NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:746
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengisyaratkan belati tajam yang siap ditancapkan

Aku merebahkan tubuhku dengan energi yang tersisa, hari ini sungguh melelahkan. Pencapaikan luar biasa untuk diriku sendiri. Perjalanan panjang baru saja dimulai, aku akan berkomitmen untuk selalu tampil dengan versi terbaikku. Perasaanku, suasana hatiku tak akan menjadi rintangan dalam setiap prosesnya.

Yang ditunggu datang juga, hari ini akan sangat menguras energi dan pikiran. Apapun hasilnya nanti, tetap semangat dan mempersiapkan untuk segala kemungkinan kemungkinan yang mungkin saja datang tidak direncanakan.

TOK TOK TOK TOK TOK... Mas Nandito terus terusan menggedor gedor pintu kamarku.

"Buruan, jam berapa ini!!! Kalau mau jadi atlet harus disiplin! Janjian jam 6 berarti sebelum jam 6 sudah harus sampai"

Didalam kamar aku sedang yang sedang mempersiapkan segala sesuatu keperluan lomba menjadi terburu buru gara gara mas Nandito.

"Mas Nandito tenang aja sih! Masih ada waktu!"

"Belajar disiplin! Dari kemarin bukanya udah disiapin semuanya"

"Udah mas Nandito diem aja! Jangan bikin panik!"

"Ini nih akibatnya terlalu dimanja jadi seenaknya aja ngejalani sesuatu!"

Aku keluar kamar dengan penuh amarah, menjumpai mas Nandito sedang berdiri didepan kamar "Bawel"

"Lombanya enggak cuma kamu doang, satu team itung sendiri berapa semua?? Jangan sampai semua telat cuma gara gara kamu yang seenaknya sendiri"

Ibu dari dapur membawa 2 kotak bekal "nih sarapan di mobil aja, jangan sampai telat!"

Aku menerima kotak bekal dari Ibu, menaruhnya didalam tas "Bu dibilangin tu anaknya cowok jangan suka bawel kayak cewek"

Bapak berjalan kearahku membawakan tas perlengkapanku dari tanganku "Tenang tenang jangan terburu buru, termasuk nanti kalau pertandingan juga jangan terburu buru"

"Mas Nandito bawel banget, bikin panik. Padahal waktunya masih lama" Aku berjalan mengambil sepatu dari pintu garasi.

"Udah kamu nurut aja sama nas Nandito yang lebih banyak pengalannya!" Ibu menenangkan aku dengan merangkul pundakku.

Bapak dan Ibu ikut berjalan kedepan bersamaku. Mengantarkan aku sampai depan garasi dan memberikan semangat.

Bapak memelukku "Kamu tenang aja, yang penting semangat! kalau ada apa apa nanti mas Nandito ada disana nungguin selama kamu pertandingan"

Gantian Ibu yang memelukku menciumi pipiku "Hebat anak ibu, semangat lombanya... Enggak usah mikir apa apa ada mas Nandito disana"

Aku berjalan kearah mobil yang dari tadi suara klaksonnya sudah berbunyi memanggilku, saat membuka pintu masuk aku menoleh lagi ke arah Ibu dan Bapak "Makasih ya Bu, Pak, jangan lupa terus doain Aya biar menang"

Ibu tersenyum "Jangan kawatir kalau soal doa, Bapak dan Ibu pasti doain yang terbaik"

Bapak masih saja melihatku tapi sudah tidak bisa berkata apa apa lagi hanya tersenyum dan menganggukan kepala.

Didalam mobil manusia yang super bawel melebihi ibu ibu komplek ini masih saja bawel. Aku hanya menjawab iya iya iya sambil makan dari kotak bekal yang dibawakan Ibu.

Pukul 05.45 tepat mobil mas Nandito sudah mulai masuk dihalaman sekolah.

"Tuh kan enggak telat, masih ada banyak waktu" Aku turun berlari kearah kerumunan team basket yang akan berangkat ketempat lomba.

Terlihat ditempat lain teman teman sudah mempersiapkan semua keperluan selama pertandingan. Dilihat lihat cuma aku yang berjalan santai tanpa membawa apapun kecuali baju dan sepatu yang menempel dibadan.

Diseberang bus yang akan membawa kami sudah siap, official team masih mempersiapkan semua keperluan, kami yang rencana akan berangkat jam 7.

Seluruh pemain berkumpul di halaman sekolah, pelatih memberikan pengarahan dan penyemangat untuk semua team yang akan bertanding.

Kami saling bersalaman dan berpelukan untuk memberikan semangat satu sama lain.

Bismillah kami siap mengikuti pertandingan dengan penuh semangat.

Dari kejauhan terlihat mas Nandito berjalan kearah keramaian dengan mebawa semua perlengkapanku yang tadi kutinggal begitu saja dimobil. Aku menghela nafas panjang mempersiapkan diri untuk menjadi bahan amukan singa yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tidak dapat ku bayangkan kata kata apalagi yang akan keluar dari mulut mas Nandito setelah dari subuh tiada henti tanpa jeda memarahiku.

Tunggu... Tunggu... Alhamdulillah ada penyelamat datang. Mas Alan disaat yang tepat memotong jalur mas Nandito yang hampir saja tertuju padaku, tepat didepanku "Ngapain kesini Nan?"

BRUK BRUK mas nandito menaruh semua barang barangku di dada mas Alan.

"Tuh bawaanya si bontot"

"Kamu enggak jadi nganterin?"

"Biar dia bareng sama temen temanya, biar ngerasain naik bus, entar kabar kabari ya Lan! aku kekampus bentar"

"Oke serahkan si bontot padaku" jawab mas Alan dengan tangannya yang bersusah payah membawa semua perlengkapan yang diberikan mas Nandito.

Mas Nandito wajahnya mengarah ke belakang badan mas Alan, mengintipku dengan pandangan tajam, bola mata membulat, tanpa senyum penuh dengan perasaan emosi seolah olah mengisyaratkan belati tajam yang siap ditancapkan. Lalu membuang muka, berbalik arah berjalan menuju mobilnya.

Tidak ada yang menyangka laki laki tampan, tinggi, kulitnya putih bersih yang terlihat kalem, berwibawa dan penuh pesona didepan banyak orang ini mulutnya tidak berhenti marah marah dari subuh.

Pagi ini mas Alan benar benar menjadi penyelamatku, dia membalikan badannya. Aku dan mas Alan berhadap hadapan dia mengela nafas panjang "Mau ditaruh dimana ini tuan Putri?"

Belum sempat aku menjawab pertanyaan mas Alan, tiba tiba Arya sudah disebelahku "Kenapa kamu enggak minta tolong aku buat bawain barang barang kamu?"

"Ini baru mau nyari kamu, eh kamunya dateng. Pas banget kan?"

"Tuh udah pada ditaruh di bus, entar enggak kebagian tempat duduk gimana?"

"Yaudah tu ambil sana taruh ke bus!"

"Misi ya kak, barang barang Aya biar ku taruh di bus dulu" Arya mendekat ke mas Alan, meminta semua barang barang yang dibawa mas Alan.

Mas Alan menyerahkan semua barang barang ditangannya ke Arya "Nih buat kamu semua"

Arya berjalan duluan menuju bus, meninggalkan aku dan mas Alan. Aku akan berjalan menuju bus, mas Alan berjalan semakin mendekat, memegang pergelangan tanganku, berjalan disebelahku sambil berkata pelan "Arya pacar kamu ya?"

Dengan reflek aku langsung menoleh ke mas Alan, kami berhadapan dengan tangannya masih memegang pergelangan tanganku "Ngarang! Enggak ada pacar pacaran, bisa habis aku ditangan mas Nandito"

"Bagus kalau kamu tau, awas kalau berani pacaran! Dah sana masuk kedalam bus!" mas Alan melepaskan pergelangan tanganku lalu memegang kedua bahuku dengan sangat lembut, mendorongku dengan pelan untuk berjalan didepannya.

Kakiku sudah melangkah menaiki bus, suasana sudah ramai. Dilorong yang sempit ini aku seperti tidak punya pilihan tempat yang tersisa didepan. Masing masing sudah terisi teman teman yang sudah lebih dulu datang. Aku terus berjalan menyusuri lorong, melihat tepat diujung sana deretan panjang terlihat kosong. Tidak kubayangkan seperti apa rasanya disepanjang perjalan nanti. Ya sudahlah, tak ada gunanya aku mengeluh.

Belum sampai dikursi paling ujung ada tangan disebelah kiriku yang menarik tanganku.

Buk... Pantatku jatuh tepat dikursi yang empuk pas menghadap kursi diseberang.

"Melamun aja, mau kemani sih? Udah aku pilihin tempat duduk juga" kata Putri yang sudah duduk dibangku depan kursi panjang.

"Kirain kamu belum datang Put, Arya tadi udah kesini kemana?"

"Tadi cuma naruh barang barang kamu aja, trus pergi katanya ada yang ketinggalan"

"Baik banget tuh anak"

"Iya baik banfet ke kamu, kak Alan tuh emang deket banget ya sama kamu?"

"Kenapa nanyain mas Alan? Suka?"

"Ish... Apaan sih, kepo aja tadi aku lihat kayaknya kalian deket banget. Dari bawain barang kamu yang sudah seperti orang pindah rumah, megang tangan kamu yang enggak kamu tepis, sampai nganterin kamu masuk ke bus, tadi juga kak Alan ngobrol sama mas Nandito"

"Kalau soal mas Nandito sama mas Alan jangan ditanya lagi, mereka tuh kayak anak kembar. Makan aja bisa sepiring berdua. Mas Alan sering nginep dirumah dari jaman sekolah, apalagi kalau papa mamanya dinas keluar kota bisa sebulan dia enggak pulang kerumahnya"

"Oh... Sedekat itu"

"Iya begitulah, mas Alan udah seperti kakak sendiri, dia jug sering jemput aku kalau pulang sekolah"

"Enak dong kamu Ya... Punya kakak cakep cakep"

"Ya begitulah"

"Perhatian perhatian" suara pak Herman yang keluar dari Speaker bus memfokuskan kami pada sumber suara. Perhatian kami menjadi ke pak Herman yang sudah berdiri didepan sengan memegang mic ditangannya.

"Bapak absen dulu ya, tunjuk tangan dan teriak ada kalau namanya disebut"

Semua nama sudah disebutkan oleh pak Herman, ada 2 nama yang sudah hadir cuma izin sebentar, Aldrian dan Arya.

Suara riuh obrolan memenuhi seisi bus, diluar bus keadaan sekolah sudah sangat ramai berdatangan masuk sekolah.

Kami masih menunggu kedatangan Aldrian dan Arya, yang enggak tau entah keman.

Dari dalam kaca jendela aku sudah melihat sosok Aldrian dan Arya berjalan diantara kerumunan pagi di halaman sekolah, mereka semakin mendekat ke arah bus, tapi semakin tak terlihat oleh pandanganku yang sedikit terhalang oleh Putri yang duduk persis disamping jendela.

"Ay, Aku duduk dibelakang kamu" Suara Arya mengagetkanku, perasaan tadi masih jalan diluar tiba tiba udah didalam.

"Iya, makasih ya, udah dibantuin bawain barang barang"

"Iya, kamu mau berangkat pertandingan apa mau pindah rumah sih? Banyak banget bawaanya!"

"Aku banget sama kak Arya" Putri ikut membenarkan apa yang Arya katakan.

"Udah diem enggak usah pada berisik! Sana Ar, kamu ketempat dudukmu sendiri"

Arya berjalan kebelakang, ketempat duduknya beberapa saat aku baru menyadari tadi ada tas kecil yang terbawa ditaruh sebelah mana, aku harus bertanya ke Arya. Aku memutar badanku 90° ke kiri menghadap samping dan pandangan pas dibelakangku.

Deg... Jantungku seperti berhenti berdetak. Diantara ramainya suara, aku menangkap sepasang mata yang sedang memandangku. Mata kami bertemu terjebak dalam diam yang sama sama membeku. Bagai gelapnya fajar yang berjalan berlahan mempersilahkan mentari datang menggantikan gelapnya dengan cahaya yang menyilaukan mata. Seperti itulah yang dapat aku gambarkan saat ini.

1
MyRed
oke siap, terimakasih bnyk ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!