NovelToon NovelToon
MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Mengubah Takdir / Keluarga / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:115.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zhang zhing li

Rumah tangga yang kelihatan harmonis hanya topeng belaka.

Hutang orang tua yang menumpuk kepada mertua, membuat terjadinya perjodohan yang terpaksa dan membuat Jihan terpenjara oleh kekerasan bathin dan fisik.

Sakit hati yang dialami jihan, sampai melupakan apa arti cinta yang sesungguhnya.

Dari rasa nyaman saling bertukar cerita, membuat dua insan yang dimabuk asmara terjebak oleh cinta terlarang, sehingga membuat keduanya susah untuk berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhang zhing li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Katahuan akibat disiksa

Badan terasa lemah dan mengigil. Rasa perih sudah tak terkira lagi rasanya. Kulit yang sakit ketika terkena baju, bagaikan garam tengah tersiram disekujur luka.

Wajah sudah pucat. Rasanya badan ini begitu dingin, namun jika terpegang tangan terasa panas sekali. Sekujur tubuh merasa sakit semua. Tidak berani keluar kamar, takut jika mas Bayu akan murka kembali, sehingga bisa-bisa akan menambah siksaan lagi.

"Ya Allah, kuatkan diri ini. Jangan sampai aku sakit akibat luka ini."

"Kenapa aku begitu lemah pada suami. Apa yang harus kulakukan padanya. Apakah aku harus melaporkan tindakannya ke kantor polisi, tapi bagaimana nasib keluargaku nanti jika pihak keluarga mas Bayu akan dendam, saat anak mereka telah dijebloskan ke penjara," Kebingungan hati atas pilihan.

Sekian jam terus saja terbaring dipembaringan. Tidak ada sedikitpun niat untuk bangun memasak sarapan. Biarlah suami kelaparan, toh ini semua akibat ulahnya juga, sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.

Badan kian lama kian mengigil tidak tertahan lagi rasa sakitnya. Tenggorokan rasanya mulai haus, saat hanya sekedar ingin membasahi saja. Mata mencoba melirik ke arah botol minuman diatas nakas, namun sialnya tidak ada setetespun tersisa akibat lupa mengisi. Malas ketemu sama suami, membuat leher terbiar tidak dialiri oleh air.

Pikiran dan hati yang lelah, mambuat netra terus saja terpejam. Rasa ngantuk itu membawaku terus berkeliaran dialam mimpi.

Seharian penuh kerjaan hanya mengurung diri. Tidak menghiraukan lagi suara suami dan Satria yang saling berbincang, yang sepertinya membicarakan diriku. Perut yang mulai keronconganpun tidak kupedulikan lagi. Perih yang terasa merata disekujur tubuh, rasanya malas sekali bangkit untuk menggerakkan badan.

Tok ... tok, suara ketukan pintu.

Malas untuk menjawab yang terlakukan sekarang. Rasa benci dan dendam pada mas Bayu sekarang begitu kuat.

Tok ... tok, pintu kembali diketuk.

"Jihan ... Jihan. Apa kamu tidak mau berkerja?" Terdengar suara Satria bertanya.

Tok ... tok, ketukan itu kembali terdengar.

"Kamu kenapa, Jihan. Apa sedang sakit? Kenapa dari tadi malam sampai sekarang tidak melihatmu keluar dari kamar ini?" Kebawelan Satria bertanya.

"Aku tidak apa-apa. Kalau kamu ingin berangkat kerja, silahkan. Aku akan mengambil cuti hari ini," jawaban memberi alasan dengan suara yang lemah.

"Serius kamu tidak ingin kerja. Kok suara kamu lemah begitu, kamu beneran baik-baik saja 'kan?" Satria masih saja banyak tanya.

Klek ... klek, ganggang pintu berusaha dibuka Satria, namun tidak bisa terbuka sebab aku telah mengkuncinya dari dalam.

"Jihan ... Jihan, tolong buka sebentar!" pintanya yang terdengar khawatir.

"Iya, aku baik."

"Baneran kamu baik?" Suaranya yang terdengar memuakkan.

"Iya, aku baik." Hanya itulah yang bisa kujawab sekarang, karena takut jika Satria tambah curiga.

"Ya sudah kalau begitu. Aku akan pinjam motor kamu dulu untuk berangkat kerja.

"Iya, silahkan."

Suaranya dipagi hari yang bawel, akhirnya mulai menghilang tidak terdengar lagi, mungkin dia kali ini benar-benar sudah berangkat kerja.

Tangan mencoba memegang perut yang kian melilit perih. Rasanya sudah tidak tahan lagi untuk segera makan, saat sejak tadi malam tidak ada sebutir nasipun yang masuk dalam ususku.

Dengan perlahan-lahan mencoba bangkit terduduk. Rasanya bumi terlihat berputar-putar. Pandangan begitu kabur tidak jelas sama sekali. Luka itu kian pedih, terasa semakin mengkoyak kulit ketika digerakkan.

Langkah kaki sudah tertatih-tatih mulai berjalan ke arah pintu. Cacing perut tidak tahan lagi segera minta jatah makanan. Badan terasa mulai melayang-layang ingin ambruk saja, namun sekuat tenaga kutahan agar tidak jatuh tersungkur.

Ceklek, pintu sudah kubuka perlahan-lahan memutar knop pintu.

"Semoga saja mas Bayu tidak ada dirumah. Kalau belum berangkat kerja, bisa mati jika melihatku nanti, sebab pasti akan memuncakkan lagi emosinya itu," guman hati dengan harapan penuh.

Tangan sudah mendekap badan sendiri. Udara seakan-akan telah tembus menusuk tulang, padahal baju yang terpakai agak tebal. Mungkin efek badan yang terlalu mengigil, tiupan angin itu bagaikan balok es yang ingin menghantam kulit saja.

Setelah sekian menit berusaha mendekati dapur, akhirnya langkah yang tertatih tadi sudah sampai mendekati kulkas. Tangan mencoba membuka dan mencari makanan, yang secepatnya bisa menganjal perut yang kelaparan ini. Netra mencoba berkeliling mencari dari rak atas sampai bawah, namun yang kutemukan hanya sayuran dan beberapa butir telur.

"Apa yang kamu lakukan, Jihan?" Suara Satria.

Deg, terkejut saja Satria sudah memergokki.

Pintu kulkas seketika langsung kututup, takut jika ketahuan Satria jika perut sedang melilit akut minta diisi.

"Tidak apa-apa," jawabku sudah berbalik menghadapnya langsung, yang terlihat rapi berpakaian kerja.

"Wajahmu kok pucat sekali. Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanyanya yang mulai ada rasa aneh.

Takut jika Satria bertambah curiga, maka aku berusaha melenggang pergi meninggalkan dia saja.

"Tunggu! Kamu mau kemana?" cegahnya sudah memegang bahu.

"Aaaaaa ... aaaah!" teriakku saat Satria memegang tepat mengenai lukanya.

"Kenapa kamu berteriak?" Kekhawatirannya yang langsung mengangkat kedua tangannya.

"Aku baik-baik saja, kok!" pungkirku agar tidak ditebak dengan mudah.

"Maaf aku harus pergi, mau istirahat sebentar!" pamit tergesa-gesa.

"Tunggu!" cegahnya lagi yang berhasil menarik tangan.

"Aaaa ... awww. Lepaskan aku, Satria!" pinta yang mulai menahan embun ketika ingin menyeruak, saat tidak tahan atas sakitnya luka.

"Kamu kenapa? Kok setiap aku pegang seperti kesakitan begitu? Kamu tidak sedang terluka 'kan?" Bawelnya Satria bertanya terus.

"Sudah kubilang baik-baik saja."

"Bohong kamu. Matamu itu menyiratkan kalau kamu sedang dalam keadaan kacau."

Kepala tertunduk tidak berani menatap balik ke arah Satria, yang kini sedang menyapu pandangan ke arahku dari bawah sampai atas.

"Sini, aku ingin lihat keadaanmu!" paksanya yang ingin menyentuh tanganku.

Sebab takut jika Satria akan kena masalah, maka aku berusaha mundur satu langkah, agar dia tidak bisa menguak apa yang terjadi padaku sekarang.

"Maaf. Aku baik-baik saja," jawab serak-serak lemah.

"Kalau kamu baik-baik saja tidak mungkin berusaha menghindar, yang seolah-olah kamu tidak ingin aku mengetahui apa yang terjadi padamu sekarang."

"Sudahlah, Satria. Kamu urus saja urusanmu sendiri. Bukankah kamu tadi mau berangkat kerja. Aku tidak ingin kamu terlibat dengan masalahku," Kepiluan hati saat mengingat kejadian penyiksaan tadi malam.

"Masalah pekerjaan itu mudah. Yang penting aku ingin mengetahui apa yang terjadi padamu, sebab yakin kalau kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang," kekuhnya yang tetap kepo atas keadaan diri ini.

"Maafkan aku. Kamu jangan ikut campur urusanku. Cukup sampai disini kamu sudah berbaik hati menolongku, jadi janganlah banyak bertanya apalagi ingin masuk dalam masalahku," pinta ucapan yang kali ini kian menderaskan airmata.

"Aku tidak akan pergi sebelum tahu masalah apa yang kamu hadapi sekarang. Selain itu ada apa pada tubuhmu yang sepertinya ada luka," tebaknya lagi.

"Aku beneran tidak apa-apa, maaf!" Seketika airmata yang telah jatuh dipipi kuusap kasar, dan lagi-lagi mencoba meninggalkan Satria.

Semoga saja Satria tidak mengejar lagi, atas permintaanku yang tidak ingin melibatkan dalam rumah tangga kami yang sedang kacau balau.

1
khaira yuli
satria idaman para wanita....
khaira yuli
pasti satria udah ada rasa.🤣🤣
khaira yuli
jahat banget sih.... pasti nanti nyesel loh..🤣🤣🤣
khaira yuli
bisa berakting begitu ya.... dasar..
khaira yuli
semangat sat.... semangat buat ngerebug istri orang...🤣🤣🤣
khaira yuli
Halah... dah kasar selingkuh pula .
khaira yuli
haruskah ditinggalkan y
khaira yuli
jadi selingkuh gimana ..? duh
khaira yuli
suami kasar gitu enaknya diapain ya .🤣🤣
khaira yuli
mampir
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
kalo seumpama punya suami modelan gini sudah aku tendang kalau dia melakukan kekerasan fisik 😏😤
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampir kesini mau baca karya Author Zhang mumpung lagi hiat 😁🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
❤️⃟Wᵃf Zhang zhing li♚⃝҉𓆊: makasih kakak/Facepalm//Facepalm/menyempatkan waktunya. semoga sehat dan brtambah banyak rezeki
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
hmmz kasian jihan sampe pingsan
come on sattt selidiki kuyyy
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
diakhiri aja ngapa siii.... udah nggk sehat pernikahannya
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
wkkwkw bayu punya kacamata infraa gonjrengg jadi tau aktor gadungan lg akting 🤣
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
waw satria sodaranya bayu tohh
hmmz bawa kabur jihan sat wkwkwk
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
sok²an nafkahin selingkuhan sama istri sendiri velitttt huh
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
hmmz geram banget sama ni orangg, minta dikulitiii ish
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
wkwkw tim Jihan selingkuh sama satria gasihh
☠ᵏᵋᶜᶟꪀׁꪱ꯱ׁׅ֒꯱ɑׁ🐅⃫⃟⃤
suami kok nggk mencerminkan suami, ntar nyesel nangesss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!