Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Mobil sport hitam milik Arka meluncur mulus membelah padatnya jalanan kota menuju sebuah restoran kelas atas.
Di dalam kabin yang hening, Arka memandangi layar antarmuka Sistem yang melayang transparan di depan matanya, layar yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
Sebuah notifikasi baru saja menyala terang:
[Hadiah: Sertifikat Kepemilikan Klinik Utama "Medika Nusantara" beserta bangunan dan seluruh fasilitas medis modern.]
Sudut bibir Arka terangkat. Ada rasa hangat dan tidak percaya yang membuncah di dadanya.
"Wah... gila. Aku benar-benar tidak menduga bakal dapat klinik sekelas ini," gumam Arka pelan, senyum puas terkembang di wajahnya.
Ia mengusap dagunya, membayangkan masa depannya. "Jadi mulai sekarang aku bisa menjadi dokter beneran, punya tempat praktik sendiri."
Ketika ia berhasil memarkirkan mobilnya di area valet restoran, Arka melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Wajahnya mendadak tegang. Ia terlambat 7 menit.
Dengan langkah tergesa-gesa, Arka melangkah masuk melewati pintu kaca restoran yang megah.
Aroma rempah mewah dan alunan musik klasik menyambutnya. Di sudut ruangan VIP yang agak privat, matanya menangkap sosok Clara yang anggun berpakaian gaun satin lembut, duduk berseberangan dengan seorang pria paruh baya berwibawa, pak Hartawan, sosok pengusaha kawakan yang sangat disegani.
Arka mendekat dengan napas yang sedikit memburu, berusaha merapikan jasnya secepat mungkin.
"Ah, maaf... maaf sekali Tuan Hartawan, Nona Clara. Saya benar-benar minta maaf karena datang terlambat," kata Arka dengan raut wajah penuh penyesalan, membungkukkan badannya sedikit.
Pak Hartawan melirik jam tangan mewahnya sejenak, lalu menatap Arka dengan pandangan tajam namun tenang.
"Tidak apa-apa, Nak Arka. Silakan duduk dulu," ujar Pak Hartawan sembari mengisyaratkan kursi kosong di dekat mereka. Namun, nadanya mendadak berubah sedikit serius. "Tapi ingat, di dunia bisnis, waktu adalah mata uang yang paling berharga. Keterlambatan, bahkan hanya tujuh menit, bisa membuatmu kehilangan kepercayaan partner bisnis atau membatalkan transaksi bernilai miliaran."
Arka menarik kursi dan duduk dengan canggung, menyerap teguran halus namun menohok itu.
"Ah... iya, Tuan. Anda benar sekali. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi di lain kesempatan. Terima kasih atas pengertiannya," jawab Arka sembari mengangguk hormat dan tersenyum sopan.
Clara, yang sejak tadi menyimak interaksi itu, tersenyum tipis untuk mencairkan suasana yang sempat agak kaku. Ia menatap Arka dengan tatapan jenaka.
"Sudahlah, Papi. Jangan menakut-nakuti Mas Arka begitu. Jalanan jam segini memang sedang parah-parahnya," kata Clara membela Arka lembut, lalu beralih menatap pria di hadapannya itu. "Kamu pasti lelah dan lapar, kan, Mas Arka?"
"Sangat," aku Arka jujur sambil terkekeh pelan. "Jalanan tadi benar-benar di luar kendali saya."
"Tenang saja, aku sudah memperkirakan hal ini," sahut Clara manis.
Ia kemudian melambaikan tangan dengan anggun memanggil staf restoran. "Mbak, tolong sajikan makanannya sekarang ya. Kami sudah lengkap."
"Baik, Nona Clara. Mohon tunggu sebentar," jawab pelayan restoran tersebut dengan ramah sebelum berlalu menuju dapur.
Pak Hartawan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Arka dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam.
"Jadi, Arka... selain kesibukanmu yang membuatmu terlambat hari ini, bagaimana perkembangan rencanamu ke depan?"
Arka tersenyum misterius, teringat akan hadiah sistem yang baru saja ia dapatkan di dalam mobil tadi.
"Sebenarnya, ada berita bagus, Tuan Hartawan. Dalam waktu dekat, saya akan meresmikan klinik pribadi saya sendiri."
Mendengar hal itu, Clara langsung menoleh kaget, matanya berbinar. "Tunggu... benarkah? Mas Arka punya klinik. sendiri?"
"Tentu saja, Nona Clara," jawab Arka mantap. "Semuanya sudah siap. Tinggal penyelesaian hal-hal kecil, dan klinik itu akan resmi beroperasi."
Pak Hartawan mengangguk-angguk, mengamati Arka dengan apresiasi yang mulai tumbuh di matanya. "Menarik. Seseorang yang punya keahlian dan keberanian untuk mandiri di usia muda... Sepertinya keputusan saya untuk meluangkan waktu siang ini tidak sia-sia."