NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.

Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.

Seharusnya ia ikut kabur.

Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.

“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”

Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Elena semakin mengerutkan kening. Berarti pesan itu sama sekali tidak berhubungan dengan acara keluarga. Seseorang sengaja memintanya datang ke hotel sendirian.

Ia menyandarkan dagu di tangan, menatap kosong ke depan. Kalau memang ingin bicara langsung, kenapa harus sembunyi-sembunyi? Elena tidak menyukai cara seperti ini. Namun rasa penasaran perlahan mulai tumbuh di dadanya.

"Kenapa diam saja?" tanya ibunya di sebelahnya.

Elena segera tersenyum agar tidak terlihat curiga. "Tidak apa-apa, Ma. Aku hanya sedang memikirkan makan malam besok."

Ibunya mengangguk tenang. "Jangan khawatir. Keluarga Hale sudah menyiapkan semuanya dengan baik."

Elena mengangguk sambil tetap tersenyum. "Baik." Namun di dalam hati, pikirannya masih tertuju pada pesan itu. Lusa datanglah ke Hotel Grand Palace. Sendirian. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Siapa sebenarnya yang mengirim ini?

Setelah sarapan, Elena kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan meja rias, memutar-mutar ponselnya di tangan.

Jari-jarinya sempat berhenti di atas nomor misterius itu, seakan ingin menelepon balik. Namun setelah berpikir sejenak, ia mengurungkan niatnya. Kalau aku menelepon, bukankah aku justru menunjukkan bahwa aku penasaran?

Elena menggeleng mantap. "Tidak." Ia meletakkan ponselnya di meja. "Kalau dia mau bermain, aku juga bisa ikut bermain."

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, ponselnya berdering. Nama Sebastian muncul di layar. Elena langsung mengangkatnya, jantungnya berdebar pelan.

"Halo?"

"Sudah sarapan?" Suara Sebastian terdengar tenang di seberang sana.

Elena tersenyum sendiri. "Sudah."

"Bagus." Hening sejenak. "Kau sedang apa?"

"Lagi di kamar saja." Elena bisa mendengar suara kendaraan di latar belakang, sepertinya Sebastian sedang di dalam mobil.

"Aku mungkin akan datang ke sana sebentar lagi."

Elena langsung bertanya, "Untuk apa?"

"Aku ingin mengajakmu keluar."

"Ke mana?"

"Belum tahu."

Elena tertawa kecil. "Kau tidak pernah punya rencana yang jelas ya."

"Aku punya."

"Apa?"

"Menemanimu."

Elena terdiam. Wajahnya perlahan memerah. Kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali mengatakan hal-hal seperti itu? "Kalau begitu... datang saja."

"Baik." Sebelum telepon ditutup, Sebastian menambahkan pelan, "Dan Elena."

"Hm?"

"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, beri tahu aku."

Jantung Elena berdegup sedikit lebih cepat. "Aku tahu."

"Janji?"

Elena tersenyum hangat. "Janji."

Panggilan berakhir. Elena menatap layar ponselnya yang sudah gelap, lalu menghela napas panjang. "Kalau begini terus, aku benar-benar bisa jatuh cinta padanya," gumamnya pelan. Ia langsung menggeleng kuat, menatap pantulan dirinya di cermin.

"Tidak boleh!" Ia menunjuk wajahnya sendiri. "Tujuan utamamu adalah hidup nyaman dan tenang. Jangan lupa!" Namun senyum di bibirnya tak bisa disembunyikan.

***

Sementara itu, di sebuah kafe yang cukup jauh dari kediaman keluarga Arvienne... Isabella duduk berhadapan dengan Vivian.

Di atas meja di hadapan mereka tergeletak sebuah ponsel dan beberapa lembar foto. Vivian mengambil salah satu foto, menatapnya ragu.

"Ini benar-benar akan berhasil?"

Isabella menatap foto itu dengan tatapan dingin. "Harus berhasil."

"Kalau Elena sampai memberi tahu Sebastian?"

Isabella tersenyum tipis, penuh keyakinan. "Dia tidak akan melakukannya."

Vivian mengerutkan kening. "Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena aku sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuatnya ragu kepada Sebastian." Isabella mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya, meletakkannya perlahan di atas meja. "Di dalam ini ada bukti yang terlihat cukup meyakinkan."

Vivian menatap amplop itu. "Foto-foto?"

"Bukan hanya foto," jawab Isabella dengan senyum yang mengerikan. "Ada beberapa dokumen penting di dalamnya."

"Dokumen apa?"

"Dokumen yang menunjukkan bahwa Sebastian sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini."

Vivian terdiam sejenak. "Tapi... bukankah itu semua palsu?"

"Tentu saja palsu," jawab Isabella santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Yang penting Elena percaya."

1
MomRea
lanjut Thor... makin penasaran 😊
mauza
next😘😘😘😘😘
mauza
up
mauza
ditunggu upnya thor 😘😘
mauza
next
mauza
nah kan..
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘
mauza
pinisirin ttp lanjut
mauza
up
mauza
😘😘😘😍😍😍/Rose//Rose//Rose//Rose/
mauza
lanjut trussss💪💪
mauza
lanjut kk
mauza
hati" dan ttp semangat
mauza
next
mauza
up
mauza
/Determined//Determined//Determined//Determined/
mauza
next😘😘
mauza
lanjutkan thorrr👍😘😘
mauza
up
mauza
lanjuttt👍💪
mauza
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!