NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Penolakan Telak Di Ruang Kerja

Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai jendela apartemen, membawa kehangatan yang kontras dengan sisa-sisa ketegangan malam tadi.

Arka perlahan mengerjap, menyesuaikan retinanya dengan cahaya terang yang mulai memenuhi ruangan. Matanya secara otomatis melirik ke sisi kanan ranjang. Sisi itu sudah kosong, menyisakan seprai yang sedikit berantakan dan aroma lavender samar yang masih menguap di udara.

Pria itu mendesah pelan, mengusap wajahnya dengan satu tangan sebelum beranjak bangun. Ada kelegaan sekaligus rasa hampa yang aneh, kombinasi membingungkan yang kini makin sering ia rasakan setiap kali membuka mata di pagi hari.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan kemeja kerjanya, Arka melangkah keluar menuju ruang tengah sekaligus dapur mini unit apartemen mereka yang tampak rapi.

Di atas meja makan minimalis, sebuah mangkuk tertutup tudung saji kecil sudah disiapkan, lengkap dengan secangkir kopi hitam panas yang mengepulkan uap tipis, tepat seperti suhu dan takaran kesukaannya, sesuatu yang bahkan belum pernah ia katakan pada Naya.

“Lagi-lagi perempuan itu,” batin Arka sambil tersenyum tipis, menggelengkan kepala tak percaya.

Namun, sebelum ia sempat menikmati kopinya, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan nama sang ibu, Marisa.

Ia mengangkatnya dengan sebelah tangan. “Pagi, Ma.”

“Arka! Kamu di mana? Masih di apartemen atau udah on the way ke kantor?” suara Marisa langsung menyambutnya dengan nada antusias yang terburu-buru.

“Masih di apartemen, Ma. Baru mau berangkat. Ada apa tumben pagi-pagi udah telepon?”

“Bagus kalau masih di situ! Dengerin Mama ya. Hari ini Mama ada jadwal penting banget sama Naya. Kita berdua mau meeting sama vendor buat survei lokasi dan finalisasi dekorasi gala amal yayasan.”

Dahi Arka langsung berkerut. “Sama Naya?”

“Iya, sayang! Naya hebat banget, kemarin dia kasih masukan-masukan brilian soal konsep acaranya. Mama tadinya mau jemput Naya di lobi, tapi kata Naya kalian lagi siap-siap. Jadi, Mama langsung minta supir jemput Naya di lantai dasar apartemen kalian. Bentar lagi juga sampai.”

Seiring dengan kalimat Marisa, sebuah ketukan pintu pelan terdengar dari arah pintu masuk unit apartemen.

Arka tertegun sejenak. “Oh... begitu.”

“Udah ya, Arka, Mama tutup dulu teleponnya. Naya udah turun kayaknya. Kamu kerja yang bener di kantor, jangan judes-judes sama staf! Bye!”

Klik.

Sambungan terputus begitu saja.

Arka menghela napas panjang, menatap ponselnya sebelum melangkah untuk membukakan pintu.

Benar saja, di koridor luar unit apartemennya, Naya berdiri anggun dalam balutan blazer krem rapi dan celana bahan senada.

Wanita itu tampak segar, memegang sebuah tas tangan kecil.

Saat pintu terbuka, pandangan Naya langsung beradu dengan Arka yang berdiri di ambang pintu dengan kemeja abu-abu separuh lengannya digulung ke siku.

“Ah, Pak Arka... belum berangkat?” sapa Naya sopan, sedikit berjalan mendekat.

Arka menelan ludah, berusaha mengontrol ekspresinya agar tetap tampak sedingin dan sekaku mungkin.

“Belum. Baru mau jalan,” jawab Arka singkat, memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya.

“Ibu saya tadi telepon. Katanya kamu mau temani beliau survei lokasi gala amal?”

“Iya, betul,” angguk Naya mantap, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Tante Marisa, ups, maksud saya... Mama Marisa minta tolong saya buat bantu-bantu urus konsep dekorasi sama vendor siang ini. Semoga tidak merepotkan, ya.”

“Merepotkan? Yang ada justru bikin kepalaku meledak karena bayang-bayangmu seharian kemarin,” batin Arka bergejolak hebat.

Namun di luar, CEO muda itu hanya mengangguk kaku. “Silakan saja. Kalau butuh apa-apa, kabari.”

“Baik, Pak. Saya duluan kalau begitu, supir Mama Marisa sepertinya sudah menunggu di bawah. Mari,” pamit Naya dengan gestur hormat yang anggun, sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju lift.

Arka berdiri terpaku di ambang pintu seraya menatap punggung Naya hingga wanita itu masuk ke dalam lift dan pintunya tertutup rapat.

Udara pagi di koridor apartemen terasa biasa saja, tetapi debar di dada Arka justru kian menghangat. Sekali lagi, benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh tanpa suara, digantikan oleh bayangan seorang wanita yang kini resmi melangkah masuk ke dalam hidupnya.

*

*

Suasana di lantai atas gedung Dirgantara Group tampak sibuk seperti biasa. Di ruang kerjanya yang luas dengan dinding kaca berpemandangan lanskap kota Jakarta, Arka duduk di balik meja kerja kayu jati mahalnya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard laptop, sementara matanya menatap tajam pada deretan grafik laporan keuangan kuartal ini.

Ketukan pintu pelan terdengar, disusul oleh terbukanya pintu. Doni melangkah masuk dengan membawa map dokumen biru di tangan kanannya.

“Permisi, Pak Arka. Ini berkas revisi kontrak kerja sama dengan PT Samudera yang baru saja dikirimkan. Dan... perwakilan dari mereka sudah datang di ruang tamu,” lapor Doni dengan nada profesional khas asisten pribadi yang sigap.

Arka menghentikan ketikannya, menghela napas pendek. “Suruh masuk.”

“Baik, Pak.”

Doni berbalik, membukakan pintu lebih lebar, dan mempersilakan seorang wanita berpenampilan mencolok untuk masuk.

Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna merah ketat dengan belahan dada yang cukup rendah, riasan wajah tebal, serta parfum manis menyengat yang langsung memenuhi indra penciuman begitu ia melangkah masuk. Namanya Siska, salah satu manajer pengembangan bisnis PT Samudera.

“Selamat pagi, Pak Arka,” sapa Siska dengan suara sengaja dilembutkan, mengulas senyum manis sambil mengulurkan tangan.

“Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan CEO Dirgantara Group yang terkenal visioner ini.”

Arka hanya melirik sekilas uluran tangan itu tanpa berniat menyambutnya. Ia menunjuk kursi di hadapan meja kerjanya dengan gerakan dagu yang kaku.

“Silakan duduk. Kita langsung ke pokok pembahasan saja, waktu saya tidak banyak,” ujar Arka dingin, suaranya datar tanpa ekspresi.

Siska menarik kembali tangannya, sedikit kikuk namun langsung tersenyum lagi. Ia duduk, menyilangkan kaki dengan anggun, lalu meletakkan tas tangannya di atas pangkuan. Alih-alih membuka map proposal yang ia bawa, Siska justru memajukan duduknya, mencondongkan tubuh sedikit ke depan melewati batas meja kerja.

“Ah, Pak Arka ini selalu serius. Padahal, kerja sama senilai miliaran rupiah ini rasanya akan jauh lebih menyenangkan kalau kita bahas di tempat yang lebih... privat. Misalnya, di hotel bintang lima malam nanti?” Siska mendesis pelan, tatapannya menyapu wajah tampan Arka dengan binar menggoda. Jari lentiknya perlahan menyentuh ujung meja, mendekati tangan Arka.

“Atau mungkin... CEO tampan seperti Anda butuh teman untuk melepas penat setelah seharian bekerja keras?”

Siska sengaja memainkan nada bicaranya, berharap pesonanya mampu meluluhkan pria dingin di hadapannya.

Sayangnya, reaksi Arka jauh di luar dugaan.

Pria itu tidak tersipu, tidak juga salah tingkah. Alis tebal Arka justru menukik tajam, tatapannya berubah sedingin es yang membeku di Kutub Utara. Tanpa ragu, Arka menarik tangannya menjauh, lalu bersandar pada kursi kerjanya dengan melipat tangan di dada.

“Nona Siska,” suara Arka memecah keheningan dengan intonasi rendah yang penuh penekanan.

“Saya di sini memimpin perusahaan, bukan mencari teman kencan. Jika Anda datang ke sini hanya untuk membahas urusan di luar profesionalitas kantor, pintu keluar ada di sebelah sana. Lagipula, saya sudah menikah.”

Wajah Siska mendadak memerah. Senyum manisnya meluntur seketika. “Tapi, Pak Arka... saya kan hanya berniat—”

Belum sempat Siska menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah menekan interkom di atas meja kerjanya.

“Doni, masuk ke ruangan saya sekarang.”

Tidak sampai sepuluh detik, pintu kembali terbuka dan Doni sudah berdiri tegak di ambang pintu. “Ya, Pak?”

“Pertemuan hari ini dibatalkan. PT Samudera jelas tidak serius menjalin kerja sama profesional dengan Dirgantara Group. Antar Nona Siska keluar, dan masukkan perusahaan mereka ke dalam daftar blacklist untuk proyek-proyek kita ke depannya,” perintah Arka mutlak, tanpa sedikit pun melirik ke arah Siska lagi.

Siska terperanjat dari tempat duduknya, matanya membelalak tak percaya.

“Apa?! Pak Arka, Anda tidak bisa semena-mena—!”

“Doni,” panggil Arka dingin, mengabaikan protes wanita itu sepenuhnya.

“Baik, Pak. Mari, Nona Siska, saya antar keluar,” ucap Doni sigap, membentangkan tangan mengarah ke pintu dengan gestur tegas namun sopan.

Dengan wajah menahan malu bercampur geram, Siska akhirnya menyambar tasnya dan berjalan keluar dengan hentakan kaki yang kasar. Doni mengekor di belakangnya, menutup pintu ruang kerja sang CEO rapat-rapat.

Kembali sendiri di ruangannya, Arka mengembuskan napas berat. Ia memijat pelipisnya yang mendadak pening, bukan karena tawaran murahan tadi, melainkan karena bayangan seorang wanita berbalut blazer krem mendadak melintas kembali di kepalanya, membuat pikirannya semakin kacau.

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!