Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Judes yang Sopan
Jumat pukul lima sore, Navin sudah memanggil Ophelia ke ruangannya sebelas kali sejak Rabu.
Ia menghitungnya sendiri, dengan rasa bersalah yang sopan, seperti murid yang menghitung berapa kali ia mencontek. Pertanyaan tentang halaman, stabilo, bahasa kontrak, ukuran huruf, tanggal, jumlah salinan, dan satu pertanyaan yang ia sesali setiap kali mengingatnya: "Kamu sudah makan?" Lia menjawab, "Sudah, Pak," dengan wajah orang yang baru diminta mengecek tekanan ban mobil.
Dan setiap kali, ia berdiri tegak, menjawab persis sesuai pertanyaan, lalu keluar tanpa satu senyum pun.
Navin menunggu hari ketika ia bisa memanggil Lia tanpa alasan yang konyol. Tapi hari itu tak kunjung datang, dan yang lebih parah, ia mulai kehabisan pertanyaan. Ia sudah menghabiskan semua yang bisa dikarang CEO mana pun: format lampiran, tenggat surat, nama distributor, bahkan warna sampul. Sementara Lia, dengan ketenangan yang membuat Navin ingin bertepuk tangan sekaligus membanting meja, menjawab semuanya seolah pertanyaan itu memang layak dijawab.
Pukul 16.50, ia mengangkat telepon.
"Ophelia."
"Ya, Pak." Suara Lia terdengar lebih lelah dari biasanya, dan lebih datar.
"Ke ruangan saya."
Ia memutus telepon dan merapikan berkasnya. Menggeser gelas kopi. Membetulkan kerah kemeja yang tidak perlu dibetulkan. Hari itu langit Bandung kelabu dan gerimis sudah turun sejak siang, membuat ruangan terasa lebih sempit. Ketika pintu diketuk, ia nyaris melompat.
"Masuk."
Lia masuk dengan map tipis. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia berdiri di depan meja, tegak, menunggu.
"Jam berapa sekarang?" tanya Navin.
Pertanyaan itu meluncur sebelum ia sempat menghentikannya. Ia sadar itu pertanyaan terbodoh yang pernah ia ajukan sejak bangku sekolah dasar.
Sunyi.
Lia menatapnya lama. Untuk pertama kalinya sejak Kamis lalu, ia benar-benar menatapnya, langsung ke mata, dengan sesuatu di wajahnya yang mendekati kesabaran yang habis.
"Pak."
"Ya?"
"Di dinding belakang Bapak ada jam. Lebih besar dari jam di ponsel saya, dan menurut pengamatan saya, akurat sampai detik."
Navin menoleh ke belakang. Memang ada jam dinding putih besar di sana. Ia menoleh kembali.
"Saya tidak yakin jam itu akurat."
"Sudah saya cek. Cocok dengan jam saya."
"Mungkin jam Anda yang salah."
Sudut bibir Lia bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih mirip orang yang menahan diri agar tidak menghela napas keras-keras. "Pak, kalau ada masalah dengan kinerja saya, saya mohon disampaikan langsung. Saya cukup dewasa untuk menerima kritik. Tapi kalau tujuannya menguji seberapa sabar saya, saya punya batas."
Suaranya rendah, sopan, dan setajam pisau bedah.
Navin tahu ia seharusnya tersinggung. Ia CEO. Seseorang baru saja berkata kepadanya bahwa ia punya batas. Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang aneh, hampir lega: akhirnya ada tanggapan nyata, bukan tembok. Ia lebih suka dimarahi daripada diabaikan dengan sopan.
Navin merasakan darahnya naik ke wajah. Ia berdeham. "Bukan begitu."
"Lalu bagaimana, Pak?"
"Saya hanya... saya memang..."
Ia meraih gelas kopinya untuk menyembunyikan wajah, dan tangannya menyenggol tumpukan berkas. Berkas itu bergeser, gelas terguling, dan kopi hitam tumpah ke lengan kemeja putihnya, membasahi manset sampai ke siku.
"Sial," gumamnya, lupa diri.
Refleks, Lia melangkah maju dan menyambar sekotak tisu dari meja samping, menyodorkannya dengan tangan yang lebih dulu bergerak daripada otaknya. Tangan mereka bertemu di atas tisu itu, sesaat saja.
Lia menarik tangannya seperti tersengat. Navin membeku dengan lengan basah dan tisu di tangan.
"Terima kasih," katanya.
"Sama-sama, Pak."
Keduanya diam. Kopi menetes dari ujung sikunya ke lantai.
"Saya tidak bermaksud menguji kesabaran kamu," ujar Navin akhirnya. Suaranya lebih rendah dari yang ia inginkan. "Sungguh."
"Baik, Pak."
"Itu bukan..."
"Baik, Pak."
Ia mengatakannya dengan nada yang sama dengan segalanya. Nada dinding sopan. Tapi ketika ia berbalik menuju pintu, Navin menangkap sesuatu yang tidak ia duga: telinga perempuan itu memerah, sedikit sekali, di ujung sebelah kiri. Ia menyimpan pengamatan itu seperti menyimpan harta rahasia.
Pintu tertutup pelan.
Navin menatap punggung yang sudah menghilang itu, lalu lengan kemejanya yang kuyup. Ia tidak tahu apakah harus marah atau tertawa. Akhirnya ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup: menutup wajah dengan telapak tangan dan mengeluarkan suara antara desahan dan tawa yang tercekik.
Ia teringat kalimatnya sendiri yang masih ia simpan di tempat yang tak bisa ia buang: tiga puluh satu tahun, belum menikah. Perempuan yang bisa membuat CEO bingung dan tertawa dalam waktu bersamaan bukanlah perempuan yang "tidak ada yang tahan". Ia hanya perempuan yang belum bertemu seseorang cukup berani untuk bertahan.
Lewat kaca, ia melihat Ophelia kembali ke mejanya dan menunduk lama dengan kedua tangan menutupi wajah. Dinda buru-buru datang dan merangkul bahunya. Bahu Ophelia bergetar, dan Navin, dengan kepanikan yang tak masuk akal, mengira ia menangis. Lalu Ophelia mengangkat wajah, dan Navin melihat matanya berair karena tawa yang ditahan, cepat-cepat diseka dengan punggung tangan.
Ia membuat Ophelia tertawa. Memang bukan tertawa bersamanya, tapi tetap saja.
Ketukan lagi. Dimas masuk tanpa menunggu jawaban, membawa kemeja ganti dari lemari darurat.
"Sepertinya Bapak butuh ini."
"Kamu dengar?"
"Sedikit, Pak. Dindingnya tipis."
"Kamu tidak dibayar untuk mendengarkan."
"Baik, Pak."
Navin melepas kemeja basah dengan kasar dan mengenakan yang baru. Dimas mengambil gelas yang terguling dan mulai membereskan kertas-kertas yang basah oleh kopi. Ia bekerja dalam hening, hampir khidmat.
"Pak," katanya setelah beberapa saat. "Kalau saya boleh bicara sebagai asisten, bukan sebagai bawahan."
"Kamu tidak punya perbedaan itu."
"Kalau Bapak ingin meminta maaf pada Ibu Ophelia, sebenarnya lebih mudah dengan kata-kata. Bukan dengan stabilo."
Navin berdiri diam dengan kancing setengah terpasang. Di luar kaca, kubikel-kubikel mulai kosong satu per satu. Meja kelima dari kiri masih menyala.
Ia menunggu bantahan dari dirinya sendiri, kalimat tegas tentang harga diri dan wibawa seorang Sundara. Tidak ada yang datang.
"Dimas," katanya akhirnya, pelan.
"Ya, Pak?"
"Bagaimana caranya?"
Dimas berhenti membereskan. Ia menegakkan badan dan menatap atasannya lama, dengan wajah yang tak lagi menahan tawa. Tiga tahun. Ini pertama kalinya Navin Sundara meminta petunjuk tentang sesuatu yang bukan angka.
"Pertama," ujar Dimas hati-hati, "Bapak harus berhenti menciptakan alasan."
Navin memejamkan mata sesaat.
"Aku tidak menciptakan alasan."
"Bapak menghabiskan uang untuk tiga stabilo yang tidak dipakai."
"Kamu tahu soal stabilo?"
"Saya yang membeli, Pak."
Navin diam. Lalu, lebih pelan, "Kedua?"
"Kedua, Pak..." Dimas tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Bapak harus menunggu waktu yang tepat. Dan menurut prakiraan cuaca, Senin besok akan hujan lebat."
"Hujan lebat."
"Deras, Pak. Dan payung di kantor cabang ini, kebetulan, hanya ada dua belas."