NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Informasi

Beberapa saat kemudian, Nathan dan rekan-rekannya dibimbing menuju sebuah ruangan khusus investigasi.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah papan tulis besar berdinding gabus yang dipenuhi oleh foto-foto tempat kejadian perkara, pemetaan lokasi, serta jajaran berkas hasil penyelidikan sementara yang telah dilakukan oleh kepolisian setempat.

​Komisaris Distrik 2 melangkah mendekati papan tersebut lalu mulai memberi penjelasan.

​"Setelah tim kami menyelidiki lebih lanjut, kami menemukan satu lembar foto fisik dari masing-masing mayat yang ditelanjangi. Para korban ini awalnya dinyatakan hilang secara bertahap sejak beberapa bulan yang lalu," tutur Komisaris Distrik 2 dengan raut wajah prihatin.

"Kami sudah melakukan pencarian awal dengan status korban hilang, namun sama sekali tidak berhasil menemukan keberadaan mereka. Ternyata, mereka diculik, disekap, dan dibunuh dengan cara yang sangat keji."

​Reno melangkah maju, memiringkan kepalanya sembari meneliti tanggal-tanggal kepolisian yang tertera pada catatan kehilangan korban di papan tersebut.

​"Tanggal keberadaan terakhir mereka memang berbeda-beda... Tapi harinya sama semua?" gumam Reno heran, jarinya menunjuk ke arah barisan tanggal. "Kenapa semua korban dilaporkan menghilang tepat pada hari Selasa?"

​Niko mendelik kaget, ikut memajukan badannya. "Eh, iya! Bisa saja pelaku punya kecenderungan obsesif yang aneh dengan hari Selasa. Atau mungkin itu sengaja dilakukan hanya untuk mengecoh pola penyelidikan kita."

​Nathan berdiri bersedekap tangan, matanya menyapu peta penyebaran lokasi di papan.

"Bukan cuma itu. Setiap korban juga dinyatakan menghilang di area yang berbeda-beda dan berjauhan."

​Tiba-tiba, pintu ruangan investigasi terbuka. Seorang polisi muda berusia sekitar 24 tahun melangkah masuk.

Ia mengenakan kemeja dinas yang rapi dan memegang sebuah map dokumen di tangannya.

​Polisi muda itu tersenyum ramah begitu melihat Nathan dan timnya. "Ah, jadi kalian bertiga yang dari Distrik 1 sudah datang. Perkenalkan, namaku Devan. Aku juga ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai ini."

​Nathan membalas senyuman itu dan menjabat tangan Devan.

Namun, tepat saat kulit mereka bersentuhan dan mata mereka beradu, sebuah firasat aneh berdesir di dada Nathan.

Ada sensasi tidak nyaman yang menggelitik nalurinya sebagai penyidik veteran, sebuah aura terselubung yang terasa salah dari sosok Devan.

​Meski begitu, Nathan tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap ramah. "Ya, saya juga pernah mendengar tentang Anda, Pak Devan. Polisi muda yang hebat dan luar biasa di Distrik 2 ini. Senang bisa bekerja sama dengan Anda."

​Devan tertawa kecil, melambaikan tangannya seolah merasa malu. "Anda terlalu memuji. Saya justru sudah mendengar dan melihat aksi Anda di berita televisi beberapa bulan lalu saat membongkar kasus besar itu. Anda sangat luar biasa, bahkan usia Anda jauh lebih muda dari saya."

​Setelah pertukaran sapaan singkat tersebut, mereka kembali memfokuskan perhatian pada papan investigasi.

​Devan membuka map dokumennya lalu mengetuk-ngetuk kertas laporan dengan jarinya. "Berdasarkan hasil wawancaraku dengan orang-orang yang terakhir kali berinteraksi dengan para korban, rata-rata korban menghilang tepat setelah selesai bermain atau dalam perjalanan pulang sekolah."

​Ia mengetuk foto-foto korban di papan. "Setiap korban dibunuh dengan pola eksekusi yang sama. Dan bukan hanya masalah hari Selasa saja, tapi jam hilangnya mereka selalu berkisar antara sore hingga menjelang malam hari. Pelaku sepertinya sengaja menunggu momentum waktu yang sepi dari pengawasan."

​Nathan memperhatikan setiap baris informasi tersebut, memutar skenario di kepalanya. "Jika melihat semua data ini... fakta bahwa para korban diculik dari lokasi yang berbeda-beda menunjukkan satu hal. Pelaku pasti sangat menguasai seluk-beluk wilayah Distrik 2 ini dengan sangat baik. Dan melihat betapa rapinya rencana serta eksekusinya, pelaku ini jelas bukan orang bodoh."

​Mendengar analisis tajam dari Nathan, Devan terdiam seketika. Ia menatap Nathan dengan pandangan mata yang sangat tajam dan intens.

​Selama beberapa detik, suasana di dalam ruang investigasi mendadak terasa tegang dan mengintimidasi.

​Lalu, sudut bibir Devan terangkat, membentuk sebuah senyuman sebelah yang samar namun sarat arti. "Hebat... Benar-benar analisis yang sangat hebat, Pak Nathan."

​Selama beberapa hari berikutnya, Nathan bersama Niko dan Reno terus bergerak menyisir lapangan untuk melakukan pencarian petunjuk lebih lanjut.

Mereka mendatangi saksi-saksi tambahan, memeriksa rekaman CCTV jalanan, dan memetakan rute-rute sepi di Distrik 2.

...***...

​Di tempat lain, pada suatu sore yang dingin...

​Di dalam sebuah restoran yang cukup ramai di sudut distrik, seorang pria duduk sendirian di meja dekat jendela.

Ia mengenakan pakaian tebal berwarna gelap yang tertutup rapat, menyembunyikan sebagian besar bentuk tubuhnya.

Pria itu perlahan menyedot teh hangat dari cangkirnya.

​Dari balik sudut meja, matanya yang dingin memperhatikan sekelompok remaja sekolah yang sedang duduk berkumpul dan bercanda di meja tak jauh darinya.

​"Ayolah! Kamu sebenarnya suka sama dia, kan?" goda salah seorang remaja.

"T-tidak! Siapa juga yang suka sama dia!" sahut teman perempuannya dengan wajah memerah.

"Hahaha, pura-pura malu gitu!"

​Pria berpakaian gelap itu mengamati setiap gerak-gerik, tawa, dan ekspresi lugu dari para remaja tersebut dengan pandangan penuh perhitungan yang mengerikan.

​Namun, saat ia menolehkan pandangannya ke arah jalanan di luar jendela restoran, alisnya seketika menyipit tajam.

Di luar sana, terlihat beberapa personel polisi berseragam sedang lalu-lalang melakukan patroli ketat di sepanjang trotoar.

​Pria itu mengepalkan tangannya di balik meja, berdecak kesal dengan nada tertahan.

​"Ck... Kenapa akhir-akhir ini polisinya semakin banyak berpatroli?!"

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!