NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Kecil

Siang itu, matahari musim semi di Amsterdam bersinar cerah, memantulkan kilau kemewahan dari deretan butik desainer papan atas di sepanjang P.C. Hooftstraat. Freya Zivanka berjalan santai dengan langkah ringan. Mengenakan trench coat krem berpotongan rapi dan sepatu loafers kulit yang nyaman, ia menikmati kebebasan kecilnya setelah beberapa hari lebih banyak menghabiskan waktu di dalam penthouse hutan milik Victor.

Tujuannya hari ini sederhana namun penuh makna. Ia ingin membelikan sebuah hadiah kecil untuk Victor Thorne—pria dingin yang telah mengubah jalan hidupnya secara drastis, dari seorang gadis yang tertekan oleh utang keluarga hingga kini hidup dalam limpahan fasilitas mewah. Hubungan mereka yang awalnya berawal dari kontrak terlarang dan malam penuh gairah di kamar hotel kini telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, meski Victor tetaplah seorang CEO yang sibuk dengan setelan jas tailor-made dan dasi sutra gelapnya setiap hari.

"Kira-kira Victor lebih suka warna apa ya? Navy klasik atau abu-abu arang?" gumam Freya pada dirinya sendiri saat langkahnya berhenti di depan sebuah butik pakaian pria berstandar internasional yang terkenal dengan koleksi dasi sutra buatan tangan dari Como, Italia.

Freya melangkah masuk ke dalam butik yang bernuansa kayu gelap dan beraroma maskulin itu. Seorang pelayan pria berseragam rapi langsung menyambutnya dengan senyuman sopan. Freya asyik memilih dan memilah di rak pajangan dasi sutra, menyentuh satu per satu tekstur kain yang halus dengan penuh ketelitian. Ia ingin memberikan sesuatu yang personal, sesuatu yang bisa dipakai Victor saat memimpin rapat penting di kantor pusat Thorne Corporation, agar pria itu selalu teringat padanya di tengah kesibukan yang padat.

Saat Freya tengah menimbang-nimbang antara dasi bermotif garis mikro navy dan dasi polos berwarna burgundy, suara langkah kaki berhak tinggi yang berketukan tegas terdengar mendekat dari arah pintu masuk butik. Suara itu diiringi aroma parfum wanita yang begitu tajam dan elegan—aroma mahal yang langsung mencuri perhatian siapa pun di dalam ruangan.

"Aku rasa koleksi musim ini benar-benar membosankan, pelayan. Tidak ada yang sebanding dengan standar butik di Paris," suara seorang wanita terdengar angkuh, bernada dingin dan menusuk.

Freya menoleh sekilas, dan seketika napasnya tertahan di tenggorokan.

Wanita di sana adalah Annelise. Wanita anggun berdarah Belanda pilihan Nyonya Valen—mantan wanita yang nyaris menjadi tunangan sah Victor sebelum pria itu memutuskan menolak perjodohan demi dirinya. Annelise tampak luar biasa sempurna dengan setelan blazer putih gading dan tas tangan bermerek besar yang digantungkan di lengannya. Wajahnya yang cantik natural kini dipasangi ekspresi sinis dan angkuh.

Sialnya, mata tajam Annelise langsung berpapasan dengan mata Freya.

Langkah kaki Annelise terhenti seketika. Sorot matanya yang tadinya memancarkan kebosanan langsung berubah menjadi tatapan kebencian yang mendalam, setajam belati. Ia mengenali wajah wanita yang telah merebut posisi yang seharusnya menjadi hak mutlaknya.

"Wah, wah... Lihat siapa yang ada di sini," cibir Annelise, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. Suaranya sengaja ia keraskan agar terdengar oleh beberapa pengunjung lain di dalam butik. "Gadis murahan yang berhasil merayap masuk ke dalam kehidupan Victor Thorne lewat jalur belakang. Kupikir kau hanya bersembunyi di dalam sangkar burung di hutan itu selamanya."

Freya menegakkan tubuhnya, berusaha menepis rasa gugup yang tiba-tiba merayap di dadanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang telah mencoba berbagai cara untuk menjatuhkannya.

Annelise berdiri tepat di hadapan Freya, melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan penampilan Freya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Menarik," kata Annelise dengan senyum sinis yang amat menyebalkan. "Kau datang ke butik mewah seperti ini, memegang dasi pria... apa sekarang tugasmu sudah naik tingkat dari sekadar wanita simpanan menjadi pesuruh yang membelikan keperluan kantornya?"

Beberapa pelayan di butik itu mulai melirik ke arah mereka dengan pandangan tidak nyaman, namun tidak berani ikut campur dalam ketegangan sosial kaum elite tersebut.

"Aku ke sini bukan untuk berdebat denganmu, Annelise," balas Freya dengan suara tenang namun tegas, berusaha menjaga emosianya agar tidak terpancing. "Lebih baik kau urusi urusanmu sendiri daripada sibuk memantau hidup orang lain."

Annelise tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat sarkastik.

"Mengurus hidupku? Oh, sweetheart, kau bahkan tidak sadar di posisi mana kau berdiri sekarang. Victor itu hanya merasa kasihan padamu.

Kau hanyalah pelarian sesaat dari perjodohan kami. Keluarga Thorne tidak akan pernah sudi menerima wanita dari keluarga bangkrut sepertimu untuk bersanding di sisi Victor secara terhormat!"

Kata-kata itu meluncur tajam seperti jarum beracun. Ada luka kecil yang sempat mencubit hati Freya, mengingat latar belakang keluarganya yang sempat terpuruk parah. Namun, bayangan senyuman Victor di pagi hari tadi, pesan-pesan perhatian pria itu, serta keyakinan bahwa Victor benar-benar tulus padanya seketika membentengi pertahanan mental Freya.

"Jika Victor hanya merasa kasihan, dia tidak akan membuangmu dan memilihku," balas Freya telak, menatap mata Annelise tanpa berkedip sedikit pun.

Wajah Annelise langsung memerah menahan amarah. Harga dirinya sebagai wanita dari kalangan bangsawan Amsterdam hancur berkeping-keping mendengar kalimat telak tersebut. Urat di pelipisnya terlihat jelas.

"Kau benar-benar jalang yang tidak tahu malu!" desis Annelise penuh kebencian, kehilangan seluruh sisa-sisa kesopanannya di muka umum. "Kau pikir dengan kecantikan murahanmu itu kau bisa bertahan lama di sisi Victor? Dia akan segera bosan padamu, dan saat itu terjadi, kau akan kembali hidup di jalanan tempat asalmu!"

Freya sudah jenuh. Ia tidak ingin membuang waktu dan merusak suasana hatinya yang tadinya bagus hanya untuk meladeni wanita frustrasi di hadapannya. Ia memutuskan untuk mengakhiri perdebatan tak berujung ini.

"Aku sudah cukup mendengarkan ocehanmu," ujar Freya dingin.

Ia berbalik menghadap meja kasir utama tempat pelayan butik berdiri dengan wajah pucat pasi menyaksikan pertengkaran dua wanita tersebut. Freya mengambil sehelai dasi sutra navy pilihan terbaiknya dan meletakkannya di atas meja marmer kasir.

"Saya ambil dasi ini," kata Freya kepada pelayan toko dengan nada tenang.

Pelayan itu langsung mengangguk cepat, memindai label harga pada dasi tersebut—sebuah angka yang cukup fantastis untuk sehelai aksesori pakaian pria. "Baik, Nona. Totalnya menjadi dua belas ratus euro. Silakan lakukan pembayaran."

Annelise, yang masih berdiri di dekat Freya dengan senyum meremehkan, melipat tangannya kembali, bersiap menertawakan saat Freya panik mencari uang atau kartu dengan saldo pas-pasan di dompetnya.

"Silakan, tunjukkan pada kami, wanita miskin dari hutan, bagaimana caramu membayar barang mewah ini," sindir Annelise dengan suara keras, sengaja ingin mempermalukan Freya di depan seluruh orang di toko.

Tanpa ragu sedikit pun, Freya merogoh tas tangan kulitnya. Ia tidak mengeluarkan dompet lusuh atau uang tunai, melainkan mengambil sebuah kartu khusus yang tersimpan aman di dalam kantong kecil bagian dalam. Sebuah kartu berwarna hitam legam dengan ukiran logam perak mengkilap yang memantulkan cahaya lampu kristal

butik: kartu eksklusif dari Thorne Private Bank.

Freya meletakkan kartu itu di atas meja mesin kasir dengan gerakan anggun.

Seketika itu juga, suasana di dalam butik mendadak sunyi senyap.

Pelayan kasir yang tadinya sigap langsung tertegun. Matanya membelalak lebar saat melihat logo lambang singa bersayap terpahat di permukaan kartu tersebut—simbol kekuasaan finansial mutlak milik keluarga Thorne.

Annelise, yang berdiri tepat di samping kasir, sempat melirik sekilas ke arah kartu yang diletakkan Freya. Detik berikutnya, warna merah kemarahan di wajah Annelise seketika lenyap, berganti dengan kepucatan pasi seolah ia baru saja melihat hantu di siang bolong.

Matanya terbelalak tak percaya. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Sebagai bagian dari lingkaran elite sosialita Amsterdam, Annelise sangat mengenal kartu itu. Itu bukanlah kartu kredit biasa. Itu adalah Black Card pribadi dengan limit tanpa batas—kartu utama milik keluarga Thorne yang biasanya hanya dipegang oleh sang kepala keluarga atau diberikan kepada seseorang yang memiliki tempat paling istimewa dan mutlak di hati pemilik kekaisaran bisnis tersebut.

Kartu itu... kartu yang bahkan selama ia bertunangan dengan Victor tidak pernah diberikan kepada siapa pun, kartu yang seharusnya menjadi simbol kekuasaan dan status sosial yang melekat pada nyonya masa depan keluarga Thorne. Dan sekarang, kartu sakti itu berada di tangan Freya—gadis simpanan dari hutan yang baru saja ia cemooh habis-habisan.

"I-itu..." bibir Annelise bergetar hebat. Ia menunjuk kartu hitam di atas meja kasir dengan jari yang gemetar. "Bagaimana mungkin... Bagaimana bisa kartu itu ada padamu?! Itu milik keluarga Thorne! Itu milikku!" teriaknya histeris, kehilangan kendali di depan umum.

Pelayan kasir menelan ludah dengan susah payah, lalu dengan tangan sedikit gemetar memasukkan kartu tersebut ke dalam mesin EDC.

Dalam hitungan detik, layar monitor menampilkan lampu hijau dengan tulisan: Transaction Approved – Thorne Holding Executive Access.

Pelayan itu membungkuk hormat kepada Freya, sikapnya berubah drastis menjadi jauh lebih rendah hati dan penuh takzim. "Terima kasih banyak, Nona Zivanka. Pembayaran telah dikonfirmasi oleh sistem Thorne Private Bank. Dasi ini resmi menjadi milik Anda."

Freya mengambil kembali kartu hitam itu dengan tenang, memasukkannya kembali ke dalam tasnya, lalu menerima kantong belanjaan berisi dasi sutra yang disodorkan pelayan dengan kedua tangan penuh hormat.

Ia kemudian menoleh ke arah Annelise yang kini berdiri mematung dengan tatapan kosong, syok luar biasa mendapati kenyataan pahit bahwa posisinya telah digantikan sepenuhnya secara mutlak.

"Kau bilang aku tidak tahu di mana aku berdiri?" bisik Freya tepat di telinga Annelise dengan nada tenang namun penuh kemenangan telak. "Sekarang kau lihat sendiri, Annelise. Aku berdiri tepat di tempat yang paling diinginkan oleh wanita sepertimu, dan aku memegang kendali penuh atas apa yang kau impikan."

Tanpa menunggu balasan atau teriakan histeris dari Annelise yang hampir ambruk karena malu dan frustrasi, Freya memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari butik dengan kepala tegak, meninggalkan sang mantan tunangan terpaku di antara reruntuhan harga dirinya sendiri di tengah butik mewah P.C. Hooftstraat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!