Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI BALIK TERALI BESI
Udara malam di kawasan Markas Pusat Polisi Militer terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dinding-dinding beton kokoh berwarna abu-abu tua menjulang tinggi, membatasi dunia luar yang bebas dengan ruang isolasi ketat tempat para pelanggar hukum militer kelas berat ditahan. Di dalam sel tahanan khusus berukuran tiga kali empat meter dengan jeruji tebal berlapis baja, Letnan Jenderal Gibran Mahendra duduk tegak di atas sebuah dipan besi tanpa kasur.
Pria itu tidak mengenakan seragam kebesarannya lagi. Ia hanya memakai kaos polos berwarna hitam pas badan dan celana panjang kain gelap. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara manik mata hitamnya menatap lurus ke arah dinding semen kosong di hadapannya. Tidak ada penyesalan, tidak ada keputusasaan, dan tidak ada tanda-tanda ketakutan di wajahnya. Yang ada hanyalah ketenangan yang teramat pekat ketenangan seorang predator yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali keluar dari sarangnya.
Kelingking jarinya sesekali bergerak pelan, mengingat kembali sentuhan terakhir pada pipi Ziva malam itu sebelum ia menyerahkan diri. Keputusan untuk melepaskan lencana komando dan membiarkan dirinya ditangkap bukanlah sebuah tanda kekalahan bagi Gibran. Itu adalah strategi taktis jangka panjang untuk meredam badai hukum yang ditebar oleh keluarga Adriana dan dewan pengawas, sekaligus menguji seberapa jauh dunia luar mampu menjaga gadis yang telah menjadi obsesi mutlak di dalam jiwa dan raganya.
Langkah kaki tegap terdengar mendekat di sepanjang koridor sel isolasi. Suara sepatu bot menghantam lantai semen berbunyi nyaring, disusul oleh suara kunci besi yang diputar pada jeruji sel di hadapan Gibran.
Seorang perwira tinggi Polisi Militer berpangkat Kolonel berdiri di depan pintu sel, didampingi oleh dua orang pengawal bersenjata lengkap. Kolonel tersebut menatap Gibran dengan campuran rasa segan dan gentar yang luar biasa, meskipun pria di hadapannya kini berstatus sebagai tahanan militer.
"Letnan Jenderal... ralat, saudara Gibran," ucap sang Kolonel dengan nada kaku dan penuh kehati-hatian. "Pihak Dewan Pengawas Pertahanan baru saja menyelesaikan sesi investigasi lanjutan. Berdasarkan desakan dari pihak keluarga Adriana dan kementerian, sidang putusan akhir penonaktifan permanen Anda akan dilaksanakan dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan."
Gibran perlahan mengangkat wajahnya. Manik mata hitamnya menatap tajam ke arah Kolonel tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat perwira di balik jeruji itu menelan ludah kelat karena tekanan aura wibawa yang sama sekali tidak luntur meski berada di dalam sel tahanan.
"Anda berhak menghadirkan kuasa hukum atau menyampaikan pembelaan terakhir," lanjut sang Kolonel dengan suara sedikit bergetar. "Namun perlu diingat, tuntutan atas penyekapan ilegal dan perlawanan bersenjata terhadap institusi membawa ancaman hukuman penjara bertahun-tahun di fasilitas pemasyarakatan militer maksimum."
Gibran akhirnya berdiri dari dipan besi. Ia melangkah perlahan mendekati jeruji baja, berhenti tepat satu jengkal di hadapan sang Kolonel. Tinggi badan dan postur atletis Gibran membuat perwira di hadapannya harus mendongak sedikit untuk membalas tatapan tersebut.
"Kalian mengira saya sedang diadili di sini?" suara Gibran sangat rendah, berat, dan mengandung ancaman dingin yang membekukan darah di sekitarnya. "Kalian mengira kursi pesakitan dan jeruji besi ini bisa memutus apa yang sudah menjadi takdir saya?"
Kolonel itu mundur setengah langkah secara insting, merasakan teror psikologis yang luar biasa kuat terpancar dari sorot mata Gibran. "Kami hanya menjalankan protokol hukum yang berlaku, Gibran... jangan mempersulit posisi Anda sendiri."
Gibran tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang mengerikan. "Katakan pada dewan, dan sampaikan juga kepada keluarga Adriana... simpan persidangan itu baik-baik. Karena sebelum palu hukuman mereka ketuk, saya pastikan permainan ini akan berakhir dengan cara yang sama sekali tidak ada di dalam perkiraan mereka."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari sang Kolonel, Gibran berbalik, berjalan kembali ke sudut sel yang gelap, dan duduk membelakangi pintu, mengabaikan kehadiran para pengawal yang akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari koridor yang mencekam tersebut.
Sementara itu, di kediaman keluarga Adriana di kawasan Menteng, suasana meja makan tampak kontras dengan dinginnya sel tahanan Gibran. Lampu kristal mewah menggantung di atas meja makan panjang berbalut taplak putih bersih. Berbagai hidangan lezat tersaji rapi, mulai dari santapan barat hingga makanan tradisional Indonesia kesukaan keluarga.
Bramantyo Adriana duduk di ujung meja, mengenakan kemeja batik rapi setelah seharian penuh mengurus urusan diplomatik di kementerian. Di sampingnya, duduk Aris Mahendra dengan setelan jas kasual yang tampak begitu serasi dan penuh percaya diri. Ziva duduk di sisi seberang, mengenakan dress sederhana berwarna pastel, namun tatapan matanya tampak kosong menatap piring di hadapannya.
Aris mengambilkan sepotong lauk ke piring Ziva dengan senyuman hangat di wajahnya. "Makanlah sedikit lagi, Ziva. Kamu sudah terlihat jauh lebih baik sekarang. Om Bram bilang minggu depan kita bisa mulai merencanakan ulang jadwal pertunangan kita yang sempat tertunda."
Mendengar kata pertunangan diucapkan oleh Aris, sendok di tangan Ziva berderit pelan beradu dengan piring porselen. Dadanya mendadak terasa sesak. Ingatannya langsung melayang pada kejadian dua malam lalu di balik jendela kamarnya ketika bayangan mobil SUV hitam dan sosok figur bertubuh tegap berdiri mengawasinya dari seberang jalan.
Apakah itu benar-benar Gibran? Ataukah itu hanya halusinasi ketakutannya sendiri?
"Ziva?" panggil Bramantyo lembut, menyadarkan putrinya dari lamunan panjang. Bramantyo meletakkan garpunya, menatap Ziva dengan manik mata penuh perhatian. "Ada apa, Nak? Kamu terlihat pucat lagi sejak tadi malam. Apakah masih ada hal yang membuatmu trauma?"
Ziva mendongak, menggelengkan kepala pelan sambil memaksakan sebuah senyuman tipis. "Tidak apa-apa, Ayah... Aku hanya merasa sedikit lelah saja. Udara di luar akhir-akhir ini memang kurang bersahabat."
Aris tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Makanya, jangan terlalu banyak merenung di kamar terus, Ziva. Dunia di luar sana sudah aman. Gibran sekarang sudah mendekam di penjara militer maksimum dan tidak akan pernah bisa keluar lagi untuk mengusik hidup kita. Semua mimpi buruk itu sudah berakhir."
Mimpi buruk telah berakhir. Kalimat itu bergema di kepala Ziva. Tapi mengapa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia justru merasa bahwa mimpi buruk yang sebenarnya baru saja akan dimulai?
Suara dering ponsel Bramantyo di atas meja mendadak memecah percakapan makan malam tersebut.
Bramantyo mengerutkan kening, mengambil ponselnya, dan melihat layar panggilan. "Sebentar ya, Ayah terima panggilan penting dari kolega di kementerian dulu," ucapnya kepada Ziva dan Aris, lalu bangkit dari kursi dan berjalan menjauh ke arah sudut ruang keluarga dekat jendela besar menghadap halaman depan.
Ziva memperhatikan punggung ayahnya yang mulai berbicara dengan nada serius lewat sambungan telepon. Suasana di ruang makan mendadak hening. Tiba-tiba, angin malam berembus kencang dari arah luar, menggoyang dahan-dahan pohon ketapang besar di seberang jalan raya di luar pagar rumah.
Ziva menoleh perlahan ke arah jendela kaca besar ruang makan yang menghadap langsung ke jalan depan. Di balik remang-remang lampu jalanan Menteng, bayangan sebuah mobil sedan SUV hitam tampak terparkir tepat di tempat yang sama seperti dua malam lalu.
Jantung Ziva berhenti berdetak sepersekian detik. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Pintu sisi pengemudi mobil itu perlahan terbuka. Sosok figur pria bertubuh tegap dengan mantel panjang melangkah keluar dari dalam kendaraan. Di bawah temaram lampu jalan, pria itu mendongak perlahan, menatap lurus ke arah jendela ruang makan tempat Ziva sedang duduk terpaku.
Meskipun jaraknya cukup jauh, Ziva sangat mengenali postur tubuh, cara berdiri, dan sorot mata tajam yang menghujam langsung ke jiwanya itu.
Itu bukan halusinasi. Dia benar-benar di sini.
"Ziva? Kamu melihat apa?" suara Aris yang membuyarkan lamunan membuat Ziva tersentak kaget.
Saat Ziva menoleh kembali ke arah jalan di luar jendela, sosok figur pria berjas hitam itu sudah tidak ada di sana. Mobil SUV hitam tersebut mendadak melesat pergi tanpa suara dalam hitungan detik, meninggalkan jejak angin malam yang dingin dan ketakutan yang merayap cepat merusak seluruh pertahanan Ziva di dalam sangkar rumah ayahnya sendiri.
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
agar kluarga kecil mereka bhgia
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin