Hai, ceritanya aku revisi lagi ya! ada beberapa kalimat yang di tambah dan di hilangin!
Laura Hendrik wanita cantik yang berusia 21 tahun, terpaksa menikah dengan pria asing karena kesalah pahaman dari warga yang mengira mereka tengah kumpul kebo.
Namun bagaimana jika orang asing itu adalah Arvin Indorto, musuh bebuyutan nya sejak kecil? apakah akan tumbuh benih cinta di antara mereka? atau pernikahan mereka akan kandas begitu saja?
Tidak ketinggalan sosok pria tampan yang selalu membuat hati Laura menghangat, kisah cinta segitiga antara mereka akan di mulai!
Yuk ikutin kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina yuwita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin memulai kembali
"Aw Aw pelan pelan sakit"
"Makanya jadi orang itu jangan terlalu judes, jadi gini kan" omel Laura terus mengobati luka di wajah Arvin. sekarang mereka sedang berada di dalam kos, Laura yang sudah bersiap-siap untuk bekerja memilih mengobati Arvin terlebih dulu.
"Dia yang mulai, masa gue yang salah" protes Arvin mendengus kesal.
"Iya iya dia yang salah, lagian ngapain sih Lo di sana" Arvin terdiam sejenak mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan Laura.
"Emm itu tukang ojeknya kelewatan, jadi gue minta turun di sana" jawab Arvin sambil menggaruk tengkuk.
"Mana mungkin gue bilang sengaja nungguin dia" batin Arvin
"Ohh" Laura mengangguk. "ya udah, gue mau berangkat kerja dulu" ucap Laura setelah selesai mengobati luka di wajah Arvin.
"Kenapa?" tanya Laura ketika Arvin menahan pergelangan tangannya.
"Gue mau nanya sesuatu"
"Tanya apa?"
"Apa hubungan Lo sama Fiza?" mendengar pertanyaan itu, alis Laura berkerut tipis.
"Kalo temen kenapa dan kalo pacar kenapa?" jawab Laura tanpa melepaskan pandangan dari mata coklat itu.
"Lo harus jauhin dan putusin dia, kita mulai dari awal" tegas Arvin yang terdengar seperti perintah.
Deg Deg Deg
Jantung Laura sedikit berdebar mendengar kalimat terakhir yang terucap dari bibir Arvin. begitu pun sebaliknya jantung Arvin juga kian berdebar kencang, apalagi melihat mata Laura dari jarak dekat seperti ini seakan membuat jantungnya hampir meloncat.
"Maksud Lo?" tanya Laura dengan alis sebelah yang terangkat. jujur, sejak mendengar perkataan dari kakak sepupu, terbesit di hati Laura untuk belajar menerima pernikahan mereka. namun niatan itu pupus ketika mendengar ucapan Arvin setelah berciuman di kamar hotel dua minggu lalu.
"Maksud gue ya Lo nggak usah deket sama si pizza. Lo kan udah nikah sama gue, apa kata orang nanti kalo Lo deket sama orang lain. terus nanti kalo sampai ada orang yang ngelaporin ke orang tua kita, gimana? bisa berabe kan. mak—" belum sempat Arvin meneruskan ucapannya, Laura sudah lebih dulu memotong.
"Maka dari itu sebelum kontrak kita berakhir, gue nggak boleh deket sama cowok lain. karena itu bisa mencoreng nama baik keluarga. itu kan yang mau Lo omongin" sela Laura tersenyum sinis, padahal dia berharap Arvin benar-benar ingin mulai kehidupan baru ini dengan menerima satu sama lain. tapi setelah mendengar penjelasan Arvin, hati Laura sedikit sakit. jujur selama dua minggu ini, apa yang di rasakan Arvin juga di rasakan oleh Laura. ibarat kata benci tapi rindu, itulah mereka berdua.
"Bu—
"Udahlah, gue mau berangkat" lagi-lagi Laura memotong ucapan Arvin. "Oh iya, gue udah izinin ke bos kalo Lo nggak bisa kerja hari ini" tanpa membuang waktu, Laura langsung menyambar tas berlalu pergi.
"Si*al, gue belum selesai ngomong malah di potong mulu" umpat Arvin mengacak-acak rambut.
****
"Dua bulan lagi" gumam Laura dalam hati, tersenyum kecut saat mengingat masa kontraknya dengan Arvin semakin dekat. ada rasa khawatir, enggan, dan tidak rela. entah karena takut kedua orang tuanya kecewa atau takut berpisah dengan Arvin.
"Maafin Laura Ma Pa" Laura menghembus nafas perlahan, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sekitar jam 22.00, semua pekerjaan sudah selesai Laura kerjakan. seperti biasa jika malam Minggu pasti restoran tempat nya bekerja selalu ramai pengunjung, terutama pasangan muda-mudi.
"Semuanya, aku pamit pulang duluan ya" ucap Laura ketika keluar dari ruang ganti seragam.
"Nggak santai dulu Ra?" tawar Tody, salah satu teman kerjanya.
"Lain kali aja, udah malem" Tolak Laura tersenyum tipis.
"Kalian pada lupa apa gimana sih...kan si Arvin lagi sakit, jadi dia harus pulang dong" timpal Zia yang baru muncul.
"Oh iya gue lupa"
"Ya udah gue pulang dulu, bye" Laura pun berbalik pergi meninggalkan restoran.
"Eh Laura kenapa ya, kok nggak kayak biasanya" tanya Tody yang di jawab kedikan bahu oleh teman-teman.
Di pertengahan jalan yang cukup sepi, Laura semakin menambah kecepatan motor saat merasa ada sebuah motor yang mengikutinya dari belakang. setelah masuk ke area kos, Laura menghela nafas lega. aksi kejar kejaran tadi cukup membuat tubuhnya keringat dingin. untung saja lolos, jika tidak entah lah nasibnya sekarang.
"Bau gosong?" gumam Laura setelah masuk ke dalam kos.
PRANK
Arrghhh
Mendengar suara benda jatuh serta teriakan yang dia yakini ialah Arvin, Laura segera berlari kecil ke arah dapur.
"Ya Allah Arvin! Lo ngapain" seru Laura syok melihat dapurnya yang tertata rapi kini seperti kapal pecah.
"Gue tadi mau buat nasi goreng telor buat makan malam kita, tapi ternyata telornya meledak" cicit Arvin mengigit bibir bawah. kesal bercampur malu karena gagal membuat hidangan untuk Laura. biasanya, sekali dia berbicara maka hidangan romantis akan tersedia, namun sekarang apalah daya, sakunya sedang rata.
"Makanya kalo nggak bisa tuh jangan sok sok an, kan jadi berantakan dapur gue. terus nasi gorengnya udah jadi?" omel Laura berjalan melihat ke arah kompor, rasa marahnya mendadak hilang
"Belum" Arvin menggeleng.
"Ya udah, sini gue ajarin"
Laura mengulek bumbu untuk nasi goreng rumahan yang biasa dai buat, sedangkan Arvin bertugas untuk menyiapkan nasi ke dalam mangkuk. matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Laura, wajah yang mulai di banjiri keringat seksi.
"Gimana? ada yang kurang nggak?" tanya Laura ketika Arvin mulai memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut.
"Nggak ada, ini enak banget" jawab Arvin melahap nasi goreng yang masih panas itu hingga licin.
"Kalo makan tuh jangan belepotan" Laura mengambil beberapa butir nasi yang menempel di sudut bibir Arvin.
"Sengaja, biar di perhatiin sama kamu" ucap arvin tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih.
"Gombalan Lo nggak ngaruh" ketus Laura beranjak dari meja makan.
"Mau kemana?" cegah Arvin meraih pergelangan tangan Laura.
"Tidur"
"Nanti dulu, gue mau ngebahas omongan kita tadi sore"
"Apa lagi sih?
"Pokoknya Lo harus denger titik!" terpaksa Laura kembali duduk di tempat semula.
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐