NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13. Respect

Suasana minimarket sore itu cukup sibuk. Acha sedang fokus menatap layar monitor komputer kasir, jemarinya lincah mengetik untuk memperbarui data stok barang yang baru masuk.

Bunyi beep dari pemindai barcode sesekali terdengar, namun perhatian Acha sepenuhnya terkunci kepada deretan angka dan data di depannya.

Tiba-tiba, seorang gadis remaja dengan seragam kerja yang masih dikenakannya berjalan masuk dengan langkah ceria. Itu adalah Sonia, adik dari Suci.

"Hay Acha!" panggil Sonia sambil meletakkan beberapa bungkus camilan dan minuman di atas meja kasir.

Acha mendongak sebentar, lalu tersenyum tipis. "Eh, Teh Sonia. Tunggu sebentar ya, aku lagi update data barang di komputer ini. Teteh ke kasir sebelah aja ya, biar cepet di layanin sama Vika," ujar Acha sambil menunjuk meja kasir satunya yang sedang dijaga Vika.

Sonia tidak langsung beranjak. Gadis itu justru menyandarkan sikunya di atas meja kasir, matanya berbinar penuh rahasia.

"Duh, Acha jangan sibuk terus dong! Ada kabar penting nih."

Acha mengerutkan kening, jemarinya berhenti mengetik. "Kabar penting apa teh?"

"Ini soal A Alfian, Cha, udah pulang dari Jakarta! Tadi pagi sampai rumahnya. Terus nih ya, nanti sore ada rencana acara munggahan bareng, dia ngajakin kamu buat ikut gak Cha."

Mata Acha membulat sempurna. Tangannya yang tadi memegang mouse mendadak kaku. "A Alfian? Pulang?"

"Iya! Masa kamu nggak tahu? Dia bilang katanya baru aja sampai tadi malam," celetuk Sonia enteng.

"Gak teh, justru aku baru tahu sekarang dari teteh" Ucap Acha kebingungan.

"Masa sih, kamu belum liat pesannya kali. Coba cek aja sekarang" Tanya Sonia penasaran.

Kepala Acha terasa berdengung. Dia merogoh ponsel di saku seragamnya dengan cepat, memeriksa notifikasi pesan dan panggilan masuk. Kosong. Sama sekali tidak ada pesan dari Alfian.

"Nggak ada pesan apa-apa, Teh. Aa bahkan nggak bilang kalau dia mau pulang," jawab Acha, suaranya terdengar sedikit bingung sekaligus kaget.

Sonia mengernyit, ikut mengeluarkan ponselnya. "Masa sih? Kamu gak di ajak ke acara munggahan nya keluarga Umi Nani Cha. Apa mungkin belum sempet ngabarin kali atau sinyalnya jelek ya? Tapi yang jelas, mending kamu tanya langsung aja deh."

Acha terdiam sejenak, mematung di balik meja kasir. Kabar kepulangan Alfian yang tiba-tiba—ditambah dengan ajakan munggahan yang sama sekali tidak dia ketahui—membuat perasaan Acha campur aduk.

Di satu sisi ada rasa penasaran, namun di sisi lain, ada rasa heran mengapa kakaknya itu tidak menghubunginya langsung.

"Ya sudah, nanti aku coba cek lagi ponselnya. Makasih ya infonya, yah teh," ucap Acha mencoba bersikap tenang, meski pikirannya kini telah buyar dari data barang di layar komputer.

Begitu Sonia selesai membayar belanjaannya dan melangkah keluar minimarket, Acha langsung meninggalkan kursi kasirnya.

Dia menyerahkan tugas pembaruan data sementara kepada Vika, lalu bergegas menuju ruang istirahat karyawan.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Acha segera mendudukkan diri di kursi plastik, mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan membuka aplikasi perpesanan dengan jemari yang sedikit gemetar.

Matanya memindai daftar obrolan satu per satu. Dia menggulir ke atas, memeriksa kontak A Alfian, mencari celah kalau-kalau pesannya memang terlewat atau tenggelam.

Nihil. Pesan terakhir dari Alfian tertulis sudah berminggu-minggu lalu sebelum pria itu berangkat merantau ke Jakarta. Tidak ada satupun pesan masuk tadi malam ataupun hari ini.

"Kenapa Aa nggak ngabarin langsung sama aku, malah lewat Teh Sonia coba?" gumam Acha pelan, ada rasa kesal sekaligus penasaran yang bercampur aduk di dadanya.

Hubungannya dengan Alfian kakaknya sendiri memang memiliki sejarah tersendiri— apalagi Acha tidak terlalu dekat dengan Alfian sebagai seorang saudara kandung karena sebuah kedekatan yang sempat terhenti ketika Alfian memutuskan untuk pergi ke ibu kota.

Namun, mendengar kabar kepulangannya yang mendadak tanpa ada kabar langsung, rasanya cukup mengusik ketenangan Acha, banyak pertanyaan pertanyaan yang terlintas di kepalanya.

Selesai jam operasional kasir yang padat, Acha segera bergegas menuju Warteg Ibu Susi yang terletak tak jauh dari minimarket.

Seperti biasa, warteg ini adalah tujuan utama Acha dan rekan kerjanya, Tasya, saat perut sudah mulai keroncongan di jam makan siang.

Begitu mereka melangkah masuk, aroma masakan rumahan yang sedap langsung menyambut mereka.

Acha dan Tasya segera mengantre di depan etalase kaca yang penuh dengan berbagai macam lauk pauk menggoda—mulai dari orek tempe yang manis gurih, sayur lodeh yang segar, hingga ayam goreng lengkuas yang jadi primadona di warteg ini.

"Teh, kayaknya aku mau ambil dua potong ayam deh, soalnya laper banget tahu," bisik Tasya sambil menunjuk ayam goreng di etalase.

Acha terkekeh, lalu menoleh ke arah Kasih, anak Ibu Susi yang sedang sibuk melayani pelanggan di balik etalase.

Acha dan Kasih memang sudah sangat akrab hubungan mereka sudah lebih dari sekadar penjual dan pembeli langganan.

"Eh, teh Acha! Tumben baru datang jam segini? Tadi mau aku sisihkan ati ampela nya kesukaan teteh, tapi keburu diambil sama bapak-bapak proyek," sapa Kasih dengan senyum lebar yang membuat matanya menyipit.

"Yah, telat deh aku! Padahal lagi pengen banget itu," balas Acha sambil tertawa.

"Kasih, kayak biasa ya, nasinya setengah, orek tempenya dibanyakin, plus tumis kangkung. Jangan pelit-pelit ya porsinya!"

"Siap, Bos! Buat kamu mah, kangkungnya aku kasih bonus se-centong," sahut Kasih bercanda sambil dengan cekatan menyendok kan pesanan Acha ke atas piring.

Setelah mendapatkan piring masing-masing, Acha dan Tasya mencari tempat duduk di sudut warteg yang agak tenang.

Sambil mulai menyantap hidangan, suasana warteg yang riuh dengan suara denting sendok dan obrolan para pelanggan terasa begitu nyaman bagi Acha.

Baginya, makan siang di warteg Ibu Susi bukan sekadar soal mengisi perut dengan harga yang ramah di kantong, tapi juga tentang kehangatan obrolan dengan Kasih yang selalu sukses mencairkan penat setelah seharian bekerja di depan komputer kasir.

Sambil menikmati suapan pertama nasi hangat dan tumis kangkung yang renyah, Acha menghela napas lega. Rasa lelah setelah seharian berkutat dengan layar komputer kasir seketika menguap begitu saja.

"Enak banget emang masakan Ibu Susi, ya, teh. Udah murah, rasanya rumahan banget," puji Tasya di sela-sela suapannya, menikmati ayam goreng bumbu kuning yang ada di piringnya.

Acha mengangguk setuju, mengunyah makanannya dengan lahap. Tak lama kemudian, Kasih—yang sudah senggang dari urusan melayani pembeli—menghampiri meja mereka sambil membawa teko berisi es teh manis.

"Nih, bonus es teh manis dari dapur khusus buat pelanggan teladan," sapa Kasih ramah sambil menuangkan minuman ke gelas Acha dan Tasya.

"Wah, terima kasih, Ibu Pemilik Warteg!" balas Tasya antusias.

Kasih menarik kursi plastik di sebelah Acha dan ikut duduk. Matanya yang jeli langsung melirik gerak-gerik Acha, menangkap rona wajah sahabatnya itu yang tampak lebih ceria akhir-akhir ini.

"Gimana, teh? Seneng banget kayaknya akhir-akhir ini. Cerita dong, ada perkembangan apa nih sama si mas-mas yang kemarin sempat heboh lewat mangkuk bubur?" goda Kasih dengan senyum penuh selidik, sementara Tasya yang baru tahu cerita itu langsung menatap Acha penasaran.

Pipi Acha seketika memerah. Dia hampir saja tersedak es teh manisnya jika tidak buru-buru menelan minumannya.

"Apaan sih, Kasih! Suka banget mancing-mancing orang nih yah," elak Acha sambil tersipu malu, meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum lebar.

Di tengah riuhnya suara piring dan obrolan pelanggan lain di warteg Ibu Susi, gelak tawa ketiga gadis itu pecah, membuat siang itu terasa begitu hangat dan menyenangkan bagi Acha.

Malam berganti dengan cepat. Selepas jam kerja dan kunjungan singkat ke warteg tadi siang, Acha memutuskan untuk menerima ajakan Amina menghabiskan malam minggu di pasar malam lokal yang baru saja buka di lapangan dekat kecamatan.

Suasana malam itu sangat meriah deretan lampu warna-warni berkelap-kelip di atas langit malam, berpadu dengan aroma harum gulali, wangi jagung bakar, serta alunan musik dangdut koplo yang samar-samar mengalun dari panggung hiburan rakyat.

Acha berjalan di sisi kanan, menikmati keramaian sambil memegang segelas es teh plastik di tangannya.

Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya dan membuat Acha ingin tertawa sepanjang jalan—interaksi antara Amina dan sang pacar, Ari, yang berjalan tepat di sebelah kirinya.

"Astaga, baru sadar kalau mereka sebegitu canggungnya kalau lagi jalan berdua," batin Acha geli.

Padahal, kalau Acha sedang mengobrol dengan Amina di minimarket atau saat jam istirahat kerja, Amina dikenal sebagai gadis yang cukup bawel, cerewet, dan hobi menceritakan apa saja tanpa henti.

Tapi begitu ada Ari di dekatnya, sifat banyak ngomong itu mendadak lenyap tanpa sisa. Amina berubah menjadi sosok yang pendiam, jalannya kaku, dan hanya tersenyum malu-malu setiap kali Ari melirik ke arahnya.

Sebaliknya, Ari yang posturnya sedikit lebih tinggi juga tampak salah tingkah. Pria itu sibuk memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya, sesekali berdehem kecil, dan tampak kebingungan harus membuka percakapan apa di tengah bisingnya suasana pasar malam.

"Amina, A Ari... kalian ini pacaran atau lagi ikut tur pramuka sih? Jarak jalannya kejauhan banget, tuh!" celetuk Acha sengaja menggoda sambil menunjuk celah kosong di antara kedua temannya.

Amina sontak tersentak kaget. Pipi gadis itu langsung merona merah di bawah temaram lampu lampion pasar malam.

"Apaan sih, Cha! Jangan aneh-aneh deh," protes Amina dengan suara pelan, sementara Ari hanya bisa nyengir lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Melihat tingkah kikuk pasangan di sampingnya itu, gelak tawa Acha pecah. Di tengah hiruk-pikuk keramaian pasar malam.

Acha justru merasa gemas sendiri melihat sisi lain dari sahabatnya yang biasanya galak dan bawel itu ternyata bisa begitu salah tingkah di depan kekasih hatinya.

Tawa Acha yang renyah berhasil memecah kecanggungan di antara pasangan tersebut. Ari, yang tadinya sibuk memasukkan tangan ke saku jaket, akhirnya menghela napas pasrah sambil tersenyum lebar.

"Ya ampun, Cha, jangan di komporin terus. Kasian tuh mukanya Amina udah merah kayak kepiting rebus," bela Ari setengah berseloroh, melirik sekilas ke arah Amina yang kini mencubit pelan lengan sang pacar karena malu.

Amina mendengus pura-pura kesal, meski rona merah di pipinya belum juga surut. "Ih, Aa mah malah ikutan! Udah ah, jangan didengerin, Cha. Mending kita cari makan yang lain aja. Katanya kamu pengen cobain taiwan street snacks yang baru buka di dekat area bianglala?" alih Amina cepat, berusaha mengalihkan perhatian dari ledekan Acha.

"Nah, ide bagus tuh! Aku pengen banget cicipi yang rasa keju pedas," balas Acha antusias.

Keempatnya lantas melanjutkan langkah menyusuri lorong pasar malam yang dipenuhi lautan manusia.

Suasana semakin malam terasa semakin semarak suara teriakan penjual permainan lempar gelang, deru mesin kora-kora, hingga aroma gurih makanan berpadu menjadi satu.

Seiring berjalannya waktu, kecanggungan di antara Amina dan Ari perlahan mulai mencair.

Ari yang tadinya pendiam mulai berani membawakan tas belanjaan kecil milik Amina, sementara Amina perlahan kembali mengeluarkan sedikit sisi cerewetnya saat mereka mengantre di depan gerobak jajanan.

Acha yang berjalan sedikit di belakang memandangi kedua sahabatnya itu dengan senyuman hangat. Mengamati interaksi mereka yang manis di balik rasa canggung itu, ingatan Acha tanpa sadar kembali melayang kepada Nathan.

Ada rasa penasaran yang menggelitik di benaknya—kira-kira, kalau Acha dan Nathan yang jalan berdua ke tempat seramai ini, apakah mereka juga akan salah tingkah seperti Amina dan Ari, atau justru malah asyik berdebat soal hal-hal konyol?

Lamunan Acha buyut ketika Ari tiba-tiba berbalik badan dan menyodorkan satu tusuk jajanan ayam krispi berbalut bumbu kelezatan khas Taiwan yang baru saja matang.

"Nih, teh Acha, pesanan teteh. Awas masih panas banget," kata Riko sambil tersenyum ramah.

"Makasih ya, Ko! Duh, pas banget lagi laper," balas Acha antusias.

Acha menerima tusukan sate ayam itu dan meniupnya pelan-pelan sebelum menggigitnya. Rasanya yang gurih, renyah, dan pedas langsung memanjakan lidah di tengah dinginnya angin malam lapangan kecamatan.

Di sampingnya, Amina tampak memperhatikan sang pacar dengan tatapan lembut—sifat bawelnya yang biasa kini bertransformasi menjadi keheningan manis yang menenangkan.

Melihat interaksi keduanya yang berangsur-angsur cair, Acha kembali tersenyum kecil.

Namun, pikiran tentang Nathan yang sempat melintas di benaknya tadi enggan begitu saja pergi.

Jika suatu saat Nathan mengajaknya pergi ke tempat ramai seperti ini—di tengah bisingnya musik, lampu warna-warni, dan kerumunan orang—apakah dia akan merasa secanggung Amina? Atau justru suasana akan terasa begitu cair karena mereka berdua punya kebiasaan saling menggoda?

"Duh, ngapain juga jadi mikirin dia sih", batin Acha merona sendiri.

Buru-buru Acha menepis bayangan wajah Nathan dari kepalanya dan kembali fokus menyantap jajanan di tangan.

"Eh, mau coba naik bianglala nggak tuh di sebelah sana?" tunjuk Ari ke arah wahana raksasa yang berputar pelan dengan kerlip lampu terang di ujung area pasar malam.

Mata Amina langsung berbinar cerah. "Mau! Ayo, Cha, kita naik itu!" ajak Amina penuh semangat, menarik lengan Acha tanpa menunggu persetujuan lebih lama lagi.

Acha tertawa lepas, membiarkan kedua sahabatnya menyeretnya masuk ke dalam antrean wahana, sementara malam minggu yang meriah itu terus berjalan membawa kehangatan di antara tawa dan keriuhan pasar malam.

Antrean wahana bianglala bergerak cukup cepat. Tak butuh waktu lama bagi Acha, Amina, Riko dan Ari untuk menaiki salah satu kabin gantung yang mulai berayun pelan saat petugas mengunci pintunya.

Begitu kabin perlahan naik meninggalkan permukaan tanah, pemandangan seluruh area pasar malam terhampar indah di bawah sana.

Lautan manusia, deretan lampu warna-warni yang berkelap-kelip, serta kerlap-kerlip lampu kota terlihat seperti taburan bintang dari ketinggian.

"Wah... keren banget dari atas sini!" seru Amina antusias, menempelkan kedua tangannya pada kaca pembatas kabin sambil menatap takjub ke luar.

Ari yang duduk di sampingnya tersenyum simpul, ikut menikmati pemandangan meski sesekali matanya melirik waspada saat kabin sedikit berayun tertiup angin malam.

"Iya, pemandangannya bagus. Tapi lumayan juga ya tingginya," komentar Ari, membuat Amina tertawa kecil meledek.

Acha yang duduk di sisi seberang ikut tersenyum melihat keakraban pasangan itu yang kini sudah jauh dari rasa canggung.

Dia menyandarkan punggungnya kepada dinding kabin, ikut menikmati angin malam yang berhembus lembut menerpa wajahnya.

Di bawah ketinggian malam itu, di antara gelak tawa Amina dan Ari yang menikmati kencan mereka, Acha merasa dunianya sendiri baru saja bersiap menyambut babak baru yang tak kalah seru.

Puas menikmati pemandangan dari atas bianglala dan berkeliling pasar malam hingga larut, Acha, Amina, Riko dan Ari bersiap untuk pulang.

Karena kediaman Amina dan Ari berada di arah yang berbeda dari jalur kendaraan umum Acha, Ari pun meminta bantuan adiknya, Riko, yang kebetulan datang menyusul ke pasar malam menggunakan motor, untuk mengantar Acha pulang.

Sepanjang perjalanan malam itu, Acha dibonceng oleh Riko membelah jalanan kota yang mulai sepi. Suasana malam terasa dingin, namun obrolan di atas motor justru mencairkan kepenatan.

"Rik, tadi kamu sempat perhatiin gak sih Teh Amina sama Abang kamu nggak selama di pasar malam?" tanya Acha setengah berteriak melawan angin malam, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan agar suaranya terdengar oleh Riko.

Riko yang fokus mengemudikan motor langsung terkekeh pelan di balik helmnya. "Perhatiinlah, teh. Emang kenapa? Mereka keliatan aneh ya?"

"Bukan aneh lagi, tapi kaku banget!" balas Acha tertawa.

"Padahal yah aslinya teh Amina tuh cerewet banget dan hobinya ngomel-ngomel tahu. Tapi begitu di samping Abang kamu, langsung berubah jadi pendiam, nggak ngomong sama sekali kayak orang bisu."

Riko terbahak mendengar komentar Acha. "Sumpah, iya banget, teh! Aku juga suka heran sendiri kalau liat mereka jalan berdua. Kayak orang musuhan tapi dipaksa pacaran. Sumpah, gaya pacaran mereka berdua tuh keliatan membosankan banget, cuma jalan doang tanpa suara, persis kayak patung bernyawa!"

Acha terpingkal-pingkal di jok belakang mendengar ucapan Riko yang terlampau jujur. "Setuju banget aku, Rik! Bener-bener garing."

Namun, ucapan "kualat" seolah langsung mengantre di tikungan jalan berikutnya.

Belum sempat tawa Acha mereda, tiba-tiba laju motor Riko terasa oleng ke sebelah kiri. Setang motor mendadak berat dan mengeluarkan bunyi brukk-brukk yang tidak wajar dari arah roda belakang.

Riko segera menarik tuas rem secara perlahan dan menepi ke pinggir jalan raya yang sudah sepi. Begitu motor berhenti dan Riko mematikan mesin, dia langsung turun untuk mengecek kondisi kendaraan.

Acha ikut turun sambil merapikan jaketnya, lalu ikut menyorotkan cahaya senter dari ponselnya ke arah roda belakang motor.

Tanpa perlu ditebak lagi, ban motor Riko terbukti sudah kempis total dengan kondisi ban luar yang hampir merata dengan pelek.

"Wah, apes bener malam ini..." gerutu Riko sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, menatap ban motornya nanar.

Acha tertegun sejenak, lalu teringat obrolan mereka soal Amina dan Ari barusan. Sambil menepuk jidatnya, Acha berkata dengan nada menyesal,

"Duh, Rik... Ini mah fix kita kualat gara-gara tadi ngegosipin teh Amina sama Abang kamu!"

Riko menoleh sekilas ke arah Acha, lalu terbahak pelan di tengah malam yang mulai dingin.

"Iya juga ya, teh. Karma instan banget ini mah. Baru aja ngomongin dua menit yang lalu, langsung dikasih azab ban bocor."

Acha mendengus pasrah sambil melipat tangan di dada, memperhatikan Riko yang berjongkok memeriksa ban belakang motornya.

Di bawah terangnya lampu jalanan kota yang temaram, kondisi ban itu benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi. Angin malam berhembus cukup kencang, membuat Acha merapatkan jaketnya.

"Terus ini gimana, Rik? Ada tambal ban terdekat nggak jam segini?" tanya Acha melirik sekeliling jalanan yang sudah sepi dari toko yang buka.

"Duh, kalau jam segini kayaknya yang buka agak jauh deh, teh. Paling harus dituntun agak lumayan ke depan dekat lampu merah perempatan," jawab Riko menghela napas panjang, berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya yang sedikit kotor terkena debu jalanan.

Acha mengangguk pasrah. Mau tidak mau, malam minggu mereka yang tadinya santai harus diakhiri dengan aksi dorong motor keliling jalanan malam.

Di tengah langkah kaki mereka menuntun motor berat itu, Acha tidak bisa menahan senyum tipisnya. Di balik sedikit rasa lelah karena ban kempes, Acha merasa malam ini tetap menjadi salah satu malam yang paling berwarna dalam hidupnya—penuh tawa, obrolan konyol, dan tentu saja, debaran kecil menanti hari esok.

Langkah kaki Riko yang menuntun motor berat berpadu dengan suara kerikil yang bergesek di aspal sepi. Acha berjalan tepat di sampingnya, sesekali membantu menerangi jalan menggunakan senter ponsel.

Di tengah keheningan malam dan rasa lelah yang mulai mendera otot kaki, Acha melirik layar ponselnya mengusir rasa penat akibat insiden ban kempes malam ini.

Perjalanan menuntun motor bersama Riko yang tadinya terasa menyebalkan mendadak terasa lebih ringan.

Riko yang berjalan di sebelah sambil terengah-engah melirik sekilas ke arah Acha. "Senyum-senyum sendiri gitu, teh? Awas loh nanti kesambet lagi mana udah malam banget lagi?" goda Riko di sela-sela napasnya yang ngos-ngosan.

Acha kontan mendelik pura-pura kesal, meski rona merah tak bisa disembunyikan di balik temaram lampu jalan. "Udah ah, Riko, fokus aja dorong motornya! Jangan ikut-ikutan kepo kayak Abang kamu!"

Tawa Riko pecah membahana di jalanan malam yang sunyi, mencairkan lelah dan menutup malam minggu Acha dengan cerita yang tak terlupakan—antara ban motor yang kempes, ledekan konyol, dan debaran manis menyambut hari esok bersama Nathan.

Setelah berjalan kaki hampir satu kilometer sambil menuntun motor yang bannya kempis total, angin malam yang dingin seolah terbayar kontan ketika mata Acha dan Riko menangkap secercah lampu neon terang dari kejauhan.

Di sudut perempatan jalan sebelum lampu merah, sebuah papan bertuliskan "Tambal Ban 24 Jam" berdiri tegak, seakan menjadi oase di tengah gurun bagi mereka berdua.

"Wah, alhamdulillah, teh! Ketemu juga bengkelnya. Nyaris aja kaki aku copot dorong motor sejauh ini," seru Riko setengah berbisik karena napasnya sudah hampir habis.

Acha menghela napas panjang penuh kelegaan, menyeka peluh di keningnya. "Iya, ampun deh. Kalau jalan dua meter lagi, mungkin aku udah nyerah dan minta manggil mobil derek."

Riko langsung menuntun motornya masuk ke halaman bengkel kecil yang tampak sederhana namun bersih.

Seorang pria paruh baya yang mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana pendek tampak sedang merokok di samping kompresor udara.

Begitu melihat motor Riko datang, pria itu langsung mematikan rokoknya dan berdiri menyambut mereka.

"Kenapa, Mas? Malam-malam dorong motornya?" sapa bapak tukang tambal ban ramah.

"Ban belakangnya bocor, Mang. Kayaknya kena paku di dekat lapangan tadi," jawab Riko sambil menurunkan standar samping motor.

Tanpa buang waktu, sang bapak tukang tambal ban langsung mengambil peralatan kerjanya.

Dengan cekatan dan gerakan yang sudah hafal di luar kepala, dia membongkar ban luar, mengeluarkan ban dalam, lalu memasukkan bagian yang bocor ke dalam wadah berisi air untuk mencari letak lubangnya.

Pluk, pluk, pluk

Suara gelembung udara langsung muncul menandakan sumber kebocoran.

Sambil menunggu ban motornya diperbaiki, Riko dan Acha duduk di bangku panjang kayu yang disediakan di samping bengkel. Acha kembali merogoh ponselnya, memastikan tidak ada pesan sekaligus menikmati sisa-sisa malam yang kini terasa jauh lebih tenang.

Insiden ban kempes dan obrolan konyol tadi malam benar-benar menjadi bumbu tersendiri yang membuat akhir pekan Acha terasa sangat berwarna.

Setelah urusan tambal ban selesai dan Riko berhasil mengantarnya sampai ke depan gerbang gang kosan, Acha langsung melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

Jam di dinding ponselnya sudah menunjukkan angka pukul sebelas malam lebih. Kakinya terasa pegal bukan main setelah insiden berjalan kaki sambil menuntun motor tadi, namun rasa laparnya sudah kalah teluk oleh rasa lelah yang teramat sangat.

Sesampainya di dalam kamar kost yang mungil dan rapi, Acha langsung melepas tas selempangnya dan merebahkan diri sejenak di atas kasur empuknya.

Dia memejamkan mata, menikmati keheningan kamarnya yang kontras dengan keriuhan pasar malam beberapa jam lalu.

Tiba-tiba, ingatannya melayang pada obrolan soal kakaknya, Alfian, yang pulang dari Jakarta beberapa hari lalu.

Tadi siang dia sempat lupa menanyakan detail kepulangan sang abang karena terlalu sibuk dengan urusan kerja dan rentetan jadwal kencannya.

Acha bangkit dari posisi berbaringnya, lalu meraih ponsel di samping bantal. Jemarinya sempat mengetik kontak sang ibu, Ranti, dengan niat ingin menelepon dan menanyakan kabar Alfian secara langsung malam itu juga.

Namun, begitu dia melirik sekali lagi ke sudut layar ponsel yang menunjukkan jarum jam larut malam, Acha mengurungkan niatnya.

"Jangan, deh. Udah malem banget. Pasti Mamah udah tidur nyenyak," batin Acha sambil menghela napas pelan.

Dia tidak tega membangunkan sang ibu hanya untuk mengobrol soal kepulangan Alfian yang sebenarnya bisa ditanyakan besok pagi.

Acha akhirnya mematikan layar ponselnya kembali, meletakkannya di nakas, lalu membersihkan diri sebelum beranjak tidur—menyimpan rasa penasaran soal sang abang untuk esok hari, dan membiarkan lelap menghantarnya menyambut hari baru bersama Nathan.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!