Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita Menyayat Hati
#4
Menjelang subuh Farhan terbangun, entah kekuatan apa yang mendorong kedua kakinya untuk keluar dari kamar yang ditempatinya bersama Sarah dan Malika. Tapi, di luar kamar, perhatiannya justru tertuju pada kamar Dina yang sedikit terbuka, setelah semalaman wanita itu mengunci diri di kamar.
Farhan mendorong pintu kamar perlahan, telinganya menangkap suara Dina yang sedang muntah di kamar mandi. “Dina— mual lagi?” tanya Farhan yang langsung turun tangan dengan cara memijat tengkuk wanita itu.
Hoeeek!
Hoeeek!
Suara itu terus terdengar, padahal tak ada apapun yang keluar dari perut Dina selain cairan bening berlendir.
Setelah selesai, Dina membersihkan mulutnya, ia kembali berdiri dan menepis telapak tangan Farhan yang masih mengusap punggung dan tengkuknya.
“Apa masih begini tiap pagi?”
“Hmm,” jawab Dina tanpa banyak bicara. Tadi wanita itu hendak ke dapur untuk mengambil air minum, tapi setelah membuka pintu ia justru merasa mual, lalu buru-buru berjalan cepat ke kamar mandi.
Farhan masih bertahan di sana, hingga ikut memapah sang istri yang nampak kepayahan menopang tubuhnya sendiri.
Terlihat oleh Farhan, pitcher yang biasa terisi air sudah kosong.
“Aku ambilkan minum di belakang.”
“Mas, tidak us—” cegah Dina, namun, Farhan tak menghiraukannya. Pria itu sudah berjalan cepat keluar dari kamar guna mengambil air minum.
“Kenapa kamu melakukan ini, Mas? Berhentilah memberiku harapan, bila akhirnya hanya berbuah kepahitan,” gumam Dina getir, segetir hatinya yang kini semakin merana.
Andai tak memikirkan janin dalam kandungannya yang masih butuh ayah, andai tak memikirkan sebagian harta terakhir milik keluarganya yang kini dikelola oleh Farhan di Permana Group, Ardina mungkin benar-benar memilih pergi dari kehidupan pria itu.
Tapi, ada haknya dan hak anaknya yang berada di dalam tubuh Permana Group. Jangan sampai hak mereka justru berpindah ke tangan-tangan yang tidak seharusnya menikmati.
Beberapa saat kemudian Farhan sudah kembali dengan pitcher air yang terisi penuh, serta 4 buah pisang cavendish, agar ada nutrisi yang masuk ke perut Dina. Setahu Farhan, semalam Dina tak keluar lagi dari kamarnya pasca mereka berselisih karena salah paham. Pasti Dina juga tidur tanpa makan malam, padahal bayinya butuh nutrisi untuk tumbuh kembang.
Meskipun gengsi mengakui, tapi dalam hati kecil Farhan ia pun sebenarnya menyayangi anaknya yang kini ada dalam kandungan Dina. Tapi, disisi lain ia juga menyesalkan kenapa bayi itu harus memiliki cacat bawaan, padahal secara gizi dan nutrisi Dina tak pernah kekurangan.
“Terima kasih, Mas,” ucap Dina setelah menerima air minum yang diambilkan Farhan untuknya.
Farhan kembali membantu Dina berbaring, dan merapikan selimutnya, “Tidak mau makan pisangnya?”
“Nanti saja, Mas. Aku takut mual lagi.” Dina menolak dengan halus, walau sebenarnya ia menolak karena masih marah karena tuduhan Farhan terhadapnya kemarin malam.
Setelah berbaring nyaman, Dina memiringkan tubuhnya memunggungi Farhan. “Kembalilah ke kamarnya, Mas.”
“Kamu mengusirku?”
“Aku hanya ingin menjalani sisa hari-hari kehamilanku dengan tenang, tak mau ada pertengkaran, apalagi salah paham.” Dina tak menjawab pertanyaan Farhan, tapi sindiran yang ia lontarkan.
“Jangan menyindirku, aku tahu aku salah. Maaf.”
Air mata Dina meleleh, ia tahu bahwa posisinya sudah tersingkir semenjak ada Sarah di antara mereka. Tapi bayinya berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya, bukan cuma Malika yang notabene bukan anak kandung Farhan.
Karena Dina tetap diam tak menjawab, Farhan langsung berbaring dan memeluk Dina dari belakang.
Dan pemandangan itu diam-diam disaksikan Sarah yang tadi mencari-cari keberadaan suaminya. Rupanya benar dugaannya, Farhan mendatangi kamar Dina, “Aku tak akan biarkan ini terjadi, Mas. Kamu hanya milikku juga seluruh harta keluarga Permana,” geram Sarah, lalu berbalik pergi dari pintu.
•••
Beberapa hari berlalu, sikap Farhan masih lembut dan penuh perhatian pada Ardina, bahkan sudah dua malam ini ia berdiam di kamar Dina, hingga membuat Sarah kesal, karena lingerie seksinya tak mampu menarik Farhan kembali ke kamarnya.
Bahkan Pak Fikar sudah kembali dipekerjakan karena Farhan menanyakan kebenaran tentang keadaan Dina pada hari itu secara langsung ke rumah sakit.
Tapi, Di sisi lain, Dina tetap merasa tatapan aneh yang ditujukan padanya, terutama dari Bu Sintia yang kini tak pernah lagi membanggakan Dina sebagai menantu terbaiknya.
Bu Sintia justru bangga pada Sarah, katanya sarah adalah menantu all in one, satu, tapi berhasil menikahi kedua putranya secara bergantian, berhasil juga melahirkan penerus Keluarga Permana yang sehat.
Kata-kata sehat selalu digaris bawahi oleh wanita itu, karena tujuannya adalah merusak mental Dina, agar segera pergi meninggalkan Farhan.
Meski demikian, Sarah tetap bersikap baik dan rendah hati, mempersilahkan Farhan untuk menemani Dina. Pokoknya jangan sampai Farhan curiga, jika dalam hatinya justru menginginkan kepergian Dina, agar tak ada lagi pengganggu di antara mereka.
Tapi, ketika hanya berdua saja dengan Dina, atau saat ada Bu Sintia di antara mereka, sikap Sarah benar-benar berubah menjadi ular betina yang siap mencaplok apa saja meski bukan bagiannya.
“Malika mana?” tanya Bu Sintia, ketika Sarah keluar kamar tanpa bayinya.
“Sedang tidur, Bu. Sekarang Malika kembali rewel, bentar-bentar bangun, bentar-bentar nangis, terutama saat Mas Farhan sedang tidak tidur di kamarku.”
“Lho, iya, kah? Kasihannya cucuku.” Wajah Bu Sintia terlihat iba, namun, saat menoleh ke arah Dina wajahnya langsung berubah 180 derajat berbeda.
“Dina, mulai sekarang kamu harus mengerti, bahwa Farhan bukan hanya suamimu. Sarah juga berhak atas diri Farhan, bukan hanya kamu saja.”
“Tapi, Bu— baru dua malam Mas Farhan tidur di kamarku, setelah sebelumnya satu minggu penuh di kamar Sarah.” Dina mencoba membela dirinya.
“Kak, jangan salah paham, aku hanya bercerita, kok, tidak bermaksud mengeluhkan jatah waktu kita bersama Mas Farhan,” elak Sarah, mulai cuci tangan padahal baru saja melempar bola panas di tengah percakapan.
“Tuh, kamu dengar sendiri, Sarah begitu mengerti, kenapa kamu tak mau mengalah pada Malika yang masih butuh perhatian ayahnya!
Ayahnya?
Ayahnya?
Dina tersenyum pahit, sebenarnya siapa disini yang berstatus anak kandung Farhan? Kenapa harus selalu Dina yang mengerti tentang kondisi Sarah dan Malika? Lantas siapa yang akan mengerti pada kondisinya?
Namun, Dina memilih diam, ia tak bicara atau menyanggah, karena tak ingin berdebat lebih jauh. Terlebih lagi kondisi kehamilannya semakin membuat tubuhnya lelah, selain itu, dokter juga sudah meminta Dina mengurangi aktivitas dan menjaga pikirannya agar tidak terlalu terbebani.
Namun, tinggal seatap dengan Sarah membuat hal itu hampir mustahil terjadi.
Di suatu sore, Farhan sengaja pulang cepat, lekas mandi dan bersih-bersih, usut punya usut, ternyata pria itu hendak menemani Sarah ke dokter anak karena jadwal imunisasi Malika.
“Mas, aku mau bicara sebentar.” Dina hendak menyampaikan bahwa besok dia pun harus ke rumah sakit lagi.
“Nanti saja, ya. Setelah aku pulang dari dokter anak.” Tanpa menunggu Dina berkata, Farhan langsung berlalu pergi.
Sesakit inilah bila satu atap namun, ada dua cinta yang harus dibagi sama rata. Bagaimanapun diusahan, bagaimanapun coba untuk ditakar, semuanya tetap tak pernah sesuai dengan porsi yang seharusnya.
Apalagi melihat rona bahagia di wajah Farhan manakala pria itu sedang menimang Malika, dengan tawa yang begitu lepas. Tapi, ketika membicarakan bayi dalam kandungan Dina, raut wajah Farhan langsung berubah suram, seperti ketakutan menghadapi kenyataan yang akan terjadi setelah bayi tersebut lahir ke dunia.
Hingga tengah malam, Farhan belum juga datang, ataukah pria itu sudah pulang dan masih berada di kamar Sarah?
Dina mengerti bahwa malam ini jadwal Farhan berdiam di kamar Sarah, tapi Dina hanya ingin bicara sebentar saja. Tak butuh waktu semalaman, takutnya Farhan besok mengelak lagi saat Dina memintanya mengantar ke rumah sakit.
Namun, di depan pintu yang tak tertutup dengan benar itu, Dina mendengar suara-suara yang kembali menghancurkan hatinya.
“Ah— Mash, aku sudah tak tahan, lebih cepat lagi— lebih dalam lagi—”
“Seperti ini? Bagaimana, apakah aku perkasa?”
“Iyahhh— kamu memang perkasa sekali, Mash—”
“Kamu juga tadi sudah membuatku melambung, sudah lama aku tak dapat kenikmatan seperti itu,” balas Farhan yang ternyata sangat menyanjung kehebatan Sarah dalam memanjakan kebutuhannya.
“Memang, Mbak Dina nggak pernah begitu?”
“Dina itu pemalu, dia tak bisa berbuat nakal seperti yang tadi kamu lakukan padaku— oh, uuhh—”
Sungguh— sebuah realita yang cukup menyayat hatinya, tidakkan masalah anak saja yang menjadi persoalan mereka, sekarang urusan ranjang yang seharusnya dirahasiakan, justru diceritakan pada orang lain. Meskipun orang itu adalah istri Farhan, tapi Dina amat sangat tersakiti hatinya.