NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kadang Semua Tak Semulus Rencana

Di sebuah rumah yang sederhana, jauh dari kemewahan dan hiruk-pikuk kediaman besar keluarga Wijaya, suasana malam itu terasa sunyi namun penuh dengan ketegangan yang perlahan menyusup ke setiap sudut ruangan. Lampu gantung yang menyinari ruang tengah memancarkan cahaya kuning lembut, jatuh di atas permadani sederhana dan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan kecil buatan tangan, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan namun ketiganya yang duduk di sana tak merasakan ketenangan itu sedikit pun.

Rina, Rian, dan Naumi duduk berjejer di sofa kain yang sudah mulai terlihat usang namun tetap rapi dan wangi. Wajah mereka sama-sama serius, seakan beban berat yang selama ini dipikul kini terasa semakin nyata dan semakin menekan bahu masing-masing. Rina baru saja selesai bercerita, menceritakan kabar gembira sekaligus keresahan yang ia simpan sendirian selama ini. Tentang Rania yang akhirnya berani melangkah masuk ke gerbang kampus impiannya, tentang rencana pernikahan yang mulai tersusun rapi di antara kata-kata manis dan janji tulus dari Dimas, serta niat pemuda itu untuk datang ke rumah ini malam ini, bersama kedua orang tuanya, untuk menyampaikan niat secara resmi.

"Kau tahu betapa leganya hatiku, Kak" ucap Rina pelan, matanya menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tipis, seakan melihat bayangan masa depan yang perlahan terbuka di sana.

"Aku berpikir... jika Rania sudah mulai membangun dunianya sendiri, jika ia sudah memiliki mimpi yang diperjuangkan, maka ia akan lebih mudah menerima kenyataan. Bahwa Dimas bukan miliknya. Bahwa hati kami sudah saling mencintai sejak lama."

Rian mengangguk pelan, tangannya meremas lututnya, menatap adiknya dengan tatapan yang bercampur rasa bangga sekaligus cemas. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Rin. Memberi kesempatan pada Rania tanpa ia tahu siapa yang membantunya itu tindakan yang paling mulia. Tapi kau juga harus ingat... tidak semua hal berjalan persis seperti yang kita rencanakan."

"Itulah sebabnya Dimas ingin datang" sambung Rina, suaranya sedikit lebih tegas, berusaha meneguhkan hatinya sendiri.

"Ia ingin datang bersama Mama dan Papa-nya. Menyampaikan niatnya secara baik-baik. Agar tidak ada kesalahpahaman, agar semuanya jelas dan terang benderang."

Belum sempat Rina menyelesaikan kalimatnya, belum sempat ia menggambarkan bagaimana pertemuan itu nanti akan berlangsung, suara lembut namun tegas dari Naumi tiba-tiba memotong pembicaraan itu, membuat udara di ruangan itu seakan berhenti bergerak.

"Dimas tidak boleh datang ke rumah wijaya, Rina."

Kata-kata itu sederhana, namun diucapkan dengan nada yang begitu yakin dan penuh peringatan, sehingga Rina dan Rian serentak menoleh ke arah wanita yang duduk di sisi Rian itu. Tatapan mereka sama penuh tanda tanya, penuh keheranan, seakan tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar.

Naumi menatap mereka bergantian, napasnya tertahan sejenak, lalu ia menarik napas panjang seakan mengumpulkan keberanian yang tersisa untuk mengungkapkan hal yang selama ini ia pendam sendirian. Melihat keraguan yang mulai muncul di wajah mereka, ia segera melanjutkan, suaranya sedikit bergetar namun tetap tegas.

"Ada sesuatu yang tidak kalian ketahui... sesuatu yang seharusnya sudah aku sampaikan lebih awal, tapi aku takut menimbulkan kegaduhan sebelum semuanya terbukti jelas."

"Apa itu,sayang?" tanya rian, dahinya berkerut, tangannya menyentuh lengan istrinya pelan, mencari penenang sekaligus jawaban.

Naumi menatap Rina lekat-lekat, seakan ingin memastikan bahwa kata-katanya nanti tidak akan menyakiti adik itu terlalu dalam, namun kenyataan tetaplah kenyataan yang harus diucapkan.

"Laras tahu" ucap Naumi pelan namun jelas, satu per satu kata keluar dari bibirnya, menciptakan keheningan yang pekat di antara mereka.

"Laras tahu tentang kedekatan Dimas dan Rania sebelumnya."

Rina terdiam, matanya melebar perlahan, seakan otaknya butuh waktu untuk mencerna makna kalimat itu. Ia menatap Naumi, berharap melihat tawa atau tanda bahwa itu hanyalah candaan, namun wajah kakak iparnya itu begitu serius, begitu tulus dan cemas, sehingga hatinya perlahan terasa dingin.

"Hah... apa?" suara Rina terdengar bergetar, hampir tak terdengar. "Apa yang kau katakan, Nau?"

"Aku mendengarnya sendiri" Naumi menunduk sejenak, lalu kembali menatap mereka, "Beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja lewat taman belakang dia sedang bicara dengan seseorang di telpon dan tanpa sengaja aku mendengar. Ia berbicara dengan seseorang entah siapa mengatakan bahwa ia sudah mengawasi gerak-gerik Dimas dan Rania sejak beberapa waktu lalu. Bahwa ia melihat bagaimana Dimas memperlakukan Rania, bagaimana Rania menatap Dimas... dan ia sengaja membiarkan hal itu berjalan."

Rian mengerutkan kening dalam, tak percaya. "Maksudmu... Laras sengaja mengamati mereka? Mengawasi?"

"Ya" jawab Naumi mantap. "Dan bukan hanya sekadar mengamati. Ia berencana memanfaatkan perasaan itu. Katanya... jika Rania bisa mendapatkan Dimas, maka banyak hal akan berubah menguntungkan bagi rencananya."

Rina menghela napas yang terasa berat, dadanya naik turun, dan perlahan ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk namun terasa begitu dingin. Matanya menatap kosong ke arah dinding di hadapannya, pikirannya berputar cepat menyusun kembali semua kejadian yang selama ini ia anggap kebetulan atau sekadar kebaikan hati. Selama ini ia berpikir Laras masih berada dalam jangkauan pengawasannya, bahwa langkah-langkah yang diambil ibu sambungnya itu masih bisa ia kendalikan.

Namun rupanya, di saat ia sibuk menyusun rencana untuk Rania, Laras juga diam-diam bergerak dan sasaran utamanya ternyata adalah Rania sendiri. Dan semua itu tent bertujuan menghancurkan jihan ibu kandung mereka.

"Sudah sejauh apa ia bergerak? "batin Rina bertanya pada dirinya sendiri, rasa ngeri perlahan menyusup ke hatinya.

"Sudah seberapa banyak hal yang ia ketahui? Apakah ia juga tahu tentang rencana pernikahan ini? Apakah ia sudah menyiapkan sesuatu untuk menghancurkannya?"

Pikirannya kembali melayang pada Dimas. Pada senyum tulus pemuda itu, pada janji-janji yang diucapkan dengan sepenuh hati, pada keyakinan bahwa mereka akan bisa melewati segala hal bersama-sama. Dan kini, di tengah kebahagiaan yang baru saja terasa nyata, muncul bayangan gelap yang tak terduga bayangan yang diam-diam mengamati, menunggu celah untuk memanfaatkan segalanya.

Rian melihat perubahan wajah adiknya, melihat bagaimana cahaya yang tadi masih bersinar di mata rina perlahan meredup, digantikan oleh kegelisahan yang dalam. Ia tahu kabar ini meruntuhkan sebagian besar kekuatan yang selama ini Rina bangun dengan susah payah. Perlahan, Rian menggeser tempat duduknya, mendekat ke arah adiknya, lalu meletakkan tangan kanannya di atas bahu Rina yang terasa mulai menegang.

"Rin..." panggilnya lembut, suaranya penuh kasih sayang sekaligus kekuatan. "Jangan biarkan ini mematahkanmu."

Rina menoleh perlahan, menatap kakaknya, dan di balik tatapan itu terlihat betapa lelahnya hatinya, betapa berat beban yang ia pikul sendirian selama ini.

"Selalu ada saja hal lain, Kak..." suaranya bergetar, air mata mulai menggenang namun ia berusaha menahannya. "Selalu ada sesuatu yang mengancam kedamaian kita semua. Mengapa Laras tidak pernah berhenti? Mengapa ia tidak bisa membiarkan kita bahagia dengan cara kita sendiri?"

"Bukan karena kita tidak berhak bahagia, Rin," jawab Rian tegas namun lembut, menatap mata adiknya lekat-lekat.

"Tapi karena Laras memiliki rencananya sendiri rencana yang tidak peduli pada perasaan siapa pun, termasuk Rania. Ia melihat kesempatan dan ingin memanfaatkannya. Itu bukan salahmu, bukan salah Dimas, dan tentu saja bukan salah Rania."

Naumi ikut mendekat, menyentuh tangan Rina yang mengepal erat di atas pangkuannya. "Itulah sebabnya aku mengatakan Dimas tidak boleh datang sekarang, Rin. Jika Laras tahu ia akan datang ke rumah melamarmu, jika ia melihat dimas akan menikah denganmu bukan rania seperti perkiraannya... ia bisa melakukan sesuatu yang lebih buruk. Ia bisa memutarbalikkan keadaan, terutama di depan Rania."

Rina terdiam, membayangkan hal itu. Jika Rania tahu bahwa Dimas datang untuk melamarnya bukan dirinya bagaimana perasaan adiknya? Dan jika Laras masuk di tengah kebingungan itu, menabarkan benih-benih kebohongan, memanfaatkan kekecewaan Rania... ia gemetar membayangkannya. Rania yang baru saja mulai percaya pada dirinya sendiri, yang baru saja berani melangkah keluar dari kesendiriannya bisa saja hancur kembali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya.

"Jadi... apa yang harus kami lakukan?" tanya Rina pelan, kehilangan arah sejenak. "Apakah kami harus menunda semuanya? Menyembunyikan kebahagiaan kami lebih lama lagi?"

"Bukan menyembunyikan" Rian menggeleng pelan, meneguhkan suara adiknya sekaligus dirinya sendiri. "Tapi melindungi. Terutama Rania. Selama ia belum siap, selama Laras masih mengawasinya, kita harus bergerak lebih hati-hati."

Rina menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia memikirkan Dimas bagaimana ia akan memberitahunya? Bagaimana menjelaskan bahwa pertemuan yang sudah diimpikan itu harus ditunda, bukan karena keraguan di antara mereka, melainkan karena ada ancaman yang tak terlihat namun nyata?

"Kau benar, kak" ucap Rina akhirnya, suaranya kembali tenang meski beban di pundaknya terasa semakin berat. "Dimas tidak boleh datang sekarang. Setidaknya sampai kita tahu seberapa banyak Laras ketahui dan apa rencananya yang sebenarnya."

"Dan kau tidak akan melakukannya sendirian" tambah Rian tegas, meremas bahu adiknya pelan. "Kami di sini. Bersamamu. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."

Rina menatap kakak dan kakak iparnya sekaligus sahabatnya itu, rasa syukur kembali menyelinap di tengah kegelisahannya. Di saat dunia di luar sana terasa penuh jebakan dan ketidakpastian, di rumah sederhana ini, ia menemukan tempat pulang yang sejati tempat di mana ia dicintai, didukung, dan dijaga tanpa syarat.

"Terima kasih" ucapnya lirih, senyum tipis terukir di bibirnya meski matanya masih menyimpan bayangan kekhawatiran. "Aku akan bicara pada Dimas malam ini. Aku akan menjelaskan semuanya padanya."

"Dan beritahu juga dia untuk berhati-hati" pesan Naumi. "Laras mungkin mengawasi pergerakannya juga. Jangan sampai ada kesempatan yang terlewat dan dimanfaatkannya."

Rina mengangguk pelan, lalu berdiri perlahan. Ia berjalan menuju pintu, menatap ke luar ke arah kegelapan malam yang menyelimuti jalanan sepi. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip, terlihat begitu damai namun di balik kedamaian itu, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Ia meraih ponselnya, menatap nama Dimas yang terpampang di layar, lalu menarik napas dalam sebelum menekan tombol panggil. Di ujung telepon, suara yang selama ini menjadi penenang hatinya terdengar begitu hangat dan penuh harap namun kali ini, kata-kata yang harus ia ucapkan terasa begitu berat.

Dan di tempat lain, di bawah langit malam yang sama, Laras berdiri di balik jendela kamarnya yang gelap, menatap ke arah kejauhan dengan senyum tipis yang tak bisa diartikan. Ia belum mengetahui segalanya, belum mengetahui bahwa rencana dan pergerakannya sudah tercium namun ia tahu satu hal, langkah-langkah kecil yang ia ambil perlahan mulai mengarah ke tujuan yang diinginkannya. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Rina sekalipun, menghalanginya.

Malam itu, keheningan menyelimuti dua tempat yang berbeda satu dipenuhi kasih sayang dan tekad untuk melindungi, satu lagi dipenuhi rencana dan keinginan untuk menguasai. Dan di antara keduanya, tak sadar, Rania berdiri di persimpangan jalan tak tahu bahwa langkah kakinya ke depan sedang diperjuangkan oleh mereka yang menyayanginya, sekaligus dimanfaatkan oleh mereka yang menginginkan keuntungan sendiri.

Perjalanan panjang belum berakhir. Justru sebaliknya babak yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung… ✨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!