Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Di undang makan oleh tunangan alex
Mobil melaju tenang menembus jalanan London yang mulai sepi. Lauren duduk di jok belakang, masih dipenuhi pikiran tentang perubahan sikap Alex yang begitu drastis malam ini.
"Pak Damian," panggil Lauren akhirnya, memutuskan mencoba peruntungan.
Damian melirik sekilas lewat kaca spion. "Ya, Nona?"
" Al–maksudku Pak Alex, yah Pak alex. Dia itu sebenarnya orang yang seperti apa?"
Damian tidak langsung menjawab, matanya kembali fokus ke jalanan di depan. "Maksud Anda?"
"Sifatnya," Lauren mencoba lebih spesifik. "Dia bisa begitu tenang, tapi kadang terasa begitu dingin. Aku hanya penasaran, seperti apa dia sebenarnya di luar pekerjaan."
"Saya rasa itu lebih baik Anda tanyakan langsung kepada Pak Alex, Nona," jawab Damian sopan, tapi tegas, tidak menyisakan celah untuk didesak lebih jauh.
Lauren menghela napas, tidak menyerah begitu saja. "Kau sudah lama bekerja dengannya, kan? Pasti Pak Damian tahu banyak soal dia."
"Saya hanya menjalankan tugas saya, Nona," jawab Damian, nadanya tetap tenang meski jelas menghindar. "Bukan tempat saya untuk membicarakan pribadi Pak Alex."
"Baiklah," Lauren mencoba sudut lain. "Kalau begitu, apa dia selalu seperti tadi? Maksudku, apa dia sering marah, atau mengancam orang lewat telepon seperti itu?"
Damian terdiam sejenak, cukup lama hingga Lauren mengira pertanyaan itu tidak akan dijawab sama sekali. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud, Nona. Saya tidak berada di ruangan itu bersama Anda dan Pak Alex tadi."
Lauren mengerutkan kening, menyadari kebenaran dalam jawaban itu. Tentu saja Damian tidak tahu soal telepon itu, ia sedang menunggu di luar sepanjang waktu Lauren dan Alex makan malam berdua.
"Maaf," gumam Lauren, sedikit malu karena pertanyaannya sendiri tidak masuk akal. "Aku lupa kau tidak ada di sana."
"Tidak masalah, Nona," jawab Damian datar, tanpa nada menghakimi sedikit pun.
Lauren menyandarkan punggungnya ke jok mobil, mencoba sekali lagi dengan pertanyaan yang lebih umum. "Kalau begitu, dari yang Pak Damian tahu selama ini, apa Alex orang yang bisa dipercaya?"
"Pak Alex selalu menepati kata-katanya," jawab Damian setelah jeda singkat, jawaban yang terdengar hati-hati dipilih, tidak menjawab langsung soal karakter, hanya soal kebiasaan. "Itu saja yang bisa saya katakan, Nona."
"Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku," kata Lauren, sedikit frustrasi.
"Mungkin memang bukan," jawab Damian, nada suaranya nyaris terdengar seperti permintaan maaf, meski wajahnya tetap tenang menghadap ke depan. "Tapi itu jawaban yang bisa saya berikan, Nona."
Lauren akhirnya menyerah, menyadari betapa terlatihnya orang-orang di sekitar Alex untuk menjaga setiap rahasia, seolah loyalitas mereka dibangun dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar gaji bulanan.
Ia menatap keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip melewati kaca mobil, pikirannya masih dipenuhi bayangan Alex yang berbicara dingin lewat telepon, kontras dengan Alex yang menawarkan bantuan dengan nada lembut hanya beberapa menit sebelumnya.
Sisa perjalanan berlalu dalam diam, hanya diselingi suara mesin mobil yang halus dan lampu jalan yang berganti-ganti melintasi wajah Lauren yang masih dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban.
Beberapa menit kemudian, Mobil berhenti di depan apartemen kecil Lauren di Camden, lampu jalan menerangi trotoar yang sepi. Damian keluar, membukakan pintu untuknya seperti biasa.
"Terima kasih, Pak Damian," kata Lauren, melangkah keluar dengan kaki masih terasa berat.
"Sampai jumpa, Nona," jawab Damian, membungkuk singkat sebelum kembali ke kursi kemudi.
Lauren berdiri di depan pintu apartemennya, menyaksikan mobil hitam itu melaju menjauh, lampunya menghilang di ujung jalan.
Ia menghela napas panjang, mencoba mencerna semua yang terjadi malam ini sebelum akhirnya masuk.
Ivy sudah menunggu di ruang tamu kecil mereka, duduk di sofa sambil menonton televisi, tapi begitu pintu terbuka, ia langsung berdiri.
"Dari mana saja kau? Aku sampai khawatir, kau tidak balas pesanku sama sekali!"
"Maaf, tadi ada urusan mendadak."
Lauren melepas sepatunya, duduk di sofa dengan lelah. "Atasan baruku mengundang makan malam, semacam perayaan karena aku diterima kerja."
Ivy mengangkat alis, jelas penasaran. "Atasan sebaik itu? Sampai mengundang makan malam pribadi di hari pertama?"
"Perusahaan besar, mungkin memang begitu caranya," jawab Lauren, memilih tidak menjelaskan lebih jauh, terlalu lelah untuk mengurai kebingungannya sendiri malam ini, apalagi menjelaskannya kepada orang lain.
Ivy menatapnya sejenak, seperti hendak bertanya lebih jauh, tapi akhirnya memilih tidak mendesak. "Baiklah. Istirahat sana, besok kau harus kerja lagi kan?"
Lauren mengangguk, melangkah menuju kamarnya, pikirannya masih dipenuhi bayangan Alex, suara dinginnya di telepon, dan tatapan matanya yang begitu berbeda dari sosok yang selama delapan bulan ia kenal di jalanan London.
*****
# Wanita Simpanan Sang Mafia
## Bab 14: Undangan Makan Siang
Mobil berhenti di depan apartemen kecil Lauren di Camden, lampu jalan menerangi trotoar yang sepi. Damian keluar, membukakan pintu untuknya seperti biasa.
"Terima kasih, Pak Damian," kata Lauren, melangkah keluar dengan kaki masih terasa berat.
"Sampai jumpa besok pagi, Lauren," jawab Damian, membungkuk singkat sebelum kembali ke kursi kemudi.
Lauren berdiri di depan pintu apartemennya, menyaksikan mobil hitam itu melaju menjauh, lampunya menghilang di ujung jalan. Ia menghela napas panjang, mencoba mencerna semua yang terjadi malam ini sebelum akhirnya masuk.
Ivy sudah menunggu di ruang tamu kecil mereka, duduk di sofa sambil menonton televisi, tapi begitu pintu terbuka, ia langsung berdiri.
"Dari mana saja kau? Aku sampai khawatir, kau tidak balas pesanku sama sekali!"
"Maaf, tadi ada urusan mendadak." Lauren melepas sepatunya, duduk di sofa dengan lelah. "Atasan baruku mengundang makan malam, semacam perayaan karena aku diterima kerja."
Ivy mengangkat alis, jelas penasaran. "Atasan sebaik itu? Sampai mengundang makan malam pribadi di hari pertama?"
"Perusahaan besar, mungkin memang begitu caranya," jawab Lauren, memilih tidak menjelaskan lebih jauh, terlalu lelah untuk mengurai kebingungannya sendiri malam ini, apalagi menjelaskannya kepada orang lain.
Ivy menatapnya sejenak, seperti hendak bertanya lebih jauh, tapi akhirnya memilih tidak mendesak. "Baiklah. Istirahat sana, besok kau harus kerja lagi kan?"
Lauren mengangguk, melangkah menuju kamarnya, pikirannya masih dipenuhi bayangan Alex, suara dinginnya di telepon, dan tatapan matanya yang begitu berbeda dari sosok yang selama delapan bulan ia kenal di jalanan London.
***
Pagi harinya, tepat seperti janji Alex, mobil hitam sudah menunggu di depan apartemen ketika Lauren keluar. Damian membukakan pintu tanpa banyak bicara, membawanya menuju gedung Nozer Holdings dengan perjalanan yang jauh lebih nyaman dibanding naik bus seperti biasanya.
Hari kedua kerja berjalan lebih tenang dibanding hari pertama yang penuh kejutan. Lauren mulai terbiasa dengan ritme kerja divisinya, mengenal lebih banyak rekan kerja, dan perlahan menemukan kenyamanan di meja barunya yang menghadap jendela besar.
Seorang asisten berpakaian rapi mendekati mejanya, membawa kartu undangan kecil berwarna krem.
"Lauren?" tanya asisten itu sopan. "Ini dari Nona Zara. Dia mengundang Anda makan siang hari ini, di ruang eksekutif lantai empat puluh."
Lauren menerima kartu itu dengan tangan sedikit gemetar, jantungnya berdegup kencang mengingat tatapan tajam Zara di lorong lantai direksi kemarin pagi. "Nona Zara mengundangku? Kenapa?"
"Saya hanya menyampaikan pesan, Nona," jawab asisten itu, tersenyum formal sebelum berlalu, meninggalkan Lauren dengan kartu undangan di tangan dan perasaan tidak nyaman yang mulai menjalar di dadanya.
Della, yang duduk di meja sebelah, melirik kartu itu dengan wajah pucat. "Nona Zara mengundangmu makan siang? Secara pribadi?"
"Kau tahu siapa dia?" tanya Lauren.
"Semua orang di gedung ini tahu siapa dia," jawab Della, suaranya merendah, seolah takut didengar orang lain. "Dia tunangan Pak Alex."
Lauren yang semula hendak meletakkan kartu itu di atas meja langsung terdiam. "Maaf, apa?" tanyanya, nyaris tidak percaya.
"Nona Zara Whitmore. Tunangan Pak Alex," ulang Della.
Mata Lauren membesar. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Della tanpa mampu mengatakan apa pun. "Tunangan... Pak Alex?"
"Wajar kalau kau belum tahu, kau kan baru mulai kerja kemarin," kata Della, nadanya lebih maklum. "Lauren, Pak Alex dan Nona Zara sudah dua tahun mereka bertunangan. Dan mereka tuh berhubungan bukan karena cinta, tapi karena perjodohan keluarga katanya, itu gosip yang sempat beredar sebelumnya. Dan Semua orang di sini juga tahu itu, cuma memang jarang dibahas terang-terangan."
"Aku belum pernah lihat orangnya," kata Lauren, penasaran. "Seperti apa dia?"
Della meraih ponselnya, membuka aplikasi Instagram, mengetik cepat nama Zara di kolom pencarian. "Ini, lihat sendiri. Akunnya publik, banyak fotonya di sini."
Della menyodorkan layar ponselnya. Lauren menatap foto-foto yang muncul di sana, seorang wanita berambut hitam legam, anggun dalam balutan busana mahal di setiap potretnya. Begitu matanya menangkap wajah itu dengan jelas, dadanya seolah dihantam sesuatu yang berat.
Wanita itu.
Wanita yang kemarin pagi berdiri di lorong lantai direksi, menatapnya tajam dari ujung kepala hingga ujung sepatu, bertanya kepada Alex dengan nada tidak suka, "Alex, siapa dia?"
"Kenapa? Kau kenal dia?" tanya Della, memperhatikan perubahan raut wajah Lauren.
"Tidak," jawab Lauren cepat, buru-buru menggeleng, meski suaranya sedikit bergetar. "Cuma... aku pernah papasan dengannya sekali. Kemarin pagi, waktu aku salah naik lift ke lantai direksi."
Della membelalak. "Kau ketemu dia langsung? Dan masih hidup-hidup saja sekarang?"
Lauren tidak bisa tertawa mendengar candaan setengah serius itu, pikirannya masih terlalu sibuk menyusun ulang semua kepingan yang baru saja jatuh ke tempatnya.
Wanita bermata tajam yang kemarin menatapnya seolah menilai dari atas ke bawah itu, ternyata bukan sekadar rekan kerja Alex yang kebetulan lewat. Ia adalah wanita yang akan menjadi istri Alex.
Lauren tidak menjawab, hanya menatap kartu undangan di tangannya dengan pikiran yang tiba-tiba terasa berantakan. Kata "tunangan" itu berputar-putar di kepalanya, menabrak semua yang baru saja terjadi semalam, makan malam berdua, obrolan panjang tentang keluarganya, cara Alex menatapnya seolah tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Kata-kata itu membuat perut Lauren terasa mual. Ia menatap kartu undangan di tangannya sekali lagi, membaca tulisan tangan rapi yang tertera di sana, undangan yang terdengar begitu sopan namun entah kenapa terasa seperti ancaman terselubung.
Pukul dua belas siang, ruang eksekutif lantai empat puluh. Ditunggu.
Lauren menelan ludah, menyadari bahwa hari kedua kerjanya yang tadinya terasa tenang, baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menegangkan dari yang pernah ia bayangkan.
Entah mengapa, firasat Lauren mengatakan bahwa makan siang itu bukan sekadar undangan biasa.
"Kemarin malam aku diundang makan malam oleh Alex," batin Lauren, dadanya terasa semakin sesak. "Sekarang justru tunangannya yang mengundangku makan siang. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa-bisanya aku diundang makan oleh mereka berdua secara berurutan begini."
Lauren memilih untuk tidak memikirkan undangan makan siang itu terlalu jauh, setidaknya untuk sementara.
Ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan, memeriksa satu per satu berkas pengeluaran divisi yang harus diinput ke sistem sebelum tengah hari.
"Kau teliti sekali," puji Della, melirik layar Lauren yang sudah rapi tersusun kolom demi kolom tanpa satu pun kesalahan. "Aku sampai kagum, karyawan baru biasanya butuh waktu lebih lama untuk terbiasa dengan format laporan kita."
"Aku terbiasa kerja rapi," jawab Lauren sambil tersenyum tipis, mencoba mengalihkan pikirannya dari kartu undangan yang masih tersimpan di laci mejanya.
Gerald, supervisor divisi mereka, sempat lewat dan berhenti sejenak di meja Lauren, matanya menyapu cepat hasil kerjanya. "Bagus, Lauren. Kalau semua karyawan baru secepat dan seteliti ini, pekerjaanku akan jauh lebih mudah."
"Terima kasih, Pak," jawab Lauren, berusaha terdengar tenang meski jam di sudut layarnya terus bergerak mendekati angka dua belas, membawa kecemasan yang sama yang terus ia tekan sejak pagi.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit, Lauren merapikan mejanya, menghela napas panjang, lalu berjalan menuju lift, membawa kartu undangan krem itu di tangannya, bersiap menghadapi apa pun yang menantinya di lantai empat puluh.