NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Tentang Nota

Pagi baru saja bergulir di lantai empat gedung PT Aetheris Land & Development. Dengung pendingin ruangan dan aroma kopi hangat belum sepenuhnya mampu mengusir sisa kantuk para karyawan. Namun bagi Naya, pagi itu langsung berubah menjadi mimpi buruk yang dingin.

​Naya berdiri mematung di samping mejanya. Jemarinya yang gemetar berkali-kali membongkar tumpukan folder, mengacak-acak map plastik, hingga meraba kolong meja. Wajahnya pucat pasi, kacamata minusnya merosot sampai ke ujung hidung.

​Satu lembar nota tagihan supplier utama untuk proyek BSD, nota pembayaran bernilai puluhan juta rupiah itu tidak ada, alias hilang.

​"Nay! Mana berkas laporan tagihan BSD yang semalam?" ​Suara nyaring Lady memotong kesibukan pagi. Wanita itu berjalan mendekat dengan melipat kedua tangan di dada, diapit Marina yang memegang cangkir kopi dengan senyum tipisnya.

​Naya menelan ludah dengan susah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan. "K–Kak Lady... Maaf, aku... aku lagi cari nota fisiknya yang asli. Semalam padahal udah lengkap, tapi pas aku hitung ulang pagi ini, ada satu nota tagihan utama yang enggak ada..."

​"Lho! Kok bisa hilang?!" pekik Lady, matanya membelalak. "Kamu tahu enggak, nota itu mau distempel dan disetujui keuangan jam sepuluh nanti! Kalau sampai hilang, supplier enggak mau cairkan bahan bangunan minggu ini, Nay!"

​Marina menyahut licik, "Tuh kan, Kak Lady... Dari kemarin aku udah firasat. Naya ini kalau kerja ketikannya emang cepat, tapi ceroboh banget. Kalau nota penting begini hilang, yang kena omel manajemen kan kita juga."

​"Maaf, Kak... Saya janji cari lagi, semalam saya selesai ketik jam sebelas malam—"

​"Jangan bawa-bawa jam kerja!" potong Lady keras, memancing perhatian karyawan divisi lain di sekitarnya. "Mau kamu pulang jam satu malam pun, kalau kerjanya teledor dan bikin rugi perusahaan, ya tetap salah! Nggak becus banget sih jadi admin! Dipikir digaji cuma buat ngumpulin sampah kertas begini apa?!"

​Makian Lady semakin menjadi-jadi. "Kamu tuh ya, masih muda, baru masuk, tapi kerjanya asal-asalan! Kalau nggak niat kerja, mending berhenti sekalian daripada bikin kacau proyek orang!"

​Naya menunduk dalam-dalam. Air matanya menumpuk di pelupuk mata, merembas melintasi pipi dan menghanyutkan rasa percaya dirinya. Rasa panik, lelah, dan rasa malu yang luar biasa bercampur menjadi satu di dadanya saat seluruh pasang mata di divisi itu tertuju padanya.

​"Woy, santai kali, Kak. Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak di pasar," sebuah suara santai menyela dari arah pintu ruangan administrasi.

​Dion, salah satu tim Engineering, melangkah mendekati kerumunan itu sambil tersenyum tipis. Pria itu menyandarkan bahunya di bilik kerja Naya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari saku kemejanya.

​"Ini bukan nota yang dicari?" tanya Dion sambil memutar-mutar kertas itu di jarinya.

​Lady menaikkan alisnya, sementara Naya mendongak kaget dengan mata sembap.

"Dapat dari mana kamu, Yon?" tanya Lady curiga.

​"Nih," Dion meletakkan kertas itu tepat di atas meja Naya. "Dititipin orang divisi gue tadi pas di depan. Katanya semalam jatuh di depan lift pas kamu buru-buru pulang. Dia yang nemuin, tapi karena langsung ada meeting pagi ini, jadi nitip ke gue."

​Seketika Lady dan Marina membisu. Marina berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara Lady hanya bisa memutar bola matanya sebelum mendengus keras.

​"Lain kali teliti! Beruntung ditemuin orang Engineering, kalau dibuang CS gimana?!" cetus Lady lalu melengos pergi begitu saja meninggalkan meja Naya, diikuti Marina yang mengekor cepat.

​Naya memandangi lembaran nota itu dengan dada yang masih bergemuruh. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kertas yang rapi tersebut, mengusap pelan sisa pudar lipatannya.

​"Kak, tolong sampaikan terima kasih saya ke dia, ya..." kata Naya pelan sambil memeluk kertas nota itu, menyunggingkan senyumnya yang lega.

​"Aman," sahut Dion santai, lalu memperhatikannya sejenak. "Kamu anak baru, ya?"

​Naya menganggukkan kepala lambat. "Iya, Kak."

​"Berapa lama kalau boleh tahu?"

​"Baru dua bulan, Kak..."

​Dion manggut-manggut penuh simpati. "Kamu kalau merasa nggak nyaman sama perlakuan orang-orang kayak gitu, bilang aja ke atasan atau HRD, Nay. Jangan dipendam sendiri."

​Naya meringis pelan, meremas jemarinya sendiri. "Eh... aku nggak apa-apa kok, Kak. Semua tempat kerja pasti ada tekanannya kok, hehe. Emang aku nya aja yang teledor."

​Dion menggeleng samar melihat Naya yang terlalu sabar. "Oke deh, kalo gitu good luck, ya."

"Sekali lagi terima kasih ya, Kak. Tapi... kalau boleh tahu, siapa nama orang yang nemuin nota ini?" tanya Naya penasaran, membayangkan sosok pria ber-kemeja putih dengan lengan tergulung yang semalam ia tabrak.

​Dion menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tersenyum kikuk. "Eumm... gimana ya. Anaknya agak ajaib sih, dia mewanti-wanti banget biar gue nggak usah sebut nama dia ke kamu atau ke siapapun. Katanya 'cuma balikin barang yang tercecer, nggak usah berlebihan'."

​Naya terpaku sejenak mendengarnya. Jawaban yang terkesan dingin namun misterius itu justru semakin membuat gambaran sosok sang Lead Engineer membayang jelas di kepalanya.

***

Tekanan dari Lady dan Marina tidak lantas usai hanya karena nota itu telah kembali. Sepanjang siang, tumpukan berkas sengaja dilimpahkan ke meja Naya dengan embel-embel sindiran yang menusuk.

​"Naya, ini print ulang semua dokumen penawaran BSD. Jangan sampai ada lembar yang tercecer lagi ya, cape juga kalau harus nanggung teledornya kamu terus," celetuk Marina sambil mengempaskan map tebal ke hadapan Naya. Lady di sebelahnya hanya terkekeh sinis sambil merapikan riasan bibirnya di cermin kecil.

Naya hanya bisa mengangguk pelan, menelan bulat-bulat setiap cemoohan sembari terus membolak-balik kertas dengan jemari yang masih tremor, jujur saja ia masih panik sebab nota sebelumnya.

​Di balik sekat kubikel tak jauh dari sana, Gea memperhatikan semuanya. Rekan kerja yang dikenal paling irit bicara itu memilih diam saat konflik meledak tadi pagi. Namun, begitu Lady dan Marina beranjak keluar ruangan untuk makan siang, Gea menggeser kursi beroda nya mendekati meja Naya.

​Gea mengamati mata Naya yang masih sembab sebelum mengetuk pelan permukaan meja. "Kamu tahu kan, mereka makin ngelunjak karena kamu selalu minta maaf bahkan untuk hal yang bukan murni kesalahanmu?"

​Naya menghentikan ketikannya, menatap Gea terkejut. "Eh... tapi Kak, semalam aku memang teledor—"

​"Menjatuhkan nota itu bisa dibilang iya teledor, juga bisa dibilang musibah. Tapi, cara mereka mempermalukan kamu di depan umum itu intimidasi," potong Gea dingin namun tegas.

"Jangan cuma diam dan senyum pasrah kalau diperlakukan gitu, Nay. Di kantor ini, sekali kamu kelihatan lemah dan nurut diperlakukan kayak keset, orang-orang modelan Lady dan Marina bakal terus injak-injak kamu. Stand your ground, kasih batas."

Gea lalu memutar kursi rodanya dan kembali ke mejanya tanpa menunggu balasan, meninggalkan Naya yang terpaku meresapi setiap kata yang meresap dalam ke dadanya. Ini adalah kali pertama Gea bicara sepanjang itu padanya.

​Sementara di sudut lain, Bian dan Raka hanya melirik sekilas lalu kembali menatap layar monitor masing-masing. Bagi mereka, dunia kerja akan selalu aman dan baik-baik saja selagi tidak ikut campur dalam urusan orang lain.

Seperti kejadian yang sudah-sudah, sulit mengisi posisi Naya, sebab beberapa orang seringkali resign sebab tidak tahan dengan sikap manusia modelan Lady dan Marina yang semena-mena.

Raka berpikir, bahwa kemungkinan Naya hanya akan menghabiskan sisa kontraknya bulan depan. Karena orang-orang sebelum Naya begitu.

Sementara Bian, jujur saja dia sering membela Naya. Namun, karena Naya nya juga yang tidak membela diri, rasanya percuma.

****

Area pantry kantor di jam makan siang terasa sedikit lebih tenang. Aroma mie instan cup dan nasi kotak bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru diseduh.

​Dion menyandar di kursi kayu bar sambil mengunyah bekal nasinya yang baru ia panaskan di microwave, sementara di seberangnya, Ibra duduk santai. Pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang bagian lengannya sudah tergulung rapi hingga siku itu tengah mengaduk kopi panasnya pelan. Wajahnya tenang, terkesan cuek, namun matanya yang tajam menatap cangkir di tangannya.

​"Udah lo kasih kertasnya?" tanya Ibra datar, membuka percakapan tanpa mengalihkan pandangannya dari pusaran kopi.

​Dion terkekeh pelan sambil menelan makanannya. "Udah. Dan sesuai dugaan gue, pas gue sampai di sana, si anak baru lagi dihabisin sama si Lady bird."

​Ibra menghentikan sendoknya sejenak. Dahi pria itu berkerut tipis, tapi gesturnya tetap santai. "Dimarahin?"

​"Bukan dimarahin lagi, Ib. Diteriakin di depan temen-temennya," sahut Dion. "Disindir-sindir teledor lah, dibilang enggak becus, sampai disuruh berhenti kerja sekalian kalau enggak niat. Padahal mah tuh anak kerjanya sampai malam, kan?"

​Ibra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyesap kopinya perlahan. "Oh."

​"Biasa lah, senior-senior itu kan emang suka nyari bahan buat marah-marah," Dion menggeleng-gelengkan kepala. "Pas gue balikin notanya dan bilang itu dititipin anak Engineering, langsung kicep tuh dua orang. Lo harusnya lihat muka si Lady bird itu tadi, langsung melengos pergi gitu aja."

Lady Gracia, siapa yang tidak mengenal sosok itu, wanita dengan rambut sebahu dan songong itu, lain lagi perilakunya yang bisa dibilang tidak menyenangkan, bossy, dan super toxic coworker.

​Ibra diam mendengarkan. Ia teringat kejadian semalam—saat seorang gadis berkacamata minus memeluk map tebal, berjalan terburu-buru hingga tak sengaja menabrak dadanya di depan lift, lalu pergi begitu saja tanpa sadar ada selembar kertas yang menghilang.

​"Terus, anaknya gimana?" tanya Ibra pendek, nadanya terdengar ketus namun ada rasa ingin tahu yang tersirat tipis.

​"Si Naya?" Dion tersenyum samar. "Ya menangis lah, matanya sembap gitu. Tapi anehnya, pas gue suruh ngadu ke atasan atau HRD, dia malah ngebela diri sendiri. Katanya 'enggak apa-apa, emang aku yang teledor'. Polos banget, jir."

​Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Lembek. Di divisi kayak gitu, polos malah bikin gampang dimakan."

​"Nah itu dia!" Dion menunjuk Ibra dengan sendoknya. "Beda banget sama lo. Oiya, dia sempat nanya lho, siapa yang nemuin notanya. Dia pengin bilang terima kasih langsung."

​Ibra langsung menatap Dion tajam. "Lo enggak sebut nama gue, kan?"

​"Kagak, tenang aja. Gue bilang sesuai pesan lu, 'Cuma balikin barang tercecer, enggak usah berlebihan'" Dion menirukan nada bicara Ibra dengan gaya dramatis, membuat Ibra menatapnya malas.

​"Bagus," cetus Ibra dingin lalu kembali menyesap kopinya.

Ya, Ibra paling tidak suka berurusan dengan orang lain yang bukan termasuk urusannya. Dia juga lebih suka tidak diganggu, jarang berkenalan dengan orang lain. Dan keseringan tahu kejadian aneh-aneh dari Dion, teman karibnya sejak mereka kuliah.

​"Tapi kasihan juga sih si Naya-Naya itu," gumam Dion lagi. "Anak baru, rajin, tapi dapet lingkungan kerjanya modelan begitu. Tadi aja gue lihat berkas penawaran BSD dilimpahin semua ke dia. Kayak biasa, si Ladybird itu pasti kayak gitu, dia santai orang lain yang tertekan."

​Ibra tidak membalas lagi. Pria berusia 27 tahun itu menatap lurus ke luar jendela pantry yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta. Meski wajahnya tampak tak peduli, dalam hatinya Ibra empati, Naya, si anak baru yang terlalu sabar untuk dunia kerja yang sekeras ini.

Seharusnya, ketika sudah terpilih masuk ke dunia yang seperti ini, menjadi tidak peduli dan bodoamat itu penting. Bagi siapa pun yang ingin bertahan hidup di belantara korporat tanpa harus kehilangan akal sehat, bersikap cuek bukan lagi pilihan, tapi itu adalah strategi pertahanan diri.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!