Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Kertas-kertas dokumen kantor dan berkas laporan keuangan yang menumpuk di meja kerja rasanya cukup membuat kepala terasa seberat batu. Karena itulah, sore itu Devan dan Deka sepakat untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk urusan distributor bahan bangunan milik bunda mereka. Pilihan mereka jatuh pada sebuah kafe berkonsep industrial-minimalist dengan kaca-kaca besar di kawasan Jakarta Selatan. Tempatnya tenang, diiringi lantunan musik jazz instrumental yang lembut, sangat pas untuk meluruskan pikiran.
Di sudut kafe yang agak terselubung, Devan duduk berhadapan dengan Deka. Dua cangkir americano dingin dan sepotong croissant mentega terletak di tengah meja kayu Oak.
Devan menyesap kopinya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit hitam. Tatapannya lurus menatap Deka, adik lelakinya yang kini tumbuh makin dewasa dan bisa diandalkan.
"Deka," panggil Devan dengan suara bernada berat namun santai. "Sejak urusan perceraian Bunda sama Si Bian resmi beres, dan aset-aset distributor sudah balik penuh atas nama Bunda, aku rasanya jauh lebih lega."
Deka mengangguk setuju, memutar-mutar cangkir kopinya seraya tersenyum tipis. "Sama, Devan. Rasanya beban besar yang bertahun-tahun gelayutan di pundak kita mendadak terangkat begitu saja. Tapi... kita tidak boleh lengah. Tugas kita menjaga Bunda belum selesai."
"Itu dia yang dari tadi aku pikirkan," sahut Devan serius. Pandangannya menerawang ke luar jendela kaca, melihat deretan kendaraan yang merayap di bawah langit sore yang mulai memerah. "Bunda itu wanita yang luar biasa tangguh, Deka. Beliau bertahun-tahun mengorbankan perasaan, masa muda, bahkan kebahagiaannya sendiri hanya demi memastikan kita berdua tumbuh dengan baik tanpa kekurangan satu apa pun."
"Betul," sela Deka pelan. "Bunda selalu mengedepankan kita, sampai-sampai lupa kalau Bunda sendiri berhak untuk bahagia sebagai seorang wanita."
Devan kembali menatap adiknya dengan binar mata yang tegas. "Makanya, untuk langkah ke depan, aku tidak mau melihat Bunda kesepian lagi. Kita memang akan selalu ada buat Bunda, tapi kita berdua kan punya jalan hidup dan karier sendiri nanti. Kita tidak bisa selamanya menempel 24 jam di samping Bunda. Menurutmu... gimana kalau suatu saat nanti Bunda membuka hati lagi?"
Deka agak tertegun mendengar pertanyaan tajam dari kakaknya. Ia terdiam sejenak, meresapi pertanyaan itu dalam-dalam sebelum memberikan jawaban.
"Jujur ya, Devan... kalau dulu, waktu kita masih remaja, mungkin aku bakal menolak keras kalau ada pria lain yang mencoba mendekati Bunda," aku Deka jujur. "Tapi setelah melihat betapa hancurnya perasaan Bunda saat dibohongi Si Bian, aku justru merasa kasihan kalau Bunda harus menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Kalau memang nanti ada pria yang benar-benar tulus, bertanggung jawab, punya prinsip, dan bisa membuat Bunda tersenyum tanpa beban... aku orang pertama yang akan merestui."
Devan tersenyum bangga mendengar kedewasaan adiknya. "Aku setuju sama kamu, Deka. Kriteria utamanya simpel pria itu harus punya rasa hormat yang tinggi ke Bunda dan tidak punya niat memanfaatkan kekayaan atau kebaikan hati Bunda. Kita berdua yang bakal jadi 'pintu gerbang' seleksinya."
"Pasti! Siapa pun yang berani bikin Bunda nangis lagi, harus berhadapan dulu sama kita berdua," kekeh Deka seraya mengepalkan tangannya main-main.
Suasana di antara dua saudara itu terasa hangat. Perbincangan tentang masa depan sang bunda membuat hubungan emosional mereka semakin solid.
Mereka membicarakan rencana ekspansi lini bisnis distributor, perlindungan hukum yang sudah disiapkan oleh Mas Rian, hingga bagaimana mereka berencana mengajak Bunda berlibur ke luar negeri untuk menyegarkan pikiran.
Namun, di tengah keasyikan obrolan mereka, pintu kaca kafe terdorong terbuka. Denting bel kuningan di atas pintu berbunyi lembut, menandakan kedatangan tamu baru.
Deka yang duduk menghadap ke arah pintu masuk secara tidak sengaja mengalihkan pandangannya. Dua orang gadis melangkah masuk ke dalam kafe.
Yang satu mengenakan blus putih elegan dengan celana kulot abu-abu, memancarkan aura mandiri dan dewasa. Sedangkan gadis di sebelahnya tampak sedikit lebih muda, mengenakan pakaian kasual yang modis dengan senyuman ceria di wajahnya.
Deka membelalakkan matanya terkejut. Ia sangat mengenali dua sosok itu gadis-gadis yang tidak sengaja berkenalan dengan mereka di swalayan beberapa waktu lalu.
"Devan..." bisik Deka cepat, menyenggol kaki Devan di bawah meja dengan raut kaget.
"Kenapa, Deka?" tanya Devan heran.
"Lihat pintu masuk. Itu kan Dita sama Tita!" bisik Deka setengah tidak percaya.
Devan refleks menoleh ke arah pintu masuk. Matanya ikut membulat heran. Dunia terasa begitu sempit.
Kedua gadis itu berjalan menuju area kasir untuk memesan minuman. Saat menunggu pesanan disiapkan, Tita tak sengaja memutar tubuhnya dan pandangan matanya berbenturan langsung dengan tatapan Devan dan Deka.
Tita tersentak kaget, lalu matanya berbinar ceria. Ia langsung menyenggol lengan kakaknya. "Mbak Dita, lihat deh! Itu bukannya Devan sama Deka?"
Dita ikut menoleh dan tertegun sejenak. Senyuman hangat dan terkejut langsung terukir di wajah anggunnya.
Tanpa ragu, Dita dan Tita melangkah mendekati meja Devan dan Deka. Devan dan Deka pun langsung berdiri dari kursi mereka dengan raut wajah kaget bercampur senyum tak menyangka.
"Lho! Dita, Tita? Kalian ngapain di sini?" sapa Devan terheran-heran seraya terkekeh pelan.
"Wah, beneran kalian!" seru Tita riang. "Astaga, kaget banget! Kok bisa pas banget ketemu di sini?"
Dita tertawa kecil melihat ekspresi terkejut dua bersaudara itu. "Dunia sempit banget ya. Kita berdua tadi habis ada urusan sebentar di sekitar sini, terus mampir mau beli kopi."
"Sama, kita juga lagi nyari angin segar habis pusing urusan kantor," sahut Deka seraya tersenyum ramah. "Sumpah, gak nyangka banget bakal ketemu kalian lagi di kafe ini."
Tita melipat tangannya di dada dengan cengiran penuh arti. "Tapi kalian tahu gak hal yang lebih bikin kaget dari sekadar pertemuan tanpa sengaja di kafe ini?"
Devan dan Deka saling bertukar pandang dengan kening berkerut penasaran. "Apaan?" tanya Devan.
Dita tersenyum tenang, menatap Devan dan Deka penuh makna. "Papa kita... Pak Rafli... baru aja pulang dari makan siang dan reuni kecil bareng Tante Husna. Papa tadi cerita banyak banget di rumah dan sempat tunjukin foto kalian berdua."
Devan dan Deka tertegun seketika. Dadanya mendadak berdesir hebat. Informasi yang baru saja terucap membuat percakapan serius mereka tentang masa depan Bunda beberapa menit lalu terasa begitu nyata dan dekat.
Tita tertawa melihat perubahan raut wajah dua pria di hadapannya. "Lucu banget kan? Tadi di rumah Papa heboh menceritakan Tante Husna sama kalian berdua, eh sekarang malah kita yang nongkrong bareng di kafe yang sama."
Dita menatap Devan dan Deka dengan pandangan yang ramah dan matang. "Boleh kami bergabung sebentar? Kebetulan tempat duduk lain lagi penuh, dan sepertinya bakal seru kalau kita ngobrol bareng... terutama soal obrolan Papa dan Tante Husna siang tadi."
Devan dan Deka saling bertukar pandang selama beberapa detik. Rasa terkejut kini berganti menjadi rasa penasaran dan kewaspadaan yang hangat. Anak-anak dari Pak Rafli kini berada di hadapan mereka, menawarkan sebuah perbincangan yang berpotensi menentukan arah masa depan keluarga mereka.
Devan mengulas senyuman tipis dan membalas tatapan Dita dengan tenang.
"Tentu," ujar Devan seraya menggeser kursi di dekatnya. "Silakan duduk, Dita, Tita."
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
bagus dan banyak pelajaran ny
yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,
terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
bukan
kartu hitam black card
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
lanjuut kak ,,
akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,