Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Dentuman keras yang menggema di luar sana ternyata bukanlah runtuhnya langit-langit toko, melainkan hantaman angin badai salju yang merobohkan papan plang kayu di sisi bangunan, menciptakan kejut sesaat yang langsung terabaikan begitu pertempuran di dalam ruangan kembali berlanjut dengan intensitas yang mematikan.
Di tengah kepulan debu dan bau amis darah yang pekat, gerakan Damian Valerius bagaikan bayangan kematian yang tak terhentikan. Pedang panjang di tangannya berkelebat cepat, memotong arah serangan musuh dengan presisi yang mengerikan.
Satu per satu, para pembunuh bertopeng hitam itu tumbang di bawah sabetan maut sang Jenderal. Dalam hitungan menit yang terasa begitu panjang, tiga puluh lima orang penjahat bayaran telah terkapar tak bernyawa di atas lantai kayu toko roti yang kini basah oleh genangan darah.
Kini, di dalam ruangan yang sempit itu, hanya tersisa dua orang pembunuh terakhir—termasuk pemimpin mereka yang mengenakan topeng bersulam perak.
Damian berdiri tegak, meski napasnya memburu dan tersengal-senggal. Dadanya naik turun dengan cepat, menghirup udara dingin yang beraroma logam dan salju. Keringat bercampur darah mengalir deras di pelipisnya, mengaburkan pandangannya sesaat. Meskipun fisiknya dilanda kelelahan yang teramat sangat setelah membantai puluhan orang tanpa henti, secara luar biasa tidak ada luka goresan yang berarti pada tubuhnya hingga titik ini—sebuah bukti mengapa ia ditakuti sebagai panglima perang terkuat di seluruh kekaisaran.
Melihat rekan-rekannya tewas dalam sekejap, pemimpin pembunuh bertopeng perak itu mendengus ngeri. Namun, keputusasaan kerap melahirkan kenekatan yang berbahaya. Sambil meraung marah, pemimpin itu melompat maju, mengayunkan pedangnya dengan liar ke arah leher Damian.
Damian dengan mudah menangkis tebasan tersebut menggunakan pedang utamanya. Namun, di saat yang bersamaan, pembunuh terakhir yang tersisa dari sudut kiri melancarkan serangan kejutan, menerjang ke hadapan Damian dengan belati pendek.
Karena sedikit lengah akibat kelelahan yang menghimpit paru-parunya, Damian terlambat sepersekian detik untuk menepis serangan tersebut.
Jleb!
Bilah belati itu menghujam langsung ke perut Damian.
Belum sempat Damian menarik mundur tubuhnya, sang pemimpin pembunuh memanfaatkan kesempatan itu untuk merangsek lebih dekat dan menusukkan pisaunya sekali lagi, lalu mencabut dan menghujamkannya kembali ke titik yang sama secara membabi buta.
Jleb! Jleb!
Tusukan bertubi-tubi itu mendarat telak di perut Damian, merobek kain kemeja militer dan menembus dagingnya.
Di sudut ruangan tempatnya bersembunyi, Aurelia memekik histeris. Suaranya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi isak tangis ngeri saat melihat darah segar menyembur keluar dari perut pria yang berdiri di depannya. Matanya melebar sempurna, dipenuhi oleh teror dan kepedihan yang luar biasa.
Namun, di luar dugaan siapa pun—bahkan di luar dugaan sang pemimpin pembunuh yang mengira serangannya akan merobohkan sang Jenderal seketika—Damian sama sekali tidak tumbang.
Pria itu bahkan tidak mundur barang satu langkah pun. Manik mata abu-abu badainya memancarkan kilatan amarah yang jauh lebih mengerikan daripada neraka itu sendiri.
Bagi Damian, rasa sakit fisik di perutnya ini tidak ada apa-apanya. Sejak usianya masih belasan tahun, tumbuh di tengah perebutan kekuasaan keluarga bangsawan yang kejam, bertahan hidup di garis terdepan medan pertempuran utara yang penuh dengan racun dan tikaman pengkhianatan, ia telah terbiasa menerima luka yang jauh lebih parah, lebih dalam, dan lebih menyiksa daripada ini. Rasa sakit di perutnya saat ini hanyalah sisa-sisa kecil dari masa lalunya yang kelam.
Dengan rahang yang terkatup rapat menahan amarah, Damian mengabaikan darah yang mengalir deras dari perutnya. Tangan kirinya bergerak secepat kilat mencengkeram leher pembunuh yang menusuknya, lalu dengan satu sentakan brutal menggunakan tenaga penuh, ia mematahkan leher pria itu tanpa suara.
Melihat anak buahnya tewas seketika dalam cengkeraman tangan kosong sang Jenderal, pemimpin pembunuh bertopeng perak itu kehilangan keberaniannya. Ia berbalik dan mencoba melarikan diri menerobos pintu belakang yang hancur.
Namun Damian tidak memberinya kesempatan. Dengan sisa tenaga terakhirnya, Damian melemparkan pedang di tangan kanannya bagaikan tombak.
Blesh!
Pedang itu melesat membelah udara dan menembus punggung sang pemimpin pembunuh, membuatnya tersungkur di atas tumpukan salju di luar pintu, tewas seketika.
Keheningan kembali mencengkeram ruangan toko roti. Yang terdengar hanyalah suara badai salju yang melolong kencang dan deru napas Damian yang memburu berat.
Damian perlahan membalikkan tubuhnya. Kakinya sedikit limbung, dan tangan kanannya terulur untuk menopang tubuhnya pada rak kayu, tepat di hadapan tempat Aurelia meringkuk ketakutan. Darah terus merembes keluar dari luka di perutnya, menetes ke lantai kayu dan membentuk genangan merah yang kontras dengan warna putih salju di luar.
Aurelia terpaku di tempatnya.
Di dalam dadanya, benteng pertahanan terakhir yang ia bangun dengan susah payah—tembok kemarahan, kebencian, dan trauma yang menutup rapat hatinya—mulai retak berkeping-keping.
Ia melihat semuanya. Ia melihat bagaimana pria ini, yang di masa lalu di dalam novel digambarkan sebagai tiran kejam tanpa hati, kini berdiri di hadapannya dalam keadaan bersimbah darah, rela mempertaruhkan nyawanya sendiri hingga titik darah penghabisan semata-mata untuk melindunginya. Damian tidak meminta apa pun sebagai balasan. Ia tidak menuntut kepatuhan, tidak menuntut cinta, bahkan tidak meminta pengampunan; ia hanya ingin memastikan bahwa wanita di hadapannya tetap bernapas aman di dunia yang kejam ini.
Gelombang emosi yang begitu dahsyat menghantam jiwa Aurelia, menghapuskan sisa-sisa keraguan yang selama ini menyiksanya.
Tanpa memedulikan rasa takut yang sempat melumpuhkannya, tanpa memedulikan bahaya apa pun di luar sana, pertahanan Aurelia runtuh sepenuhnya. Air mata hangat tumpah membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini, Aurelia bergerak atas kemauannya sendiri untuk mendekati pria itu.
Ia merangkak maju keluar dari balik rak penyimpanan, lalu berlutut di hadapan Damian yang hampir kehilangan keseimbangan.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Aurelia merobek sedikit bagian kain bawah gaunnya, lalu menekan kuat-kuat kain bersih tersebut pada luka tikaman di perut Damian, mencoba menghentikan aliran darah yang terus merembes keluar dengan sentuhan tangannya sendiri.
Damian terkesiap pelan, menundukkan kepalanya untuk menatap wanita yang kini sedang berlutut di hadapannya, merawat lukanya dengan isak tangis yang tertahan.
Sebelum Damian sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk menenangkan istrinya, suara derap kaki kuda yang berlari kencang menerobos badai salju terdengar berhenti tepat di depan toko roti yang hancur, disusul oleh suara ketukan pedang pada sisa kusen pintu dan teriakan asing yang memanggil nama sang Jenderal—
mampir diceritaku juga ya😊