NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.Drama bubur

Suara langkah kaki yang mantap kembali terdengar di koridor luar, memecah keheningan kamar Aruna yang temaram. Tak lama kemudian, pintu kayu terdorong terbuka. Kaivan muncul dengan sebuah tray kayu di kedua tangannya, membawa dua mangkuk makanan yang masih mengepulkan uap tipis beserta dua gelas air hangat.

Raut wajah pria itu masih sama: terlihat kaku, alis menekuk tajam, dan bibir yang terkatup rapat seolah sedang menahan kekesalan yang amat sangat.

"Duduk," perintah Kaivan singkat, tanpa melirik Aruna yang masih bersandar lemas di kepala tempat tidur.

Aruna buru-buru membetulkan posisi duduknya, berusaha memegang tepi kasur agar tubuhnya tidak limbung. "Pak Kaivan... tidak perlu repot-repot membawa makanannya ke sini. Saya bisa turun ke bawah kalau—"

"Bisa diam tidak?" potong Kaivan ketus seraya meletakkan tray kayu itu di atas meja kecil di samping tempat tidur dengan bunyi tak yang agak keras.

"Kalau kau turun ke bawah, lalu pingsan lagi di tengah tangga dan menggelinding sampai lantai dasar, siapa yang repot? Aku lagi. Sudahlah, jangan banyak bicara, suramu yang parau itu bikin telingaku sakit."

Kaivan menarik sebuah kursi kayu bersandaran tinggi dari sudut ruangan, menggesernya dengan agak kasar hingga berdecit di atas lantai, lalu mendudukinya tepat di samping tempat tidur Aruna. Pria bertubuh tinggi itu melipat kakinya, bersedekap dada, dan menatap Aruna dengan pandangan penuh celaan.

"Makan," suruh Kaivan pendek, menunjuk mangkuk bubur ayam yang masih hangat dengan dagunya.

Aruna menatap mangkuk bubur di hadapannya, lalu beralih menatap mangkuk kedua yang berisi nasi tim di atas tray. "Pak Kaivan... ikut makan di sini?"

Kaivan mendengus kasar, memutar bolanya malas. "Menurutmu? Aku harus memastikan kau menghabiskan makanan dan meminum obatmu. Kalau aku tinggalkan, paling-paling kau cuma mengaduk-aduk bubur ini lalu berpura-pura sudah kenyang. Aku tidak punya waktu seharian untuk mengurusi drama sakitmu, Aruna."

"Tapi... Pak Kaivan tidak nyaman makan di kamar suram ini, kan?" cicit Aruna pelan, merasa sungkan.

"Memang tidak nyaman!" omel Kaivan langsung, menyambar mangkuk nasi timnya beserta sendok.

"Kamar ini dingin, sepi, dan bau obat. Rumahku yang seluas ini mendadak terasa menyempit hanya karena harus mengurus satu orang sakit yang menyusahkan. Jadi, cepat makan supaya aku bisa keluar dari sini!"

Meskipun ucapan Kaivan dipenuhi kalimat-kalimat pedas dan nada ketus, Aruna tidak lagi merasa sakit hati. Ia justru menunduk samar untuk menyembunyikan ukiran senyum tipis di bibirnya yang pucat. Pria di hadapannya ini dengan sangat jelas sedang gengsi setengah mati. Kaivan rela makan di kamar yang ia sebut 'suram' ini hanya demi memastikan Aruna benar-benar mengisi perutnya.

Aruna meraih sendok plastik yang disediakan. Tangannya yang dipasangi infus masih gemetaran hebat. Begitu ia mencoba mengangkat sendok berisi sedikit bubur, tangannya berguncang hingga separuh bubur itu tumpah kembali ke dalam mangkuk.

Kaivan yang baru saja menyuap satu sendok nasi timnya mendadak menghentikan kunyahannya. Matanya menyipit tajam memperhatikan tangan Aruna yang hilang keseimbangan.

"Astaga... mengangkat sendok saja tidak bisa?" gerutu Kaivan dengan nada menyindir yang amat tajam. Pria itu meletakkan mangkuk nasi timnya kembali ke atas tray dengan decakan napas yang berat.

"Kau ini berniat makan atau mau membuat bubur itu mengotori selimutku, sih?"

"M-maaf, Pak Kaivan... tangan saya masih lemas," bisik Aruna seraya menundukkan kepala, berusaha memegang sendok itu dengan kedua tangannya agar tidak goyah.

"Ck, menyusahkan sekali," omel Kaivan lagi.

Tanpa aba-aba, Kaivan menyambar mangkuk bubur milik Aruna beserta sendoknya. Pria bertubuh jangkung itu menyendok sedikit bubur, menyapunya di tepi mangkuk agar tidak terlalu penuh, lalu mengarahkannya tepat di depan wajah Aruna dengan raut muka paling galak yang bisa ia buat.

Aruna terpaku. Matanya membelalak menatap sendok di depan bibirnya, lalu beralih menatap wajah Kaivan yang tampak sangat bersungut-sungut.

"Kenapa malah melamun? Buka mulutmu!" bentak Kaivan pelan, wajahnya makin menekuk.

"Jangan berpikir aku bersikap manis padamu, ya. Aku menyuapimu cuma supaya proses makan ini cepat selesai dan aku bisa kembali ke pekerjaanku. Kalau menunggu tangan gemetarmu itu habis satu porsi, matahari sudah keburu terbenam!"

Aruna tidak bisa menahan rasa hangat yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Dengan patuh, ia membuka mulutnya dan menerima suapan bubur hangat tersebut. Rasia gurih kaldu dan lembutnya tekstur bubur terasa sangat menenangkan tenggorokannya yang kering.

"Bagaimana? Kurang asin? Kurang manis?" cecar Kaivan cepat, matanya menatap Aruna penuh selidik.

"Aplikasi langgananku ini padahal ulasannya bagus. Kalau rasanya aneh, bilang, biar sekalian kuberi bintang satu restorannya."

"Enak kok, Pak Kaivan... hangat," jawab Aruna tulus setelah menelan makanan itu.

"Baguslah kalau enak. Cepat kunyah, jangan banyak melamun," sahut Kaivan ketus, meski tangannya kembali menyendok porsi berikutnya dengan sangat hati-hati, memastikannya tidak terlalu panas sebelum disuapkan lagi ke mulut Aruna.

Suasana di kamar remang itu mendadak diisi oleh pola yang unik: Kaivan yang terus menyuapi Aruna sambil melontarkan omelan demi omelan, diselingi oleh dirinya sendiri yang sesekali menyuap nasi timnya dengan terburu-buru.

"Kau tahu tidak?" kata Kaivan di tengah-tengah suapannya, matanya menatap tajam ke arah infus Aruna.

"Tagihan dokter pribadi subuh ini bisa buat membeli sepeda motor baru. Nanti kalau kau sudah sembuh, jangan harap bisa bersantai. Kerja rumah tanggamu harus dua kali lipat lebih bersih untuk mengganti kerugianku."

Aruna mengangguk pelan, menerima suapan berikutnya dari Kaivan. "Iya, Pak Kaivan. Saya janji akan bekerja lebih keras nanti."

"Tidak usah janji-janji," potong Kaivan kaku.

"Yang penting kau tidak pingsan lagi di depanku. Menyeret tubuhmu ke lantai dua ini membuat lenganku pegal semua. Kau itu kelihatannya saja kurus seperti ranting pohon, tapi ternyata lumayan berat juga."

Aruna tahu betul itu bohong. Tubuhnya sangat ringan akibat kekurangan gizi, namun ia memilih untuk tidak memprotes tuduhan konyol pria itu.

"Maaf sudah membuat lengan Pak Kaivan pegal..."

"Sudah, tidak usah minta maaf terus-menerus! Suaramu makin bikin pusing," desis Kaivan, menyuapkan suapan terakhir bubur itu ke mulut Aruna hingga mangkuk polos tersebut benar-benar bersih tak tersisa.

Kaivan meletakkan mangkuk kosong itu, lalu mengambil botol obat penurun panas dan menuangkan satu tablet ke telapak tangannya. Pria itu menyodorkan obat tersebut beserta gelas berisi air hangat ke hadapan Aruna.

"Nih, minum. Habiskan airnya," perintahkan Kaivan galak.

Aruna menerima tablet tersebut dan meminumnya hingga air di dalam gelas tersisa separuh.

Melihat Aruna telah menyelesaikan seluruh perintahnya, Kaivan bangkit berdiri dari kursinya.

Ia membereskan bekas mangkuk dan gelas ke atas tray kayu dengan gerakan kaku. Pria itu berdiri menjulang di samping kasur, menatap Aruna dari atas dengan sorot mata yang berusaha keras dipasang sedingin mungkin—meski raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa lega karena gadis itu sudah mendapat asupan makanan.

"Sekarang tidurlah," kata Kaivan dengan nada memerintah yang tak bisa dibantah. "Jangan berani-berani mencoba bangun atau keluar dari kamar ini sebelum cairan infus itu benar-benar habis. Kalau aku melihatmu berkeliaran di luar, aku akan menyuruh Dokter Adrian menambah tiga botol infus lagi di tanganmu."

Aruna merapatkan selimutnya hingga ke dada, menatap pria yang berdiri kaku di samping tempat tidurnya. "Terima kasih banyak untuk sarapannya, Pak Kaivan..."

Kaivan hanya mendengus pelan, memalingkan wajahnya dengan gengsi yang menjulang tinggi. Ia mengangkat tray kayu itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya bersiap membuka pintu kamar.

"Aku melakukan ini cuma supaya rumahku tidak ketempelan sial karena ada yang mati kelaparan," gumam Kaivan dingin, melontarkan omelan terakhirnya sebelum melangkah keluar.

Klek.

Pintu kamar kembali tertutup rapat. Aruna bersandar pada bantalnya, mendengarkan derap langkah kaki Kaivan yang makin menjauh di koridor luar. Di dalam kamar yang dingin itu, Aruna mengulas senyum kecil. Omelan Pak Kaivan yang tak henti-hentinya bergema tadi justru terasa bagai selimut hangat yang pelan-pelan mengikis rasa sepi di hatinya.

_bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!