Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Rahasia apaan?"
Regina meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas tatakan.
Bunyi porselen beradu—Tuk!—terdengar cukup keras di sudut kafe yang relatif sepi.
Helga tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Regina.
Tangannya yang memegang lipatan tisu meremas kertas tipis itu hingga membentuk bola kecil, lalu meletakkannya di samping kunci motor.
"Bukan hal yang perlu lu tahu," sahut Helga datar, nada suaranya mengendur kembali ke ritme santai seperti biasanya.
"Lu yang ngomong duluan," kata Regina, alisnya bertaut tipis. "Lu bilang dia pegang rahasia keluarga lu dari SMP."
Helga berkedip dua kali.
Ia meraih cangkir es kopi hitamnya yang mulai mencair, memutar sedotan plastiknya melingkar-lingkar hingga es batu beradu dengan kaca—Clink, clink, clink.
"Gua cuma bilang biar lu gak cerewet lagi nanya-nanya soal Varen," balas Helga pendek.
"Gue gak cerewet," tegas Regina. "Gue cuma heran kenapa orang kayak lu mau-mau aja disuruh atau direpotin sama orang kayak Varen.”
Regina melirik sudut meja kayu yang memiliki goresan melingkar bekas gelas basah.
"Varen gak pernah nyuruh gua," sela Helga, suaranya tenang tanpa nada emosi. "Dia cuma impulsif. Dan kalau dia kelewat batas, gua cuma ngerapihin sisa kekacauannya. Itu aja."
Regina menatap jari-jari tangan Helga yang memegang gelas es kopi. Ada bekas luka gores tipis yang sudah mengering di dekat buku jarinya.
"Terus rahasia itu beneran ada?" pancing Regina pelan, matanya tidak bergeming.
Helga tertawa tipis tanpa bersuara, menyandarkan punggungnya kembali ke kursi kayu. "Lu pinter ya. Mau tau aja urusan orang."
"Gue cuma gak suka ada potongan teka-teki yang sengaja dilempar tapi gak diselesaiin," sahut Regina teguh. "Lu yang mulai ngomong. Kalau emang gak mau dibahas, harusnya lu diem aja dari awal."
Helga merogoh saku jaket jinsnya, mengeluarkan bungkus rokok yang sudah pipih dan satu korek api gas warna hijau.
Ia hanya meletakkannya di atas meja tanpa berniat membukanya.
"Anak-anak kelas 12 IPS emang emosinya kadang gak jelas," kata Helga, mengalihkan topik secara terang-terangan. "Varen emang gitu dari kelas 10. Lu liat sendiri kan semalem pas gua lempar dompetnya? Dia juga mati kutu."
"Itu karena ada gue," sergah Regina. "Kalau gak ada gue, pasti lu bedua cuma ketawa-ketawa doang sambil minum kopi instan di tempat jorok itu."
"Tempat itu gak jorok," potong Helga pendek. "Cuma agak berdebu."
Regina melipat kedua tangannya di depan dada, menyisakan jarak di antara badannya dan tepi meja. "Sama aja. Kotor."
Helga tidak membalas lagi.
Ia membiarkan jeda hening merayap di antara mereka selama hampir setengah menit.
Di luar jendela, suara deru mesin truk trailer yang melintas di jalan lingkar luar terdengar memantul—Vrrrrooammm...
Pukul tiga lewat empat puluh menit, matahari sore tertutup awan mendung tipis.
Cahaya remang masuk menembus celah-celah tirai bambu Kafe Semak, membiaskan garis-garis bayangan panjang di atas ubin kafe.
Regina merogoh tasnya, mengeluarkan dompet kecilnya.
Ia mengambil selembar uang lima puluh ribu rupiah dan meletakkannya di samping cangkir teh chamomile-nya.
"Gue yang bayar tehnya," kata Regina sambil berdiri.
Helga menyilangkan tangannya di atas meja, mendongak menatap Regina yang sudah siap memakai tasnya kembali.
"Lu mau balik naik apa?" tanya Helga.
"Ojek online. Udah gue pesan dari lima menit lalu," jawab Regina datar.
Helga ikut berdiri.
Ia menyampirkan kunci motor dan bungkus rokoknya ke dalam saku jaket jins.
"Gua tungguin sampe ojek lu nyampe di depan."
"Gak usah. Gue bisa tunggu sendiri di teras."
"Jalan lingkar luar sepi jam segini," kata Helga pendek, melangkah dua pijakan mendahului Regina menuju kasir tanpa menunggu jawaban lagi.
"Gua di belakang lu."
Regina menarik napas pelan, tetapi tidak melangkah mundur atau menolak lagi. Ia berjalan di belakang Helga menuju pintu keluar kafe.
Kring...
Gantungan kayu di atas pintu berdenting pelan saat Helga mendorong daun pintu kaca.
Di teras depan Kafe Semak yang beralaskan semen kasar, angin sore berembus membawa hawa dingin.
Sebuah motor matic dengan pengemudi jaket hijau berhenti di pinggir jalan raya, tepat di dekat tiang papan nama kafe.
Pengemudi ojek online itu menoleh, mencocokkan plat nomor dan wajah Regina di layar ponselnya.
Regina melangkah menuruni dua anak tangga teras.
Saat posisinya berada di samping Helga yang bersandar di pilar kayu teras, Regina berhenti sejenak.
"Helga," panggil Regina pelan tanpa menoleh penuh.
Helga menoleh pendek. "Apa?"
Regina membetulkan tali tas di bahunya, matanya menatap lurus ke arah jalan raya yang sepi.
"Kalau masalah Varen itu nanti bikin lu kena masalah sama sekolah," kata Regina dengan suara pelan tapi tegas, "gue bakal laporan ke Pak Toto atau Wali Kelas lu. Gue gak mau liat ada hal yang gak rapi di sekolah cuma gara-gara lu ngalah terus."
Helga terdiam selama dua detik.
Wajahnya tidak menunjukkan rasa kaget, melainkan lipatan alis yang sedikit mengencang.
Sebelum Helga sempat membalas ucapan itu, ponsel di saku celana Helga bergetar keras—Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!
Helga merogoh sakunya dan mengangkat layar ponsel.
Nama yang tertera di layar panggilannya adalah: Varen.
Helga menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponselnya ke telinga tanpa melepaskan pandangannya dari Regina yang mulai berjalan mendekati motor ojek online.
"Ya, Ren?" tanya Helga datar.
Dari seberang telepon, suara Varen terdengar setengah berteriak dan terengah-engah dari speaker ponsel Helga yang agak bocor:
"Ga! Lu di mana?! Anak-anak SMA Tunas Bangsa ada yang nungguin lu di lapangan dekat rel! Mereka bawa nama lu sama taruhan kemarin!"