NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: tamat
Genre:Chicklit / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dua minggu berlalu dalam suasana damai dan penuh kehangatan.

Krisis bisnis yang sempat mengancam Suryo Group dan Pasar Matahari kini tinggal cerita masa lalu.

Operasional pabrik berjalan jauh lebih stabil, dan jaringan pasokan ikan dari para nelayan pesisir mengalir tanpa hambatan.

Pagi itu, hari yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Tim dokter spesialis orthopedi bersama asistennya kembali mendatangi apartemen Rimba.

Di dalam kamar utama, Dayang duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan campur aduk—antara tegang, antusias, dan tak sabar.

Rimba berdiri setia di sampingnya, meremas lembut jemari Dayang untuk memberikan rasa tenang.

Dokter dengan cermat menggunakan alat khusus untuk memotong gips tebal yang selama sebulan lebih membungkus kaki kanan Dayang.

Suara alat berderit pelan, diikuti rontoknya lapisan semen putih hingga akhirnya gips tersebut terbelah sempurna dan dilepaskan.

"Alhamdulillah, proses penyambungan tulangnya sangat sempurna, Mbak Dayang," ujar dokter tersenyum seraya memeriksa kondisi fisik kulit dan struktur pergelangan kaki Dayang.

Dayang menarik napas lega, matanya berkaca-kaca menatap kakinya yang kini sudah bebas dari balutan gips keras.

Meski tampak sedikit lebih kurus dan kaku karena lama tidak digerakkan, rasanya sungguh lega luar biasa.

"Tapi seperti yang saya sampaikan sebelumnya," lanjut dokter berdiri, "karena otot-ototnya sudah lama tidak menopang beban, kaki Mbak Dayang masih butuh penyesuaian. Kita mulai latihan fisioterapi bertahap hari ini. Tolong jangan dipaksa langsung berjalan sendiri ya."

"Baik, Dok. Saya yang akan awasi dan dampingi Dayang setiap hari," sahut Rimba mantap.

Setelah dokter memberikan arahan gerakan-gerakan dasar untuk merangsang fleksibilitas otot dan meminumkan vitamin penguat tulang, tim medis berpamitan keluar.

Kini tinggal mereka berdua di dalam kamar.

Rimba berlutut di hadapan Dayang, meletakkan kedua telapak tangannya di bawah telapak kaki Dayang yang masih terasa kaku.

"Bagaimana rasanya, Sayang? Enteng?" tanya Rimba lembut, mendongak menatap mata wanita yang sangat dicintainya itu.

Dayang mengangguk pelan, tersenyum haru. "Enteng banget, Mas. Tapi masih terasa agak kaku dan lemas."

"Pelan-pelan ya." Rimba berdiri, menyodorkan kedua tangannya yang kokoh sebagai tumpuan.

"Coba pegang tangan Mas, kita latihan berdiri sebentar."

Dayang menggenggam erat kedua lengan Rimba. Dengan dipandu dan ditopang penuh oleh Rimba, Dayang perlahan mengumpulkan keberanian untuk menapakkan kakinya ke lantai dan menegakkan tubuhnya.

Begitu berdiri tegak, rasa pusing kecil dan sensasi gemetar di kakinya sempat muncul, membuat

Dayang refleks makin merapat dan menyandarkan dadanya ke dada bidang Rimba. .

Rimba dengan sigap merangkul pinggang Dayang, menahannya dengan sangat posesif dan penuh kehangatan.

"Mas ada di sini, Sayang... Ndak usah takut jatuh," bisik Rimba lembut tepat di telinga Dayang, mendaratkan kecupan hangat di pelipisnya.

Dayang mendongak, menatap mata tajam Rimba yang kini dipenuhi binar kasih sayang. Janji pernikahan yang pernah diucapkan Rimba dua minggu lalu kembali bergema indah di hatinya.

"Mas, maaf sudah merepotkan kamu. Andaikan aku tidak marah da mengebut pasti kamu tidak akan mengeluarkan biaya dan waktu kamu."

Rimba mendengarnya dengan dada yang berdesir pilu.

Ia langsung menggeleng tegas, lalu melangkah makin rapat, menangkup kedua pipi Dayang dengan telapak tangannya yang hangat.

Sorot matanya menatap lurus ke dalam manik mata Dayang, menolak mentah-mentah penyesalan yang bersarang di hati calon istrinya itu.

"Jangan pernah bilang begitu lagi, Sayang. Jangan pernah," bisik Rimba dengan suara bariton yang teramat dalam dan serak.

Ia mendekatkan dahinya, menempelkannya lembut ke dahi Dayang, membiarkan helaan napas mereka menyatu.

"Mas tidak pernah merasa direpotkan. Sedikit pun ndak," lanjut Rimba penuh penekanan.

"Semua biaya, waktu, dan usaha di dunia ini ndak ada artinya dibanding keselamatan kamu. Penyesalan Mas cuma satu, kenapa waktu itu Mas bikin kamu terluka dan emosi sampai kejadian itu harus terjadi."

Rimba mendaratkan kecupan lembut yang cukup lama di kening Dayang, lalu turun ke kelopak matanya yang basah oleh air mata, mengusapnya dengan penuh kehangatan.

"Takdir ini memang harus kita lewati supaya Mas sadar betapa berharganya kamu buat hidup Mas. Jadi mulai detik ini, jangan menyalahkan diri kamu sendiri lagi, ya? Kamu itu fokus sembuh saja.

Tugas Mas yang bakal menjaga dan mendampingi kamu sampai kamu bisa melangkah menuju altar pernikahan kita."

Dayang terisak pelan dalam dekapan Rimba, meremas kemeja pria itu seraya mengangguk pasrah dalam kehangatan cinta Rimba yang begitu luas dan tak bersyarat.

Bel pintu apartemen berbunyi nyaring, memecah keheningan suasana haru di kamar utama.

Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki riang terdengar berlari di sepanjang koridor, disusul pintu kamar yang terbuka lebar.

"Mbak Dayang!" seru Bintang dengan mata berbinar-binar.

Adik kesayangan Dayang itu berlari mendekat, namun mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan ranjang.

Tatapannya tertuju lurus pada kaki kanan sang kakak yang kini sudah bersih dan bebas dari balutan gips putih yang tebal.

"Gipsnya, sudah dibuka, Mbak?" bisik Bintang dengan suara bergetar, raut wajah bocah itu berubah menjadi haru campur gembira yang luar biasa.

Dayang tersenyum lebar, mengangguk pelan seraya merentangkan kedua tangannya. Bintang langsung memeluk kakaknya erat-erat,

menyembunyikan wajahnya di pangkuan Dayang.

"Alhamdulillah ya Allah. Bintang seneng banget Mbak Dayang sudah sembuh!"

"Sudah tidak apa-apa, Dek. Tinggal latihan berjalan sedikit lagi," bisik Dayang lembut, mengusap-usap rambut adiknya dengan rasa kasih sayang yang melimpah.

Bang Jaka yang masuk belakangan berjalan santai sambil menyunggingkan senyum khasnya.

Di kedua tangannya, ia menenteng tempat makanan besar yang membumbungkan aroma bakaran gurih nan menggiurkan ke seluruh penjuru ruangan.

"Nah, ini dia! Sesuai janji, Bang Jaka bawa ikan bakar spesial bumbu racikan pelelangan!" seru

Bang Jaka heboh, meletakkan tempat makanan itu di atas meja kamar.

"Ikan baronang dan bawal paling segar pilihan Jamal tadi pagi di dermaga. Khusus buat merayakan lepasnya gips si Nduk Dayang!"

Rimba terkekeh pelan melihat keceriaan yang dibawakan Bang Jaka dan Bintang.

Ia menepuk bahu Bang Jaka penuh rasa terima kasih.

"Aromanya mantap banget, Bang. Pas banget Dayang baru selesai periksa sama dokter," kata Rimba hangat.

"Yo jelas, Rim! Ini vitamin alami paling ampuh buat pemulihan otot," kelakar Bang Jaka seraya menatap Dayang dan Bintang yang saling melempar senyum bahagia.

"Ayo, Bintang, bantu Bang Jaka siapkan piringnya di meja makan luar. Biar Mbakmu makan yang banyak!"

Bintang mengangguk semangat lalu menyapu air mata bahagianya. Kehadiran keluarga dan aroma hidangan hangat itu makin menyempurnakan hari pemulihan Dayang, membalut apartemen mewah Rimba dengan kehangatan suasana rumah yang sejati.

Suasana ruang makan di apartemen Rimba terasa begitu hidup dan hangat.

Meja makan marmer yang biasa tampak formal kini dipenuhi piring-piring berisi ikan baronang dan bawal bakar bumbu kecap pedas aroma ketumbar, lalapan segar, serta sambal terasi buatan Bang Jaka.

Bintang makan dengan sangat lahap, berkali-kali menambah nasi di piringnya, sementara Bang Jaka sibuk bercerita tentang kehebohan para pedagang di Pasar Matahari yang menyambut pasokan ikan pagi tadi.

Setelah mereka selesai menyantap hidangan dan Bang Jaka beranjak ke dapur bersama Jamal—yang baru saja menyusul—untuk menyeduh kopi, Rimba merapikan posisi duduknya di samping Dayang.

Pria itu menyodorkan tisu basah untuk mengusap jemari Dayang, lalu menatap calon istrinya dengan binar mata yang serius namun hangat.

"Oh iya, Sayang. Karena kaki kamu sudah lepas gips dan proses fisioterapi sudah mulai berjalan, minggu depan Mas mau panggil tim desainer ke apartemen," ujar Rimba santai seraya menyesap air putihnya.

"Mereka bakal bawa beberapa sampel bahan dan desain awal untuk fitting gaun pengantin kamu. Kita juga harus mulai matangkan konsep acara pernikahannya, mau adat jawa modern atau intimate pesta kebun di pelataran resor."

Dayang yang sedang mengunyah buah penutup mendadak menghentikan kunyahannya.

Ia menatap Rimba dengan mata membulat polos.

"Memang jadi nikah?" tanya Dayang jujur, sedikit menggoda calon suaminya.

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Rimba seketika berubah.

Pria bernama lengkap Rimba Suryo yang dikenal tegas dan dingin oleh para kolega bisnisnya itu kini justru mengerucutkan bibirnya, memasang wajah bersungut-sungut penuh kejahilan.

"Kalau tidak jadi nikah, aku akan membius dan menculikmu!" jawab Rimba mantap dengan nada setengah mengancam yang dibuat-buat, sambil menatap Dayang tanpa kedip.

Dayang yang kaget sekaligus geli langsung menepuk pelan lengan bidang Rimba.

"Ihhh, serem!" ucap Dayang meringis sambil tertawa kecil, menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di kedua pipinya.

Bintang yang duduk di seberang meja menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah bucin calon kakak iparnya itu.

Dengan gaya dramatis, Bintang menepuk keningnya sendiri menggunakan telapak tangan.

"Aduh, Mas Rimba. Seram banget ancamannya!" seru Bintang sambil tertawa kekeh.

"Mbak Dayang tidak usah diculik juga pasti mau kok, Mas. Wong tiap hari ngeliatin foto Mas Rimba terus waktu di rumah sakit!"

"Bintang! Mana ada, ya!" potong Dayang cepat dengan wajah makin merona merah, membuat Rimba terkekeh puas dan makin gencar menggenggam jemari calon istrinya itu di bawah meja.

Bintang tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah kakaknya yang memerah padam.

Tanpa membuang waktu, dengan gerakan cepat ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka galeri video.

"Nih, Mas Rimba, lihat sendiri buktinya! Bintang sempat rekam sembunyi-sembunyi waktu di rumah sakit kemarin!" seru Bintang dengan nada penuh kemenangan seraya menyodorkan layar ponselnya tepat di hadapan Rimba.

Di layar ponsel itu, terlihat jelas rekaman video saat Dayang sedang duduk sendirian di tepi ranjang rumah sakit.

Dengan raut wajah rindu yang begitu dalam dan menggebu, Dayang tampak mengusap-usap foto Rimba di layar ponselnya, lalu menempelkan ponsel itu ke dada dan mencium gambarnya berulang kali sambil tersenyum malu-malu.

Mata Rimba langsung berbinar terang. Senyum penuh kemenangan dan kehangatan membuncah di wajah tampannya.

Pria itu menatap video tersebut tanpa kedip, hatinya meleleh menyaksikan betapa dalamnya rasa cinta yang disimpan wanita mungil di sampingnya itu.

"Aahh! Memalukan!" ucap Dayang setengah berteriak, buru-buru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Rona merah padam menjalar dari pipi hingga ke ujung telinganya, membuatnya ingin rasanya bersembunyi di bawah meja saat itu juga.

Rimba terkekeh renyah—suara tawa paling lepas yang jarang sekali didengar orang lain.

Ia merangkul bahu Dayang, lalu meraih lembut kedua tangan yang menutupi wajah cantik tunangannya itu.

"Tidak ak ada yang memalukan, Sayang." bisik Rimba lembut tepat di samping telinga Dayang, membuat bulu kuduk gadis itu merinding manis.

"Mas justru makin bahagia tahu kalau calon istri Mas ini ternyata sebucin ini sama Mas."

"Bintang nakal banget, ih! Hapus ndak!" protes Dayang makin salah tingkah, mencoba mengalihkan pandangan dari tatapan Rimba yang begitu menggoda dan sarat akan kasih sayang.

"Tidak bakal dihapus! Mau Bintang kirim ke WhatsApp-nya Mas Rimba biar disimpan selamanya!" ledek Bintang sambil menjulurkan lidahnya dan langsung memencet tombol share.

"Kirim ke Mas sekarang, Bintang. Mas kasih bonus uang jajan besok!" sahut Rimba cepat sambil tertawa puas, membuat suasana di ruang makan apartemen itu makin pecah oleh riuh gelak tawa dan kehangatan keluarga yang tak ternilai harganya.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
😄
Muft Smoker
kebahagiaan dayang udh lengkap yx,,
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,

bahagia selalu dayang dan kluarga ,,


kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak pho ,, ☺️☺️☺️
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!