mencari jalan untuk
mengakhiri perdebatan di antara mereka berdua. Meskipun begitu, Putri mengatakannya dengan pipinya yang memerah menahan malu.
“Put, seandainya waktu datang pada kita lebih cepat, mungkin nggak sih, kita bisa lebih dekat dari ini?”
pertanyaan Vian membuat Putri sedikit salah tingkah. Ia merasa Vian seperti telah membaca apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
“Mungkin, bisa jadi.” sahut Putri sekenanya. Ia juga tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Vian itu.
“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Tya dan satu lagi pacarku yang lain.” Kalimat yang baru saja di ucapkan
oleh Vian menarik perhatian Putri. Ia penasaran, apa yang membuat Vian akhirnya melepas kedua pacarnya itu.
“Kenapa? Apa kamu sudah bosan dengan mereka berdua?” pertanyaan Putri cukup menusuk perasaannya, seolah Putri benar-benar menganggapnya sebagai seorang pemain cinta.
“Bukan itu, selama ini mereka berdua hanya untuk mengisi kesepianku saat Vanessa sibuk, tetapi sekarang aku
sudah tidak merasa sepi lagi meskipun Vanessa tidak berada di sisiku, jadi lebih baik aku mengakhiri hubunganku dengan mereka berdua.” curhat Vian. Seperti yang dia katakan, hubungannya dengan wanita selain Vanessa hanyalah untuk mengisi kekosongan dan tanpa perasaan, karena pada dasarnya Vian sulit dalam hal berbagi perasaan, kecuali terhadap Putri.
“Cukup egois, tetapi itu lebih baik. Kamu harus menjaga perasaan Vanessa, sebelum ia mengetahui semua ini.
Karena, pada dasarnya, tidak ada perempuan yang sanggup untuk di duakan.” Putri tiba-tiba sok bijak.
“Apa itu termasuk kamu?” Vian kembali menatap Putri. Lagi-lagi debaran itu datang, gadis itu segera menyadarkan dirinya untuk tidak terbuai.
“Tentu saja, aku hanya ingin memiliki pasangan yang hanya aku yang ada di dalam hidup dan hatinya.” ujar
Putri serius. Ia memang sangat memimpikan hubungan yang hanya berdua, tanpa orang ketiga.
“Semoga suatu hari, kamu mendapatkan apa yang kamu impikan. Bagaimana kemajuan hubunganmu dengan Dion?” mendadak Vian teringat sahabatnya yang akhir-akhir ini sedang mengejar Putri. Dia ingin mengetahui perkembangan kedeatan kedekatan keduanya.
“Aku dan Dion hanya berteman biasa, meskipun kami sedikit lebih akrab. Kami ada rencana untuk jalan
berdua nanti, saat dia sudah kembali ke Indonesia.” Jawaban Putri sedikit melegakan Vian, setidaknya hubungan mereka belum sejauh itu. Meskipun sebenarnya ia tidak ada hak untuk melarang Putri untuk dekat dengan siapapun.
“Cie... yang mau pergi berduaan. “ Vian berusaha memberikan kesan bahwa ia ikut bahagia dan biasa saja merespon kedekatan Putri dan Dion, meskipun ia tidak menyangkal, ada perasaan takut, Putri akan jatuh ke dalam pelukan Dion.
“Apaan, sih. Paling juga hanya pergi makan, bukannya itu hal yang sangat biasa, ya?” Putri tampak sedikit tidak bersemangat membahas ini.
“Kalau makan malam sama aku dengan suasana yang romantis, masih terlihat biasa nggak?” Vian kembali mengoda Putri, dan berhasil. Pipi Pitri menampikan semburat kemerahan.
“Untuk apa diner romantis? Toh, aku bukan pacar kamu...” Putri merespon dengan sedikit malu-malu. Bahkan,
wanita itu sempat sekilas membuang pandangannya ke luar.
“Kamu memang bukan pacarku, tetapi kamu adalah istriku, bukannya kedudukan istri lebih tinggi daripada seorang
pacar?” pernyataan Vian membuat Putri merasa terbang ke atas awan. Meskipun, sesaat kemudian ia kembali terjun ke bumi setelah menyadari semuanya. Tetapi paling tidak, saat ini pernyataan itu membuatnya berbunga-bunga.
“Vian, jangan begitu. Aku sedang berusaha profesional, kalau aku sampai beneran suka sama kamu, bahaya.” Putri berusaha menanggapi Vian dengan santai, meskipun sebenarnya hatinya tidak karuan. Kalimat Vian seolah seperti pengakuan bahwa dirinya memang ada di sisi Vian.
“Apa bahayanya? Paling bahayanya hanya kamu akan susah tidur dan terus terbayang wajah tampanku..” ledek Vian, mengakibatkan ia di hadiahi sebuah cubitan ringan di pinggangnya.
“Kamu tuh, ya... kerjaannya godain aku melulu, rasain tuh, cubitan pamungkasku.” Putri pura-pura marah. Ia
mengacuhkan Vian.
“Duh, cantik-cantik cubitannya panas juga. Aku yakin besok pasti biru, untung pinggangku udah ak asuransi..” candaan Vian membuat Putri gagal menahan senyumnya. Duh, Vian mulai bisa membuat Putri tersipu.
mulai suka dan coment.
lanjut....